Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Otak Nanda sudah benar-benar rusak...


__ADS_3

Baiklah segera Reyna menuju lemari melanjutkan cara kedua mengganti pakaiannya dengan lingerie, dirinya benar-benar ingin menjadi istri. Nanda yang sedang berbaring sambil memainkan ponselnya terkejut melihat Reyna keluar dari kamar kemudian ikut berbaring di sampingnya, sofa yang sempit membuat keduanya harus berbagi tempat.


"Kamu kenapa keluar ini sudah malam?" tanya Nanda.


"Di dalam panas," bohong Reyna.


Reyna melingkarkan tangannya pada pinggang Nanda kemudian menutup matanya sesaat kemudian Nanda pun bangkit dan Reyna pun ikut bangkit.


"Kenapa?" tanya Reyna pura-pura bingung padahal tahu suaminya itu mulai menegang.


"Katanya panas tidur di tempat sempit begini pasti hanya semakin panas," jelas Nanda sambil mengusap wajahnya.


Apakah Reyna tidak mengerti dari tadi dirinya berusaha menahan diri, dirinya tidak ingin memaksa Reyna takut akan lebih menyakitkan dari hari itu.


"Lebih segar kok," Reyna semakin mendekati Nanda, keduanya duduk di sofa.


Bukan mereka yang menonton televisi melainkan televisi yang menyala menonton mereka.


Mungkin!


Nanda pun bangkit dan ingin menghindari.


"Nanda kamu mau ke mana? kamu nggak lagi marah sama aku kan?" tanya Reyna.


"Aku ada urusan," Nanda ingin pergi, dengan cepat Reyna memeluk dari belakang.


Nanda pun menutup mata merasakan dua benda kenyal yang menempel pada bagian tubuhnya.


"Reyna lepas aku mohon," ucap Nanda.


"Kamu mau ke mana? di sini aja," rengek Reyna dan ingin menangis.


"Kenapa menangis?" Nanda pun menarik Reyna ke depan dan mengusap air mata istrinya.


"Kamu masih marah sama aku?" tebak Reyna semakin menangis kencang.


"Nggak sama sekali, nggak," Nanda menuntun Reyna duduk di sofa dan dirinya juga ikut duduk bersebelahan.

__ADS_1


"Terus kenapa kamu menghindar terus?" tanya Reyna.


"Aku nggak menghindar," jawab Nanda.


"Terus?" tanya Reyna.


"Ya enggak," jawab Nanda.


"Ya udah di sini aja kita nonton televisi bareng," Reyna melihat televisi setelah Nanda mengangguk.


Jika Reyna hanya melihat ke depan maka lain halnya dengan Nanda yang malah terus mencuri-curi pandang pada tubuh seksi Reyna yang hanya menggunakan lingerie.


Sial!


Nanda mengusap wajahnya sambil terus berusaha untuk menahan sampai akhirnya Reyna pun memutar lehernya ke samping dan memergoki Nanda yang melihatnya.


Nanda gelagapan seperti maling yang tertangkap basah, tapi justru Reyna semakin membusungkan dua benda kenyalnya pada Nanda hingga mungkin titik kesabaran akan sampai juga.


"Kamu pernah benci sama aku nggak?" tanya Reyna sambil mendekatkan wajahnya.


Nanda tak tahu mengangguk atau menggeleng dirinya terlalu fokus pada bibir Reyna.


Dua...


Tiga...


Ini sudah tak bisa lagi di tahan, segera Nanda mencium bibir Reyna dengan perlahan.


"Nanda ini selimutnya," Arni melihat adegan tersebut.


Seketika keduanya melepaskan ciuman dan menjauh, Reyna melihat arah lain tak berani melihat Mama mertuanya.


Sedangkan Nanda menunduk mengusap wajahnya, Arni pun menjatuhkan selimut di tangannya kemudian berlari masuk ke dalam kamar.


Krang!


Suara pintu yang dibanting, Reyna dan Nanda pun kembali saling memandang satu sama lain, keduanya juga merasa malu.

__ADS_1


"Di kamar ya?" kata Reyna.


"Ayolah, karena kamu sudah sangat menguji," Nanda pun segera mengangkat tubuh kecil istrinya masuk ke dalam kamar.


Mengunci pintu untuk berjaga-jaga siapa saja yang akan masuk.


Dengan cepat Nanda menindih Reyna, mencium bibir yang dari tadi terus saja menguji jiwa kelakiannya.


Padahal Nanda ingin memberikan waktu istirahat tapi Reyna terus saja menggodanya, memang pada dasarnya Nanda sudah panas dan kini dirinya ingin menyentuh tanpa ampun lagi.


"Nanda pelan-pelan," pinta Reyna saat Nanda tidak sabaran melahap dua benda kenyal miliknya.


Kemudian kembali Nanda mencium bibir Reyna, mencoba pelan seperti yang diinginkan oleh Reyna.


Sulit rasanya!


Sambil mencium bibir Reyna, Nanda pun berusaha melepas lingerie istrinya.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu membuat keduanya terkejut.


"Reyna ada tetangga yang membutuhkan pertolongan kamu," seru Arni dari luar.


Reyna pun mendorong Nanda,, dengan cepat Reyna memakai piyama agar lebih sopan.


"Reyna bagaimana dengan aku?" tanya Nanda dengan wajah lesunya.


"Hehehe, sabar dulu takutnya ada apa-apa," segera Reyna membuka pintu dan melihat Arni dengan wajah paniknya.


"Ada tetangga lahiran, anaknya sudah hampir keluar sepertinya sudah tidak bisa menunggu di bawa ke rumah sakit," kata Arni.


"Reyna tolong anak Ibu," kata seorang wanita paruh baya dari ambang pintu.


"Iya Bu," ucap Reyna.


"Reyna," seru Nanda tapi istrinya sudah pergi menuju rumah tetangga.

__ADS_1


"Kenapa harus ada acara melahirkan sekarang, tunggu satu jam lagi apakah tidak bisa," otak Nanda sudah benar-benar rusak.


__ADS_2