Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Kita pergi tempatmu bukan disini!!!


__ADS_3

Mendengar kabar yang sangat membahagiakan akan kehamilan putrinya, tentu sangatlah membahagiakan apalagi ini adalah kebahagiaan yang ditunggu selama ini, Inggit segera meninggalkan butiknya untuk memeluk putrinya dan mengucapkan selamat.


"Akhirnya Jeng Inggit datang," Puput menyambut dengan antusias, calon nenek itu tampak sangat bahagia menantikan cucu pertamanya.


"Akhirnya akan jadi nenek," keduanya berpelukan penuh bahagia, kedepannya akan menantikan kehadiran anggota keluarga baru.


"Tentu selamat buat Jeng Inggit juga," ucap Puput tidak ingin lupa membagi bahagianya.


"Sekarang Jessica di mana?" tanya Inggit.


"Di kamar! kita langsung ke kamar saja," ucap Puput.


Sampai di depan pintu kamar pun, Puput yang sudah tidak sabar langsung memutar gagang pintu, mendorongnya dengan perlahan dan pintu pun terbuka lebar.


"Jangan pernah berpikir aku akan menerimamu! kamu itu hanya wanita murahan yang tidak laku di luar sana," ucap Alex.


Rasa bahagia Inggit hancur berkeping-keping mendengar hinaan yang keluar dari bibir Alex pada putrinya, belum lagi tangan kasar saat memegang putrinya membuat rasa sakit kini kian semakin dalam, kenangan beberapa tahun silam mulai berputar di kepala Inggit, saat itu dirinya melahirkan Jessica penuh keringat dan air mata.


Sakitnya, tidak boleh dikatakan, perihnya jangan ditanyakan, bahkan luka bekas jahitan pada dirinya masih terlihat hingga masa tuanya.


Bukan hanya penuh keringat dan air mata, tapi juga darah yang menggenang mempertaruhkan nyawa demi anaknya, dan saat ini di depan mata kepalanya sendiri melihat putrinya diperlakukan dengan kasar tanpa rasa kemanusiaan,


Ini yang disebut rumah tangga?


Rumah tangga yang seperti apa ini?


Itukah perlakuan suami terhadap istri? bahkan di saat istrinya tengah mengandung anaknya sendiri.


Air mata Inggit tidak lagi dapat terbendung, mengalir dengan derasnya tanpa bisa lagi dihentikan.


Inggit pun masuk seketika tanpa permisi, semakin mendekati putrinya dan membantu untuk bangun.


Sejak kapan Inggit ada di sana?

__ADS_1


Jessica dan Alex baru menyadarinya, seketika Alex melihat Puput pun ternyata berdiri diambang pintu artinya semua dilihat oleh mata kepala Inggit dan Puput.


"Jessica bangun Nak," setelah membantu Jessica bangun, Inggit pun berlari ke arah lemari mengambil sebuah pakaian dengan asal, meminta Jessica untuk memakainya, Jessica pun hanya menurut saja, melihat air mata Inggit terus saja bercucuran membuatnya yakin jika Inggit sudah melihat segalanya, hanya mampu menurut saja tanpa bisa membantah.


Bahkan Inggit ikut membantunya memakai pakaian tersebut, tidak lupa Inggit menyambar ponsel milik Jessica yang tergeletak asal di atas ranjang, berikut dengan tas tangan yang berada di atas meja rias.


"Bermandikan darah, keringat dan air mata aku melahirkannya tapi kamu memperlakukannya layaknya binatang! ceraikan anakku! semoga kau akan mendapatkan balasan atas apa yang sudah kau lakukan," tegas Inggit.


Inggit menarik Jessica untuk ikut dengannya, hati ibu mana yang tak hancur melihat anaknya disiksa di depan matanya sendiri, jika selama ini Jessica terus menerima kekasaran maka cukup sudah, Inggit akan melindungi anaknya.


Alex terdiam dan mematung, semoga saja ini dapat membuatnya bahagia.


"Jeng, tolong jangan bawa Jessica pergi," Puput memohon berharap hati Inggit sedikit membaik, sekalipun terasa mustahil tapi tidak ada salahnya untuk mencoba sebab dirinya sangat menyayangi Jessica, ditambah lagi ada cucunya yang kini di kandungan menantunya tersebut.


"Aku tidak bisa! anakku terlalu berharga! aku Ibunya dan menikahkan anakku untuk bahagia, bukan untuk menderita apalagi disakiti!" ucap Inggit.


"Aku mohon Jessica jangan pergi," air mata Puput tak kalah perih, baru saja merasakan bahagia begitu besar, kini berakhir begitu saja.


"Kita pergi tempatmu bukan di sini!" Inggit menarik paksa Jessica.


Memegang tangannya berharap Jessica menolak untuk pergi, sayangnya Jessica pun tak bisa lagi bertahan untuk tetap berada di dalam kehidupan Puput, meskipun Puput sangat menyayanginya, pertanyaan Alex akan keraguan pada anak yang dikandungnya membuat Jessica sadar, dirinya tidak akan pernah bisa diterima di hati Alex, jika pun memaksa hanya membuatnya stress bahkan bisa saja kehilangan janinnya untuk yang ketiga kalinya, Jessica tak tahu apakah jika kehilangan anak itu bisa mengandung lagi, sehingga saat ini memilih pergi agar bisa hidup lebih bahagia tanpa Alex.


Tidak ada cinta untuk Alex dari awal sampai kini, walaupun sudah pernah mencoba untuk mencintai tetapi Alex menyia-nyiakan usahanya, hingga belum juga apa-apa sudah hancur bagaikan debu yang tertiup angin.


Jessica masuk ke dalam mobil dan pintu pun ditutup oleh Inggit, mobil berlalu pergi meninggalkan Puput yang menangis tersedu-sedu di depan teras.


"Jessica, tolong jangan pergi," teriak Puput.


Hilang sudah bayangan untuk bahagia, mengasuh cucu yang masih di kandungan Jessica, merayakan kehamilan Jessica dengan berpesta bahagia.


Bahkan Puput pun ingin mengejar resepsi pernikahan untuk Alex dan Jessica dengan segera.


Impian Puput selama ini menimang cucu pertamanya tersebut harus dikubur dalam-dalam, dengan rasa sakit Puput pun berjalan masuk duduk di sofa sambil terus berlinang air mata.

__ADS_1


Entah sejak kapan Alex berada di sana, tanpa bicara Puput mengambil vas bunga dan melemparnya tepat mengenai dahi Alex, darah pun mengalir dengan derasnya, tapi tetap membuat Puput tidak merasa iba, malahan dirinya berjalan mendekati anaknya dan melayangkan tamparan dengan kencangnya.


"Ada apa ini?" Pian baru saja menginjakkan kaki di ambang pintu, dirinya segera diminta Puput pulang dengan segera dari luar kota demi merayakan kehamilan Jessica.


Tentu saja dengan senang hati Pian pulang, apalagi menyambut calon cucu pertamanya tersebut, tapi sampai di rumah bukan bahagia yang menyambut seperti apa yang dipikirkan sejak dalam perjalanan pulang, malah pertengkaran antara ibu dan anaknya sendiri.


"Anakmu ini memukuli istrinya lagi, dia meragukan anaknya sendiri! dia menghina istrinya dengan lantangnya dan itu terjadi tepat di depan mata kepala Inggit, anak kurang ajar ini tidak punya rasa kemanusiaan sedikit pun, percuma kamu baik pada orang di luar sana jika pada istri dan anak mu kamu kasar, kurang ajar!" Puput berteriak seiring dengan air mata yang masih saja terus mengalir, tangannya memukuli dada Alex dengan bertubi-tubi.


Andai itu semua bisa mengembalikan keadaan mungkin Puput akan menghajar anaknya sampai babak belur.


Sayangnya tidak! sekalipun menghabisi tidak akan bisa merubah apapun.


"Kenapa kamu masih belum jera? sebenarnya apa yang kamu inginkan?" tanya Pian yang tidak kalah kesal.


Alex hanya diam tidak mampu berkata-kata, sesekali tangannya mengusap dahinya yang masih mengeluarkan darah.


"Katakan apa kamu bahagia? jika bahagia maka ku doakan semoga kamu selalu begini agar bahagia selamanya," ucap Pian.


"Biarkan saja dia pergi, terserah padanya! mau pergi ke mana saja lagi pula kenapa Papa dan Mama sangat membelanya, jika wanita itu baik dia tidak akan pernah pergi tanpa ada persetujuan dari suaminya," jawab Alex tidak mau kalah.


Merasa dirinya benar, sampai saat ini juga, lagi pula sebentar lagi pasti Jessica akan kembali dengan sendirinya, pikir Alex.


"Itu berlaku untuk suami yang bertanggung jawab, jika suaminya gila sepertimu semua wanita juga tidak butuh izin dari suaminya untuk pergi," geram Puput.


"Ingat Alex, jangan pernah menyesal atas apa yang sudah kamu lakukan, kesalahanmu sudah sangat fatal, cepat atau lambat kau akan menyesal," Pian ikut menimpali.


"Ckk lebay sekali, wanita di dunia ini banyak! tidak hanya Jessica," Alex pun memilih pergi, mungkin sejenak pergi bisa membuat kepalanya menjadi dingin.


"Mama tidak mengenalnya lagi, dia sekarang kasar," rintihan hati Puput begitu dalam, hanya bisa memeluk suaminya dengan rasa perihnya.


Pian pun mengusap pundak Puput, dirinya juga sedih melihat keadaan Jessica yang terus saja diperlakukan kasar oleh Alex.


"Biarkan Jessica pergi, dia juga berhak bahagia, jika pun memaksanya tetap bertahan kasihan dia terus menderita," ucap Pian.

__ADS_1


"Tapi cucu kita Pa," ucap Puput.


"Kita akan menjenguknya, kita tetap keluarganya karena tidak ada mantan cucu," ucap Pian.


__ADS_2