
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, hari ini Devan dan Nayla akan melangsungkan pernikahan untuk yang kedua kalinya. Pernikahan kali ini sangat berbeda dari pernikahan sebelumnya.
Bagaimana tidak? jika dulu hanya sebatas tetangga yang menjadi saksi kini tidak. Semua anggota keluarga hadir di acara pernikahan tersebut kecuali Ratih yang tak tahu entah di mana keberadaannya saat ini. Sekalipun demikian tetaplah pernikahan harus dilangsungkan demi kebahagiaan bersama, apalagi Devan yang sudah semakin dekat dengan Nayla membuat Bima Putra geram, Bima Putra tidak suka keduanya dekat tanpa ikatan pernikahan, bisa saja khilaf nantinya dan malah merugikan diri sendiri.
Lagi pula Felix anak dari Devan, setelah ini akan merasakan keutuhan kasih sayang kedua orang tuanya.
Kebaya putih pun kini melekat indah di tubuh Nayla ditambah lagi dengan mahkota yang terpasang di kepala sempurna sudah kecantikan Ibu satu orang anak tersebut.
Para tamu undangan sudah tak sabar menunggu calon mempelai wanita yang akan dipersunting oleh Devan Bima Putra, pria mapan, sukses dan juga sangat tampan tidak terkecuali Devan.
Sudah enam hari tidak melihat Nayla cukup membuatnya rindu berat, ditimbang pun sepertinya terlalu berat hingga hanya merusak timbangan saja, obat paling ampuh adalah bertemu lalu melepaskan rindu.
Mata Devan mengarah pada arah tatapan tamu undangan, terlihat seorang wanita berjalan semakin mendekat ke arahnya.
Siapa wanita yang berjalan diantara dua wanita tersebut? Devan melebarkan mata berusaha melihat lebih jelas. Jessica dan Reyna berada diantara wanita dengan kebaya putih sampai akhirnya Devan mengenalinya.
Nayla begitu cantik dengan dandanan yang begitu elegan, pertama kalinya Devan melihat Nayla dengan make up, pernah sekali waktu di puncak namun sekarang lebih cantik lagi, ternyata tidak salah matanya menatap kecantikan yang semakin terpancar.
"Ehem...ehem..." Andini berdehem mengejek Devan.
Devan bagaikan maling yang tertangkap basah, dirinya meneguk saliva dengan menahan malu, ternyata semua mata kini beralih menatapnya.
"Sabar!" ucap Alex yang duduk di bangku belakang Devan.
Dalam hati Devan berdoa semoga lebih cepat waktu berjalan, agar proses pernikahan segera selesai, rindu sudah terlalu berat dan sulit untuk ditahan.
Sampai akhirnya Nayla duduk di samping Devan, tersipu malu jadi pusat perhatian orang-orang.
Acara pun segera dimulai, Devan menjabat tangan Bobby sampai akhirnya kata sah pun terdengar dari para saksi.
Pernikahan Nayla dan Devan kini sudah terlaksana dengan lancar, kini pun sudah menyandang status suami istri yang sah secara hukum negara dan agama tanpa ada lagi yang ditutupi.
Setelah memanjatkan doa, acara tukar cincin pun dilaksanakan, Nayla diminta mencium tangan Devan, tapi yang terjadi justru Devan yang mencium tangan Nayla.
Apakah telinga Devan sudah rusak karena kecantikan Nayla yang begitu mempesona atau apa yang sebenarnya telah dipikirkan oleh Devan?
"Devan!!!" Andini ingin sekali mengetuk kepala adiknya itu, entah mengapa Devan mendadak tolol.
Devan tersadar setelah mendengar tawa dari para tamu undangan,, seketika dia tersenyum kecut.
Nayla pun segera mencium punggung tangan Devan,, sekalipun masih terdengar gelak tawa karena kebodohan Devan.
"Dasar bucin!!! beginilah kalau Dokter arrogant sudah bucin akut!!! semua wibawa yang dijaga runtuh sudah!!!" ucap Alex yang semakin mengundang gelak tawa karena itu adalah momen langka.
Tersenyum saja pria itu terbilang cukup sulit, apalagi melakukan keanehan seperti saat ini.
__ADS_1
Siapapun yang menyaksikan akan tertawa melihatnya.
"Devan pakaikan cincinnya dan cium istrimu," kata Andini lagi sambil memberikan cincin pada Devan.
Devan pun menurut saja, memasang cincin di jari manis Nayla dan segera mencium Nayla sesuai dengan arahan dari Andini.
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, apalagi saat diminta mencium Nayla,, Devan akan sangat bahagia sekali.
Segera dia mencium Nayla.
Maksud Andini saat ini Devan mencium dahi Nayla, tetapi justru yang terjadi adalah Devan mencium bibir Nayla dengan melahapnya bahkan cukup lama.
Andini mendorong Devan, menunjuk banyak tamu undangan yang melihatnya.
"Ya ampun," Devan menepuk dahinya, mengapa dirinya sebodoh ini.
Ah ini karena Nayla! mengapa bisa dia secantik ini? jadi yang salah baginya adalah istrinya yang terlalu cantik.
"Devan kamu ada-ada saja," Ana ikut geleng-geleng melihat kelakuan menyimpang Devan yang aneh.
Sungguh tak menyangka Devan bisa berubah menjadi tidak terkendali saat bersama dengan Nayla.
"Tunggu yah! tunggu sampai kami pulang,, penghulu masih di sini," ucap penghulu yang tak kalah merasa terhibur karena Devan.
"Kami juga bukan pigura," sahut Reyna juga tak mau ketinggalan menyuarakan hati para tamu undangan lainnya.
Devan hanya tersenyum kecut sambil merutuki kebodohannya, kemudian Devan menatap Nayla yang masih duduk di sampingnya, memuji kecantikan Nayla sungguh luar biasa.
"Matanya memang sudah sah! tunggulah sampai kami pulang," ucap Alex lagi.
"Diam! berisik!" geram Devan pada Alex sambil menahan malu.
Ingin sekali Devan mengetuk kepala Alex, beruntung di sana banyak orang jadi masih bisa menahan. Mungkin setelah semua pergi Alex akan merasakan pukulan maut dari Devan.
Sekalipun Devan membentaknya, Alex tak lantas bersedih. Keduanya sudah terbiasa dalam mengejek satu sama lainnya, hingga itu tak menjadi masalah lagi. Acara dilanjutkan dengan berfoto bersama keluarga,, sahabat, dan juga beberapa kerabat, serta teman sejawat.
Semua terlihat antusias apalagi dalam mengucapkan kalimat selamat,, tidak terkecuali Jessica.
Jessica pun mengucapkan selamat sekaligus memberikan sebuah kado pernikahan untuk Devan dan Nayla.
"Terima kasih," Nayla memeluk Jessica dengan erat.
Sejenak keduanya berpelukan dalam haru, permusuhan yang dulu pernah terjadi kini berubah menjadi persahabatan yang begitu indah. Keputusan berdamai dengan keadaan adalah tepat, hidup lebih tenang dan damai.
Tolong jaga dia, dia bahagia bersamamu, aku rela melepaskannya, aku ikhlas demi dia bahagia, batin Jessica sambil terus memeluk Nayla.
__ADS_1
"Semoga kalian bahagia," Jessica mengusap punggung Nayla hingga beberapa kali.
"Terima kasih! tapi kamu juga harus janji akan bahagia bersama dengan Alex," bales Nayla tidak kalah haru.
"Pasti!" Jessica melepaskan pelukannya dan mengusap wajahnya yang basah terkena air mata hingga beberapa kali.
"Ayo kita foto," Ana tidak mau suasana menjadi penuh air mata, mengerti dengan keadaan dua wanita tersebut sehingga lebih memilih mengalihkan perhatian dengan meminta berfoto bersama.
"Alex mana?" Nayla tak melihat keberadaan Alex, sedikit dia bingung sebab Jessica dari tadi hanya sendiri dengan kesibukannya begitupun juga dengan Alex terus bercerita bersama teman-temannya.
Tampak seperti bukan pasangan suami istri pada umumnya,, hingga membuatnya bertanya-tanya.
"Itu dia," ucap Reyna seketika menarik Alex ikut berfoto bersama mereka.
Sebenarnya Reyna tidak menyukai Jessica apalagi menjadi kakak iparnya, akan tetapi setelah melihat ketulusan hati Jessica saat ini membuat Reyna perlahan menerima Jessica masuk menjadi bagian anggota keluarganya.
"Foto dulu kak," omel Reyna.
Alex berdiri di samping Jessica ikut berfoto bersama dengan yang lainnya, sekalipun terlihat kecanggungan diantara keduanya.
"Ya ampun Kak dipeluk kek istrinya," Reyna adalah wanita satu-satunya yang suka mengutamakan isi hatinya, begitupun saat melihat gaya berfoto Jessica dan Alex.
Sekalipun diminta keduanya sama sekali tak bersentuhan, beda halnya dengan Devan.
Tanpa diminta pun tangannya sudah melingkar di pinggang Nayla dan berbisik di telinga istri cantiknya.
"Kamu cantik sekali,, Mas sampai pangling," bisik Devan.
Nayla tersenyum mendengar pujian dari Devan, wajahnya semakin memerah karena tak kuasa mendengarnya.
"Pakek malu-malu bikin Mas tambah gemas," bisik Devan lagi.
Nayla tidak tahu mengapa semakin Devan menggodanya, maka jantungnya semakin berdegup kencang.
"Kamu tahu apa doa Mas saat ini?" Devan menatap ke depan tapi suaranya berbisik pada Nayla.
Nayla menatap Devan penuh tanya.
"Semoga para tamu ini cepat pulang dan kita bisa segera beribadah," bisik Devan lagi.
Devan mengedipkan sebelah matanya pada Nayla seiringan dengan selesai berfoto bersama dengan keluarga.
Menatap sekitarnya yang masih ramai dengan para tamu undangan.
"Kapan para tamu ini akan pulang? mereka tidak mengerti atau bagaimana?" ucap Devan.
__ADS_1