Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Syukur kalau khilaf!!!


__ADS_3

Jalanan begitu ramai dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, mulai dari roda dua,, tiga,, empat dan masih banyak lagi. Suara bising pun tidak terhindari, belum lagi pada banyaknya pejalan kaki dengan bermacam-macam aktivitas. Sayangnya di tengah keramaian tersebut Nayla malam merasa sepi matanya melihat keluar jendela mobil.


Devan mengemudikan mobilnya sesekali melirik Nayla yang duduk di sampingnya, semenjak kejadian barusan wajah Nayla berubah sangat murung, mata indahnya berkaca-kaca pikirannya menerawang jauh menembus awan biru. Sesekali dirinya mengingat kembali hinaan yang terlontar dari bibir wanita paruh baya barusan. Devan menepikan mobilnya kemudian beralih menatap Nayla.


"Nayla," ucap Devan mengusap kepala Nayla, menyadarkan dari lamunannya, sedetik kemudian setetes air mata jatuh di pipi mulus itu, secepatnya mengusap wajahnya agar tidak meninggalkan jejak air mata di sana.


"Mas apa janda itu adalah status yang paling hina?" tanya Nayla dengan bibir bergetar pada Devan berulang kali air matanya tumpah.


Ucapan Ibu Denis mungkin hanya akan dianggap sebagai angin lalu, tapi cukup membuat Nayla merasa terhina.


"Aku pernah dianggap merusak rumah tangga orang, sekarang jadi janda juga direndahkan, rasanya mereka hanya mengatakan apa yang mereka dengar dan mereka lihat tanpa mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Nayla.


Tidak tahu salah atau benar,, terlalu lebay atau terlalu mendramatisir keadaan. Akan tetapi Nayla merasa sangat malu, sudah dua kali Ibu Denis mempermalukan dirinya di depan umum, rupanya belum cukup saat membuat keributan di kontrakannya hingga berlanjut di rumah sakit lagi. Sekalipun berakhir dengan Devan membelanya tidak mungkin lantas membuat mulut mereka benar-benar bungkam, pasti masih ada bisikan omongan mengenai dirinya.


"Sayang Mas minta maaf ini salah Mas, gimana kalau kita menikah secepatnya?" ucap Devan.


Keputusan yang tepat adalah menikahi Nayla secepat mungkin, agar siapa saja tidak ada yang berani menghina lagi. Devan akan selalu melindungi dengan sepenuh hati tanpa membiarkan rasa sakit sedikitpun menggores hati Nayla. Sayangnya Nayla menggeleng, tampaknya memilih menolak untuk dinikahi.


"Kenapa?" tanya Devan yang masih belum mengerti mengapa sampai saat ini Nayla masih menolak dirinya. Mungkinkah belum cukup rasa cinta yang dimilikinya untuk Nayla, hal seperti apa yang bisa membuktikan bahwa cintanya begitu besar.


"Aku cuma wanita biasa Mas, cuma rakyat miskin yang hidup di pinggiran, Mas itu adalah pangeran dengan banyak kekayaan, kita jelas sangat jauh berbeda. Mas akan malu kalau memperkenalkan aku nantinya pada teman-teman, keluarga dan lainnya. Aku nggak pantas buat Mas kita nggak seimbang," ucap Nayla, rasa itulah salah satunya menjadi alasan kuat untuk berpikir beberapa kali menjadi istri Devan, Nayla merasa takut nantinya akan bercerai kembali hanya karena Devan sadar menikahi wanita seperti dirinya yang terlahir dari keluarga miskin.


Devan mengangkat dagu Nayla,, menatapnya dengan sangat lekat. Sejenak kedua pasang bola mata itu bertemu, menatap begitu dalam seakan penuh cinta di dalamnya. Tapi siapa sangka di balik cinta ada juga keraguan yang membuat rasa harus ditahan.


"Kamu cinta sama Mas?" tanya Devan.


Nayla mengangguk lemah, berulang kali air matanya terus menetes tapi Devan tidak pernah lelah untuk mengusapnya sekalipun hingga berulang-ulang.


"Kenapa? alasannya apa?" tanya Devan lagi.


Nayla hanya diam sambil terus menatap manik mata Devan.


"Kamu tidak punya alasan," ucap Devan.


Sejenak keduanya hening,, Devan menjauh dari Nayla.


"Itulah yang terjadi pada Mas juga, nggak tau alasan apa yang membuat Mas sangat mencintaimu, entah sejak kapan juga Mas tidak tahu, yang Mas sadari adalah saat kamu sudah pergi ada kerinduan yang begitu dalam, akhirnya Mas memutuskan untuk mengujinya dengan menjauhi mu,, melupakan mu, menepi, menyendiri dengan harapan bahwa kamu hanya sekedar singgah di hati Mas, tapi apa? Mas tidak pernah bisa melupakan kamu, sejak saat itu Mas yakin kalau Mas sangat mencintai kamu," ucap Devan sambil menatap Nayla tanpa jeda, wajah Nayla menyimpan kegundahan yang begitu dalam.


"Apa kamu mau terus terluka seperti ini? Mas yakin kamu juga ingin bahagia, Mas sangat bersedia membahagiakan kamu, tapi kalau kamu tidak mau mencobanya tidak mungkin kamu bisa bahagia, kita rujuk! demi cinta kita! demi anak kita!" ucap Devan yang membuat Nayla mengangguk menyetujui keinginan Devan, rasanya sudah cukup dirinya menjadi seorang janda saat ini.


Devan begitu bahagia melihat Nayla mengangguk, tidak perlu melihat bibir Nayla berucap, sudah pasti jawabannya adalah iya.


"Tapi aku punya syarat?" ucap Nayla.


"Apa?" tanya Devan.


Sekalipun syaratnya sangat berat,, Devan pasti akan menyetujuinya.


"Aku mau Mas cinta selamanya sama aku," ucap Nayla.


"Itu sudah pasti sayang,, selamanya cinta Mas hanya untuk kamu seorang," ucap Devan dengan sangat yakin.


Seketika Devan mencoba peluk Nayla, hingga didorong oleh pemilik tubuh.


"Mas aku memang janda!!! tapi jangan gitu dong," kesal Nayla.


"Mas juga duda!!! peluk dikit nggak apa-apa dong," ucap Devan yang kembali ingin memeluk Nayla tapi sayangnya ditolak.

__ADS_1


Akhirnya Devan tersenyum sambil menunjukkan dua baris gigi rapinya, pria arrogant itu kini terlihat begitu manis dan menggemaskan.


"Sayang Mas kan duda," ucap Devan.


"Em," reaksi Nayla.


"Mas punya akta cerai, kamu?" ejek Devan.


Nayla tahu Devan kini tengah mengejek dirinya,, seketika dia memukuli Devan dengan membabi buta.


"Ahahahah,," akhirnya Devan tertawa karena puas membuat Nayla merasa kesal.


"Mas apa sih!!!" gerutu Nayla sambil melihat ke arah luar.


Devan masih terkekeh melihat wajah kesal Nayla,, sesaat kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.


"Mas,, Felix butuh surat-surat untuk masuk KK,, terus buat akta dan yang lainnya," ucap Nayla.


"Kalau kita menikah lagi semua itu tidak akan sulit mengurusnya," ucap Devan sambil fokus mengemudikan mobilnya.


Nayla menatap wajah Devan dari samping, membenarkan apa yang dikatakan oleh Devan.


"Mas kalau kita menikah lagi aku nggak mengharapkan pesta yang mewah, cuma aku nggak mau nikah siri," ucap Nayla.


"Nikah resmi!!! ngapain nikah siri," ucap Devan sambil memarkirkan mobilnya di depan kontrakan Nayla, akhirnya mereka sampai juga di sana.


"Janji yah Mas," ucap Nayla.


"Iya cantik, kamu jemput Felix dulu terus ganti baju,,, habis itu kita bawa Felix jalan-jalan," ucap Devan.


"Mau ikut!!! kalau disuruh sekalian gantiin baju kamu," jawab Devan yang membuat Nayla memilih untuk segera turun dari mobil, mungkin jika dia tidak segera turun akan ada omongan gila lagi yang keluar dari mulut Dokter mesum tersebut.


Devan hanya menunggu di dalam mobil, hingga beberapa saat kemudian Nayla kembali masuk dengan membawa Felix.


"Yah!!!" teriak Felix saat melihat Devan.


Bocah itu terlihat sangat bahagia melihat sang ayah ternyata menunggunya di dalam mobil.


"Anak ayah!!!" Devan menciumi pipi tembem Felix dengan gemas hingga berulang kali, dan mengambil alih dari Nayla.


Felix duduk di pangkuan Devan yang tengah mengemudikan mobil membawa menuju sebuah taman kota. Sampai di sana Felix bermain dengan gembiranya, bahkan sudah mulai belajar berjalan.


"Felix cium ayah dong," ucap Devan sambil menunjuk pipinya.


Felix menurut dan mencium pipi sang ayah.


"Bunda nggak dicium?" ucap Nayla yang juga tidak mau kalah dari Devan yang mendapatkan ciuman manis dari Felix.


Felix pun menurut menciumi pipi Nayla secara bergantian.


"Yah?" ucap Felix yang seolah-olah meminta Devan juga menciumi pipi Nayla.


Membuat suasana terasa sangat menegangkan, padahal taman kota terlihat begitu ramai. Cuaca sore ini juga tidak terlalu panas, duduk di bawah pohon yang rindang membuat tubuh terasa lebih segar.


"Yah!!" ucap Felix lagi.


"Sayang sekali yah?" ucap Devan penuh harap.

__ADS_1


"Mas jangan gila dong," tolak Nayla mentah-mentah.


Devan hanya nyengir kemudian menggaruk kepalanya yang mendadak gatal mendengar penolakan itu. Sesaat kemudian ketiganya kembali bermain dengan bahagia, Felix bahkan sampai terlelap karena terlalu lelah bermain.


Tidak terasa malam sudah larut, mulai dari bermain di taman hingga berpindah bermain di mall cukup menguras tenaga. Akhirnya Devan mengantar Nayla dan Felix kembali ke kontrakan. Baru saja Nayla turun dari mobil tapi sudah disambut dengan omongan warga sekitar.


"Janda pulangnya diantar sama laki-laki terus yah,, mana laki-lakinya beda-beda terus," ucap seorang wanita yang menyindir dengan pedas sambil menatap Nayla dengan kesal.


"Tau tuh!!! maklumlah namanya janda gatal sudah lama nggak dibelai," ucap salah satu ibu-ibu lagi yang ikut menimpali tidak mau kalah dengan ibu yang satunya.


"Pagi tadi juga dia liatin suami aku," ucap yang satunya lagi yang membuat suasana semakin panas.


Devan turun dari mobilnya menghampiri tiga warga yang tengah mencela Nayla.


"Ibu kami akan menikah! nanti kalian bertiga dan semua warga di sini akan diundang untuk hadir di acara pernikahan kami, ibu-ibu mau dikasih emas sebagai souvenir?" ucap Devan.


Ketiga wanita itu saling pandang seakan menatap bingung.


"Begini saja," ucap Devan sambil mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa uang ratusan dari dalamnya, mata ketiga wanita itu seketika berbinar menatap uang yang berada di tangan Devan.


"Ambil dan jangan ganggu calon istri saya, apalagi membicarakan yang tidak-tidak," tegas Devan.


Dengan cepat ketiga wanita itu mengambil uang dari tangan Devan,, lalu segera pergi dengan mata yang berbinar.


"Kita akan menikah dalam waktu yang dekat ini, sudah cukup puas aku mendengar orang-orang menghina status jandamu," tegas Devan lagi.


"Mas..."


Devan tidak mendengar apapun yang akan dikatakan oleh Nayla, dia segera masuk ke dalam mobilnya kembali dan pulang menuju rumahnya. Devan ingin segera menikahi Nayla dan ingin membicarakan semua itu pada keluarganya.


Entah kebetulan atau tidak tapi saat Devan sampai di rumah ternyata semua anggota keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga, Devan pun ikut bergabung juga.


"Cie... Ayah pacaran ni ye,," ejek Rani dengan gigi ompongnya.


"Pacaran?" ucap Devan yang baru saja duduk di samping Ana, tapi seorang bocah ingusan itu sudah membuatnya penasaran.


"Mama sama Rani melihat kamu,, Nayla dan Felix di mall," Ana ikut menimpali.


"Pengen nyamperin tapi takut ganggu, hahahaha," ucap Rani lalu segera berlari menuju kamarnya sebelum Devan mengamuk dan menghajar dirinya.


"Dasar ompong," teriak Devan.


"Duda akut!!!" balas Rani tidak kalah kencang sambil memutar gagang pintu kamarnya.


Setelah itu Rani benar-benar menghilang di balik pintu, lebih baik segera mengunci pintu sebelum Devan benar-benar menghajar dirinya, pikir bocah ingusan tersebut.


"Ya ampun bocah itu Ma," ucap Devan mendesus sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.


"Devan, Papa perhatiin hubungan kamu dan Nayla semakin tidak wajar, Papa tidak suka kalian sedekat itu, kalau memang harus tetap seperti itu,, menikah lebih baik," ucap Bima Putra yang memberikan usulan.


"Mama juga sangat setuju!!! nggak baik kemana-mana berduaan terus,, bisa saja khilaf nantinya," ucap Ana.


"Syukur kalau khilaf," ucap Devan.


"DEVAN!!!" ucap Ana dan Bima Putra bersamaan,, begitu mendengar ucapan anak kampretnya itu.


Devan langsung nyengir kuda.

__ADS_1


__ADS_2