Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Sedih sekali rasanya!


__ADS_3

Lingerie warna pink yang diberikan oleh Nayla kini dipegang Reyna, antara bingung harus memakai atau tidak, jika tidak memakai akankah Nanda mau memaafkannya? sedangkan dirinya ingin meminta maaf pada Nanda, tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka, cepat-cepat Reyna memasukkan lingerie di tangannya pada lemari, menyimpan asal yang terpenting Nanda tidak melihatnya, sesaat kemudian Nanda masuk mengambil pakaian dari lemari dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Tidak berselang lama, Nanda pun keluar sudah dengan kemeja merah maroon berpadu celana hitam, sesaat kemudian Nanda mengambil jas berwarna hitam dan memakainya.


Merapikan pakaian, memakai parfum kemudian kembali berjalan menuju pintu.


Reyna hanya diam, rasanya sedih sekali tak dianggap ada, apakah ini yang diinginkan sebenarnya? ternyata Nanda hanya ingin menghargainya dengan menganggap dirinya ada.


Saat seperti ini dirinya malah merasa tak berguna, Nanda pulang dan pergi begitu saja, sedangkan dirinya seakan dianggap pigura.


"Nanda" Reyna mencoba memanggil Nanda yang hampir melewati pintu.


Reyna memutuskan untuk mengejar Nanda hingga akhirnya memegang tangan Nanda yang hampir menggapai pintu utama.


"Nanda," ucap Reyna.


Nanda pun diam di tempatnya, menunggu apa yang akan dikatakan Reyna. Lama Reyna terdiam Nanda pun melepaskan tangan yang dipegang Reyna kemudian segera pergi.


Sebuah mobil terparkir di depan gerbang sudah menunggunya, Reyna terdiam melihat Nanda memasuki sebuah mobil dan melaju.


"Reyna, kamu nggak ikut?" tanya Arni yang baru pulang ke rumah setelah berbelanja kebutuhan bulanan.


Sampai di rumah malah Arni bingung yang melihat Reyna, sedangkan Nanda pergi.


"Ikut ke mana, Ma?" tanya Reyna bingung.


"Loh, Nanda memangnya tidak mengatakan kalau ada acara pernikahan sahabatnya?" tanya Arni balik.


Reyna pun menggeleng, menyimpulkan bahwa saat ini Nanda pergi untuk merayakan pernikahan sahabat nya.


Hingga tak lama berselang ponselnya pun berdering, tertulis nama Nayla.


( Kamu nggak datang bareng Nanda? goblok banget sih! suamimu itu sedang jadi incaran di pesta ini )


Begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Nayla, yang ikut dalam pesta tersebut.


Pikiran Reyna semakin kacau tak terkendali, bagaimana mau diajak? bicara saja kini Nanda tidak mau dengannya, apalagi memaafkan.


Apakah mungkin?


Arni pun melihat kegelisahan di wajah Reyna, seketika rasa penasaran pun kian menjadi-jadi.


"Kalian nggak lagi ribut kan?" tanya Arni mencoba memberanikan diri.


Reyna pun tersadar ternyata masih ada Arni dihadapannya, mungkin karena terlalu larut dalam pikirannya membuat dirinya melupakan Mama mertuanya yang belum beranjak sedikitpun dari hadapannya.


"Ma, aku ke kamar dulu yah," ucap Reyna.


Wajah Reyna begitu lesu, tidak ada semangat sama sekali, ternyata larut dalam rasa bersalah begitu menyiksa.


Waktu terus berlalu, Reyna menunggu Nanda hingga tengah malam.


Akhirnya setelah jam menunjukkan pukul sebelas malam, Nanda pulang juga.


Reyna melihat dari jendela kamar, Nanda menuruni mobil dan mulai masuk.


"Nanda," Rena berdiri di depan pintu kamar, saat Nanda masuk langsung menyapanya.

__ADS_1


Nanda pun terdiam dan melihat Reyna, ada yang berbeda, Reyna memakai lingerie seksi berwarna pink tapi dirinya tak tahu untuk apa Reyna memakainya.


"Aku minta maaf, kamu mau kan maafin aku?" lirih Reyna dengan nada memohon.


"Kamu tidak salah! aku yang salah dan aku minta maaf," jawab Nanda.


Nanda pun berlalu menuju lemari dan membawa baju ke dalam kamar mandi.


Reyna terdiam, Nanda benar-benar tak lagi sama, mungkin saja Nanda sudah membencinya, sesaat kemudian Nanda pun pergi seakan pulang hanya untuk mengganti pakaiannya saja.


Reyna melihat langkah kaki Nanda berjalan menuju pintu, setelah pintu tertutup Reyna pun duduk di lantai memeluk lututnya sambil menangis tersedu-sedu merasa bersalah, air matanya terus mengalir dengan derasnya.


Tidak berselang lama, terdengar suara ponsel ternyata itu ponsel Nanda yang mungkin tertinggal di dalam kamar mandi saat berganti pakaian, Reyna tak mendengar sama sekali terlalu larut dalam tangisannya tidak menyadari ternyata Nanda kembali masuk untuk mengambil ponsel yang tertinggal, hingga Nanda melihat Reyna yang tengah menangis tersedu-sedu.


"Kenapa?" Nanda pun berjongkok di hadapan Reyna.


Reyna menatap Nanda yang kini ternyata ada di hadapannya, sejenak terdiam sambil mengusap wajahnya berkali-kali.


"Kamu mau pulang ke rumah orang tuamu?" tanya Nanda.


"Ayo aku yang akan mengantarkan," tawar Nanda lagi.


Reyna pun menggeleng dengan cepat, memeluk Nanda menangis sekencang-kencangnya berharap Nanda mau memaafkannya, Nanda hanya diam tanpa membalas sama sekali, tak ingin memperkeruh keadaan yang mungkin saja Reyna tengah tak sadar tengah memeluk siapa.


"Nanda maafin aku," lirih Reyna sambil terus memeluk Nanda.


Nanda pun menyadari bahwa Reyna benar-benar tak salah memeluk, sesaat kemudian Nanda mencoba untuk melepaskan dari, tapi tidak bisa Reyna semakin memeluknya dengan erat.


"Aku minta maaf, kamu mau kan maafin aku, aku janji bakalan jadi istri kamu seperti yang kamu mau," ujar Reyna dengan suara yang sesenggukan.


"Aku nggak maksa kamu, aku cuma mau kamu hidup sesuai dengan keinginan kamu, kamu mau bebas aku nggak masalah!" jawab Nanda.


"Aku mohon tolong maafin aku," ucap Reyna.


"Kamu nggak salah! aku yang minta maaf udah lancang," ucap Nanda.


"Nggak! aku mohon kasih aku kesempatan, tolong jangan cuekin aku!" ucap Reyna.


"Aku nggak cuek, aku cuma mau kasih kamu posisi yang nyaman sesuai dengan kemauan kamu," jelas Nanda.


"Aku nggak mau, aku maunya jadi istri kamu yang benar-benar istri, aku nggak mau di diemin, tolong maafkan aku," pinta Reyna terus menangis tanpa hentinya.


Nanda melepas pelukan Reyna, menuntun Reyna untuk duduk di sisi ranjang.


"Kamu mau ke mana?" Reyna memegang tangan Nanda, berharap Nanda tak pergi begitu saja.


"Aku nggak kemana-mana!" jawab Nanda.


"Nanti kamu pergi lagi, kamu cuekin aku," ucap Reyna.


Nanda pun duduk saling bersebelahan dengan Reyna, tak tahu harus berbuat apa, tak mengerti pula harus bagaimana memposisikan diri.


Menurutnya Reyna memang tak pernah bisa menerimanya, jika pun bisa pasti karena rasa bersalah saja.


"Nanda sentuh aku," pinta Reyna yang memegang tangan Nanda.


Nanda ternganga mendengar keinginan Reyna, apakah itu mungkin?

__ADS_1


Mustahil sekali!


"Nanda aku mohon," ucap Reyna.


"Tidur yah malam sudah larut, kamu butuh istirahat," Nanda pun meminta Reyna berbaring dan dirinya menarik selimut.


"Nanda," Reyna bangun dan menarik tangan Nanda, takut kembali diacuhkan seperti hari ini.


Pipinya basah karena air mata yang terus mengalir tidak henti-hentinya, suara sesenggukan masih terdengar keluar dari mulutnya, berharap Nanda tidak lagi mengasingkan dirinya.


"Aku akan tidur di luar," ucap Nanda.


"Nggak! kamu suami aku, kita tidur di sini di ranjang ini," pinta Reyna lagi.


Sejenak Nanda terdiam, tak mengerti mengapa Reyna mendadak berubah.


"Nanda aku mohon!" diamnya Nanda benar-benar membuat Reyna takut.


"Nanda sentuh aku, aku mohon!" ucap Reyna.


Bukankah Nayla yang mengatakan bahwa tak berdosa memohon pada suami, bahkan tentunya dapat memperbaiki rumah tangga, Reyna pun akan mencobanya.


"Aku udah maafin kamu, nggak usah merasa bersalah sampai seperti ini, sekarang kamu tidur," Nanda kembali membaringkan tubuh Reyna di atas ranjang dan menyelimuti lagi seperti awal.


Reyna lagi lagi bangun dan melempar selimutnya, dengan cepat menarik tubuh Nanda untuk menindihnya.


"Aku mohon Nanda," ucap Reyna.


Nanda yang berada di atas tubuh Reyna sejenak terdiam, kemudian mencium bibir Reyna dengan perlahan.


Sesaat kemudian Nanda bangun.


"Kenapa?" tanya Reyna dengan rasa kecewa.


Bukankah Nanda selama ini sangat menginginkannya?


"Aku sudah memaafkan kamu dan kalau kamu mau jadi istri benar-benar istriku, aku akan memberimu kesempatan, untuk sekarang ini kamu tidur dulu, aku sangat lelah sekali," Nanda tidak ingin Reyna melakukanya hanya karena rasa bersalah, mungkin saja nanti setelah itu akan ada penyesalan.


"Kamu serius mau maafin aku?" tanya Reyna penuh harap.


"Iya, kamu tidur yah" ucap Nanda.


"Jangan cuekin aku lagi yah?" ucap Reyna.


"Iya," Nanda pun mengangguk.


"Cium kening aku, janji!" ucap Reyna.


Nanda mencium kening Reyna dan berjanji tidak akan cuek lagi.


Betapa Reyna sangat merasa bersalah, hati Nanda begitu baiknya, bukankah seharusnya bersyukur bisa menjadi istri Nanda? lelaki mana yang memiliki hati lembut, kesabaran yang tinggi, bahkan tak bermain kasar sedikitpun saat dirinya yang berbuat kasar, ini adalah pelajaran paling berharga bagi Reyna, dirinya akan bersungguh-sungguh untuk membuktikan pada Nanda bahwa dirinya sangat menyesali kejadian itu.


"Kamu tidur di sini, kan? aku mohon!" ucap Reyna.


"Aku harus pergi, ada pekerjaan," Nanda pun mengusap kepala Reyna.


Dengan berat hati Reyna melepaskan tangan Nanda, sebelum pergi Nanda mematikan lampu agar Reyna dapat tidur dengan nyaman, pintu pun tertutup rapat, Reyna kembali menangis tersedu-sedu di bawah selimut, dirinya tahu Nanda masih berusaha untuk menghindari dirinya.

__ADS_1


Sedih sekali rasanya!


__ADS_2