
Nayla menikmati sarapan paginya dengan perasaan bahagia, rasanya sungguh puas melihat Devan tersiksa. Nayla sebenarnya bukan wanita jahat tapi Devan yang telah mengajarkan dirinya untuk melakukan ini, mengubah dirinya menjadi wanita keras kepala dan juga pembangkang,, kapan akan bahagia bila terus disiksa lahir batin selama ini.
Tidak!!
Kali ini tidak lagi sama,, cinta tidak mampu melumpuhkan ego, begitu pun dengan luka, tertutup kabut kebencian yang besar, dia hanya seorang wanita lemah pejuang kebahagiaan. Manusia dengan punya batas kesabaran kali ini pun sama kesabaran itu sudah sampai pada batasnya, hingga kedepannya tidak ingin lagi terperangkap akan cinta semu tidak pernah di balas oleh Devan padanya. Padahal selama ini dirinya hanya menurut tanpa menuntut. Tapi tidak satu kali pun dipandang, ditatap dengan sepenuh hati lalu bertanya akan perasaan wanita rapuh seperti dirinya ini.
"Kamu sarapan apa?" tanya Devan begitu selesai bermain solo di dalam kamar mandi.
Suara Devan membuat selera makannya rusak seketika, Nayla berdiri dan meninggalkan makannya yang belum habis. Devan menatap punggung Nayla yang menjauh. Devan mendengus sambil tertunduk lemah, kapan hubungan mereka bisa membaik seperti dulu lagi. Devan benar-benar rindu akan senyuman Nayla, rindu dekapan hangat istri keduanya itu.
Devan segera menyusul Nayla yang kini sudah masuk ke dalam kamar, Devan melihat Nayla duduk di balkon sambil menatap ke luar. Perlahan Devan juga masuk,, masalah ini harus diselesaikan,, cukup sudah Nayla mengacuhkan dirinya,, Devan sudah tidak tahan lagi diacuhkan Nayla.
"Nayla, Mas minta maaf tolong berikan Mas kesempatan," ucap Devan yang saat ini berdiri di belakang Nayla.
Nayla hanya diam tanpa perduli,, menurutnya tidak ada yang menarik dari keinginan Devan saat ini.
"Nayla, tolong maafkan Mas, Mas berjanji akan memperbaiki kesalahan-kesalahan Mas," ucap Devan sambil mendekati Nayla,, menatap dengan lekat dan perlahan melingkarkan tangannya pada pinggang Nayla.
Nayla melepas tangan Devan dan mendorong Devan agar menjauh dari dirinya. Sekalipun Devan menunjukkan wajah melas tapi tidak ada belas kasih sedikit pun dari Nayla.
"Apa salah Mas meminta maaf padamu?" ucap Devan seperti tanpa dosa.
Plaakkkk...
Tangan Nayla melayang di udara mendarat tepat di wajah Devan. Sungguh itu adalah kata-kata teraneh dan menyakiti hati yang pernah Nayla dengar.
__ADS_1
"Nayla?" ucap Devan terperanjat kaget dengan apa yang barusan dilakukan Nayla.
Wanita yang dikenalnya dengan wanita penuh kelembutan kini berubah bagaikan monster, apakah wanita di depannya ini begitu terluka hingga berubah kasar. Baru kali ini Devan ditampar oleh wanita dan wanita itu adalah Nayla istri keduanya sendiri. Devan tidak pernah membayangkan sebelumnya akan ditampar oleh Nayla,, wanita yang dikenalnya sangat lembut dan baik.
"SALAH katamu? masih bertanya salah atau benar? aku sudah tersakiti dan kamu bertanya salah? aku ini manusia, istri, wanita yang akan melahirkan anakmu! tapi kapan kamu pernah memandang ku? menganggap aku istrimu? kamu hanya perduli pada dirimu sendiri,, istri tercinta mu itu,,, seakan-akan aku merebut kamu darinya!!!" ucap Nayla dengan penuh kemarahan.
Nayla tidak ingin lagi memendam semuanya, kali ini Nayla akan melepas apa saja yang ada dihatinya. Tidak perduli jika Devan akan menceraikan dirinya sekalipun rasa sakit sudah menggunung.
"Jawab? aku masih menghargai mu karena kamu adalah suami ku. Aku juga ini istrimu sekalipun hanya istri siri mu, istri keduamu. Tapi pernah tidak kamu memikirkan perasaan ku sedikit saja,, kamu menjadikan Jessica seakan korban dari semua ini, lantas bagaimana dengan aku? akulah korban disini kenapa seakan-akan akulah yang bersalah,,, akulah yang tidak tau diri?" ucap Nayla.
"Nayla," ucap Devan.
"Aku sudah minta diceraikan oleh mu, ada orang lain yang siap bertanggung jawab atas janin ini, tapi kamu malah tidak mau mengucapkan kata talak padaku! aku bisa apa? pergi? aku bukan wanita seperti itu, aku tidak mau pergi sebelum menerima kata talak dari kamu, aku punya pendirian dalam hidup ku, tau akan tanggung jawab ku sebagai istri tapi pernah tidak kamu menghargai aku sedikit saja?" ucap Nayla.
"Aku berjuang bertaruh nyawa untuk mempertahankan janin ini karena kamu,, tapi kamu malah pergi berbulan madu bersama istri tercinta mu itu, dengan alasan untuk mempertahankan rumah tangga mu, lalu bagaimana dengan aku? apakah kamu puas berbahagia disana dan aku menderita? kamu bahagia. Hey Devan Bima Putra yang terhormat,, anda yang sudah memperkosa saya, seorang pengasuh keponakan anda sendiri, dan memaksa saya untuk menikah dengan anda! apa anda sadar, anda lah yang sudah menghancurkan hidup saya!!!" teriak Nayla.
Biarlah Nayla berteriak meluapkan rasa sakitnya agar Devan mengerti bukan hanya Jessica saja yang terluka tapi ada hati yang lainnya juga yang terluka bahkan sangat terluka.
"Jika kamu menyakiti hati Jessica hanya satu nyawa saja yang kamu sakiti, tapi kamu pernah sadar tidak, jika kamu menyakiti aku,, kamu sekaligus menyakiti janin yang ada di rahimku,, anakmu sendiri!" ucap Nayla.
Devan menatap mata Nayla,,, mata rapuh dan berurai air mata.
"Pandang aku juga, tatap aku juga,, aku juga tersakiti disini jangan terus-terusan menyalahkan aku penyebab semua ini,, aku tidak mungkin ada diantara kalian kalau bukan karena kamu," ucap Nayla dengan suara putus asa yang terdengar sangat pilu.
"Nayla,, Mas minta maaf," ucap Devan.
__ADS_1
Devan memeluk Nayla dengan erat mendengar suara isak tangis di telinganya yang terdengar sangat memilukan. Tapi sayangnya Nayla kembali mendorong tubuh Devan agar menjauh dari dirinya,, Nayla benci Devan dan tidak ingin disentuh.
"Aku beri kamu waktu untuk memilih," ucap Nayla.
"Memilih?" tanya Devan penuh kebingungan, tidak mengerti dengan maksud Nayla.
"Iya," jawab Nayla.
"Maksudmu?" tanya Devan masih dengan ekspresi wajah bingungnya.
Nayla terdiam menimbang wajah Devan.
"Aku memberi kamu waktu untuk tetap bersama ku sampai anak ini lahir tapi setelah itu kamu boleh menceraikan Jessica dan tetap bersama aku, atau ceraikan aku dan kembali bersama istrimu Jessica,, anakku tetap bersama ku karena itu sudah ditetapkan oleh Papa Bima sendiri,," ucap Nayla.
"Nayla tidak bisakah ini kita bicarakan baik-baik?" ucap Devan.
"Bisa, dan ini kita sudah bicarakan baik-baik,, aku mencintaimu!" ucap Nayla.
Degh!!!
Jantung Devan berdetak sangat kencang begitu mendengar kata cinta yang keluar dari bibir Nayla,, apakah telinganya tidak salah mendengar, Nayla mencintai dirinya.
"Aku mencintaimu dan sekarang pilihan ada padamu," ucap Nayla.
Setelah mengucapkan itu Nayla segera pergi meninggalkan Devan yang masih berdiri mematung di tempatnya.
__ADS_1