Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Bayi kecil vs bayi besar!!!


__ADS_3

Suara ketukan pintu membuat Devan terusik, padahal baru saja dirinya tertidur, matanya seketika menatap jam dinding.


"09:05," Devan kembali mendengar suara ketukan pintu hingga beberapa kali.


Turun dari ranjang berjalan ke arah pintu setelah memakai celana santai dan juga kaos. Pintu pun dibuka,, terlihat Ana menggendong Felix yang sedang menangis kencang memanggil sang bunda.


"Nayla mana? Felix nangis terus," Ana kesulitan untuk menenangkan Felix, semenjak kemarin terus saja rewel ingin bersama dengan Nayla.


"Masih tidur Ma," Devan menunjuk ke arah dalam, bahkan suara Felix yang kencang tidak mampu membangunkan Nayla.


"Sini sama ayah," Devan mencoba untuk mengambil alih Felix, sayangnya bocah itu menolak.


Sambil menangis kencang Felix hanya memanggil bundanya saja.


Ana langsung saja masuk, memberikan Felix pada Nayla, tangisan Felix sudah cukup lama, hingga membuatnya panik.


"Nayla, Felix rewel," Ana meletakkan Felix di atas ranjang.


Pelupuk mata Nayla bergerak, mendengar suara tangisan Felix membuat tidurnya terusik, seketika matanya terbuka.


"Sayang kamu haus?" cepat-cepat tangan Nayla menarik Felix berbaring di sampingnya dan memberikan ASI.


Tidak sulit untuk memberikan ASI, sebab dirinya masih tanpa sehelai benang pun dibawah selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Felix masih terus menangis, menolak diberi ASI mungkin sudah kesal karena terlalu lama dibawa ketemu dengan sang bunda.


"Felix sayang, kamu marah banget yah," Nayla segera duduk ingin menggendong anaknya, tapi tersadar tubuhnya masih polos.


Setelah itu melihat Ana, dalam hati bertanya-tanya penyebab Ana ada di kamarnya, Nayla pun menatap lantai dengan pakaian yang berserakan. Ana pun baru menyadari bahwa dirinya memasuki kamar pengantin baru. Nayla menunduk malu kemudian kembali mencoba memberi ASI pada Felix, beruntung Felix tidak lagi menolak dan meminumnya dengan lahap.


"Mama keluar dulu yah, jangan lupa sarapan," perlahan Ana keluar sampai di depan pintu Ana tersenyum mengingat wajah Nayla yang memerah dengan pakaian yang berserakan.


Ana pun tak lupa geleng-geleng kepala melihat tengkuk Nayla persis seperti harimau,, tidak sia-sia acara pingitan saat itu, karena sepertinya tadi malam cukup panas setelah melepaskan kerinduan.


Nayla pun beralih menatap Devan,, dirinya kesal mengapa suaminya tersebut tidak membereskan semua pakaian yang berceceran di lantai sebelum membuka pintu kamar.


"Mas, ini kok nggak dibereskan dulu? malu banget tahu Mas, Mama lihat. Apa yang dia pikirkan?" ucap Nayla.


"Kenapa? dia paling cuma mikir kita bikin cucu lagi buat dia," ucap Devan dengan santai.


Nayla baru teringat akan hal tersebut,, usia Felix belum cukup dua tahun sedangkan dirinya tidak meminum pil KB.


"Mas, aku nggak minum pil KB," Nayla benar-benar panik, seketika mencari ponselnya mungkin bisa memesan pil KB secara online.


Felix merasa terusik, seketika kembali menangis kencang, membuat Nayla terpaksa kembali pada posisinya, urung mencari keberadaan ponselnya yang entah di mana keberadaannya,, berbaring diranjang sambil mengusap kepala Felix,, tampaknya ASI berkurang karena Devan,, ASI yang melimpah ruah kini hanya tinggal sisa untuk Felix.


"Sayang, kamu kasih ASI buat Felix dulu, minum pil nanti juga bisa, kamu belum masa subur kan?" ucap Devan.

__ADS_1


Nayla menggeleng sambil menatap Devan.


"Ya udah, nggak usah takut, nggak apa-apa!" Devan segera naik ke atas ranjang dan menciumi pipi anaknya dengan lembut.


"Mas jangan diganggu dulu, dia haus banget," ucap Devan.


"Mas juga haus, Mas yang di sebelahnya yah," ucap Devan dengan tangan yang menunjuk bagian kenyal sebelah milik Nayla yang menganggur, melihat mulut Felix yang lahap membuatnya juga ingin.


"Nggak!" tolak Nayla cepat, suaminya ini ada-ada saja, lagi pula apakah mungkin jika Devan dan Felix minum ASI bersamaan.


"Sayang ayolah!!!" Devan menunjukkan wajah memohon berharap Nayla mengasihani dirinya yang juga menginginkannya.


"Gara-gara Mas,, ASI nya habis,, Felix kekurangan ASI, aku juga kelaparan," ucap Nayla.


Segera Devan meminta di antarkan makanan ke kamar, agar Nayla bisa makan dengan segera. Setelah makanan sampai, Devan meminta Nayla duduk sambil memangku Felix, biar dirinya yang menyuapi Nayla.


"Mas, aku mau pakai baju dulu," ucap Nayla.


"Nggak usah,, kasihan Felix," ucap Devan.


Nayla menatap Felix yang kini di pangkuannya sambil meminum ASI, hingga dirinya menurut saja pada Devan, suapan demi suapan diterima Nayla, makan dengan lahapnya, Devan pun ikut makan bersama. Perut Nayla sangat lapar, bahkan semalam juga digempur Devan hingga hampir subuh.


Akhirnya sampai pada suapan terakhir, Nayla pun merasa kenyang, bayangkan saja dirinya sendiri dan Felix terus menyedot ASI, begitupun dengan bayi besarnya Devan pun tidak kalah kehausan, hingga menyedot ASI seperti bayi baru lahir. Bagaimana mungkin Nayla tidak merasa kelaparan serta kehausan?


Ponsel Devan berdering tapi memilih tidak peduli, dirinya memilih ikut naik ke atas ranjang kemudian duduk memeluk Nayla dari belakang, bersandar sambil menatap wajah Felix, rasa bahagia tidak bisa diucapkan dengan kata-kata mungkin juga seperti mimpi yang sangat nyata.


"Iya matanya juga bengkak banget, mungkin sudah nangis lama," ucap Nayla sambil melihat Felix.


"Sepertinya Mama udah lama gedor-gedor pintu kamar kita, cuma Mas baru buka aja," ucap Devan lagi.


"Apa iya?" ucap Nayla,, Nayla merasa menjadi Ibu yang bodoh, bagaimana bisa dirinya tidur nyenyak saat anaknya sedang menangis kehausan.


"Ini gara-gara Mas," ucap Nayla.


"Kok mas?" tanya Devan.


"Iya memang," hujan Nayla.


"Kamu juga semalam mau," goda Devan sambil mencolek dagu Nayla.


"Mas apa sih!" Nayla pun merasa malu mengingat hal tersebut.


"Suttt," Devan meletakkan jari telunjuknya di bibir Nayla.


"Jangan berisik, Felix tidur biar kita bisa bikin adik buat Felix," bisik Devan.


Tangan Nayla mengarah pada paha Devan, mencubitnya dengan cukup kuat.

__ADS_1


"Sayang sakit," ucap Devan.


"Biarin dasar Dokter mesum," ucap Nayla.


"Enak tahu sayang," Devan tidak peduli dengan apapun yang dikatakan oleh Nayla,, dia memilih mencium dan menggigit kecil tengkuk Nayla.


"Mas," Nayla tidak bisa bergerak bebas, Felix masih berada di pangkuannya dengan mata tertutup tapi mulutnya masih meminum ASI, artinya akan tertidur.


Tampaknya Devan sangat bahagia menyiksa Nayla dengan caranya tersebut, membuat tubuh wanitanya menegang tanpa bisa menolak.


Sayangnya bukan hanya Nayla yang tersiksa sendirian, Devan pun ikut tersiksa seiring dengan adiknya yang kembali mengeras.


"Mas," Nayla merasa meremang, hingga tidak kuat lagi.


Entah apa yang terjadi pada belaian Devan membuatnya ikut terbuai, akan tetapi masih berusaha tenang di atas siksaan Devan.


"Sayang Mas nggak tahan," bisik Devan.


"Mas Felix tidur," ucap Nayla.


"Simpan di atas ranjang saja, kita cari kamar lain," usulan Devan sangat brilian, menurutnya saja pastinya.


Menurut Nayla tidak demikian, mana mungkin meninggalkan Felix sendiri di sana.


"Mas nggak usah aneh-aneh deh," ucap Nayla.


"Sayang ada Reyna kan?" usul kali ini pasti diterima oleh Nayla, pikir Devan.


"Mas jangan sekarang dong, semalam juga Felix nggak bisa tidur sama aku, dia belum bisa tidur tanpa aku," ucap Nayla.


"Ckk" apa yang harus dilakukannya,, tampaknya saat ini musuh terbesarnya adalah Felix sendiri. t


"Tapi kamu itu istriku, kenapa dia yang berkuasa," ucap Devan.


"Terus Felix juga ngomong, Devan itu Ayahku kenapa bunda yang dipeluk terus," celetuk Nayla.


"Ahahahaha...."


Mendengar tawa kedua orang tuanya, Felix kembali menangis kencang, tiba-tiba Nayla mengayunkan tangannya bersyukur Felix tertidur kembali.


Devan tersenyum begitupun dengan Nayla, keduanya merasa lucu dengan kebodohan mereka barusan.


"Jangan dekat-dekat," ucap Nayla.


"Sstttt jangan berisik," bisik Devan.


"Mas," ucap Nayla.

__ADS_1


"Ckk." keduanya tersenyum melihat Felix kembali terlelap,, Devan pun meminta Felix di baringkan dan dia segera memeluk anaknya itu, memberikan kasih sayang yang selama ini tidak dirasa bocah tersebut.


__ADS_2