
"Cukup mas ngerjain aku,, sekarang mas keluar aja balik ke kamar mas," usir Nayla yang benar-benar takut ketahuan.
"Hmm iya deh," ucap Devan dengan terpaksa lalu berjalan menuju pintu kamar Nayla.
Namun Nayla tiba-tiba memanggilnya.
"Mas," ucap Nayla.
Devan segera membalikkan badannya melihat Nayla.
"Apalagi? katanya tadi disuruh keluar sekarang malah dipanggil-panggil,, dasar wanita," ucap Devan.
"Kita ambil mangga dulu yah mas,, mau yah?" ucap Nayla sambil melihat Devan dengan tatapan penuh harap.
Entah mengapa Nayla tiba-tiba ingin mangga muda yang ada di taman belakang,, tapi Nayla mau nya jika Devan sendiri yang mengambilkan untuknya.
"Mas," rengek Nayla lagi karena Devan terlihat hanya diam saja padahal dirinya sudah sangat menginginkan mangga muda itu.
Nayla tiba-tiba berani memohon pada Devan hanya demi mangga muda.
"Iya," ucap Devan.
Nayla dan Devan kembali keluar dari kamar Nayla,, mengendap-endap seperti maling hingga akhirnya mereka berdua sampai di taman belakang rumah Devan tepatnya di bawah pohon mangga.
"Ayo mas panjat,," ucap Nayla dengan tidak sabar karena sangat ingin memakan mangga muda itu.
Devan dengan segera memanjat lalu mengambilkan tiga buah mangga muda untuk Nayla dan segera turun memberikan pada Nayla.
"Kamu tidak boleh terlalu sering memakan mangga muda,," ucap Devan sambil memberikan mangga muda yang baru dipetiknya kepada Nayla.
"Iya," ucap Nayla sambil mengambil buah mangga itu dari Devan.
Untuk malam ini terserah Devan mau mengatakan apa yang penting mangga muda sudah berada ditangannya,, masalah besok tidak usah dipikirkan malam ini.
Mereka berdua duduk di bawah pohon mangga karena keinginan Nayla. Dan Devan tidak mempermasalahkan sama sekali dengan keinginan Nayla,, justru hati Devan merasa sangat bahagia karena bisa melihat wajah Nayla di bawah cahaya bulan.
"Mas,, ayo cobain," ucap Nayla sambil memberikan satu buah mangga muda kepada Devan.
Devan langsung menggelengkan kepalanya.
"Nggak mau," ucap Devan cepat dengan gelengan kepala.
Devan benar-benar merinding membayangkan betapa tidak enaknya rasa mangga muda itu.
"Mas,," rengek Nayla lagi sambil melihat Devan.
Sial!!!
Entah mengapa suara Nayla terdengar sangat manja ditelinga Devan. Sadar atau tidak tetapi sikap Nayla yang seperti ini membuat Devan benar-benar tidak karuan.
"Mas," ucap Nayla lagi dengan sedikit menaikkan volume suaranya karena Devan terlihat sedang larut dalam pikirannya sendiri,, Nayla juga tak tau apa yang sedang dipikirkan oleh Devan.
"Baiklah,, aku akan makan," ucap Devan. Tidak ingin mendengarkan terus-menerus suara manja Nayla yang membuatnya tidak karuan,, Devan segera mengikuti keinginan Nayla memakan mangga muda itu bersama.
__ADS_1
Begitu memakannya rasa mangga muda itu begitu masam hingga membuat Devan ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya.
"Mas kenapa?" tanya Nayla sambil melihat ekspresi wajah Devan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Nayla,, mas sudah hampir menghabiskan satu buah mangga ini,, mas rasa ini sudah cukup,, mangga ini rasanya sangat asam sekali,," ucap Devan sambil melempar asal mangga muda itu.
Bruk!!!!
Pak Asep terkejut hingga terjatuh seketika begitu sebuah mangga mengenai dahinya.
Pak Asep meringis merasakan kesakitan pada dahinya.
"Benar-benar mangga sialan," ucap Pak Asep lalu kembali mengambil mangga itu dan membuangnya sembarangan.
Bruk!!!
Mangga itu tepat mengenai Devan.
"Ppffffftt," Nayla benar-benar menahan tawanya begitu melihat sebuah mangga mengenai Devan,, apalagi melihat ekspresi wajah Devan,, Nayla benar-benar berusaha keras menahan tawanya.
"Siapa yang berani melempar mangga ini?" ucap Devan dengan kesal.
Nayla segera mengambil buah mangga yang mengenai Devan.
"Loh ini sisa mangga yang mas makan tadi," ucap Nayla sambil menahan tawanya.
"Sialan," ucap Devan sambil melihat mangga itu,, dan benar saja mangga itu mangga yang habis dia makan tadi.
"Hahahaha,," Nayla benar-benar tertawa terbahak-bahak begitu melihat ekspresi wajah Devan yang benar-benar kesal.
"Sudah puas tertawanya?" ucap Devan sambil melihat Nayla yang asik sekali menertawai dirinya.
"Iya deh nggak tertawa lagi,," ucap Nayla berusaha menghentikan tawanya karena takut ketahuan oleh orang lain.
"Pokoknya mas nggak mau makan lagi mangga ini,,, rasanya sangat asam sekali,, mas bisa mati karena terlalu asam,," ucap Devan sambil bergidik ngeri melihat mangga itu.
"Memangnya siapa yang menyuruh mas makan mangga ini? siapa mas?" ucap Nayla sambil melihat Devan.
Devan melihat Nayla dengan ekspresi wajah kebingungan.
Bukankah tadi Nayla yang memintanya makan mangga asam itu,, lalu sekarang Nayla seolah-olah bertanya siapa yang menyuruhnya dengan ekspresi wajah tanpa dosanya.
"Loh-loh bukannya tadi kamu yang meminta mas makan mangga itu,, barusan kamu menyuruh mas, dasar bocah edan,," ucap Devan sambil mencubit kedua pipi Nayla dengan gemas,, gara-gara Nayla,, Devan dua kali kena sial.
Nayla melepaskan kedua tangan Devan yang berada di pipinya.
"Aku tadi bilang mas cobain mangga itu,, mana ada aku menyuruh mas makan,," ucap Nayla memberikan penjelasan seperti tanpa dosa.
"Terus apa bedanya? sama aja kan?" ucap Devan sambil melihat Nayla.
"Buah mangga ini aku sangat suka,, menurut aku ini benar-benar enak,, dan mas cuma lihatin aja dari tadi,, makanya aku menyuruh mas cobain siapa tau aja mas suka,, tapi kalau mas nggak suka yah nggak apa-apa,, mas bisa tidak melanjutkan makan sampai habis,," ucap Nayla dengan ekspresi wajah yang benar-benar santai tanpa dosa.
"Dasar ada aja alasannya,, mulai hari ini mas panggil kamu bocah edan,," ucap Devan sambil menjitak kepala Nayla meluapkan rasa kesal pada Nayla,, wanita yang sangat suka sekali makan mangga muda.
__ADS_1
"Dasar mas dodol,," ucap Nayla tak mau kalah sambil menahan tawanya.
"Apa? mas dodol? dasar istri tidak ada akhlak,, ngerjain suami,," ucap Devan lalu segera memasukkan kepala Nayla ke dalam ketiaknya hingga Nayla meronta-ronta ingin dilepaskan.
"Mas,, lepasin," ucap Nayla.
"Minta ampun nggak sekarang?" ucap Devan masih dengan posisinya yang tadi.
"Nggak mau mas," ucap Nayla sambil berusaha melepaskan diri sendiri tanpa memohon ampun,, tidak ada sejarahnya untuk dia memohon ampun pada orang lain.
"Ya udah rasakan ini,," ucap Devan yang semakin menghimpit kepala Nayla di bawah ketiaknya,, sebelum Nayla memohon ampun, Devan tidak akan melepaskannya.
"Masih belum mau menyerahkan?" ucap Devan. Nayla yang berusaha melepaskan diri sendiri tanpa memohon ampun nyatanya sampai saat ini belum membuahkan hasil,, Nayla pun terpaksa menuruti keinginan Devan.
"Ampun mas,, ampun,," ucap Nayla.
"Apa?" ucap Devan yang sangat suka mengerjai Nayla.
Setelah Devan sadar bahwa Nayla sangat lucu dan selalu membuatnya tertawa serta merasa terhibur dengan tingkah Nayla.
"Ampun,," ulang Nayla.
"Ulangi mas nggak dengar,," ucap Devan lagi.
"Ampun mas,," ucap Nayla lagi.
Devan segera melepaskan Nayla begitu mendengar kata ampun dari Nayla.
"Dasar mas dodol," ejek Nayla lagi.
"Oh mau lagi kau yah," ucap Devan segera menarik Nayla.
"Ampun mas,, ampun,, aku bercanda doang ishh," ucap Nayla lagi sambil tertawa.
Nayla dengan cepat menangkup kedua tangannya memohon ampun agar Devan tidak melakukan hal yang sama seperti tadi.
"Dasar bocah edan," ucap Devan lalu menarik hidung Nayla,, keduanya berdiri di bawah pohon mangga dengan diterangi cahaya bulan.
"Sakit tau mas ishh," ucap Nayla.
"Hahaha,," lagi-lagi Devan tertawa melihat kelucuan istri keduanya itu.
Mereka sadari atau tidak tapi setiap hari mereka semakin dekat,, mengikis jarak diantara mereka berdua,,, berteman seperti sahabat.
Tertawa bersama dalam bahagia,, kenyamanan yang semakin hari semakin terasa. Setiap tawa,, setiap sentuhan,, setiap senyuman menciptakan sebuah ikatan.
Bukan ikatan cinta,, bukan ikatan keluarga,, tapi hanya sebuah rumah tangga kecil yang mereka berdua tutupi rapat-rapat sampai saat ini.
Tanpa sadar Nayla dan Devan mulai masuk ke dalam jurang luka,, semakin dekat artinya mereka semakin membutuhkan satu sama lain.
Seiring dengan kandungan Nayla yang makin hari makin besar,, itu berarti perpisahan akan segera tiba pada waktunya.
Akankah mereka tetap bahagia meskipun tidak lagi bersama? mencari kebahagiaan mereka masing-masing dengan jalan hidup seperti sebelum mereka saling mengenal.
__ADS_1