Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Entah bagaimana caranya mengatakan tidak.


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit akhirnya hari ini Cahaya sudah diperbolehkan untuk pulang, melanjutkan rawat jalan sebelum akhirnya Dokter mengatakan sembuh total, trauma yang dialami Cahaya tentu ada maka dari itu Jessica terus mendampingi anaknya selama dua puluh empat jam.


"Cahaya minum obat dulu, ayo buka mulutnya," Jessica tersenyum pada anaknya, perasaan menjadi seorang ibu begitu bahagia melihat perkembangan anaknya jauh lebih baik.


Cahaya pun menurut membuka mulut dan menelan obat secepatnya.


"Anak pintar, ayo tidur!" Jessica membantu Cahaya untuk kembali berbaring menyelimuti Cahaya dengan kain.


"Ma, Aya kangen sekolah," ucap Cahaya.


"Iya kalau Aya rajin minum obat, banyak istirahat pasti akan cepat sembuh terus sekolah lagi deh," lagi-lagi Jessica memberikan semangat kepada putri kecilnya.


Cahaya mengangguk menurut, perlahan menutup mata hingga akhirnya benar-benar terlelap.


"Mama ingin bicara," kata Inggit.


Dari tadi Inggit hanya diam sambil berdiri di sudut kamar menyaksikan sendiri anak cucunya berbaring di atas ranjang namun setelah memastikan cucunya terlelap Inggit pun mulai bersuara, Jessica pun mengangguk tanpa membantah, mengikuti Inggit yang berjalan keluar dari kamar Cahaya terlebih dahulu.

__ADS_1


Setelah menutup pintu kamar, keduanya pun mulai saling bertatapan dengan serius.


"Mama mau kamu menikah lagi," tutur Inggit secara langsung tanpa basa-basi.


Jessica terkejut mendengar keinginan Inggit, terlalu trauma dengan pernikahan membuatnya masih memilih menjanda, dua kali menikah rasanya sudah cukup baginya, Cahaya adalah sumber kebahagiaan yang harus dibesarkan masalah suami tidak pernah terlintas di benaknya sampai saat ini bahkan entah sampai kapan.


"Mama tidak mau tahu kamu harus setuju dijodohkan," imbuh Inggit lagi.


Jessica terdiam dan memilih duduk di sofa, melihat kerasnya sikap Inggit mungkinkah bisa mendengar isi hatinya?


"Ma, udah dua kali aku menikah, rasanya itu sudah cukup, aku sanggup untuk membesarkan Cahaya sendiri," jawab Jessica dengan nada lembut.


Inggit tidak menampik bahwa Jessica mampu membesarkan cucunya bahkan hanya dengan makan tidur saja, Cahaya bisa tumbuh dengan warisan perusahaan yang kini sudah dikelola oleh Jessica, namun bukan itu yang menjadi masalah! hanya saja Inggit tidak mau, Jessica malah kembali pada Alex.


Tidak!


Tolong mengerti jika dirinya tidak ingin itu terjadi karena sakit hati ini sudah sampai pada titik terdalam.

__ADS_1


Kenangan pahit lima tahun silam tidak pernah hilang dari benaknya, Inggit bukan ibu yang berhati malaikat, itu benar! bukan wanita suci yang mudah memaafkan orang lain dengan mudahnya jika sudah menyangkut anak.


"Dua laki-laki yang menikah denganmu adalah pilihanmu sendiri, kali ini laki-laki itu pilihan Mama," Inggit tidak ingin ditolak.


Saat ini dirinya benar-benar sampai pada batas akhir kesabaran, bahkan jika mungkin Inggit memilih menyembunyikan Cahaya selamanya dari Alex.


Hanya saja entah nasib keberuntungan apa yang dimiliki oleh Alex, lelaki kurang ajar itu hingga akhirnya dari mulut Jessica sendiri mengetahui bahwa Cahaya adalah anaknya.


"Ma," Jessica benar-benar tidak ingin berdebat, bebannya kini sungguh terasa berat memikirkan kesehatan putrinya yang masih harus menggunakan kursi roda.


Inggit melayangkan tatapan tajam tidak ingin ditolak sama sekali.


"Aku sudah tidak pernah berpikir untuk menikah lagi dengan laki-laki manapun, kau cuma mau Cahaya sembuh waktu aku cuma buat Cahaya," ucap Jessica.


"Setelah ini kamu pasti akan sering bertemu Alex, setelah seringnya bertemu kamu akan luluh dengan rayuan setannya itu! kemudian kamu mau rujuk kembali dengan alasan anak," Inggit menggeleng merasa tidak percaya pada ucapan putrinya.


Jessica mengusap wajahnya berkali-kali entah bagaimana caranya mengatakan tidak.

__ADS_1


__ADS_2