
"Ada apa ini ribut-ribut? Sampai kedengaran ke dapur, ada apa?" Tanya Arini setelah berjalan tergopoh-gopoh untuk melihat keadaan Rima yang terdengar menangis.
Arini tidak tahu entah bagaimana, tetapi suara tangisan Rima semakin mengundang pertanyaan.
Melupakan usia yang rentan, hanya untuk melihat keadaan menantunya yang menangis dari arah ruang tamu.
"Kenapa menangis?" Arini beralih menatap Aditya yang hanya diam di tempatnya, sebab Rima tidak menjawab pertanyaan nya.
"Aditya, apa kalian bertengkar?" Kini Arini pun bertanya pada Aditya.
Mungkin saja anaknya itu sudah berbuat salah, sehingga istrinya menangis tersedu-sedu.
"Rima hamil Ma," jawab Aditya dengan jelas.
"Hamil?" Mata Arini seketika berbinar, mendengar kehamilan Rima sungguh sangat mengharukan.
Seketika itu juga Arini memeluk Rima penuh haru.
Kehamilan Rima saat ini tentunya meyakinkan Arini akan perkataan Aditya, tidak akan terjadi perceraian pada rumah tangganya.
Sepertinya itu benar adanya.
Rima tersentak saat Arini memeluknya, bahkan sampai terdengar suara tangisan dari bibir Arini.
Keduanya jarang berkomunikasi, bahkan hampir tidak pernah. Hanya saat itu sebelum pergi ke desa, namun tidak menyangka hari ini Arini memeluknya penuh kebahagiaan.
Tangis haru penuh kebahagiaan tidak dapat di bendung lagi, bahkan Arini yang menangis lebih kencang meluapkan rasa syukur tiada terkira.
"Mama, senang sekali. Mulai hari ini kamu di rumah saja, atau kalau perlu kamu tinggal berdua di apartemen sampai rumah kalian benar-benar selesai di bangun," ujar Arini penuh kebahagiaan, dirinya ingin Rima dan Aditya lebih bebas dengan tinggal berdua saja tanpa ada gangguan.
Tentunya pengantin baru juga butuh privasi, Arini sangat mengerti.
Namun tidak untuk Rima, kali ini pun dirinya tidak tertarik sama sekali.
Rumah? Di bangun?
Rima juga tidak tahu sama sekali, apartemen? Bukankah selama ini Aditya tinggal di rumah keluarga Devan.
"Kamu tidak tahu kalau Aditya punya rumah sendiri?" Tanya Arini melihat Rima kebingungan.
Tetapi saat ini Rima tidak memikirkan perihal rumah Aditya ada atau tidak, dirinya sudah memiliki kekasih sebelum Aditya menjebaknya dalam pernikahan ini.
Rima juga tidak bisa berdamai dengan keadaan dirinya yang tengah mengandung anak Aditya. Rima belum siap. Tetapi melihat wajah mertuanya yang begitu bahagia, Rima juga tidak tega untuk meruntuhkan kebahagiaan itu. Rima tidak mengerti mengapa bisa lemah dihadapan mertuanya yang begitu baik. Ayolah Rima, katakan kalau kau tidak menginginkan pernikahan ini.
Katakan sekarang juga!
Rima masih tidak bisa, kelembutan Arini meluluhkan hatinya.
"Sekarang kamu duduk," Arini menuntun Rima untuk duduk di sofa.
Dengan terpaksa Rima menurut, hanya demi menjaga perasaan Arini.
Itu saja!
Tidak lebih.
Setelah dirinya duduk Arini pun ikut duduk di sampingnya.
"Mama, senang sekali karena kamu sedang mengandung cucu Mama," Arini melepaskan kalung yang melingkar di lehernya, kemudian mencoba memakaikan di leher Rima.
Rima menjauhkan diri, merasa bingung dengan perlakuan Arini.
"Ini kalung Mama dan mendiang Papa yang membelikan, Mama mau memberikan ke kamu. Karena, kamu mau memberikan Mama cucu," jelas Arini.
"Maaf Ma, tapi ini terlalu bagus, aku biasa cuma pakai yang imitasi," tolak Rima.
Rima tidak tahu apakah harga kalung itu mahal atau tidak, tetapi sekalipun tidak mahal berlian tetaplah memiliki harga jual yang cukup tinggi. Rima yakin benda putih yang tergantung tersebut adalah berlian.
"Tidak boleh menolak, ini untuk kamu," Arini memaksa dan langsung memakaikan di leher Rima.
Rima semakin merasa tertekan, di satu sisi dirinya tidak ingin mengandung anak Aditya. Tetapi di sisi lainnya mertuanya sangat bahagia, lalu apakah Rima tega untuk meruntuhkannya?
Tidak!
Rima tidak sekejam itu.
"Ya sudah, kamu istirahat ke kamar, Aditya bantu Rima!" Titah Arini penuh kebahagiaan.
"Apa sudah di periksa ke Dokter kandungan?" Arini kembali bertanya demi mengetahui kesehatan calon cucunya.
"Rima juga baru mengetahuinya beberapa menit yang lalu Ma," jawab Aditya.
Flashback on.
Beberapa hari ini Rima merasa tubuhnya kurang segar, kepala pusing dan mual berlebihan sering kali dirasakannya.
Mencium bau makanan pun dapat membuatnya muntah, hingga membuatnya bertanya-tanya apakah sebenarnya yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
Rima melihat pil KB, selama ini dirinya rutin menelannya. Hanya saja sedikit terlambat.
Rima mengkonsumsi pil KB setelah satu Minggu menjadi istri Aditya, dan selama satu Minggu tersebut Aditya terus mengambil haknya.
Kini perasaan Rima mulai was-was, seketika membeli alat uji kehamilan dan segera menggunakannya di rumah sakit saat itu juga.
Jantung Rima berdetak kencang saat melihat dua garis merah yang muncul, seketika langsung pulang ke rumah dan bertemu Aditya di ruang tamu.
Saat itu juga Rima melepaskan amarahnya yang sejak tadi tertahan, dirinya begitu terkejut dengan kehamilan nya.
Flashback off
"Ya sudah, tidak masalah sekarang bawa istri kamu ke kamar. Wajahnya juga pucat begini, mungkin terlalu lelah bekerja," ujar Arini dengan perhatian.
"Semuanya, aku ke kamar dulu ya," pamit Nayla yang dari tadi hanya diam dan mendengar saja.
"Kamu juga istirahat," kata Arini.
"Ya Tante," Nayla pun segera menuju kamarnya untuk beristirahat.
"Rima, kamu dengar Mama?" Tanya Arini melihat menantunya hanya diam saja. Rima pun mengangguk lemah, bangun dari duduknya dan segera menuju kamar.
"Aditya, susul Rima. Itu sepatunya tinggi sekali, kamu belikan sepatu yang baru, ingat! Tanpa hak," ujar Arini pada Aditya.
Aditya pun mengangguk dan menyusul Rima menuju kamar.
"Kapan anak itu bisa bersikap perhatian pada istrinya," Arini juga tidak mengerti mengapa Aditya masih begitu kaku.
Sedangkan Rima adalah istrinya sendiri.
"Tapi aku mau masak yang banyak merayakan kehadiran calon cucu ku, aku akan mengundang teman-teman ku untuk ucapan syukur," Arini segera menuju dapur dengan penuh semangat, sungguh kehamilan Rima membuatnya begitu bahagia.
Mengumumkan pada semua Art untuk masak banyak, sedangkan dirinya akan menghubungi teman-temannya dan para tetangga untuk makan malam bersama.
Ana pun tidak kalah bahagia dan langsung pulang ke rumah setelah Arini mengabari kehamilan Rima saat itu juga.
#########
Aditya pun melihat Rima yang duduk di sofa, menangis tersedu-sedu tanpa hentinya.
Aditya hanya diam berdiri di depan daun pintu yang tertutup rapat.
"Aku mau menggugurkan anak ini, aku mau cerai!" Papar Rima.
Aditya pun masih diam tanpa kata, melihat wajah Rima yang basah terkena air mata.
Entah apa yang dipikirkan oleh suaminya tersebut.
"Minggir!" Rima pun mendorong Aditya untuk berpindah dari daun pintu, dirinya ingin keluar.
Aditya masih diam tanpa berpindah dari tempatnya, tubuhnya tidak bergeser sama sekali karena kekuatan Rima tidak ada artinya bagi Aditya.
Sekalipun Rima terus saja mencoba tidak sedikitpun Aditya bergerak.
"Menyingkir! Aku mau keluar!" Seru Rima dikamar kedap suara tersebut.
Aditya pun menyingkir dari sana.
Tangan Rima menggapai gagang pintu, mencoba membuka tetapi ternyata pintunya terkunci dan Aditya yang mengambilnya.
"Mau mu apa?" Tanya Rima penun emosi dan air mata yang menetes.
Melihat diamnya Aditya membuat Rima semakin emosi, seketika mengacak-acak kamar.
Melempar apa saja yang ada di hadapannya, melempar apa saja pada lantai hingga pecah berkeping-keping.
Setelah lelah Rima terduduk di lantai, terus menangis tanpa hentinya.
Hingga tidak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian Rima membuka matanya, dirinya terbaring di atas ranjang dengan sebuah handuk yang diletakkan di atas kepalanya.
"Kamu udah sadar?" Tanya Nayla.
Rima pun melihat sekelilingnya, ternyata ada banyak keluarga yang menjenguknya. Tetapi entah berapa lama dirinya tidak sadarkan diri.
Rima melihat sekelilingnya yang sudah rapi, tidak ada yang berantakan karena dirinya beberapa saat lalu.
Namun, saat melihat wajah Aditya membuat emosinya ingin meledak lagi dan lagi.
"Selamat ya," Jessica pun duduk di sisi ranjang, mengucapkan kata selamat pada pengantin baru tersebut.
Mengingat Rima baru saja menikah tetapi sudah diberikan kepercayaan untuk mengandung cabang bayi.
Sungguh luar biasa, di saat banyaknya wanita diluar sana yang menginginkan hal serupa.
Termasuk dirinya, Jessica pun menginginkan untuk mengandung lagi, tetapi rasanya sudah tidak mungkin.
"Selamat," Alex memberikan salam hangat pada Aditya, turut bahagia juga tentunya.
__ADS_1
"Terima kasih," Aditya membalas uluran tangan Alex.
"Selamat bro," Devan juga ikut mengucapkan selamat.
"Terima kasih," kata Aditya lagi.
"Doa kan semoga aku juga bisa menambah anggota lagi," ujar Alex tersenyum menggoda Jessica.
Jessica tersenyum kecil, andai saja bisa dirinya pasti akan sangat senang untuk memiliki anak lagi
Namun, sepertinya impian tinggal impian, semua itu hanya ilusi yang terasa mustahil untuk bisa diwujudkan.
Bahkan dalam waktu dekat ini harus kembali ke Singapura untuk melakukan operasi pengangkatan rahim.
Acara makan malam pun berlangsung dengan baik dan meriah.
Semua terlihat antusias dalam merayakan hari ini.
Sedangkan Rima hanya berada di kamar, demamnya masih tinggi, membuat Aditya terus saja menjaganya tanpa pergi sedetik pun.
"Aku nggak mau!" Rima melempar handuk yang diletakan pada dahinya.
Tetapi Aditya hanya diam dan mengambilnya, kemudian merendam pada air hangat dan kembali meletakkannya pada dahi Rima.
"Kamu dengar nggak sih? Aku bilang nggak mau!" Seru Rima sambil menangis.
Aditya hanya diam dan memilih ikut berbaring di samping Rima.
"Lepaskan!" Rima tidak ingin dipeluk, tetapi Aditya terus memeluknya.
Hingga Rima kehabisan tenaga dan terlelap setelah kelelahan.
Aditya bangun dan melihat wajah pucat Rima, terasa berat untuk menarik napas melihat Rima yang begitu keras tidak mau mengandung anaknya.
Sebenarnya tidak menyalahkan Rima juga mengingat semua terjadi karena dirinya sendiri yang terlalu memaksakan diri untuk menikahi wanita cantik itu.
Entahlah.
Tetapi Rima mampu membuatnya tertarik dari sekian banyaknya wanita yang selama ini dekat dengan dirinya.
Kadang Aditya pun tidak mengerti mengapa Rima memiliki daya pikat tinggi, hingga untuk memejamkan mata sulit karena bayangan wajah Rima selalu menghantui.
Flashback on
"Hay Dok, senyum Dok," ujar Rima dengan centilnya saat menggoda Aditya.
Awalnya biasa aja, tetapi karena terlalu sering menggodanya membuat hati terasa rindu.
Setiap kali bertemu Rima selalu saja memikatnya dengan senyuman, kadang juga dengan kedipan mata centilnya.
Kadang dengan diam-diam Aditya mengintip Rima yang tengah memasang infus pasien, wajah ceria dengan senyum bahagia tidak pernah luntur, membuat hati begitu tenang.
Sampai akhirnya tanpa sengaja bertemu di lorong rumah sakit, berpapasan begitu saja. Akan tetapi, aroma parfum Rima menyeruak pada indra penciuman Aditya.
"Saranghae Dok," celetuk Rima sambil berlalu pergi.
Jantung Aditya semakin berdegup kencang, mungkin kini dirinya menemukan satu wanita yang tepat.
"Baiklah, kau akan menjadi milik ku" gumam Aditya dengan senyuman sambil melanjutkan langkah kakinya.
Flashback off
Aditya tersenyum kecil mengingat saat-saat itu, semua terasa begitu berat namun berlalu begitu cepat.
Merindukan di mana Rima menggodanya dan mampu membuatnya bahagia dengan sejuta siksa. Hanya bisa menatap, tanpa bisa menyentuh walaupun hanya seujung kuku, Aditya tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menarik Rima dalam dekapannya.
Saat tahu Rima sudah memiliki kekasih dan Arini menjodohkan dirinya dengan Jessica, saat itulah Aditya pun mulai memakai otaknya dengan licik.
Hingga akhirnya Rima benar-benar menjadi miliknya, terlalu lama menahan diri membuatnya kehilangan kendali.
Saat malam pernikahan itu juga dirinya menyentuh Rima dengan penuh damba tanpa basa-basi.
"Maaf, kalau aku egois," Aditya menyisir rambut Rima, merapikan beberapa helai yang menyentuh wajah istrinya.
"Tapi kamu yang memulainya, aku hanya melanjutkannya, aku mencintaimu," Aditya hanya bisa berbicara di saat seperti ini.
Bibirnya terlalu berat untuk berbicara secara langsung pada Rima, tidak memiliki keberanian sama sekali.
Dirinya pun siap menerima hukuman, jika memang dengan cara ini Rima bisa menjadi miliknya tidak masalah.
Menunggu sampai Rima lelah dan menyerah berdebat dengannya. Belajar menerimanya dengan senang hati tanpa ada pertengkaran lagi.
Aditya siap menunggu hingga saat itu tiba dan bahagia bersama, hingga Rima pun mencintainya.
Tamat!!!
Novel ini masih ada lanjutannya yah judulnya "Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2" besok akan ku buat...Mau lanjut di judul ini tapi sudah tidak dapat gaji lagi karena sudah mencapai batas pendapatannya.. tiap novel ada batas pendapatan,, jadi author buat dengan judul lain tapi berlanjut kok ceritanya, dan nanti anak-anak mereka akan ada ceritanya juga pas dewasa...
__ADS_1
Terima kasih buat yang selalu baca😊🙏