
Nayla tersenyum miring menatap wajah Devan dari kejauhan. Sebenarnya ini bukanlah dirinya tapi Reyna telah mengajarkan dirinya akan kecurangan demi membalaskan sakit hati.
Sakit hati seiring dengan kehancuran yang dilakukan Devan.
Wajah Devan terlihat sangat gusar, kaget,, kebingungan begitu mendengar kata-kata Nayla barusan. Itulah yang Nayla harapkan membiarkan Devan bingung dalam pikirannya. Hingga membuat batin tersiksa, ini hanya sebuah cara untuk membuat Devan tau bahwa ada wanita lain yang terluka selain Jessica istri tercintanya itu.
Nayla segera menuju taman belakang melihat bunga-bunga indah kesayangannya yang tengah bermekaran saat ini,, selama ini dengan menyiram bunga sudah merupakan kebahagiaan untuknya.
"Selamat pagi," ucap Nayla menyapa bunga-bunga indahnya lalu segera menyiram bunga-bunga itu.
"Sudah sarapan?" tanya Reyna.
Nayla pun tersadar kedatangan Reyna.
"Sudah sih, tapi terganggu karena kedatangan suami tidak jelas ku itu," ucap Nayla dengan malas.
"Em," ucap Reyna sambil mengangguk kemudian segera berbisik pada Nayla.
"Biarkan dia yakin untuk menceraikan Jessica setelah itu kamu juga segera menceraikan dia," ucap Reyna.
"Iya," ucap Nayla sambil mengangguk mengerti,, dia hanya mengikuti saja arahan dari Reyna sahabat nya.
"Nih siram bunga," ucap Nayla sambil memberikan selang pada Reyna kemudian dia bergerak untuk segera masuk kembali ke dalam rumah, bersamaan dengan itu dirinya bertemu dengan Devan di pintu kamar karena Devan juga ingin keluar.
Keduanya langsung bertemu pandang,, mereka saling pandang, Nayla tersenyum dan melangkah masuk ke dalam kamar. Nayla menutup pintu dengan membantingnya,, Nayla berjalan melangkah sambil mendekati Devan.
Devan mundur selangkah demi selangkah,, entah mengapa wajah istri keduanya itu terlihat begitu menegangkan sampai akhirnya tubuh Devan membentur dinding. Nayla pun merapatkan tubuhnya pada Devan, sekalipun masih terhalang karena perut besarnya saat ini. Tapi tidak masalah sama sekali karena ini pun sudah cukup dekat.
"Kamu, perlu waktu dan pilihan bukan? butuh suatu pertimbangan juga bukan?" ucap Nayla.
Tangan Nayla saat ini melingkar pada tengkuk Devan, sebelahnya lagi menjalar begitu saja memainkan kancing kemeja Devan.
__ADS_1
Devan tidak pernah tau bahwa Nayla bisa begitu nekat menggoda dirinya seperti saat ini, tiba-tiba Devan merasa benar-benar horor pada istri keduanya itu. Ekspresi wajah Nayla justru mendadak lebih menakutkan daripada Jessica yang selama ini selalu diagungkan nya.
"Sedang memikirkan apa hem?" tanya Nayla dengan sangat menggoda.
Devan hanya diam dengan keringat yang sudah bercucuran,, menegang diantara takut dan bingung harus melakukan apa. Tapi Nayla bukanlah wanita bodoh, dia bukan seorang wanita yang sangat lemah yang bisa ditindas dengan mudah. Saatnya kini bangkit dari keterpurukan melawan segala penderitaannya. Dengan perlahan Nayla mencium bibir Devan, sedetik kemudian dia menjauh melihat ekspresi wajah Devan. Nayla tersenyum miring begitu melihat ekspresi wajah Devan yang terlihat sangat kaget.
Dalam hati Nayla tertawa dengan bahagianya,, menyadari bahwa sebelumnya Devan lah yang selalu menindas dirinya,, menekan dengan paksa dan membuat Nayla seakan boneka mainan saja.
"Kenapa?" tanya Nayla sambil menarik Devan hingga Devan terduduk di sofa,, seketika itu Nayla duduk di atas pangkuan Devan dengan melingkarkan kakinya di pinggang Devan.
"Kenapa hanya diam? biasanya juga tidak begini?" tanya Nayla sambil tersenyum,, tahu akan perasaan bingung suaminya.
"Nayla apa ini benar-benar kamu?" tanya Devan setelah cukup lama diam dan terkejut, tidak percaya dan tidak menyangka Nayla yang lembut dan pemalu berubah menjadi begitu berani saat ini.
"Kenapa? apa aku terlihat berbeda saat ini? iya kamu lah yang mengubahku," ucap Nayla sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Nayla aku...," Devan tidak bisa lagi berbicara karena bibirnya sudah lebih dulu dibungkam dengan bibir manis Nayla,, Nayla mencium Devan dengan gerakan kasar.
"Nayla?" tanya Devan bingung disaat tengah asik Nayla malah menjauh.
Nayla meletakkan kakinya di atas paha Devan sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Aturan mainnya kamu hanya diam saja,,, setuju atau tidak?" ucap Nayla.
"Hah bagaimana bisa Mas hanya diam saja?" tanya Devan frustasi.
Devan benar-benar putus asa bagaimana bisa dirinya hanya diam saja sementara dirinya sangat merindukan tubuh itu.
"Terserah, aku sudah memberikan kamu pilihan, lanjut dengan diam tanpa bergerak,, atau tidak sama sekali,," ucap Nayla.
Itu adalah cara pertama untuk membuat Devan bertekuk lutut di bawah kakinya, sedetik kemudian ponsel Devan berdering tertulis nama Jessica di ponsel itu.
__ADS_1
"Jawab saja," ucap Nayla tidak perduli sama sekali lalu berniat untuk ke luar dari dalam kamar namun tangan Devan dengan cepat menahan dirinya.
Nayla melipat kedua tangannya di depan dada lalu menatap wajah Devan untuk menantikan ucapan Devan.
"Tetap disini jangan pergi dan Mas akan mengikuti aturan main mu," ucap Devan sambil menatap Nayla membiarkan Jessica menelepon dirinya entahlah Devan saat ini lebih memilih mengabaikan Jessica daripada Nayla keluar dari dalam kamar.
"Kalau begitu mana ponselnya?" bisik Nayla membuat Devan merinding seketika. Tidak menyangka dirinya akan di stir istri keduanya biasanya dia lah yang mengendalikan semuanya.
Devan pun memberikan ponsel itu pada Nayla, sesaat kemudian Nayla meletakkan ponsel itu di dekat mereka,, dengan panggilan yang masih terhubung pada Jessica. Nayla sengaja menjawab panggilan dari Jessica tadi membiarkan Jessica mendengar semuanya.
"Baiklah Mas ku sayang, sentuh aku semaumu,, terserah padamu aku akan melayani mu dengan senang hati," ucap Nayla yang langsung mengubah aturan mainnya sendiri tadi,, agar membuat Jessica yang berada di seberang sana terluka hatinya,, merasakan apa yang dirasakan Nayla selama ini, Jessica akan marah besar bahkan mungkin meninggalkan Devan.
Seketika Devan mencium bibir manis yang sudah sangat dirindukannya itu,, dengan tangan meremas bokong Nayla,, hal itu sangat disukai oleh Devan,, benar-benar disukainya.
Sesaat kemudian ciumannya mulai turun kepada kedua gunung kembar milik Nayla,, Nayla pun hanya membiarkan Devan melakukan itu bahkan menikmati nya.
"Mas,, iya begitu,, yang kencang Mas," ucap Nayla dengan sangat kencang agar Jessica mendengar itu semua,, mendengar ******* Nayla yang kencang membuat Devan semakin bersemangat dan bernafsu.
Devan terus menyusu seperti bayi yang kehausan menikmatinya bahkan bergantian di kanan dan kiri.
"Remas Mas," desah Nayla dengan kencang,, Devan benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Devan langsung membuka pakaiannya semua,, lalu membuka pakaian Nayla juga dengan tidak sabaran,, kini mereka sudah tidak menggunakan sehelai benang pun.
Nayla duduk di sofa memberikan akses penuh pada Devan untuk menghisap lubang jahanam miliknya itu,, ketika bercinta Devan memang selalu melakukan itu, lubang itu seketika basah karena permainan lidah Devan di dalamnya. Devan tidak pernah seperti itu pada Jessica ketika mereka bercinta dulu tapi pada Nayla,,, Devan pasti menelusuri semuanya dengan penuh damba dan hasrat yang menggebu-gebu,, Devan bahkan sangat menyukai bercinta seperti itu dengan Nayla.
"Mas,, lagi Mas,, ini nikmat sekali," Nayla terus mendesah dengan kencang membuat Devan semakin tidak karuan,, Devan mencium bibir manis Nayla yang sejak tadi terus mendesah lalu kembali memainkan lidahnya di lubang jahanam milik Nayla yang sangat disukainya itu.
Kamu mengatakan aku wanita murahan kan? dengarlah suara wanita murahan ini yang sedang mendesah kenikmatan karena permainan suamimu,, dengar juga suara suamimu yang sedang mendesah kenikmatan karena wanita murahan ini, batin Nayla sambil melihat panggilan yang masih terhubung dengan Jessica,, biarlah dirinya menjadi iblis yang tidak berbelas kasih,, memangnya siapa selama ini orang yang mengasihani dirinya? tidak ada sama sekali,, bahkan ibu kandungnya pun tidak tulus menyayangi dirinya.
Rasa dendam tercipta karena luka yang sangat dalam, sekalipun sebenarnya hati kecil Nayla sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya saat ini.
__ADS_1