
"Sayang,, kamu mau kemana lagi?" tanya Jessica begitu mereka sampai di rumah.
"Aku ada urusan sebentar,, sudah beberapa hari ini kita liburan, aku banyak menelantarkan pekerjaan ku, aku pergi dulu," ucap Devan tampak terburu-buru.
Baru saja mereka sampai di rumah,, tapi Devan pamit lagi dengan alasan pekerjaan.
"Devan ini kan sudah malam,, besok kan bisa?" ucap Jessica lagi.
Jessica menatap Devan yang sudah duduk di kursi kemudi dengan pintu mobil yang masih terbuka.
"Tidak bisa Jessica,, dokter Alex ternyata menghubungi aku sejak kemarin, barusan juga dia menelepon menanyakan beberapa data pasien padaku," ucap Devan.
Jessica mendadak langsung terdiam,,, dia tidak bisa lagi menahan suaminya untuk pergi.
"Aku pergi yah,, kamu tidur saja,, aku tau kamu capek kan?" ucap Devan.
Jessica menganggukkan kepalanya lemah setelah Jessica tersadar dari lamunannya ternyata mobil Devan sudah keluar dari gerbang rumah.
Drettt...
Sebuah suara dari ponsel yang berada di dalam tas nya berdering, Jessica tau itu ponsel Devan yang tadi Devan letakkan di dalam tas Jessica.
"Sayang," teriak Jessica dengan suara sekencang mungkin agar Devan mendengar teriakannya namun mobil Devan sudah jauh,, Devan tidak mendengar sama sekali teriakan itu.
Perlahan mata Jessica menatap ponsel yang masih terus saja berdering.
Perawat ( Reyna )
"Oh jadi ini perawat di rumah sakit," ucap Jessica.
Seketika itu Jessica memutuskan untuk menjawab panggilan telepon dari Reyna,, belum juga Jessica berbicara tapi Reyna sudah berbicara lebih dulu.
__ADS_1
#######
Setelah memarkirkan mobilnya Devan segera masuk ke dalam rumah sederhana yang ditinggali Nayla istri keduanya.
Mata Devan melihat Nayla yang tengah duduk di sofa ruang tamu sambil memakan martabaknya dengan sangat lahap.
Langkah kaki Devan perlahan semakin mendekati Nayla, lalu duduk di samping Nayla.
Tapi sayangnya Nayla tidak menganggap Devan ada di situ,, Nayla merasa sendiri dan tetap fokus pada makanannya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Devan untuk memecah keheningan diantara mereka.
Nayla tidak perduli sama sekali karena bagi dirinya di dalam rumah itu hanya ada dirinya saja dan juga anak yang masih ada di dalam kandungannya saat ini. Nayla menutup pendengarannya agar dirinya tidak merasa terganggu dengan kehadiran Devan.
"Nayla," ucap Devan lagi sambil menggeser sekotak martabak yang berada di atas meja, berharap agar Nayla bisa beralih menatap dirinya.
Tapi tidak,, Nayla kembali mengambil martabak miliknya dan kembali melanjutkan makannya tanpa mau perduli sedikit pun pada Devan.
Seketika itu Nayla langsung berdiri,, mengambil martabak itu dan melemparnya dengan cepat,, martabak itu hampir saja mengenai Devan jika Devan tidak cepat menghindar.
"Apa?" ucap Nayla dengan penuh kemarahan menatap Devan.
Devan juga berdiri menatap Nayla dengan penuh perasaan bingung.
"Apa yang kamu lakukan Nayla? apa kamu tidak pintar menghargai suami mu?" ucap Devan.
"Hargai?" tanya Nayla dengan manik mata mulai berembun,, sedetik kemudian langsung meneteskan air mata, seiring dengan bergerak nya pelupuk mata.
"Baru beberapa hari aku tidak menemui kamu,, kenapa kamu malah jadi begini?" ucap Devan.
"Baru? baru beberapa hari kamu tidak menemui aku? aku berharap kamu tidak datang lagi menemui aku," ucap Nayla.
__ADS_1
Dengan segera Nayla masuk ke dalam kamar,, mengemasi pakaiannya dengan cepat memasukkan ke dalam tas. Devan menyusul Nayla dengan cepat, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Nayla.
"Kamu mau kemana?" ucap Devan yang sangat panik begitu melihat Nayla membereskan semua pakaiannya.
"Aku mau pergi,, aku tidak ingin lagi berada di sini,, tolong jangan halangi aku," ucap Nayla.
"Nayla,, kita bisa bicara baik-baik kan?" ucap Devan sambil mengambil paksa tas Nayla, membukanya dan mengembalikan dengan cepat pakaian Nayla ke dalam lemari.
Setelah itu dia duduk di samping ranjang bersama dengan Nayla di sampingnya.
"Ada apa Nayla? apa Mas melakukan kesalahan padamu?" tanya Devan selembut dan sebaik mungkin,, tidak ingin membuat emosi Ibu hamil itu kembali meledak. Mengingat keadaan Nayla yang masih perlu dikhawatirkan.
"Kamu tidak mengizinkan aku pergi dari hidup mu, aku sudah berulang kali minta diceraikan oleh mu, aku sudah ikhlas anak ini diangkat,, tapi kamu tetap mempertahankan anak ini,, dan anak ini yang menyebabkan aku masih bertahan menjadi istri mu, lalu apa? aku,, kamu biarkan disini, menahan sakit,, menitihkan air mata, karena kamu yang terus mempertahankan janin ini, tapi apa? kamu pergi bahagia berlibur dengan istri yang kamu sangat cintai itu," ucap Nayla sambil terisak,, Nayla sekarang meluapkan semua sakit yang selama ini ditahannya.
"Mas minta maaf,, tapi ini demi mempertahankan rumah tangga Mas dan juga Jessica," ucap Devan sambil memegang pundak Nayla,, menatap manik mata itu.
Ingin sekali Nayla menangis dan berteriak sekencang mungkin begitu mendengar ucapan Devan yang menganggap dirinya seakan bukan apa-apa. Tidak masalah jika Devan tidak menganggap dirinya sama sekali,, Nayla menerima dengan lapang dada, Nayla tau Devan memang hanya mencintai Jessica saja,,, lantas bagaimana dengan janin yang dipertahankan oleh Devan dengan mati-matian.
"Lalu bagaimana dengan janin ku?" ucap Nayla.
"Nayla kamu harus mengerti dengan keadaan Mas,, jangan egois seperti ini," ucap Devan dengan nada yang sangat lembut tapi kalimat itu sangat menyakitkan untuk Nayla.
"Aku egois?" ucap Nayla sambil terisak dan kedua tangannya mencengkram sprei dengan sangat kencang.
"Nayla,, Mas minta maaf,, maksud Mas bukan seperti itu, jadi Kak Andini sudah mengatur semuanya, tidak ada jalan bagi aku untuk menolak aku sudah kehabisan alasan,, jika aku alasan terus mereka pasti akan curiga, dan Mas akhirnya menuruti keinginan Kak Andini,, tolong maafkan Mas," ucap Devan yang ingin berdamai dengan Nayla,,, Devan sangat berharap Nayla bisa mengerti dengan perasaannya saat ini, tentu Devan tidak ingin dicurigai oleh keluarganya apalagi Jessica,, Devan tidak ingin Jessica terus curiga dan lama-kelamaan Jessica pasti akan mencari tau,, Devan tidak ingin ketahuan.
"Aku sudah lelah dengan semua ini, kenapa kamu tidak menceraikan aku saja, atau membiarkan aku pergi, apapun yang terjadi kamu tetap Ayah dari anak yang aku kandung ini, tidak ada yang bisa mengubah itu,, tapi tolong tidak usah mengikat aku begini,," ucap Nayla yang benar-benar sudah sangat putus asa,, mau terus berdebat pun Nayla sudah benar-benar merasa sangat lelah,,, Nayla bingung dengan Devan yang terus mengikatnya padahal Devan tidak mencintai dirinya.
"Mas minta maaf,, Mas janji padamu dalam beberapa hari ini waktu Mas akan lebih banyak bersamamu,, untuk membayar beberapa hari ini,, maafkan Mas yah," ucap Devan lagi.
"Nyonya Jessica," ucap Nayla sambil berdiri dengan terkejut begitu melihat Jessica.
__ADS_1