
"Mommy!" Seru Cahaya sambil memutar gagang pintu dan berlari masuk.
Jessica sejenak menghentikan tawanya, beralih menatap Cahaya yang berlari kearahnya. Begitupun dengan Alex.
"Cahaya, ke sini sama siapa?" Tanya Jessica sambil meminta Alex untuk menurunkannya dari atas meja.
"Sama Oma, mau jenguk Tante Reyna," jawab Cahaya.
Jessica pun melihat ada Puput yang berdiri di ambang pintu.
"Daddy, Aya juga mau duduk di meja!" Cahaya merasa cemburu karena Jessica diangkat oleh Alex, sedangkan dirinya tidak.
Sehingga memilih untuk meminta Alex melakukan hal yang sama.
"Nggak boleh duduk di meja," kata Alex.
"Duduk itu di kursi."
"Tadi Mommy bisa! Daddy jahat!" Cahaya pun mengerucutkan bibirnya kesal pada Alex yang tidak bisa menuruti keinginannya.
"Baiklah," Alex pun mengangkat tubuh Cahaya untuk duduk di atas meja, agar putri kecil kesayangannya itu tidak lagi cemberut.
"Mama ke ruangan Reyna dulu, takut dia belum minum obat, Nanda juga sedang sakit," pamit Puput.
"Aya, ikut Oma atau sama Daddy?"
"Sama Daddy!" Jawab Cahaya dengan cepat.
"Ya sudah, Oma ke ruangan Tante dulu," pamit Puput dan langsung menuju ruangan Reyna, mengingat putri bungsunya belum minum obat siang ini.
Sedangkan hari semakin sore. Puput pun membuka pintu ruang rawat dan masuk tanpa permisi.
"Maaf, Mama salah ya," kata Puput dengan wajah memerah menahan malu.
Melihat Nanda dan Reyna sedang bercumbu mesra.
"Nggak Ma, maaf," Nanda segera duduk di sofa, merasa malu seperti remaja yang tengah berpacaran tetapi terciduk oleh orang tua.
Puput memasang wajah tenang, sebab melihat nasi pada piring masih utuh. Artinya Reyna belum makan sama sekali.
__ADS_1
"Reyna, kamu belum makan?" Tangan Puput menunjuk piring penuh dengan makanan.
"Belum Ma," Reyna pun menggeleng cepat.
"Anak Mama!" Teriak Arni dengan kencangnya.
Hati Arni begitu berbunga-bunga setelah mengetahui kehamilan Reyna, Puput sendiri malam tadi yang menghubungi dirinya dan menyampaikan berita baik ini. Sehingga dirinya langsung berangkat dari desa dan ingin segera menemui Reyna.
"Mama?" Reyna masih bingung melihat kedatangan mertuanya, sedangkan dirinya belum memberitahu sama sekali.
"Sayang, ucapkan selamat pada Mama sekarang!" Arni langsung memeluk Reyna dengan eratnya, tanpa banyak berbasa-basi lagi.
"Selamat?" Tanya Reyna masih di peluk oleh Arni dengan penuh kebahagiaan.
"Iya, karena sebentar lagi Mama akan punya cucu! Puput, katakan selamat pada ku!" Kini Arni melihat Puput dengan penuh kebahagiaan, teman lama yang kini menjadi besannya tersebut terlihat begitu bahagia.
"Selamat, kita akan punya cucu lagi," Puput pun memeluk Arni, terharu melihat Arni sangat menyayangi Reyna.
Lalu siapa yang kebingungan? Nanda dan Reyna. Keduanya saling menatap bingung. Bukankah seharusnya mereka yang mendapatkan kata selamat? Kenapa malah orang tua mereka?
"Nanda, katakan selamat pada Mama," kini Arni melihat putranya yang duduk di sofa.
"Tangan kamu kenapa?" Arni baru melihat tangan Nanda yang di perban, hingga dirinya penasaran.
"Sedikit kecelakaan dalam tugas Ma, ini hanya luka kecil," jawab Nanda.
Arni hanya mengangguk lemah, Nanda memang memiliki cita-cita menjadi anggota polisi semenjak kecil dan Arni selalu mendukung setiap keinginan Nanda selama masih di jalan kebenaran.
"Reyna, kamu makan dulu ya. Kamu sudah terlambat makan," Puput pun segera menyuapi Reyna, takut putrinya benar-benar tidak makan siang.
"Loh, kok bisa telat?" Arni penasaran dan ikut menimpali.
"Biasa lah Arni, namanya baru ketemu setelah beberapa hari. Jadi, kangen-kangenan dulu dan lupa makan," seloroh Puput dengan lucunya.
Dirinya menggoda anak dan menantunya, dirinya juga mengerti pada tingkah pasangan muda. Hanya saja sedikit lucu, mungkin itu yang terjadi saat dirinya juga masih muda dulu.
"Ya ampun anak jaman sekarang! Kamu kalau mau kangen-kangenan kasih makan dulu istri mu!" Ejek Arni yang ikut menggoda Nanda dan Reyna.
Nanda ingin sekali berbicara, tetapi urung karena ada Puput. Ibu mertuanya yang juga tidak kalah jail dan suka menggoda seperti Arni.
__ADS_1
"Maklum lah Arni, kamu seperti tidak pernah saja," celetuk Puput sambil terkekeh.
"Iya betul, lagi muda begini masih....... Ahahahhaha," Arni benar-benar tertawa puas menggoda Nanda.
"Nanda kamu sudah makan?"
"Belum Ma."
"Ya udah, kamu makan," Puput memberikan piring di tangannya pada Nanda.
"Sekalian kamu suapin istri kamu, Mama tanya Alex dulu tentang keadaan istri mu," pamit Puput, begitu pun dengan Arni yang ingin mendengar langsung tentang Reyna dari mulut Alex.
"Buka mulutnya," Nanda pun menyendok nasi untuk Reyna.
Reyna bukan membuka mulutnya, tetapi mengambil alih sendok di tangan Nanda.
"Aku yang nyuapin kamu, kamu juga sedang sakit kan?" Tanya Reyna.
"Iya, tapi ada yang lebih sakit selain tangan ini."
"Apa?" Reyna begitu tegang menunggu kelanjutan dari perkataan Nanda.
Mungkinkah ada lagi luka yang lainnya akibat timah pada tubuh yang lainnya pada Nanda?
Reyna sungguh khawatir.
"Menahan rindu sama kamu," imbuh Nanda.
Reyna pun kehilangan kata-kata, dirinya yang sudah tegang mendadak melayang.
"Nanda kamu ish," Reyna tersipu malu saat mendengar kata sederhana namun begitu sampai di hatinya.
"Kamu kok makin ngegemesin ya?"
"Nanda udah, aku malu," Reyna sungguh tidak kuasa menahan getaran di dada, mengapa Nanda dengan mudahnya membuatnya menjadi panas dingin.
"Istri Abang, cantik banget sih, lucu lagi."
"Nanda," rengek Reyna meminta ampun, sudah tidak kuat lagi dengan godaan suami tampannya.
__ADS_1