Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tidak melepaskan sama sekali.


__ADS_3

Rima mengerjapkan matanya, perlahan netranya mulai menatap sekitarnya.


Menyadari diri di atas ranjang dan di bawah selimut, Rima pun menarik napas lega.


"Untung cuma mimpi," Rima bergumam dan merasa bahagia.


Mimpi buruk yang baru saja di alami benar -benar seperti nyata, perlahan mendudukkan tubuhnya dengan rasa kepala yang sedikit pusing.


"Aku di mana ya? Ini bukan kamar aku?" Rima baru menyadari bahwa dirinya berada di tempat asing.


Namun, dimana?


Rima belum dapat menyimpulkannya.


"Kau sudah sadar?"


Suara berat itu membuat Rima tersentak, seketika menatap ke arah jendela mencari asal suara, Aditya berdiri di sana, kemeja putih yang di lipat bagian lengannya dan dua kancing kemeja yang terbuka seakan menatapnya tajam.


"Kenapa anda berada di sini, Dok?" Tanya Rima kesal.


Tentunya tidak baik seorang wanita dan pria dalam satu ruangan hanya berdua saja, itulah yang dipikirkan oleh Rima.


"Apa pernikahan tadi membuat mu amnesia?" Tanya Aditya.


"Apa?" Pekik Rima shock.


"Pernikahan?" Rima kembali mengulangi kalimatnya.


Aditya hanya diam menatap Rima dengan wajah dinginnya, dan Rima menganggap itu sebagai pembenaran atas pertanyaan nya.


"Jadi, itu bukan mimpi?"


"Bukan!"


Kepala Rima kembali terasa pusing, dalam sekejap kembali jatuh pingsan.


"Apa wanita ini benar-benar terpukul?" Tanya Aditya bingung melihat Rima sudah tidak sadarkan diri untuk kedua kalinya.


Nayla pun ingin melihat keadaan Rima, tetapi masih sama. Rima masih belum sadarkan diri.


"Dia sudah sadar, tapi pingsan lagi," jelas Aditya saat melihat wajah bingung Nayla.


Nayla merasa iba pada sahabatnya, tetapi apa lagi yang bisa dilakukannya setelah pernikahan itu.


Rima memang sudah menikah dengan Aditya, tanpa bisa di elak lagi.


"Mas, tekanan darah nya tinggi," kata Nayla pada Devan setelah memeriksa tekanan darah Rima.


Devan pun berjalan mendekati Nayla dan melihatnya sendiri.


"Dia sangat shock sepertinya," jawab Devan.

__ADS_1


"Buat dia sadar dan berikan obat," imbuh Devan lagi.


Nayla naik lebih jauh di atas ranjang, berusaha membuat Rima terbangun. Tidak sia-sia Rima pun membuka matanya.


"Syukur kamu sadar, minum obatnya dulu," Nayla membantu Rima untuk meminum obat, hingga akhirnya berhasil juga.


"Nayla, aku serius udah nikah?" Tanya Rima dengan berharap mendengar kata tidak.


"Kamu istirahat dulu, kalau butuh sesuatu bilang aku. Mulai sekarang kita tinggal satu rumah," jelas Nayla.


"Satu Rumah?"


"Iya, kamu istirahat ya. Jangan shock lagi, mana Rima yang kuat dan hebat," Nayla memberikan semangat pada Rima agar tidak lagi drop.


"Udah malam, kamu istirahat saja, aku juga mau ke kemar dulu. Adnan, sedang tidak enak badan."


"Nayla!" Rima menatap arah pintu yang mulai tertutup rapat, akhirnya Rima hanya mendesus kecewa karena, Nayla pergi.


Mata Rima beralih menatap Aditya yang duduk di sofa sambil menatap dirinya, kesal sekali menatap wajah itu.


"Apa lihat-lihat!" Kesal Rima.


Aditya ingin tertawa melihat keanehan Rima, berarti tidak salah pernikahan mereka terjadi pikir Aditya.


Aditya pun bangun dari duduknya, membuat Rima terus menatap tajam tanpa jeda.


"Makan," Aditya mengambil nasi dari atas nakas yang sudah tersedia sejak tadi.


Aditya menatap piring ditangannya, kemudian duduk di sisi ranjang.


Rima menjauh tidak ingin lebih dekat, tapi Aditya hanya diam saja.


"Mau makan atau tidak?"


"Nggak!"


Aditya pun mengangguk mengerti.


Kruk! Terdengar suara perut Rima yang tampaknya sudah keroncongan, Aditya menggaruk tengkuknya dan tetap tenang.


Sedangkan Rima meremas perutnya, sambil berdoa semoga Aditya tidak mendengar.


"Baiklah, kebetulan aku lapar dan ini makanan juga sangat lezat," Aditya memilih memakannya di hadapan Rima, dengan begitu lahap.


Perut Rima terus berbunyi hingga akhirnya sudah tidak tertahankan lagi.


"Sini!" Rima mengambil paksa piring berisi makanan dari tangan Aditya.


"Ngajak itu yang ikhlas gitu Dok, jangan setengah-setengah!" Omel Rima kemudian mulai menyuapi makanan pada mulutnya.


Aditya pun mengangkat sebelah alis matanya, melihat Rima yang memang sangat aneh.

__ADS_1


"Apa kau tidak tahu tata cara makan yang baik dan benar?" tanya Aditya.


Rima tidak perduli, memilih tidak menganggap Aditya ada.


Lebih baik makan sebanyak-banyaknya dari pada memperdulikan Aditya. Sampai akhirnya Rima merasa kenyang, meneguk air dengan cepat.


"Eeeeeee!" Rima bersendawa dengan sengaja, karena terlalu kesal pada Aditya.


"Dasar tidak sopan!" Aditya mengetuk kepala Rima dengan kesal, tahu Rima dengan sengaja melakukan itu.


"CK!" Rima berdecak kesal.


"Dok, saya sudah menolong anda hari ini, jadi peraturan ada pada saya!" Tegas Rima dengan yakin.


Aditya hanya diam sambil menatap Rima dengan wajah datarnya.


"Ingat! Ini hanya pernikahan sementara, satu bulan kedepan kita bercerai! Saya tidak akan mencampuri urusan anda dan anda tidak boleh mencampuri urusan saya, paham!" Tanya Rima tegas.


"Dan jaga jarak dengan saya, tidak tidur satu ranjang, tidak ada kontak fisik, pokonya tidak ada..." Rima mendadak diam saat Aditya mendekatkan wajahnya.


Glek!


Rima menatap dengan wajah takut, mengapa bisa Aditya begitu mengeringkan.


"Di sini aku yang bisa membuat peraturan, semua terserah pada ku!" Papar Aditya.


"Enak aja! Udah di tolong nggak tahu diri!" Seru Rima penuh kekesalan.


"Jangan mengundang kemarahan ku Rima, semua peraturan hanya aku yang membuatnya. Tidak ada pernikahan kontrak, tidak ada cerai seperti yang kau katakan dan..." Aditya mendekatkan wajahnya hingga beberapa senti saja.


"Dok, anda mau apa?" Tanya Rima dengan tubuh yang bergetar.


"Terserah pada ku! Kau itukan istriku!"


Deg!


Jantung Rima benar-benar berdegup ketakutan karena Aditya, semakin menghilangkan jarak, hingga benar-benar keningnya mengenai bibir Aditya.


"Dok, jangan begini. Aku tidak siap," kata Rima dengan suara pelan dan suara bergetar ketakutan, kedua tangannya berada di dada melindungi dirinya.


"Aku hanya akan mengambil hak ku malam ini!"


"Hak?"


"Ya!"


Jantung benar-benar tidak lagi bisa tenang, seiringan Aditya yang mulai menindihnya.


"Dok, ampun. Tolong jangan!"


Aditya tidak perduli sama sekali, dirinya ******* bibir Rima dengan perlahan hingga akhirnya berubah menjadi gigitan- gigitan kecil, sekalipun Rima berusaha menjauh Aditya tidak melepaskan sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2