
"Nanda sudah selesai di perban Mbak, bicara langsung dengannya saja," Jack memberikan ponsel pada pemiliknya.
Nanda melihat nama Reyna, tetapi suara Nayla yang terdengar membuatnya menjadi bertanya-tanya.
"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Nayla secepat mungkin dengan tidak sabaran.
"Iya, hanya sedikit yang luka," jelas Nanda.
Huuuufff.
Perasaan Nayla lebih baik setelah mendengar suara Nanda. Dengan demikian artinya tidak terlalu parah.
"Syukurlah," Nayla benar-benar bernapas lega saat ini.
Nayla pun beralih menatap Reyna.
"Ini Nanda yang bicara, kamu mau bicara padanya?" Nayla pun memberikan ponsel pada Reyna.
Reyna menggeleng tidak ingin berbicara sama sekali. Akhirnya Nayla kembali mendekatkan ponsel pada telinganya.
"Reyna, di mana?" Tanya Nanda bingung, mengapa Nayla yang memegang ponsel istrinya.
"Reyna, di rumah sakit. Semalam dia di larikan ke sini," Nayla berbicara pada Nanda, tetapi matanya melihat Reyna yang juga melihat dirinya.
Nanda di seberang tentu terkejut mendengar kabar yang diberikan oleh Nayla.
"Kenapa? Apa dia sakit, atau kecelakaan?" Nanda semakin panik dan tidak sabaran, ingin mendengar suara Reyna langsung saat ini juga.
"Iya, dia demam," Nayla memilih tidak memberitahukan kehamilan Reyna.
Biarlah Nanda mendengar dari bibir istrinya sendiri tentu akan lebih spesial lagi.
"Aku akan kembali sekarang, tolong jaga dia untukku ku," Nanda pun mematikan sambungan telepon secara sepihak, tanpa ijin dari lawan bicaranya.
Nayla sempat membesarkan volume suara ponsel sehingga terdengar sampai ditelinga Reyna.
"Dia tidak apa-apa, kamu dengarkan suaranya?" Tanya Nayla agar perasaan Reyna jauh lebih baik.
Reyna mengangguk, paling tidak Nanda masih hidup dan dirinya tidak sendirian menyambut kehadiran calon anak yang kini ada di rahimnya.
Sedangkan di sana Nanda meminta perawat untuk melepaskan infus yang terpasang di tangannya, keadaan Reyna jauh lebih penting dari pada keadaannya.
"Bapak, sebaiknya tunggu sampai satu botol infus ini habis," pinta perawat berharap Nanda bisa bersabar.
"Tidak perlu, aku harus segera pergi. Cepat lepaskan ini, atau aku yang mencabutnya sendiri?" Perawat tersebut dengan terpaksa melepas selang infus, melihat Nanda tidak ingin berada lebih lama di puskesmas.
"Kamu serius?" Tanya Jack yang setia menemani Nanda.
"Istri ku di rawat Jack, aku tidak bisa lebih lama di sini."
__ADS_1
Jack pun mengangguk dan memilih untuk menolong Nanda bangkit dari atas brankar.
"Kita langsung pulang saja, perjalanan tercepat menuju Jakarta ada tidak?"
"Sabar, kita akan sampai secepat mungkin tapi dengan hati-hati, jangan sampai terjadi hal buruk dan menjadi beban pikiran istri mu lagi. Aku juga minta maaf, seharusnya tidak langsung memberitahukan tentang keadaan mu, sekarang pasti dia sedang panik," ujar Jack dengan perasaan bersalah.
"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Aku tahu kau juga cemas dengan keadaan ku, kita segera ke Jakarta saja," Nanda tahu Jack sangat setia menjadi sahabatnya, sehingga takut juga terjadi hal buruk.
"Tapi, terima kasih. Seharusnya aku yang terkena timah panas itu, tapi kau malah jadi pahlawan, akhirnya kau yang terkena.
"Sudah tidak masalah, aku sangat merindukan istri ku. Kita langsung berangkat ya."
Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Nanda terus memikirkan keadaan Reyna.
Rasa bersalah pun begitu terasa karena tidak mampu mengurus istrinya yang tengah sakit.
Setelah beberapa jam perjalanan menumpangi sepeda motor akhirnya sampai juga di Rumah Sakit Stay Healthy.
Nanda pun turun dari atas sepeda motor dinas yang di kemudian oleh Jack.
"Terima kasih."
"Aku langsung pulang saja," pamit Jack.
"Sampai jumpa kembali."
Jack pun melesat pergi dengan sepeda motor, kembali ke rumah setelah beberapa hari.
Setelah mendapatkan informasi ruang rawat Reyna, segera Nanda berjalan menuju kamar tersebut.
Sekalipun hari masih siang dan matahari begitu terik. Perasaan Nanda terus saja mengarah pada Reyna yang dirawat di rumah sakit.
Memutar gagang pintu dan mendorongnya dengan perlahan, hingga terbuka lebar. Tanpa sengaja Reyna juga tengah melihat arah pintu, dirinya terkejut melihat kedatangan Nanda.
"Permisi," sapa Nanda yang masih berdiri di ambang pintu hingga menyadarkan yang lainnya.
"Nanda, kamu baik-baik saja?" Puput langsung berjalan mendekati menantunya, bertanya dengan perasaan was-was.
"Hanya lecet sedikit Ma," jawab Nanda.
Puput pun mengangguk lemah melihat lengan sebelah kiri Nanda yang di perban.
"Syukurlah," Puput mengusap punggung tangan Nanda yang lainnya merasa lebih lega setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Kalau begitu Mama makan siang dulu di restoran depan dengan Papa," Puput berpamitan bersama Pian yang mengikutinya.
"Reyna, aku letakkan makanan ini di meja saja. Aku juga lapar sekali, takut masuk angin," Nayla berdalih dan mengurungkan niatnya yang ingin menyuapi Reyna untuk makan siang.
Meletakan piring berisi nasi dan lauk pauk di atas meja nakas, perlahan berdiri dan berjalan ke arah pintu untuk keluar.
__ADS_1
Sampai di ambang pintu sejenak Nayla terdiam, melihat perban Nanda.
"Dasar!" Kesal Nayla memukul lengan Nanda yang baik-baik saja, dirinya yang khawatir kini lebih baik dan memukul Nanda akan membuatnya lebih lega.
"Hehe," Nanda pun tersenyum kecil tahu sahabatnya itu sedang khawatir.
"Rima, kau sedang apa di sana?" Tanya Nayla.
Rima pun mulai tersadar, dari tadi dirinya hanya mematung diam tanpa berniat untuk keluar.
"Aku menunggui Reyna," jawab Rima dengan polosnya, bahkan tidak mengerti sama sekali dengan keadaan sebenarnya.
Nayla pun memukul dahinya sendiri menyadarkan Rima kembali ke mode lelet.
"Ayo ke sini!" Nayla melambaikan tangan meminta Rima untuk ikut bersamanya.
"Reyna gimana? Gimana kalau dia butuh bantuan? Atau dia pengen ke toilet? Nanti dia jatuh, gimana?" Rima masih terlalu fokus pada Reyna yang sakit, sehingga tidak tau dirinya sedang berada dalam mode loading lambat.
"Ada Nanda, ada suaminya!" Nayla pun mengeratkan giginya berharap Rima mengerti.
"Iya, tapi tangan Nanda juga sedang sakit kan? Gimana bisa membantu Reyna?"
Nayla pun tidak lagi berbicara panjang lebar, menarik tangan Rima dengan cepat dan keluar dari ruangan Reyna.
"Nayla, sakit."
"Dasar oon, kamu mau jadi obat nyamuk liat Nanda dan Reyna berpelukan?" Bisik Nayla sambil berjalan.
"Hehe," Rima pun menggeleng cepat.
"Ngerti nggak?"
"Iya."
"Cengengesan aja!"
"Maaf!"
Rima pun segera pergi sejauh mungkin, tidak lupa mengetuk kepalanya setelah menyadari kesalahannya sendiri.
Saat terus berjalan tanpa sengaja Rima menabrak seseorang. Hingga dirinya yang kecil pun terjatuh.
"Ya ampun Dok, kenapa di mana-mana ada anda!" Rima bangun dengan cepat dan menatap kesal wajah Aditya.
Aditya hanya diam tanpa bicara.
"Apakah Anda memiliki telinga?"
Aditya maju selangkah dan mencium bibir Rima, setelahnya pergi begitu saja.
__ADS_1
"Apaan sih!" Rima mengusap bibirnya hingga beberapa kali.
"Kenapa dia selalu melecehkan aku!" Rima pun menghentakkan kakinya kesal pada Aditya.