Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tidak dapat terlelap!


__ADS_3

Semalaman penuh Reyna tidak dapat terlelap, hingga pagi ini dirinya masih memikirkan Nanda yang pergi entah ke mana sejak kejadian semalam.


Sesekali Reyna melihat jendela kaca berharap dari beberapa sepeda motor yang melintas salah satunya adalah Nanda.


Tidak!


Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh sampai saat ini pun Nanda belum juga pulang.


Reyna pun mengambil ponselnya ingin menghubungi Nanda, sayangnya dirinya tidak memiliki nomor ponsel suaminya sendiri.


Huffftt....


Reyna tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya dia keluar dari kamar ingin bertanya pada Arni.


Mungkin saja Mama mertuanya tersebut tahu ke mana perginya Nanda.


Segera Reyna menuju halaman, di sana Arni sedang menikmati secangkir teh hangat, berjemur di bawah matahari pagi yang cerah.


Namun, masih diambang pintu utama, Reyna merasa malu untuk bertanya, akhirnya hanya diam dan mondar-mandir di depan pintu.


"Kok mondar-mandir?" Arni ingin masuk tetapi malah melihat menantunya di depan pintu mondar-mandir seperti setrikaan saja.


Reyna memainkan buku-buku jarinya, melihat Arni dengan perasaan was-was.


"Kamu kenapa? udah sarapan?" tanya Arni lagi yang lagi-lagi penasaran akan sikap aneh menantunya.

__ADS_1


"Ma, Nanda ke mana yah?" tanya Reyna.


Sulit sekali mengeluarkan pertanyaan tersebut, tapi tidak mungkin pula jika hanya diam terus-menerus dalam rasa bersalah.


Arni malah bingung mendengarkan pertanyaan Reyna.


"Kenapa bertanya pada Mama?" Arni benar-benar tidak mengerti maksud pertanyaan Reyna.


"Tadi malam Nanda baru pulang, terus segera ke kamar mau ketemu kamu, malahan Mama pikir kalian masih tidur berduaan, Mama maklumi sih, kan pengantin baru, lagian nggak ketemu dua hari pastinya rindu," ujar Arni dengan rasa bingungnya.


Aneh sekali mendengar pertanyaan Reyna, bukankah seharusnya istri selalu tahu kemana suaminya pergi?


"Kamu nggak ribut sama Nanda kan?" tanya Arni penuh selidik.


Reyna menggigit bibir bawahnya sambil memainkan jari-jarinya mengingat kejadian semalam Nanda pergi karena dirinya, bodohnya malah nekat memukul kepala Nanda dengan vas bunga, andai saja Arni tahu yakin pasti akan di caci maki.


Belum juga Reyna menjawab sepeda motor Nanda sudah terdengar memasuki gerbang, Reyna pun melihat Nanda yang mulai berjalan masuk di mana dirinya sendiri di dekat pintu masuk.


"Kepala kamu kenapa? kenapa diperban begini?" tanya Arni.


Arni mendekati Nanda dan melihat lebih dekat.


Entah apa yang terjadi pada anaknya, hingga membuatnya bertanya-tanya.


Reyna pun melihatnya, rasanya begitu menyesal sekali.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Ma," jawab Nanda.


"Nggak apa-apa gimana? ini kepala kamu sampai di perban begini," ucap Arni lagi.


Arni masih begitu penasaran tentang apa yang sudah terjadi pada anaknya, jawaban Nanda benar-benar tidak membuatnya puas.


"Ya udah kamu sarapan dulu," kata Arni meminta Nanda duduk di kursi meja makan.


Nanda pun mengangguk kemudian duduk dari kemarin dirinya belum memakan satu butir nasi pun.


"Kamu mau sarapan apa?" tanya Arni.


"Aku aja yang buatin, boleh nggak, Ma?" tanya Reyna dengan suara pelan.


Takut juga Nanda menolak bahkan mungkin marah karena kejadian malam tadi.


"Iya tolong kamu buatkan ya,," Arni tersenyum dan mengangguk.


Reyna pun segera membuatkan sepiring nasi goreng dan menyajikan untuk Nanda, perasaan sangat khawatir akan penolakan Nanda atau mungkin saja piring berisi nasi goreng tersebut malah dilemparkan pada wajahnya.


"Kamu temani suami mu dulu, Mama mau beli sayur di depan, kayaknya itu tukang sayur lewat," Arni pun berdiri.


"Mama di sini aja biar aku yang beli sayur," tawar Reyna.


Sejak kejadian itu dirinya mendadak takut pada Nanda, apalagi jika kedua orang tuanya tahu terutama Puput, habislah dirinya di kucek-kucek seperti cucian.

__ADS_1


"Nggak usah, Mama aja, kamu temani Nanda," ucap Arni.


__ADS_2