Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Sedikit berbeda...


__ADS_3

"Felix dan Adnan sama Kakek," kata Bobby.


Bobby merasa bahagia ketika kedua cucunya datang mengunjunginya, momen seperti ini terbilang langka. Sehingga tidak akan menyia-nyiakan begitu saja.


"Ayah masih sakit, sebaiknya istirahat," kata Nayla tidak memberikan ijin.


"Ayah sudah sembuh, apa lagi kalau bermain dengan cucu Ayah," Bobby tersenyum bahagia melihat cucu-cucunya yang tampan.


"Tapi Ayah......"


"Sayang," Devan menegur Nayla.


Melihat Bobby begitu bahagia bersama cucunya membuat Devan tidak tega untuk melihatnya, mungkin bagi kita benar jika terlalu lelah bisa membuat keadaan lebih buruk. Tetapi tidak bagi sebagaimana seorang, seperti Bobby yang begitu bahagia saat kedua cucunya datang mengunjunginya. Bahkan sakitnya pun terasa sehat.


"Baiklah, tapi nanti Felix dan Adnan harus menjaga Kakek," ujar Nayla pada kedua anaknya.


"Siap ibu negara, hehe," keduanya cengengesan saat Nayla memberikan perintah.


"Ayah juga jangan lupa untuk istirahat,"


Nayla tersenyum melihat wajah bahagia Bobby saat setuju dengan keinginannnya.


"Pasti," Bobby sangat bahagia, tidak terkira saat ini.


Walaupun selama ini cukup berjauhan dengan Nayla, tapi perasaan seorang Ayah tetaplah utuh tanpa berubah walaupun hanya seujung kuku.


"Habiskan sarapannya dan boleh pergi ke kali dengan Kakek," papar Nayla membuat kedua putranya bersorak gembira.


"Nenek ikut, ya," pinta Santi tidak ingin ketinggalan.


"Boleh," Felix pun mengangguk setuju.

__ADS_1


Sarapan pagi berlangsung dengan baik, semua sarapan dengan lahapnya. Tidak terkecuali Devan yang begitu menikmati sarapan sederhana buatan


Nayla, Devan memang tidak ingin makan masakan Santi. Karena, menu makanan kesukaannya hanya Nayla yang mengetahuinya.


Lidahnya pun sudah terbiasa dengan masakan buatan istrinya tersebut.


Setelah selesai sarapan pagi Nayla berdiri dan mulai membereskan meja makan, sedangkan Felix dan Adnan sudah pergi memancing bersama dengan Nenek dan Kakeknya.


"Pagi!"


Terdengar suara Jessica, kakinya mulai memasuki rumah sederhana milik Bobby, di susul dengan Reyna, Rima, Nanda, Aditya dan Alex.


"Pagi, kalian udah sarapan? Atau mau aku buatkan nasi goreng?" Tanya Nayla.


"Kami udah makan di rumah Mama Arni" jelas Jessica.


Tadi saat bangun tidur dari tenda langsung menuju kediaman Arni. Sebab, semua peralatan sampai pakaian ada di sana.


Sampai akhirnya, sudah di siapkan sarapan oleh Arni sendiri.


"Sama Mama Arni, katanya mau ke pasar."


"Cepat sekali mereka akrab."


"Aku juga tidak menyangka, sepertinya Mama Arni memang suka anak kecil," Jessica pun tidak menyangka jika Arni begitu menyayangi putrinya Cahaya. Bahkan seperti cucunya sendiri.


Reyna hanya bisa terdiam, bibirnya yang cerewet mendadak kaku.


Diam tanpa kata dengan sejuta perasaan campur aduk, selama ini di saat dirinya menganggap semua baik-baik saja tanpa ada rasa gundah.


Kini malah berbalik arah, perasaan tenang berubah was-was.

__ADS_1


"Kita jalan-jalan yuk, aku penasaran soalnya sama sawah yang ada di seberang jalan itu," usul Jessica yang tidak pernah menginjakkan kakinya di lahan becek tersebut.


"Tidak bisa, berbahaya bagi Nayla. Atau kalian saja yang pergi," usul Devan mengingat Nayla tengah hamil muda, takut malah membahayakan diri sendiri.


Nayla pun tidak berani membantah, apa yang dikatakan oleh Devan memang ada benarnya.


"Kita di jalanan saja, berjalan kaki sambil memandang, tidak perlu menginjak padinya," imbuh Jessica.


Devan terdiam sambil menatap Nayla, kemudian mengangguk.


"Ya sudah, sepertinya itu tidak berbahaya.


"Reyna," Nayla menyadari salah satu sahabatnya yang hanya diam saja, rasanya seperti aneh jika Reyna yang cerewet mendadak menjadi pendiam.


"Iya?" Tanya Reyna bingung.


Nayla semakin bingung dan bertanya-tanya apakah yang sudah merasuki sahabatnya itu hingga berubah kalem.


"Kamu baik-baik saja kan?" Nayla kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya, bahwa Reyna memang baik-baik saja.


"Iya, aku baik-baik aja. Ada yang aneh?" Tanya Reyna kembali.


Reyna terdiam sambil menimbang ekspresi wajah Nayla dan yang lainnya, kemudian Reyna pun menyadari mungkin ada yang berbeda.


Apakah mata bengkak karena menangis semalam, jantung Reyna mendadak berdetak tidak ingin ada yang tahu tentang apa yang ada dipikirannya saat ini.


Dengan berdehem sejenak Reyna pun menarik napas panjang, memasang senyuman dengan wajah ceria seperti biasanya.


Menepikan sejenak pikiran kacaunya perihal seorang anak dan juga cucu yang sudah sangat di inginkan oleh Mama mertuanya yang begitu baik.


Bahkan Reyna juga takut jika ternyata dirinya mandul, entah seperti apa nanti nasib pernikahannya.

__ADS_1


"Udahlah, ayo kita jalan-jalan!" Reyna menarik tangan Nayla, wajahnya berubah menjadi ceria seperti biasanya agar tidak ada yang tahu tentang perasaan nya saat ini.


"Baiklah," Nayla pun tersenyum dan merasa dirinya yang salah berpikir tentang Reyna yang sedikit berbeda.


__ADS_2