
"Sayang,"
Devan benar-benar tersentak kaget begitu tangan Jessica tiba-tiba melingkar di perutnya,, seketika itu pula Devan memutuskan panggilan video call yang terhubung dengan Nayla saat ini. Devan masih bersyukur karena tadi dirinya tidak lagi memegang pisang keramatnya,, tapi sejak kapan Jessica keluar dari kamar.
"Devan," ucap Jessica sambil memutari tubuh Devan dan saat ini sedang berada di hadapan Devan dengan perlahan tangannya melingkar di leher Devan.
Dengan perlahan Devan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya,, memaksa tersenyum sekalipun dirinya masih dikuasai ketegangan.
"Kamu kenapa? kok kayak panik gitu?" tanya Jessica.
"Kamu kenapa? kok bangun?" tanya Devan balik.
Devan lebih memilih mengalihkan pembicaraan daripada harus membahas hal yang bisa membuat dirinya bingung dengan jawaban dari setiap pertanyaan Jessica nanti.
"Aku terbangun tadi,, lalu aku melihat kamu tidak ada di samping ku, akhirnya aku nyariin kamu,, dan aku melihat kamu di luar," ucap Jessica dengan senyum manjanya.
"Tapi tadi aku dengar kamu lagi telfonan,, kamu telfonan dengan siapa?" tanya Jessica lagi sambil menatap Devan dengan tatapan mata penuh selidik.
"Em itu tadi barusan Kak Andini nelfon,, dia nanyain kamu tadi," jawab Devan bohong.
"Kak Andini?"
Jessica merasa ada yang tidak beres karena barusan Andini menghubungi dirinya juga.
"Kak Andini nanya kamu sudah tidur atau belum? mas..," Devan langsung menutup mulutnya karena tadi dialah yang bertanya seperti itu pada Nayla.
"Emm maksudku tadi Kak Andini nanya kapan kita pulang, apa kamu betah disini?" ucap Devan yang berusaha mengelabui Jessica,, tapi apakah Devan bisa.
"Em," ucap Jessica sambil mengangguk lemah.
Perasaan seorang istri yang masih curiga pada perubahan suaminya masih sangat terasa.
"Kamu nggak percaya?" tanya Devan.
"Percaya," jawab Jessica.
Jessica tidak ingin memperkeruh suasana,, saat ini mereka lagi menikmati indahnya berlibur berdua. Jessica pun tidak mau nantinya Devan akan marah padanya,, dan akhirnya memutuskan untuk kembali sebelum waktu liburan mereka habis. Tapi percayalah hati Jessica saat ini benar-benar sangat gundah,, sungguh Devan sudah banyak sekali berubah.
__ADS_1
Selama berbulan-bulan baru kali ini Devan menyentuhnya,, apa mungkin seorang pria beristri mampu menahan batinnya selama itu apalagi mereka merupakan pengantin baru.
Rasanya sungguh sangat mustahil. Jika memang ada wanita lain yang memuaskan Devan dan mengambil hati Devan,, tentu itu akan sangat menyakitkan untuk Jessica.
Jessica akan mempertahankan pernikahan nya dengan Devan, Jessica mencoba membenahi diri,, dan juga memberikan perhatian lebih dari selama ini yang dia berikan pada Devan. Semua itu demi Devan agar bisa kembali hangat seperti dulu waktu mereka pacaran. Sungguh saat ini Jessica merasa Devan semakin jauh padanya meskipun Devan tetap bersikap seperti biasa tapi dia jelas-jelas merasa perubahan dari Devan.
"Ya udah ayo kita tidur yah," ucap Jessica lagi sambil menatap Devan dengan penuh cinta.
Jessica mengesampingkan perasaan curiga nya yang semakin hari semakin besar tapi harus berusaha untuk tetap tenang, bersabar,, dan berharap ini hanya perasaan nya saja yang terlalu berlebihan.
Devan mulai terlelap, Jessica mendengar deru nafas Devan yang mulai beraturan menandakan Devan benar-benar telah tidur.
Perlahan Jessica bangun dan mengambil ponsel Devan yang terletak di atas meja nakas,, Jessica pun mencoba membukanya.
"Dikunci?" gumam Jessica.
Jessica baru tau saat ini Devan benar-benar tertutup padanya,, sangat tidak biasa sekali Devan mengunci ponselnya seperti ini.
Ada apa dengan Devan,, semuanya semakin membuat Jessica bertanya-tanya.
Perlahan Jessica kembali meletakkan ponsel Devan pada tempatnya, kemudian Jessica kembali berbaring sambil menatap wajah Devan.
Cintanya pada Devan sungguh tidak main-main,, andai Devan menyakiti dirinya,, Jessica pasti akan sangat menderita.
Begitu sudah puas memandangi wajah Devan, Jessica perlahan memejamkan matanya kemudian tidur terlelap dalam dekapan hangat Devan.
"Sayang kamu lagi apa?" ucap Jessica.
Jessica berlari menghampiri Devan, tapi tiba-tiba ada seorang wanita juga yang menghampiri Devan. Dan Devan langsung melepaskan genggaman tangannya pada Jessica,, Devan berjalan ke arah wanita itu meninggalkan Jessica sendiri tanpa perasaan dan juga penjelasan.
Jessica menangis tersedu-sedu menatap punggung Devan yang perlahan menghilang sambil menggenggam erat tangan wanita itu,, wanita asing yang Jessica sendiri tidak bisa melihat jelas wajah wanita itu dan Jessica tidak bisa mengenali nya.
"Devan,, jangan tinggalkan aku,," teriak Jessica.
Jessica berteriak sekencang mungkin memanggil nama pria yang sangat dicintainya itu, lelaki yang menghalalkan nya di dalam ikatan suci pernikahan. Semakin lama suara Jessica semakin nyaring,, rasa takut kian makin jelas terasa.
"Jessica sayang bangun," ucap Devan sambil menepuk wajah Jessica berusaha membangunkan Jessica dari mimpi buruk yang mungkin sangat menyeramkan untuk Jessica.
__ADS_1
"Sayang," ucap Jessica yang kini matanya sudah terbuka lebar, nafasnya berpacu seakan sedang berlari kencang karena dikejar oleh sesuatu yang sangat menyeramkan.
"Sayang,, kamu mimpi buruk?" tanya Devan.
Jessica menatap Devan yang kini tengah duduk di sampingnya, dengan cepat Jessica memeluk Devan sangat erat.
"Sayang,,, kamu mimpi apa?" tanya Devan.
Devan mengecup kening Jessica hingga beberapa kali,, kemudian kembali memeluk serta mengusap punggung istrinya yang diakui oleh semua orang itu.
"Aku tadi mimpi kamu ninggalin aku," ucap Jessica.
Degh!!!
Devan seketika mematung perkataan Jessica tadi seakan menjadi belati tajam yang menikam dirinya dari dua arah berbeda namun bersamaan.
"Devan,, kamu kenapa kok kamu malah diam?" tanya Jessica yang kembali khawatir begitu melihat ekspresi Devan saat ini.
Deru nafas Jessica masih terdengar sampai saat ini, dengan keringat yang semakin membanjir di tubuhnya,, Jessica benar-benar takut mimpi itu akan menjadi kenyataan,, apalagi begitu mengingat segala perubahan Devan akhir-akhir ini seakan memperkuat mimpi buruk itu.
"Kamu bicara apa?" ucap Devan semakin mempererat pelukannya pada Jessica,, mencoba memberikan ketenangan pada Jessica,, terlihat jelas Jessica sangat sedih dan ketakutan saat ini.
"Devan kalau sampai itu terjadi,, aku pasti akan mati,, aku akan mati di hadapan kamu,, Devan," ucap Jessica.
"Sayang kamu bicara apa? itu hanya mimpi saja," ucap Devan.
"Aku takut,, aku takut kehilangan kamu,," ucap Jessica.
"Aku disini,, dan sekarang kamu sedang bersama aku sekarang," ucap Devan.
Jessica mengangguk lemah,, hatinya berkata bahwa Devan saat ini berkata jujur dan sedang tidak berbohong.
"Aku cuma takut,,, aku takut ada wanita lain yang telah mengambil hatimu, tapi aku yakin bahwa apa yang aku pikirkan pasti salah, itu hanyalah perasaan ku saja yang terlalu mencintai kamu," ucap Jessica.
Tidak ada kata yang dapat diucapkan oleh Devan selain dekapan hangat dan ciuman kehangatan di kening Jessica sebagai bukti bahwa cintanya tidak pernah pudar ataupun berkurang untuk Jessica.
Maaf sayang,, saat ini aku sedang tidak baik-baik saja, tidak ada yang salah diantara kamu maupun Nayla, kalian hanya korban,,, aku pun juga tidak salah,, aku juga korban, entah siapa yang telah menjebak aku malam itu sehingga kamu pun akhirnya ikut merasakan kasih sayang ku yang sudah tidak seperti dulu lagi sewaktu kita pacaran,, batin Devan penuh dengan rasa sedih atas apa yang terjadi saat ini.
__ADS_1
"Dokter Alex? apa mungkin dia pelakunya?"