Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Candu tersendiri!!!


__ADS_3

Hari-hari Nayla hanyalah bekerja, setiap pagi dia mengantarkan Felix ke rumah Nana lalu setelah itu dia kemudian berangkat kerja.


"Dok hari ini ada jadwal operasi," ucap Nayla kepada Dokter Alex.


"Iya saya ngopi dulu supaya konsentrasi," ucap Dokter Alex dan sesekali meneguk secangkir kopi yang ada di atas mejanya, setelah Dokter Alex merasa lebih rileks dia pun segera bangkit dari duduknya.


"Sudah Dok?" tanya Nayla.


"Sudah," jawab Dokter Alex kemudian keduanya berjalan ke ruang operasi, setelah Dokter anestesi mengatakan siap untuk melakukan operasi, maka Dokter Alex pun segera memulai dibantu dengan beberapa perawat termasuk Nayla. Nayla memberikan apa saja yang dibutuhkan oleh Dokter Alex, sampai beberapa jam kemudian akhirnya operasi pun selesai. Pasien dipindahkan ke ruang rawat inap, beberapa Dokter keluar beserta dengan beberapa perawat juga ikut keluar. Sedangkan Dokter Alex berjalan beriringan dengan Nayla menuju ke ruangan Dokter Alex, sesekali keduanya bercerita untuk melepaskan lelah.


"Anak kamu di mana Nayla? bukannya kamu punya anak?" tanya Dokter Alex begitu mengingat Nayla pertama kali datang sambil membawa bayi.


"Iya,, saya titipkan ke tetangga Dok kalau pergi kerja," jawab Nayla.


"Suami kamu kerja juga yah?" tanya Dokter Alex.


"Saya sudah cerai dengan suami saya Dok,, saya janda!!" jawab Nayla yang terlihat sangat bahagia dengan status jandanya, bahkan tidak terlihat kesedihan sedikitpun.


"Tapi kamu aneh Nay," ucap Dokter Alex yang ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajah Nayla begitu mengatakan dirinya janda.


"Aneh gimana Dok?" tanya Nayla lagi dengan ekspresi wajah bingung dan terlihat serius bertanya.


"Cuma kamu sepertinya wanita yang bangga memiliki status janda," ucap Dokter Alex sambil terkekeh, hingga mereka berdua kembali berjalan lagi.


Keduanya pun langsung tertawa tak tertahankan karena memang benar begitu adanya Nayla terlihat sangat bahagia dengan status jandanya itu, hal yang sangat jarang sekali Dokter Alex lihat bahkan mungkin baru kali ini dia melihat wanita yang sangat bangga dan terlihat bahagia dengan status jandanya.


Bahkan Nayla pun terlihat lepas,, jika ditanyakan apakah dia bangga menjadi janda? tentu saja tidak. Sejujurnya tidak ada wanita yang ingin menyandang status janda termasuk Nayla. Hanya saja daripada memiliki suami tetapi menderita,, maka menjadi janda adalah keputusan yang terbaik.


Keduanya masih terus berjalan hingga tiba-tiba tanpa disengaja Devan juga berjalan ke arah yang berlawanan dengan mereka. Nayla melihat Devan begitu pun dengan Devan dengan wajah dinginnya. Sayangnya Nayla sama sekali tidak peduli, dia hanya bercanda saja dan tertawa bersama Dokter Alex. Padahal keduanya bertemu bahu saat berjalan, Nayla benar-benar sudah tidak memikirkan Devan lagi. Semenjak diceraikan oleh Devan artinya hubungan mereka juga telah selesai, tidak terus larut dalam luka dan air mata. Masih ada Felix yang selalu menjadi penyemangat hidupnya.


"Besok kita ajak anak kamu jalan-jalan,, gimana mau nggak? besok libur kan?" tanya Dokter Alex.


"Tapi Dok..." ucap Nayla.

__ADS_1


"Udahlah santai aja,, kita kan teman," ucap Dokter Alex sambil menepuk pundak Nayla.


Memang dokter Alex adalah pria yang ramah dan mudah bergaul, begitupun dengan Nayla hingga mereka bisa cepat memiliki keakraban satu sama lain.


"Berarti,, Reyna ikut dong Dok?" tanya Nayla.


"Ikut,, adikku yang bawel itu mana mau kalau ditinggal" ucap Dokter Alex yang sangat mengerti dengan adiknya itu.


Mereka pun tertawa bersama lagi karena itu memang benar adanya, hingga keduanya kembali masuk ke dalam ruangan Dokter Alex, sesekali keduanya kembali tertawa sambil menceritakan hal-hal yang sepele. Ataupun hanya sekedar omongan ringan yang tidak ada gunanya tetapi bisa menghibur mereka saat merasakan lelahnya bekerja. Apalagi begitu selesai operasi tentu membuat otak membutuhkan sedikit hiburan. Devan berbalik menatap Nayla dan Dokter Alex yang sudah masuk ke dalam ruangan Dokter Alex, dadanya terasa sangat sesak begitu melihat Nayla tersenyum lepas kepada pria lain.


Ada rasa benci kepada pria itu,, kenapa Nayla bisa tersenyum lepas kepada pria lain, mengapa saat bersamanya dulu tidak ada senyuman seperti itu,, mengapa?


Apakah begitu menderitanya Nayla waktu itu? sehingga hari-harinya hanya dipenuhi dengan air mata saja.


Devan memijat kepalanya sambil masuk ke dalam ruangan, kepala Devan hampir saja pecah saat melihat Nayla tersenyum manis,, namun tersenyum pada pria lain bukan kepadanya.


Devan melempar tubuhnya di atas sofa lalu mengusap wajahnya beberapa kali, bayangan wajah Nayla bagaikan racun tersendiri yang bisa membunuhnya secara perlahan-lahan. Kemarin hampir saja dirinya ketahuan karena Reyna yang perlahan-lahan mendatangi mobilnya, mungkin karena terlalu lama berada di sisi jalanan membuat mobilnya dikenali. Tapi beruntung Devan pergi sebelum Reyna benar-benar menghampiri dirinya, entah apa yang Devan bisa katakan jika dirinya ditanyakan alasan mengapa dirinya berada di sana.


Bukankah dulu Devan takut ditinggalkan Jessica,, hingga dirinya terus saja mengancam Nayla Putri?


Devan benar-benar sudah tidak sanggup lagi,, semenjak beberapa hari ini Devan terus merindukan Nayla,, Devan merindukan dekapan hangat Nayla. Padahal sebenarnya dia bisa mendapatkan itu dari Jessica,, tapi mengapa yang dia inginkan hanya Nayla saja. Bibir Nayla seakan menjadi candu tersendiri untuk Devan, hal yang selalu menjadi favorit Devan adalah bokong Nayla yang penuh dan selalu menjadi idolanya saat mereka berada di atas ranjang. Apa ini,, Devan semakin tersiksa dengan semuanya.


"Sayang," ucap Jessica tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Devan.


Devan bahkan tidak menyadari Jessica yang masuk ke dalam ruangannya karena terus memikirkan Nayla,, hingga tangan Jessica yang menyentuh lengannya membuat Devan tersadar bahwa ada Jessica di dalam ruangannya. Devan tidak menyadari sejak kapan Jessica duduk di sampingnya.


Tetapi,, sesaat kemudian Devan melihat Nayla,, Devan kemudian menjadi bingung.


Dia Nayla atau Jessica?


Devan tersenyum dan seketika menarik tengkuk Nayla dengan perlahan mencium bibir itu dengan penuh kelembutan. Ada rasa rindu yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata, hanya bahasa tubuh saja yang mungkin dapat menjabarkannya.


"Devan," ucap Jessica.

__ADS_1


Dan suara itu berhasil menyadarkan Devan,, bahwa saat ini bukan Nayla yang diciumnya melainkan Jessica,, Devan segera menjauh.


Devan tidak mengerti sama sekali, kenapa bisa melihat Nayla padahal itu adalah Jessica.


Mungkin jika Jessica tidak menyahut saat ini mereka masih larut dalam ciuman panas, dengan menganggap Jessica adalah Nayla.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Jessica sambil memeluk lengan Devan, Jessica merasa ada yang aneh pada suaminya.


Devan lagi-lagi mengusap matanya sebab wajah Jessica kembali berganti menjadi wajah Nayla. Devan kembali tersenyum lalu menarik tengkuk Jessica lagi yang dianggapnya itu adalah tengkuk Nayla.


"Devan, kamu kenapa sih?" tanya Jessica sambil menjauh lalu menatap Devan dengan tatapan serius ada yang berbeda dari Devan.


Devan hanya diam tanpa kata andai Jessica tidak bersuara lagi, mungkin dirinya masih larut dalam permainan bibir dan berhalusinasi dengan bayang-bayang Nayla.


"Aku bawakan makan untuk kamu,, kita makan yuk," ucap Jessica.


Devan yang tidak ingin membuat Jessica kecewa dia pun terpaksa menurut, kembali Devan menatap bekal makanan yang dibawa oleh Jessica, namun otak Devan benar-benar tidak bisa diajak kompromi dengan baik,, wajah Jessica kembali berganti dengan wajah Nayla. Devan mengetuk kepalanya berusaha menyadarkan dirinya bahwa di hadapannya saat ini bukan Nayla melainkan Jessica.


"Devan,, kamu sebenarnya kenapa sih?" tanya Jessica yang ikutan bingung dengan Devan.


"Aku sedang butuh istirahat,, sekarang kamu pulang saja!!" ucap Devan.


Pilihan terbaik adalah dengan sendiri tanpa Jessica ataupun yang lainnya, mungkin terlalu lelah dan stres membuat konsentrasi Devan menjadi rusak.


"Kamu ngusir aku Devan?" tanya Jessica.


Devan pun hanya menggeleng bingung harus menjawab apa, karena memang dia ingin Jessica pulang saja.


"Terus apa? aku memasak untuk kamu dan ingin makan sama-sama kamu tapi kamu malah mengusir aku? kamu benar-benar tidak menghargai aku!!!" ucap Jessica.


"Tidak begitu Jessica,, aku sedang lelah,, tolong mengerti!!!" ucap Devan.


"Alahhh alasan,, kamu tidak menghargai usaha aku memasak ini semua untuk kamu," ucap Jessica lagi.

__ADS_1


__ADS_2