Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Sulit bagi Devan beralih walaupun sedetik...


__ADS_3

"Kamu sudah sarapan tadi pagi?" tanya Devan sambil melihat Nayla.


Nayla menggelengkan kepalanya.


"Belum," jawab Nayla.


"Kalau begitu biar mas yang pesankan makanan untuk kita yah," ucap Devan sambil tersenyum lembut pada Nayla.


Nayla lagi-lagi mengangguk,, Nayla memilih untuk menurut saja apa kata Devan. Devan pun segera pesan makanan.


Setelah makanan datang,, Devan dengan segera menyajikannya.


"Sini biar mas yang menyuapi mu," ucap Devan begitu sudah selesai menyajikan makanan.


"Mas,, memangnya kamu tidak pergi bekerja?" tanya Nayla karena tau sekarang adalah jam kerja Devan.


Devan menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak pergi kerja,, aku sudah meminta dokter lain untuk menggantikan aku hari ini,," ucap Devan.


"Ayo buka mulutnya," ucap Devan lagi.


Nayla perlahan menolak lalu segera mengambil piring dan sendok dari tangan Devan.


"Biar aku makan sendiri saja mas," ucap Nayla yang merasa sangat malu apabila sekarang Devan menyuapi dirinya.


Devan pun mengangguk.


"Iya,," ucap Devan.


Devan lalu mengusap perut Nayla dengan sangat lembut.


Setelah selesai makan,, Nayla dengan segera membersihkan piring kotor,, sementara Devan duduk di sofa sambil memainkan ponselnya dengan serius,, entah apa yang sedang di urus oleh pria tampan itu.


"Sudah selesai?" tanya Devan begitu melihat Nayla telah kembali dari dapur kemudian Devan memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Iya sudah," jawab Nayla sambil menganggukkan kepalanya.


"Ayo kita pergi jalan-jalan," ajak Devan sambil berjalan menuju pintu utama.


Nayla masih berdiri mematung begitu mendengar ajakan Devan,, karena wajah Jessica lagi-lagi terbayang dan itu menjadi beban tersendiri untuk Nayla.


Tidak Nayla ini bukan pilihan,, batin Nayla mencoba menguatkan hatinya. Nayla mencoba meyakinkan perasaannya sendiri bahwa ini demi anaknya membenarkan apa yang diucapkan Devan belum lama tadi.


"Nayla," panggil Devan lagi karena melihat Nayla masih diam berada di dalam pikirannya sendiri.


Mendengar suara Devan,, Nayla segera bergegas menuju ke Devan.

__ADS_1


"Iya mas," ucap Nayla sambil berjalan.


"Ayo apa lagi yang kamu pikirkan?" tanya Devan.


"Tidak ada mas," jawab Nayla.


"Ya udah ayo," ucap Devan.


"Iya mas," ucap Nayla.


Nayla masuk ke dalam mobil Devan,, duduk di samping Devan sambil menatap ke depan sekali-kali menatap ke luar jendela,, Nayla tidak berani bertanya pada Devan kemana dirinya akan dibawa.


Setelah perjalanan berjam-jam akhirnya Devan sampai ke tempat tujuan. Devan segera menepikan mobilnya lalu menatap Nayla yang sedang tertidur pulas. Wajah Nayla terlihat teduh.


"Cantik,," ucap Devan lalu tak lama Devan menyadari apa yang telah diucapkannya.


"Mas," tidur Nayla terusik begitu merasakan perutnya ada yang mengelus,, tangan Devan berada di perut Nayla sedang mengelusnya dengan lembut.


"Mas kita lagi dimana?" tanya Nayla sambil melihat disekelilingnya,, terdapat pemandangan yang begitu indah dan juga asri.


"Mas kita di kebun teh?" ucap Nayla lagi seakan tidak percaya,, bibir Nayla terus tersenyum bahagia,, menatap pemandangan indah tersebut.


"Iya," jawab Devan sambil menganggukkan kepalanya.


Nayla dengan segera turun dari mobil,, lalu menghirup udara segar sambil tersenyum bahagia,, jika Nayla fokus pada pemandangan indah disekelilingnya berbeda dengan Devan,, Devan malah fokus menatap Nayla,, mata Devan tak pernah lepas dari Nayla,, menatap dan memuji kecantikan wanita yang berada didekatnya saat ini.


Senyumnya,, tawanya membuat Devan terpana. Apa yang dipikirkan Devan saat ini?


"Kamu suka disini?" ucap Devan sambil melingkarkan tangannya pada perut Nayla lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nayla.


Mendadak Nayla langsung menurunkan tangannya yang sedang terangkat menikmati udara segar,, Nayla kaget dengan yang dilakukan Devan,, seakan-akan Devan sedang memanjakan dirinya saat ini.


"Mas kita foto yah," ucap Nayla.


Melepaskan diri dari Devan adalah pilihan terbaik,, tidak baik berlama-lama bermesraan dengan suami sementara itu,, Nayla harus menjaga hatinya. Ada perjanjian yang harus diingat Nayla,, Nayla tidak ingin merasa nyaman dan terjebak dengan perasaannya sendiri,, karena pernikahan ini tidak selamanya. Nayla harus mempersiapkan diri bila perpisahan telah tiba waktunya nanti. Tidak boleh sampai terjebak dalam perasaan.


"Mas,, ayo foto," ucap Nayla lagi lalu memberikan ponselnya pada Devan dan mulai berpose sesukanya.


Devan terus menatap wanita yang tengah mengandung benihnya itu,, rasa kagum Devan pada Nayla masih saja terasa,, Devan benar-benar terkejut dengan kecantikan Nayla. Nayla benar-benar cantik.


"Mas," ucap Nayla lagi karena melihat Devan seperti tidak fokus saat ini.


"Ayo senyum," ucap Devan yang mulai mengambil gambar dengan benar mengesampingkan sejenak perasaan kagumnya terhadap Nayla.


Kebun teh yang luas dan pemandangan yang indah tentu membuat Nayla merasa nyaman,, Nayla sangat bahagia dan melupakan segala beban yang dirasanya.


"Ayo kita foto berdua," ajak Devan lalu segera mengatur kamera menjadi kamera depan,, satu tangan Devan memegang ponsel dan satunya lagi merangkul pundak Nayla.

__ADS_1


"Bagus,, ayo lagi," ucap Devan yang lagi-lagi mengarahkan kameranya pada mereka berdua,, mengabadikan momen-momen kebersamaan mereka saat ini.


Setelah selesai,, Nayla langsung mengambil ponselnya karena ingin melihat hasil jepretan Devan satu-persatu.


"Ya ampun mas,, kok gini sih," ucap Nayla sambil tertawa begitu melihat salah satu foto dimana Devan sedang menarik hidung Nayla.


"Kamu lucu sekali yah," ucap Devan yang ikut tertawa melihat foto mereka berdua.


"Mas tuh ngapain sih ambil gambar gini amat," ucap Nayla lalu ingin segera menghapusnya namun Devan dengan segera melarangnya.


"Jangan dihapus," ucap Devan.


"Loh kenapa mas?" tanya Nayla.


"Mas suka,, kamu gemas banget," jawab Devan.


"Jelek mas," ucap Nayla.


"Bagus," ucap Devan lagi.


Nayla pun tidak jadi menghapusnya karena Devan tidak mengizinkan dirinya untuk menghapus foto itu.


"Mas," teriak Nayla dari jarak yang cukup jauh dari Devan.


Devan langsung tersadar setelah mendengar teriakan Nayla,, entah mengapa tidak ada kata puas memuji kecantikan Nayla. Devan segera memasukkan ponsel Nayla ke dalam saku celananya lalu segera menyusul Nayla.


"Kamu suka pemandangannya?" tanya Devan begitu berada di dekat Nayla.


"Iya mas disini juga segar sekali udaranya," jawab Nayla sambil terus tersenyum bahagia,, hingga melupakan lengannya yang belum sembuh total.


"Hati-hati lenganmu belum sembuh total,," ucap Devan.


"Oh iya baru ingat," ucap Nayla sambil menepuk dahinya sendiri menggunakan tangan yang sedang diperban.


"Aduh," ringis Nayla.


"Dasar ceroboh!!" ucap Devan sambil menatap Nayla.


Nayla pun langsung tertawa kecil begitu mendengar ucapan Devan. Lalu kembali menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.


Devan lagi-lagi curi pandang menatap Nayla dengan memuja,, tidak ada kata puas sampai saat ini memuji kecantikan Nayla.


"Mas mana ponselku,, ayo ambil gambar lagi," ucap Nayla yang terlihat sangat bahagia dan bersemangat.


Devan tersenyum begitu melihat Nayla hari ini sangat ceria,, Devan baru tau bahwa wanita yang selalu bersedih itu bisa tersenyum begitu bahagia dan begitu lepas.


Bibir Nayla dengan sejuta keindahan,, sulit bagi Devan beralih walaupun sedetik.

__ADS_1


__ADS_2