
Semua anggota keluarga sudah tau bahwa Devan memiliki dua istri,, bahkan Bima Putra sendiri menyuruh Devan untuk berlaku adil pada kedua istrinya.
Berhari-hari Devan hanya menemani Jessica saja yang sedang terpuruk karena luka yang sangat dalam,, sehingga hari ini Devan memutuskan untuk mengunjungi istri keduanya.
Devan melihat pintu rumah terbuka lebar padahal malam sudah larut,, rumah tampak masih berantakan belum dibersihkan. Dengan segera Devan berjalan menuju kamar untuk melihat keadaan Nayla. Terlihat kamar kosong,, seisi rumah kosong tanpa ada siapapun disana. Devan dilanda kepanikan.
Devan bertanya-tanya perihal Nayla, dalam keadaan panik Devan segera menghubungi Nayla tapi tidak satu kali pun panggilannya terhubung.
Dengan segera Devan menghubungi Reyna,, dan panggilan nya langsung terhubung.
"Halo Tuan Devan," ucap Reyna diseberang sana begitu menjawab panggilan telepon dari Devan.
"Dimana Nayla?" tanya Devan langsung tanpa ingin basa-basi saat ini keberadaan Nayla sangat penting untuknya.
"Oh Nayla sudah meninggal dua hari yang lalu," jawab Reyna.
"Kamu jangan main-main," ucap Devan cepat.
"Aku sangat serius,, seharusnya anda datang disaat dia masih hidup,," ucap Reyna lalu segera menutup panggilan telepon secara sepihak tanpa menunggu persetujuan dari Devan. Reyna sudah benar-benar kesal pada suami Nayla itu,, tidak menyangka sahabatnya yang sangat baik bisa mendapatkan suami modelan seperti itu,, rasanya takdir tidak adil untuk sahabatnya.
"Ini tidak mungkin,, Nayla tidak mungkin sudah tiada," ucap Devan frustasi lalu segera menghubungi Reyna kembali namun tidak bisa karena tampaknya Reyna sengaja menonaktifkan ponselnya.
Devan kembali ke rumah dengan perasaan gusar luar biasa,, Devan meminta orang-orangnya untuk menyelidiki keberadaan Nayla secepat mungkin,, Devan yakin pasti istri keduanya itu belum meninggal dan apa yang dikatakan Reyna tadi adalah kebohongan.
Saat melihat Devan masuk,, Ana langsung memanggil Devan.
"Devan,, tadi Mama ke rumah Nayla tapi Nayla tidak ada Devan, apa kamu membawa Nayla ke tempat lain?" tanya Ana dengan perasaan was-was.
Cucunya ada dikandungan Nayla,, Ana sendiri juga tau bagaimana baiknya Nayla,, jadi dia tidak mempermasalahkan sedikit pun jika Nayla mengandung cucunya,, Ana tidak ingin Nayla dan cucunya menderita karena kesalahan Devan.
"Devan juga tidak tau Ma dimana keberadaan Nayla sekarang,," ucap Devan sambil mengusap wajahnya hingga beberapa kali.
__ADS_1
"Kamu harus cari dia Devan,, bagaimana kalau saat ini dia sendiri,, bersedih,, menangis atau malah keguguran?" ucap Ana yang benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Nayla.
Devan mengurungkan niatnya untuk naik ke tangga,, Devan langsung memutar tubuhnya kembali menuju ke mobil,, Devan pergi mencari Nayla di manapun sambil menunggu kabar dari orang suruhannya.
#########
Devan saat ini berdiri di depan pintu salah satu apartemen,, menurut laporan dari salah satu orang suruhannya disanalah keberadaan Nayla saat ini.
Ting Ting Ting!!!
Devan menekan bel dan berharap ada yang membuka pintu apartemen itu.
Pintu pun terbuka dan melihat Reyna keluar,, namun ketika Reyna melihat Devan yang datang Reyna segera masuk kembali dan hendak menutup pintu. Kaki Devan langsung menahan pintu,, sedetik kemudian Devan langsung masuk, tenaga Reyna tentu bukan apa-apa untuk Devan.
"Dimana Nayla?" tanya Devan dengan serius dan juga khawatir.
"Ada apa mencari ku?" tanya Nayla.
Lebih baik dirinya muncul dan menyelesaikan segala hal,, agar semuanya segera terselesaikan dengan begitu tidak akan ada lagi yang menjadi beban. Hati Nayla sudah benar-benar sakit terhadap Devan, saat berada di hadapan Jessica beberapa hari yang lalu,, Nayla jelas-jelas mendengar Devan mengatakan bahwa Devan terpaksa menikahi dirinya.
"Nayla kamu kenapa?" tanya Devan.
"Memangnya aku kenapa?" tanya Nayla balik.
"Kenapa kamu pergi dari rumah kita?" tanya Devan.
"Aku tidak memiliki rumah sama sekali,, dimana rumah ku? tidak ada,, jadi tolong lebih baik anda pergi dari sini," ucap Nayla.
"Nayla,, aku ini suamimu,, kamu istriku, kenapa malah mengusir ku pergi,, aku kesini untuk menjemput mu," ucap Devan.
"Aku sangat membenci itu,, aku sangat benci kamu menjadi suamiku," ucap Nayla sambil tersenyum getir,, sejak kapan dirinya dianggap sebagai istri.
__ADS_1
Bahkan Devan sama sekali tidak perduli dengan dirinya sedikit pun,, Devan hanya berusaha ada untuk Jessica saja,, tanpa memikirkan perasaannya sedikit pun yang telah menjadi korban.
"Ayo kembali ke rumah," ucap Devan sambil menggenggam erat tangan Nayla dan menariknya,, Devan berusaha membawa Nayla pergi dari apartemen Reyna.
"Lepaskan aku!!!" ucap Nayla sambil menepis tangan Devan,, air mata Nayla keluar seiring dia menghempaskan tangan Devan.
"Kamu menyebut aku ini istrimu? aku sadar diri Tuan Devan, aku ini hanya orang ketiga dalam rumah tangga pernikahan mu,, tapi kenapa kamu selalu saja menyakiti perasaan aku,, aku ini manusia yang punya hati dan perasaan juga," ucap Nayla.
Devan langsung terdiam menyadari kesalahannya yang menemani Jessica sementara Nayla lah yang paling terluka disini, karena dia adalah korban.
"Mas,, minta maaf Nayla,, tapi beberapa hari ini Jessica juga sangat membutuhkan Mas," ucap Devan berharap Nayla mau mengerti keadaan nya.
Nayla mengusap air matanya cukup sudah semuanya,, Nayla benar-benar tidak sanggup lagi disakiti terus menerus.
"Sekarang anak ini tetaplah anakmu,, kamu akan bertemu dengan nya setelah anak ini lahir,, jadi pergilah dari sini sekarang kamu tidak perlu datang menemui aku lagi,, aku tidak butuh kamu,, dan jangan takut aku kabur,, memang kemana aku bisa lari? kamu pasti akan menemukan aku dengan hanya membayar orang,, tidak ada tempat bagi orang miskin seperti ku untuk lari,, aku ini hanya manusia lemah dimata orang-orang kaya seperti kalian," ucap Nayla.
Kesabaran Nayla sudah sampai pada puncaknya,, Nayla sudah tidak tahan lagi akan rumah tangga penuh deritanya ini,, Nayla ingin segera melahirkan anaknya dan berpisah dari Devan.
Tidak ada rasa iba yang diberikan Devan padanya lantas apakah Nayla akan menurut? tentu saja tidak akan.
"Kamu tidak boleh pergi!!" ucap Bima Putra tiba-tiba.
Suara Bima Putra mengejutkan semuanya, mereka bingung dan bertanya-tanya mengapa Bima Putra bisa berada disana bahkan saat ini Bima Putra sedang bersama dengan Ana.
"Aku tidak akan membiarkan cucu ku menderita karena kebodohan Ayahnya yang tidak berpendirian sama sekali,," ucap Bima Putra sambil menatap tajam Devan dan juga dingin.
"Aku tidak akan lagi membiarkan kamu berbuat sesuka hati mu Devan, bahkan kalau perlu kamu akan aku penjarakan," ucap Bima Putra tegas.
"Pa," ucap Ana sambil menggeleng,, sekalipun anaknya salah tapi nanti bagaimana nasib cucunya jika Ayahnya dipenjarakan.
"Nayla mulai hari ini kamu akan kembali ke rumah yang sudah aku siapkan untuk kamu, jika kamu tidak mau Devan masuk ke dalam rumah itu,, maka Devan tidak akan pernah bisa masuk ke dalam rumah itu,," ucap Bima Putra tegas.
__ADS_1