
"Kita jalan-jalan yuk,, ajak Felix juga," ucap Devan.
"Kemana?" tanya Nayla.
"Pengennya ke hati kamu,, cuma Mas takut," ucap Devan.
Nayla menatap bingung Devan,, dikatakan polos Nayla sudah berulang kali berpacaran dengan beberapa pria, bahkan sudah pernah menikah juga, dikatakan tidak polos nyatanya dia bingung dengan maksud Devan. Lagi pula Devan akan selalu membuat dirinya bingung, ingin sekali memegang dahi mantan suaminya itu, memastikan apakah baik-baik saja atau sedang demam hingga isi kepalanya sedikit tergeser menyebabkan rusak ringan dan menjadi sedikit tidak waras. Dimana Devan yang dingin, arrogant bahkan selama menikah hanya tahu memaksa tanpa memikirkan perasaan dirinya. Diam walaupun dirinya dihina oleh Jessica, menonton sampai dirinya selesai direndahkan oleh wanita yang dulu katanya tercinta.
"Sayang kenapa diam?" tanya Devan yang kini tersadar bahwa Nayla saat ini sedang bingung,, tapi entah apa penyebabnya dirinya juga tidak tahu.
"Takut kenapa?" tanya Nayla yang kini masih duduk di kursi Devan dan menatap Devan dengan penuh tanya.
"Takut nyasar di hati kamu, dan nggak nemuin pintu keluar lagi, kan Mas cinta Nayla," ucap Devan.
Blushh!!! mendadak wajah Nayla memerah melebihi tomat, rayuan Devan membuatnya seakan tidak kuasa walaupun hanya menarik nafas saja. Ya ampun bolehkah Nayla meminta udara lebih banyak mengarah padanya sebentar saja tidak perlu terlalu lama agar dirinya bisa merasa dingin, dari rasa panasnya rayuan maut yang dilontarkan oleh seorang Devan.
"Pipinya kok merah?" tanya Devan.
"Mana ada!!!" ucap Nayla sambil menatap ke arah lainnya dan berusaha untuk tetap tenang.
"Iya pipinya merah," ucap Devan lagi.
"Nggak ada!!" ucap Nayla sambil menjerit tidak kuasa mendengar rayuan Devan.
"Ahahahah," ternyata tidak salah mencintai seorang Nayla, memang wanita itu begitu manis hingga meneduhkan hati, anggun bahkan pemalu.
Lihat saja saat ini pun wajahnya memerah karena tersipu malu, hingga membuat Devan semakin panas dingin.
Sungguh Devan sangat menyesal dulu pernah menolak perjodohan yang dulu ditawarkan oleh Ana untuk menikah dengan Nayla, andai saja dulu dia menerima tawaran tersebut semua tentu tidak akan menyakiti hati. Tentunya tidak ada tangisan, drama menegangkan, juga rasa ragu di hati Nayla untuk bersamanya. Pasti juga saat ini dirinya sangat bahagia memeluk Nayla dalam tidurnya, bahagia dalam membesarkan anak-anak tercinta mereka.
Ya!!! Devan tidak ingin memiliki satu anak saja, dirinya ingin Nayla memberinya banyak anak agar tidak pernah terlintas dibenak wanita itu untuk pergi dari hidupnya walaupun hanya sedetik saja. Bodohnya mampu membuatnya diperbudak cintanya kepada Nayla.
"Yuk kita jemput anak kita," ucap Devan dan lagi-lagi kata-kata Devan membuat Nayla bergetar,,, berharap Devan tidak akan pernah berubah menjadi seperti dulu. Nayla ingin Devan menjadi terus seperti ini, menyayangi dirinya dengan sepenuh hati tanpa ada jeda hingga dirinya benar-benar yakin untuk menerima Devan kembali. Belum pernah Felix merasakan bersama dengan orang tuanya dalam waktu bersamaan,, jalan-jalan bersama menikmati keutuhan cinta kedua orang tuanya. Nayla tidak akan menolak melihat kesungguhan Devan pun begitu besar.
"Aku bingung deh,, kerjaan aku disini itu apa sih? kok nggak jelas gini?" ucap Nayla.
"Nemenin Mas, namanya asisten," jawab Devan.
Nayla mengangkat sebelah alisnya, dia digaji dengan nominal yang sangat besar, dan pekerjaannya hanya menemani Devan saja. Terdengar aneh tapi nyata itulah yang terjadi,, tidak dipungkiri Nayla bahagia dengan perhatian yang diberikan oleh Devan. Apalagi rasa cinta Devan kian semakin nyata,, diperlakukan layaknya ratu,, diagungkan layaknya seorang wanita yang berharga. Hingga Devan membukakan pintu untuk Nayla, mempersilahkan keluar terlebih dahulu, kemudian Devan berjalan di belakang tubuh Nayla. Padahal tubuh Nayla cukup tinggi,, tetapi jika bersama Devan tetap saja dirinya merasa pendek. Nayla tidak ingin ada kehebohan yang terjadi, sehingga memilih berjalan terlebih dahulu. Memberikan jarak agar tidak menjadi buah bibir di tempatnya bekerja.
__ADS_1
Saat melewati lorong-lorong rumah sakit pun Devan berjalan di belakangnya.
"Nayla!!!" terdengar suara Denis dan saat ini Denis tengah berjalan ke arah Nayla.
Sejenak Nayla berhenti melangkah dan beralih menatap Denis. Nayla tak tahu apa penyebab Denis menghampiri dirinya, hubungan mereka sudah berakhir artinya sudah tidak memiliki hal apapun yang perlu dibahas. Saat ibu Denis meminta hubungan mereka untuk diakhiri, Nayla pun seketika mengakhirinya. Dengan jelas mengatakan pada Denis agar melupakan dirinya dan semoga mendapatkan wanita yang lebih baik dari dirinya. Sejenak Nayla memutar leher menatap Devan berdiri beberapa meter di belakang tubuhnya,, sesaat kemudian berbalik kembali menatap Denis yang berdiri di hadapannya.
Tiba-tiba tangan Denis dengan cepat memegang tangannya, Nayla pun melepaskan dengan cepat. Nayla tidak mau terkesan tidak menghargai Devan. Devan saja kini sudah menjadi kekasihnya membatasinya, apa mungkin Nayla membiarkan Denis memegang tangannya bahkan di depan mata kepala Devan sendiri.
"Nayla, Mas mau bicara," ucap Denis dengan nada memohon.
Nayla menatap di sekitarnya cukup banyak orang di sana, rasanya tidak enak jika membicarakan hal pribadi di rumah sakit, apalagi bisa jadi bahan tontonan karena sebuah perdebatan.
"Kita bicara di tempat lain," ucap Denis yang tahu Nayla sudah tidak ingin membahas hubungan mereka, akan tetapi Denis tidak mau hubungan mereka berakhir begitu saja.
Banyak hal yang sudah dilakukan oleh Denis hanya untuk bertemu dengan Nayla. Berharap setelah berbicara dari hati ke hati bisa merubah keputusan Nayla meninggalkan dirinya. Salah satunya menghubungi Nayla terus menerus, kemudian mengunjungi kontrakan hingga berulang kali. Sayangnya Nayla sudah benar-benar menghindar, tidak ingin bertemu jika bukan karena pekerjaan saja.
"Maaf Mas, aku sedang dalam jam kerja," ucap Nayla segera berjalan menuju pintu keluar, berjalan cepat menuju parkiran khusus direktur rumah sakit demi menghindari Denis.
Tetapi Denis memutuskan untuk menyusul, sampai akhirnya Denis dengan terpaksa kembali memegang lengan Nayla dengan cepat, berusaha agar dirinya tidak dihindari lagi untuk kali ini pun. Devan masih terdiam cukup jauh sambil menatap Nayla begitu dekat dengan Denis,,, dirinya hanya ingin membuat Nayla nyaman. Sekalipun saat ini tangannya sudah gatal ingin menghajar pria yang sudah berani menyentuh wanitanya. Tidak lama berselang seorang wanita paruh baya datang. Ibu Denis datang untuk menemui anaknya karena ada suatu hal. Sampai di depan rumah sakit malah melihat anaknya memegang tangan Nayla, seketika merasa banyak api yang menyembur dari mulut, hidung dan kemudian telinganya. Dengan langkah kaki yang lebar Ibu Denis menghampiri.
"He," wanita itu menghempaskan tangan Nayla hingga akhirnya terlepas dari genggaman tangan Denis.
"Kamu," wanita itu mendorong tubuh Nayla hingga mundur beberapa langkah,, menatap dengan penuh kemarahan.
"Kenapa kamu masih mendekati anakku!!! aku tidak akan pernah setuju janda gatal sepertimu menikah dengan anakku!!! anakku itu masih lajang bisa dapat yang lebih dari kamu!!!" teriak wanita itu hingga membuat beberapa pasang mata melihat ke arahnya.
"Bu jangan berteriak," ucap Denis yang berusaha membuat ibunya agar diam. Tetapi wanita paruh baya itu sudah termakan api amarah dan tidak memperdulikan Denis sama sekali, apalagi memikirkan perasaan wanita yang kini dia hina.
"Kamu dengar baik-baik janda gatal!!! anakku tidak level sama kamu!!!" ucap Ibu Denis.
"Kalian semua lihat wanita janda gatal ini!!! dia sudah janda punya anak tapi masih cari yang lajang, apa dia mau kasih tubuh bekasnya itu sama anakku," teriak Ibu Denis dihadapan banyak orang. Mempermalukan Nayla adalah kebahagiaan baginya, itu adalah bagian dari hukuman karena sudah berani mengganggu anaknya. Baginya tidak pantas, janda seperti Nayla bersanding dengan anaknya.
"Apa yang kamu harapkan dari dia?" kini Ibu Denis bertanya pada Denis.
"Janda gatal itu pasti sudah memberikan kamu pelet, kamu itu harus mandi kembang," ucap Ibu Denis lagi.
Nayla benar-benar merasa malu, semua mata menatap ke arahnya bahkan banyak yang berbisik-bisik. Sampai akhirnya Devan berdiri di samping Nayla, merangkul pundak Nayla dengan erat.
"Saya calon suaminya,, anak anda yang lajang itu tidak level dengan wanita secantik dan sebaik Nayla," ucap Devan dengan santai.
__ADS_1
Siapa saja yang mendengar tidak percaya dengan pengakuan Devan, Dokter arrogant salah satu pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta itu membuat suatu pengakuan yang sangat mengejutkan sekali.
Ibu Denis memperhatikan penampilan Devan, bisa menebak jika pria itu adalah seorang Dokter.
"Anda mau dengan dia?" ucap Ibu Denis yang tak segan menunjuk wajah Nayla, tersenyum miring seakan meremehkan.
"Anda juga sudah di jampi-jampi," ucap Ibu Denis.
"Kamu!!!" ucap Devan sambil menatap Denis.
"Bawa ibumu ini pergi dari wilayah saya ini, saya masih berusaha untuk menghargainya sekalipun sebenarnya tidak pantas, jangan pernah dia menampakkan wajahnya di hadapan saya atau calon istri saya!!!" tegas Devan.
Denis tentu saja tidak berani berhadapan dengan Devan, Denis tahu Devan akan bisa melakukan apa saja termasuk menghancurkan hidupnya. Menghancurkan karirnya semudah membalikkan telapak tangan.
"Kamu berani sekali pada ku!!! dasar tidak sopan!!! kamu pikir kamu siapa!!!" teriak Ibu Denis pada Devan.
"Hei janda gatal,, jangan lagi dekati anakku,, ingat itu!!!" ucap Ibu Denis lagi yang belum puas sebelum Nayla benar-benar menjauhi anaknya.
Devan menatap wajah Nayla, mata wanita itu berkaca-kaca seakan menahan air mata agar tidak menetes. Status janda yang disandang terlalu dianggap remeh oleh orang lain,, padahal tidak ada manusia yang ingin bercerai dalam membina rumah tangganya. Ditambah lagi banyak pasang mata yang berkerumun menatap ke arah Nayla.
"Dengar semuanya!!! dia Nayla Putri calon istri saya, jangan ada yang berani membicarakan, menghina atau menyudutkan. Terutama pada siapa yang bekerja di sini, kecuali sudah tidak betah bekerja di sini," ucap Devan.
Seketika semuanya membubarkan diri, takut ancaman Devan akan berubah jadi nyata, lagi pula mereka masih terlalu mencintai pekerjaannya.
Kini Devan beralih menatap Denis.
"Bawa Ibumu ini pergi dari sini, kamu jangan pernah kembali lagi ke sini," ucap Devan.
"Dok saya mohon..."
"Pergi dari sini!!!" ucap Devan.
"Hei... kamu siapa beraninya mengusir aku dan anakku," tantang Ibu Denis lagi.
"Tanyakan pada anakmu saya siapa,, yang pastinya saya calon suami Nayla," ucap Devan.
"Bu kita pergi saja dari sini,, dia itu pemilik rumah sakit ini," bisik Denis pada ibunya yang sangat ribut,, sejak tadi terus saja menghina Nayla padahal Nayla tidak salah apa-apa.
Ibu Denis menegang seketika, sadar ternyata dirinya salah mencari lawan. Terlambat sudah!!! anaknya kini kehilangan pekerjaan padahal selama ini memberikan gaji padanya setiap bulan.
__ADS_1