
"Bunda!" Seru Adnan keluar dari rumati kecil milik sang Kakek.
"Anak Bunda," Nayla pun menarik Adnan untuk duduk di sampingnya.
"Kok belum tidur?" Nayla menyisir rambut Adnan dengan penuh kasih sayang.
"Belum, kita tidur ya. Ngantuk," Rengek Adnan.
"Ya udah," Nayla pun berpamitan pada yang lainnya, kemudian masuk ke dalam rumah bersama Devan yang berjalan dibelakang Nayla.
"Kita tidur di tenda aja ya," Reyna menatap Nanda.
"Ya," Nanda pun mengangguk setuju, mengingat malam mulai larut dan besok akan mencari kegiatan seru selama berada di desa.
Setelah Nanda dan Reyna masuk ke dalam tenda Jessica dan Alex juga ikut masuk ke tenda mereka.
"Kira kira Cahaya apa kabar ya." Jessica teringat wajah Cahaya yang tidur bersama dengan Arni.
Arni terlihat begitu menyayangi Cahaya, sejak pertama kali bertemu, lucunya Cahaya juga merasa akrab dengan Arni.
Arni hanya memiliki Nanda, anak tunggalnya. Sayangnya sampai saat ini pun belum memberikannya seorang cucu, sehingga begitu bertemu Cahaya dirinya begitu bahagia dan malam ini Arni tidur bersama dengan Cahaya.
Jessica yang tidak pernah meninggalkan anaknya bersama orang baru sedikit was-was, tetapi sampai saat ini pun tidaklah ada panggilan telpon dari Arni. Artinya Cahaya tidak menangis minta di jemput.
"Mungkin dia sudah nyenyak, tidak usah khawatir. Mama Puput itu baik dan pencinta anak-anak," Alex meyakinkan Jessica, tentang mertua Reyna itu yang memang memiliki hati yang lembut.
"Iya juga sih, sudah tengah malam begini," Jessica meletakkan ponselnya, urung menghubungi Arni seperti niat awalnya.
Sedetik kemudian Jessica melirik ke samping, Alex mengedipkan mata padanya.
"Mau ngapain?" Jessica merasakan tangan Alex yang mulai melingkar di pinggang.
Alex tertawa kecil melihat reaksi Jessica, lama sekali dirinya merindukan kedekatan mereka yang dulu.
"Biasa kali, namanya suami istri," kata Alex berusaha membela diri.
Jessica pun mengerti maksud Alex.
__ADS_1
"Nggak di sini juga Alex, kamu nggak takut apa kaya Rima sama Aditya barusan?"
"Memangnya kenapa? Namanya suami istri, wajar?" Alex masih mencoba untuk membuat Jessica yakin.
"Apaan sih," Jessica pun melepaskan tangan Alex dan sedikit menggeser tubuhnya lebih jauh dari Alex.
Sayangnya Alex juga ikut bergeser hingga kembali memeluk Jessica.
"Alex!" Tegur Jessica.
Selama ini Jessica tidak pernah menolak Alex, bahkan saat awal pernikahan yang menyakitkan. Tetapi, berbeda dengan kali ini.
Menurut akal sehatnya tidak mungkin melakukan ibadah itu dalam tenda, apalagi tenda mereka yang saling bersebelahan dengan tenda lainnya.
"Kenapa?" Alex memasang wajah polosnya, tanpa ingin menjauh kembali melingkarkan tangannya pada pinggang Jessica.
"Kamu mau ngapain?"
"Cahaya butuh adik, kamu nggak kasihan dia sendiri nggak punya saudara?" tanya Alex.
Deg! Jantung Jessica lagi-lagi berdegup kencang mendengar kata itu, Jessica bukan tidak ingin memiliki anak lagi. Hanya saja sepertinya harapan itu terlalu kecil, ada hal yang belum bisa di katakan bibirnya melihat harapan Alex untuk memiliki anak lagi begitu besar.
Dalam hati bertanya-tanya.
Mungkinkah Jessica tidak ingin melahirkan anaknya lagi? Atau memang rasa ragu di hati Jessica masih begitu besar?
Alex pun menyadari kesalahannya yang begitu besar, berjanji akan membahagiakan anak dan istrinya sebisa dan semampunya.
Alex tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan kedua ini, bagaimana pun Jessica adalah cinta pertama dan terakhir di hatinya tanpa terkecuali.
"Alex, aku......" Jessica ragu untuk mengatakannya, entah kenapa bibirnya begitu berat untuk mengatakan kenyataan bahwa dirinya tak bisa lagi memiliki anak.
Bahkan dalam waktu dekat ini harus melakukan pengangkatan rahim, mungkinkah Alex bisa menerima kenyataan pahit itu?
"Sudah, tidak usah memikirkan hal-hal yang tidak-tidak, aku berjanji akan membahagiakan mu dan anak-anak kita nantinya. Aku tidak akan mengulang kesalahan dulu lagi, aku tidak bisa kehilangan Cahaya, apa lagi kehilangan kamu," kata Alex lagi-lagi meyakinkan Jessica.
Bukan itu masalah nya saat ini, air mata Jessica ingin sekali menetes dari mata. Sayangnya semua harus di tahan begitu saja.
__ADS_1
"Ya, aku hanya..." Lagi-lagi Jessica tidak bisa bersuara saat jari telunjuk Alex menutup bibirnya.
Alex takut Jessica mengenang masa lalu yang nantinya malah berubah haluan dan akhirnya meninggalkan dirinya.
Dirinya yang rapuh tanpa Jessica tidak akan sanggup di tinggalkan lagi.
"Tidur ya, udah malam juga," Alex memeluk Jessica dengan eratnya, mengecup dahi istrinya penuh cinta, tanpa ingin melepaskan.
Jessica pun mengangguk dan menutup mata, sejenak memilih untuk tidak berbicara. Saat ini mereka masih berlibur, seharusnya ini adalah hari-hari yang membahagiakan bagi semuanya.
Bukan malah menambah kesedihan dengan keadaanya yang memprihatinkan, yang takutnya Alex pun tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan liburannya lagi, apa lagi Alex dengan padatnya jadwal pekerjaan sulit untuk berlibur.
Hanya saat-saat seperti ini yang harus di manfaatkan.
Apakah mungkin Jessica menghancurkan liburan ini?
Tidak mungkin!
"Besok kita ke kali ya, kata Felix dan Adnan barusan kalinya bagus. Aku jadi penasaran," Alex mengalihkan pembicaraan, tidak ingin larut dalam ketegangan.
"Iya, aku juga penasaran. Sepertinya liburan di desa lebih menyenangkan," jawab Jessica tidak kalah antusias, mengingat dirinya yang terlahir dari keluarga berada tidak pernah berlibur ke desa.
"Kamu panggil aku Daddy kek, atau apa gitu," Tiba-tiba saja ucapan Alex membuat Jessica merasa bingung.
"Maksudnya?"
"Kita ini suami istri! Reyna dan Nanda saja punya panggilan sayang, masa kita nggak," jelas Alex memberanikan diri.
"Aku harus panggil kamu apa? Kita udah berteman lama, bahkan sampai aku pernah jagain kamu pacaran sama Hesti, ingatkan?" Tanya Jessica dengan mengingat masa lalu.
Alex tersenyum kecil, andai saja Jessica tahu saat itu dirinya berpacaran dengan Hesti karena ingin melupakan Jessica yang jelas-jelas mencintai Devan.
Alex tidak ingin menjadi orang ketiga di antara mereka, hingga akhirnya puncaknya cinta tidak dapat di kendalikan.
Kekhilafan tetap saja terjadi, dengan cara tidak manusiawi Alex menarik paksa Jessica masuk dalam hidupnya.
"Maaf ya jika cara aku mencintaimu salah," tutur Alex.
__ADS_1
"Aku udah tidur!"