Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Daur ulang!


__ADS_3

Di desa inilah Nayla di lahirkan, sebuah desa terpencil yang terletak di sudut kota. Jauh dari kata elit seperti kehidupannya saat ini, bahkan di sini hanya terlihat hamparan sawah yang luas.


Lama sudah tidak melihat desanya tersebut, membuatnya merasa kerinduan kian semakin dalam.


Sebuah sawah yang kini di pandangi dulu adalah tempat nya bermain bersama dengan teman-teman, salah satunya adalah Nanda.


Mandi di sungai bersama tanpa rasa takut, pulang saat hari mulai petang. Itu pun karena orang tua mereka datang dengan membawa sebilah kayu yang mampu membuat jantung berdebar kencang. Merasa kayu tersebut adalah sebuah ancaman yang sangat menyakitkan padahal pada dasarnya hanya sebagai alat agar segera pulang yang di bawa orang tua mereka. Sehingga ketakutan dan memilih segera pulang, semua itu hanya sebuah kenangan indah yang tidak mungkin bisa di ulang kembali. Ternyata keputusan ini adalah tepat, pulang ke kampung halaman adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa.


Seketika bayangan wajah Ratih melintas di benaknya, Nayla merindukan sosok wanita yang melahirkannya tersebut.


Entah dimana kini keberadaannya, Nayla sudah mencari hingga ke beberapa wilayah yang di anggap sebagai tempat tinggal Ratih namun tidak. Sampai detik ini pun nyatanya belom ada jejak ke mana perginya Ratih.


Hubungan Nayla dan sang Ibu memang sudah terputus, akan tetapi hati Nayla tetap menyimpan cinta yang begitu besar.


Sehingga sampai kapan pun dirinya akan terus mengenang wajah Ratih.


Sekalipun saat terakhir kali bertemu Ratih begitu kejam, hati Nayla yang tulus tidak pernah bisa membencinya.


Nayla hanya bisa tersenyum getir, menahan kerinduan yang begitu mendalam. Berharap semoga dalam waktu dekat bisa kembali bertemu dengan Ratih.


Sekali lagi Nayla mengusap setitik air mata yang menetes, saat mengenang masa-masa kecil yang begitu luar biasa.


Bahkan dirinya kini membawa kedua anaknya, memperkenalkan tempat dirinya dilahirkan. Rumah kecil milik Bobby yang sederhana jauh dari kata mewah.


Bahkan rumah Bobby yang kecil dan sempit tidak mampu menampung anggota keluarga lainnya untuk menginap di desa beberapa hari kedepan.


Sampai akhirnya harus di bagi menjadi dua, Nanda yang memiliki rumah lebih besar tentunya mampu untuk menampung mereka semua.


Tetapi, Nayla lebih memilih tinggal di rumah sang Ayah yang tengah sakit- sakitan.


Rumah Nanda adalah rumah terbesar di antara penduduk lainnya, bahkan sejak dulu mendiang sang Ayah terkenal dengan sebutan juragan tanah.


Hampir separuh wilayah desa adalah milik Nanda, berkat kegigihan mendiang sang Ayah lah kini Nanda mewarisi semua itu.


"Sayang, masuk yuk," Devan menepuk pundak Nayla, hingga membuyarkan lamunan istrinya yang begitu dalam sambil memandang langit senja.

__ADS_1


Halaman yang begitu luas membuat mata lebih nyaman memandang, akan tetapi istrinya itu sedang mengandung.


Devan merasa tidak baik terlalu lama di luar rumah, keadaan udara yang sangat dingin ini.


Nayla pun tersenyum, baru saja tiga puluh menit yang lalu sampai di desa tentunya ada rasa lelah. Namun, lelahnya perjalanan menuju desa seketika terobati setelah melihat pemandangan yang begitu luar biasa indah.


Sejak dulu desanya tidak pernah berubah, masih berkesan dan terus menjadi desa terindah dengan sejuta kenangan indah.


"Yang lainnya ke mana Mas?"


"Ke rumah Nanda."


Nayla pun mengangguk dan memasuki rumah sederhana sang Ayah, sedangkan Jessica, Alex, dan Reyna berada di rumah Nanda.


Lain lagi dengan Rima dan Aditya yang tidak ikut, karena Rima masih mogok bicara, sebenarnya Aditya juga berkeinginan untuk ikut melihat desa indah yang di ceritakan oleh Nayla, hanya saja Rima masih terlalu marah padanya.


"Bunda, rumah Kakek keren," kata Felix dengan senyuman bahagia.


"Memangnya kenapa?" Nayla menatap anaknya kini duduk di kursi kayu yang tertata di ruang tamu.


Selama ini bocah itu tidak mengerti hidup di desa seperti apa, sehingga sesuatu yang baru dilihatnya akan terasa berkesan.


"Daur ulang?" Tanya Devan yang kebingungan, bagaimana tidak bingung mendengar toilet yang bisa di daur ulang.


"BAB di kali, terus ada yang mancing juga. Berarti tidak terbuang sia-sia kotorannya, soalnya bisa jadi makanan ikan," jelas Felix dengan polosnya.


"He'um, terus masa BAB tutup kepala aja di kali. Mantap pokoknya," Adnan pun ikut menimpali.


Devan menggaruk kepalanya, dirinya yang terbiasa hidup serba instan kini tampaknya harus merasakan sulitnya hidup di desa


Devan merinding seketika, apa lagi saat mendengar kalimat 'tidak terbuang sia- sia' entah bagaimana dirinya beberapa hari kedepan nantinya.


"Itu jorok" jelas Devan.


"Mana ada, apa lagi kalau yang bilang air cewek cantik. Aku bisa betah buang air di kali terus-menerus," Felix tersenyum dengan gigi ompong nya.

__ADS_1


"Dasar edan." Devan mengetuk kepala Felix, anaknya itu mungkin lebih cepat dewasa.


"Ayah, apaan sih! aku udah gedel" Felix kesal saat Devan mengetuk kepalanya.


"Kak, besok kita ke sungai lagi ya. Mana tahu ada cewek cantik yang BAB," imbuh Adnan.


"Nayla, apakah kita salah mendidik anak-anak ini, kenapa masih kecil sudah rusak parah begini!" Kesal Devan berapi-api.


"Kok, Mas nyalahin aku? Mas, tidur di teras! aku nggak mau tidur sama Mas!" Nayla pun melenggang masuk ke dalam kamar, kesal pada Devan yang menyalahgunakan dirinya.


Devan meneguk saliva, tampaknya dirinya salah dalam berbicara.


Felix pun bangun dari duduknya, mengusap tangan Devan.


"Yang sabar Mas," seloroh Felix.


Wajah Devan memerah saat Felix mengejek dirinya, sampai akhirnya Adnan ikut berdiri.


"Ini cobaan Mas," imbuh Adnan.


Devan beralih menatap Adnan dengan berapi-api, entah mengapa mendadak kedua anaknya tersebut menjadi begini.


"Kabur!" Adnan dan Felix berlari menuju dapur, hingga tanpa sengaja menabrak Santi yang sedang membawa makanan di dalam sebuah wadah.


Santi terpeleset, hingga semua makanan tumpah mengenai wajahnya.


"Aduh," Felix menutup mulut dengan merasa jantungnya berdegup kencang karena takut.


"Mampus," ejek Adnan.


Santi mengepalkan tangannya, berharap sabar sebanyak-banyaknya mengingat Adnan dan Felix adalah anak Devan yang kaya raya.


"Felix, Adnan!" Devan pun memperingati anaknya.


"Tidak apa-apa, mereka tidak sengaja," Santi berusaha mencari muka di hadapan Devan, berharap saat pulang nanti meninggalkan rupiah yang banyak tentunya.

__ADS_1


__ADS_2