
Akhirnya kini Reyna sudah benar-benar menjadi pengasuh Felix, hari pertama bekerja harus bersemangat apalagi dengan gaji yang lumayan besar.
Cukup besar!!!
Sangat besar!!!
Belanja tas, baju, sepatu yang jelas berfoya-foya, lupakan tentang Nanda seorang pria yang sangat dibencinya itu sejenak.
"Felix, mau main apa sama Tante Reyna? eh manggilnya Reca aja deh,," Reyna berbicara pada Felix yang duduk di pangkuannya.
Bermain di ruang keluarga, duduk lesehan di atas karpet berbulu tebal agar Felix leluasa untuk bergerak tanpa takut terluka dan berbagai hal.
"Apaan Reca?" tanya Nayla penasaran.
"Reyna cantik," jawab Reyna.
"Lebih bagus Rena," ucap Nayla.
Reyna menatap Nayla dengan otaknya yang mulai berpikir keras.
"Apaan tuh?" tanya Reyna.
"Reyna Nanda," jawab Nayla.
"Kurang ajar!!!" Nayla benar-benar membuatnya kesal bukan main.
"Ahahahaha...." Nayla tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Reyna.
"Lanjutin aja, asal kamu bahagia," ucap Reyna.
"Bahagia banget," ucap Nayla.
Reyna memilih bermain bersama dengan Felix daripada memikirkan setiap godaan Nayla.
"Nayla," terdengar suara berat Devan dari arah tangga.
Segera Nayla menoleh dan tersenyum.
"Kenapa Mas?" tanya Nayla.
"Buatkan kopi antar ke kamar," jawab Devan, Nayla mengangguk, Devan pun segera menuju kamar kembali.
"Reyna aku buat kopi dulu buat ayahnya Felix," ucap Nayla.
"Nayla kamu gimana sih kalau sama Dokter Devan?" tak mengerti dengan sikap Devan yang sebenarnya hingga dirinya cukup penasaran.
"Maksudnya gimana?" bukannya menjawab malah balik bertanya, membuat Reyna jengkel saja.
"Suami kamu itu sebenarnya bisa senyum nggak sih? dia bisa ngomong dengan layaknya manusia nggak?" tanya Reyna.
Nayla tersenyum miring, andai saja Reyna tahu sikap Devan yang sebenarnya pasti akan merasa geli, suaminya itu terlihat angkuh jika berada di sekitar orang lain tapi akan berubah menjadi gila jika hanya bersama orang terdekatnya.
"Jawab dong malah senyum-senyum sendiri," ucap Reyna.
"Dia bicara, bernafas juga, nggak ada yang aneh," ucap Nayla.
"Apanya yang nggak aneh coba?" ucap Reyna.
Nayla mengibaskan tangannya kemudian pergi menuju dapur untuk menyeduh secangkir kopi, Nayla membawanya menuju kamar, di mana ada Devan menunggunya.
"Mas ini kopinya," Nayla meletakkannya di atas meja.
Terasa tubuhnya ditarik hingga terduduk di atas pangkuan Devan, Nayla ingin bangun tapi Devan memeluk pinggangnya dengan erat.
"Mas hari masih terang," ucap Nayla.
"Kenapa? apa kamu mau yang gelap-gelapan?" tanya Devan.
"Apaan sih!" ucap Nayla.
"Otak kamu ini kotor sekali sayang, kiss dong," Devan menarik dan mencium bibir Nayla dengan penuh cinta, sesaat kemudian Devan melepaskan, dia menyisir rambut Nayla dengan perlahan.
"Sayang kamu tahu nggak, di gudang Rani sama Raka katanya menyimpan hewan, tapi Mas juga nggak tahu hewan apaan katanya seram," ucap Devan.
"Hewan?" ucap Nayla dan Devan mengangguk kemudian kembali menarik tengkuk Nayla sesaat kemudian mencium kembali bibir istrinya, Nayla sangat penasaran kemudian menjauhkan wajahnya, tangan Devan membersihkan sisa saliva dibibir Nayla dengan ibu jarinya.
"Mas hewannya buas nggak?" tanya Nayla.
Devan sebelah tangannya menarik tengkuk Nayla kembali, tangan satunya memegang benda kenyal dengan penuh kehangatan.
__ADS_1
"Mas jawab dulu," ucap Nayla.
Terpaksa Devan menghentikan aktivitasnya,, padahal tangannya tak bisa jika tidak meraba tubuh Nayla.
"Kata Rani menyeramkan, wajahnya juga hitam banget, cuma Mas juga belum lihat, enakan lihatin kamu," Devan memilih mengeluarkan benda kenyal Nayla dan menyusu seperti bayi kehausan.
"Mas ishh apa sih!" ucap Nayla.
Devan tidak peduli, dirinya ingin menikmati indahnya bermesraan bersama dengan Nayla, anehnya dulu dirinya tidak menyadari hal itu dirinya terlalu mengagungkan Jessica padahal sudah jelas tubuh Nayla lah yang membuatnya candu.
"Bunda," Rani langsung masuk.
Nayla loncat segera dari pangkuan Devan, merapikan baju yang sudah acak-acakan karena perbuatan suami mesumnya.
Sedangkan Devan melempar pandangan ke arah lainnya, kesal pada Rani di saat tegangan tinggi dipaksa untuk tenang.
"Bunda sama Ayah kenapa?" bocah ompong itu menatap wajah Devan dan Nayla penuh selidik.
"Kok pada diam?" tanya Rani.
"Kamu ngapain ke sini," Devan melemparkan bantal sofa pada wajah Rani.
"Nggak apa-apa yah,, tapi hewan buasnya kapan bakalan dibawa dari gudang, dilepas ke hutan?" ucap Rani.
Ini dia yang membuat Nayla bertanya-tanya perihal hewan buas yang diceritakan oleh Rani.
"Hewan buasnya mirip harimau jadi-jadian nggak?" Nayla tersenyum pada Devan, mengejek suaminya sendiri yang menatapnya kesal.
"Nggak tahu Bunda tapi dia masih dikarungin gitu," ucap Rani.
"Mas lihat yuk," ucap Nayla.
Segera Nayla keluar dari kamar begitu juga dengan Devan.
"Ayah... Bunda,, Rani ikut," ucap Rani.
Mata Nayla terbelalak melihat Santi berada dalam kandang, betapa kasihan ibu tirinya tersebut karena ulah bocah polos keponakan Devan.
"Itu nenek Santi," segera Nayla membuka kandang dan mengeluarkan Santi dari dalamnya.
Rani dan Raka shock, seketika keduanya bersembunyi di belakang tubuh Devan.
Ingin sekali Santi mencincang dua bocah itu, beruntung Devan dijadikan tameng hingga Santi memilih menahan, tapi lihat saja setelah itu.
Entah dosa atau tidak tapi dirinya sedang berusaha menahan tawa.
"Nggak apa-apa Jeng Ana," ucap Santi padahal dalam hati ingin mengucek dua bocah tersebut.
"Sebaiknya kita pulang ke kampung saja," usul Bobby, terlalu lama menetap di rumah besannya membuat Bobby merasa tak enak hati.
"Jangan dulu ya yah," Santi masih betah tinggal di rumah gedung bagaikan tinggal di surga baginya, jadi bagaimana mungkin bisa kembali.
Apalagi dirinya ingin balas dendam pada dua bocah itu.
"Bu kita pulang saja, acaranya sudah selesai," ucap Bobby.
"Tidak apa-apa, biar di sini dulu kita bisa liburan dulu," ucap Ana.
Santi langsung bahagia, sedangkan Bobby merasa tidak enak hati, bahkan Santi terus bersikeras untuk tetap disana, di rumah besannya tersebut. Satu persatu semua membubarkan diri begitupun dengan Devan dan Nayla, tidak ada tempat yang nyaman selain di kamar, saat ini pun Devan hanya ingin berdua saja dengan istrinya.
"Mas jalan-jalan yuk! di kamar terus sih nggak bosan apa?" ucap Nayla.
"Enakan di kamar, Mas lebih suka berduaan sama kamu," Devan memeluk Nayla dengan eratnya.
"Honeymoon yuk ke puncak aja, biar lebih dekat apalagi bawa Felix," usul Devan.
"Malu banget honeymoon udah punya anak juga," ucap Nayla.
"Ayolah sayang, Mas mau sama kamu aja, dua hari ke depan Mas udah masuk kerja," ucap Devan.
"Kita ke pasar aja gimana? aku pengen masak," usul ini lebih baik pikir Nayla.
"Baiklah tapi berduaan aja," syarat Devan tidak dapat ditolak, Nayla pun mengangguk setuju.
Keduanya memasuki mobil, Nayla duduk manis di samping Devan yang akan mengemudikan mobilnya.
"Sayang peluk lengan Mas," Devan menepuk lengannya segera Nayla memeluk lengan Devan.
Senyum Nayla membuat jantung Devan berdegup kencang, dengan bahagia dirinya mengemudikan mobil.
__ADS_1
"Mas sayang sama kamu," bisik Devan dan Nayla pun tersenyum dan akhirnya keduanya sampai di pasar.
Pasar merupakan tempat favorit Nayla dalam berbelanja, selain murah, sayurannya juga segar.
"Sayang kok harus di pasar sih?" Devan melihat orang begitu banyak bahkan sampai berdesakan,, tentu untuk membeli kebutuhan.
Nayla tersenyum dan memberikan keranjang belanja pada Devan, dirinya memilih berjalan terlebih dahulu.
Banyak pasang mata yang menatap ke arah keduanya, Devan dengan tubuh jangkung dan memakai kacamata hitam, membuatnya terlihat sangat tampan, sedangkan Nayla hanya menggunakan baju sederhana tapi wajahnya yang meneduhkan membuat siapapun akan memujinya terutama kaum laki-laki.
"Bu ini berapa?" Nayla memegang kangkung dan memilih yang paling segar.
Si pedagang malah fokus melihat Devan, tatapannya seperti ingin menerkam mangsanya dengan buas.
"Ibu," Nayla mengambil beberapa ikat dan memberikan pada pedagang untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik.
"Gratis Neng asal bisa pegang wajah Mas tampan ini," kata wanita tersebut dengan senyuman.
"Oh begitu," Nayla tersenyum menatap Devan.
Devan menggeleng tak setuju mendengar penawaran penjual.
"Boleh Bu," ucap Nayla,, kapan lagi mengerjai suaminya yang sangat tampan tersebut, lagi pula penjual tersebut tidak cantik, berbobot mungkin sekitar 90 kg.
Tentunya Devan tidak akan mau menjadikan sebagai madunya.
"Sayang kamu!" Devan membulatkan matanya tak percaya Nayla menyetujui.
"Masnya ganteng banget sih," penjual langsung mencolek dagu Devan.
Devan menepis tangan wanita tersebut, geram bukan main saat wajahnya ada yang menyentuh,,, Nayla menahan tawa melihat wajah Devan kesal padanya.
"Lanjut ke sana Mas, aku mau beli wortel," ucap Nayla sambil menahan tawa.
Dengan wajah masam Devan pun kembali mengikuti Nayla.
"Pak wortelnya berapa?" tanya Nayla dan pria tersebut menatap Nayla, meninggalkan sejenak pekerjaannya yang tengah menyusun wortel.
"Saya Lala jadi panggil Mbak," kata pedagang wortel dan Nayla terkejut ternyata si penjual adalah seorang perempuan jadi-jadian dengan menahan tawa Nayla memperbaiki panggilannya.
"Mbak Lala ini berapa wortelnya?" tanya Nayla.
Fokus Lala menatap Devan yang sangat tampan seketika mengedipkan sebelah matanya saat menatap Devan.
"Ya ampun," Devan mendesus merinding merasa pasar sangat horor.
"Mmmmfffppppp," lagi-lagi Nayla berusaha menahan tawa melihat wajah Devan.
Lala pun berdiri berusaha untuk mendekati Devan.
"Mas kenalan dong," Lala mengulurkan tangannya.
Devan menatap Lala mulai dari kaki, sepatu hak tinggi berpadu dengan stoking ketat jaring seperti perangkap ikan, semakin ke atas semakin aneh baju kaos oblong dengan warna-warni seperti kue lapis.
Jangan lupa ada kalung seperti dukun hanya saja warnanya merah berpadu kuning, lipstik ungu dan juga rambut panjangnya seperti sarang tawon, ada bandana berwarna orange juga.
Devan bingung seketika bertanya-tanya dari planet manakah manusia tersebut berasal?
"Berani mendekatiku habis kau," Devan mengepalkan tangannya mengarahkan pada wajah Lala.
"Mas ganteng banget deh," Lala mencolek Devan dengan nakalnya.
"Jangan menyentuhku!" ucap Devan.
"Mas, Lala seksi kan?" Lala menunjukkan bokongnya pada Devan.
Bukan Devan tergoda malah merasa mual, entah mimpi apa semalam hingga hari ini bertemu manusia jadi-jadian, seketika Lala memeluk Devan sambil berjinjit berusaha mencium wajah tampan Devan.
"Kurang ajar menjauh!" ucap Devan.
"Ihhhh Mas nya kasar amat sih," Lala menunjukkan wajah sedih.
"Mbak, pembantu Mas ini?" tanya Lala pada Nayla dan Nayla mengangguk sambil tersenyum kikuk.
"Ambil aja wortelnya Mbak, buat Mas ini," Lala menatap Devan sambil memegang wortel di tangannya.
"Wortel Mas lebih besar dari ini nggak, buat Lala aja yah," ucap Lala.
"Ayo pergi!" Devan menarik Nayla dengan cepat, tak peduli pada Lala yang terus memanggil-manggil.
__ADS_1
"Mas tampan I love you, cepat temui Lala lagi," teriak Lala.
"Hueekkkkkk"