
Pintu ditutup rapat tanpa ada perasaan ingin membukanya kembali. Devan pun tidak ingin menyerah bahkan menunggu sampai pintu terbuka kembali sekalipun tidak ada niatan sama sekali dihati Nayla untuk membuka pintu kembali.
Tok Tok Tok Tok...
"Nayla tolong buka pintunya kembali," teriak Devan.
Devan terus mengetuk pintu hingga satu jam setengah telah berlalu Devan masih setia berdiri di depan pintu, berharap akan ada yang membukakan pintu,, sayangnya Nayla tidak mengizinkan siapapun untuk membuka pintu,, tidak ingin berdekatan dan bertemu dengan Devan yang hanya membuat dirinya stres saja. Sekalipun malam semakin larut Devan tidak perduli, bahkan Devan dengan perlahan duduk di anak tangga masih menunggu dibukakan pintu.
Sudah tujuh jam berada disana tapi tidak ada yang membukakan pintu untuk dirinya, bahkan sampai detik ini pun belum ada tanda-tanda pintu akan terbuka.
Sangat sulit meluluhkan hati Nayla,,, karena rasa sakit telah mengajarkan segalanya sehingga dirinya tidak mudah iba pada Devan yang masih berada di depan.
Nayla membuka pintu balkon berdiri disana sambil menatap arah luar, tapi tiba-tiba matanya masih melihat Devan berdiri di teras,, begitupun dengan Devan tidak sengaja menatap ke atas lalu melihat Nayla.
"Nayla to...," ucap Devan. Belum selesai Devan bicara,, Nayla sudah masuk kembali ke dalam dan tidak perduli sama sekali pada Devan.
Devan mengusap wajahnya frustasi, malam semakin larut,, udara bertambah dingin, Devan datang tanpa persiapan karena Devan pikir akan masuk bertemu dengan Nayla tapi nyatanya tidak sama sekali,, pintu tidak dibuka sama sekali,, Devan memutuskan untuk pulang dulu mungkin besok akan kembali lagi.
###########
"Dia sudah pulang Nay," ucap Reyna yang saat ini sedang mengintip dari cela gorden kamar, sambil melihat mobil Devan keluar dari gerbang rumah.
"Kamu yakin nggak mau balas dendam Nay?" tanya Reyna sambil menatap Nayla dengan penuh tanya dan berjalan mendekati Nayla yang sedang baring di ranjang.
"Aku tidak perduli Reyna, yang aku tau aku sangat malas bertemu dengan dia," ucap Nayla malas, bagi Nayla memikirkan Devan hanya akan membuat batinnya tersiksa saja.
"Kamu dengar yah Nay,, ini bisa jadi kesempatan besar untuk membuat dia jatuh cinta padamu lalu kamu tinggalkan dia tanpa perasaan,, biar dia juga sakit hati,, meskipun yah Nay aku sangat yakin sih Dokter Devan itu sudah lama jatuh cinta padamu hanya otaknya saja loading nggak nyadar sama sekali, kalau kamu balas dendam Nay aku yakin banget kamu pasti akan berhasil,, sekarang saja yah Nayla dia belum mengakui perasaannya tapi sudah bertindak seperti itu rela menunggu berjam-jam,,, apalagi kalau dia sudah menyadari perasaannya padamu beh tidak tau apalagi hal gila yang akan dia lakukan ketika kamu cuek seperti ini,,, ayo Nayla balas dendam sekaligus balas juga tuh sih Jessica ambil suaminya biar dia gila sekalian,,, setelah suaminya jatuh ke tangan mu,, bisa deh kamu lepaskan suaminya lagi,, biar mereka sakit hati berjamaah,, aku sih yakin banget kamu bisa mendapatkan Dokter Devan karena dia itu sudah jatuh cinta padamu sejak lama seandainya bisa ku getok kepalanya pasti sudah aku getok biar dia tuh sadar siapa wanita yang dia cintai,, paksa diri bersama Jessica padahal yang dia cintai istri keduanya yang masih muda dan sangat cantik,, gini-gini sahabatku kan jadi rebutan di kampus pernah,," ucap Reyna.
Nayla hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Reyna.
"Aku nggak tertarik sama sekali," ucap Nayla sambil menarik selimut, Nayla ingin melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu karena tadi dia terbangun untuk makan tengah malam.
Reyna menarik selimut Nayla, Reyna terus mengutarakan ide yang ada di kepalanya agar Nayla mau balas dendam, Devan sudah berlaku kejam pada Nayla,, Reyna ingin sekali Nayla membalas Devan.
__ADS_1
"Nay, ini kesempatan kamu buat dia menderita, kamu paham nggak sih Nay," ucap Reyna lagi.
"Aku ngantuk Rey,, ini udah tengah malam, aku nggak ada waktu untuk memikirkan orang yang sudah menyia-nyiakan kesempatan yang telah ada, sana! aku mau tidur tau ngantuk," ucap Nayla.
###########
Devan kembali ke rumah dengan tubuh yang sangat lusuh, pikirannya masih belum tenang karena belum bisa bertemu lama dengan istri keduanya bahkan bertambahnya stres akibat pengkhianatan Jessica dan Alex.
"Devan kamu darimana? jangan bilang kalau kamu habis menemui Nayla?" ucap Jessica dengan penuh kemarahan.
Baru saja Devan melangkahkan kakinya ke dalam kamar,, tapi Jessica sudah menyambut dirinya dengan pertanyaan mengesalkan dan membuatnya stres. Tadi dia tidak bertemu lama dengan istri keduanya itu, Jessica malah bertanya lagi.
"Devan kamu dengar aku? bilang benar atas apa yang aku tanyakan tadi?" bentak Jessica.
"IYA," jawab Devan dengan nada suara meninggi dan juga penuh kemarahan.
"Devan, kamu bentak aku hanya karena wanita itu? dia itu perebut suami orang Devan,," bentak Jessica juga dengan penuh kemarahan.
"Lalu kamu apa?" ucap Devan.
Devan hanya berdecak lalu keluar dari dalam kamar,, memilih pergi agar dirinya tidak benar-benar gila dengan permasalahan yang ada.
"Devan kamu mau kemana lagi? baru saja kamu pulang sekarang kamu sudah mau pergi lagi?" ucap Jessica sambil menarik tangan Devan.
"Aku pusing di rumah, pusing karena melihat wanita seperti kamu," ucap Devan sambil melepaskan cengkraman tangan Jessica pada tangannya.
"Kamu mau pergi kemana lagi? tadi juga kamu pergi entah kemana, sekarang baru pulang lalu kamu mau pergi lagi, jangan bilang kamu mau mohon-mohon pada wanita itu berharap dia mau memaafkan kamu?" tebak Jessica.
"Itu urusan aku," ucap Devan sambil melangkah pergi.
"Devan, ceraikan wanita itu!" ucap Jessica.
Langkah kaki Devan langsung terhenti,, tangannya urung memutar gagang pintu,, Devan beralih menatap Jessica.
__ADS_1
"Aku tidak mau punya madu,," ucap Jessica lagi.
"Jadilah istri Alex,, dia laki-laki yang tidak akan menduakan mu, memadu," ucap Devan.
Jessica benar-benar kaget dengan ucapan Devan,, jawaban itu seakan tidak menginginkan dirinya sama sekali. Sedangkan Devan segera berlalu pergi dengan membanting pintu kamar, meninggalkan Jessica yang masih mematung di depan pintu kamar dengan air mata yang telah keluar dengan sendirinya.
#########
Mawar-mawar yang disiram oleh Nayla terlihat sangat indah,, bunga-bunga itu merekah dengan sempurna, seulas senyum tercipta dibibir Nayla seiring dengan rasa bahagia yang dirasakan Nayla saat ini,, dan selang yang mengarah pada bunga-bunga yang indah.
Sesekali Ibu hamil itu mencium dan menghirup wangi bunga itu yang membuat perasaannya menjadi sangat tenang. Nayla benar-benar bahagia tinggal di rumah yang telah disediakan oleh Ayah mertuanya,, bukan karena mewahnya tapi karena dirinya tidak bertemu dengan Devan lagi, jika dirinya tinggal di tempat lain atau pada rumah yang telah disiapkan oleh Devan, tentu saja Devan akan seenak jidatnya datang dan pergi, akan selalu menyakiti dirinya,, akan selalu membuat batinnya tersiksa,, tapi disini Nayla bebas melarang Devan untuk tidak masuk ke dalam rumah. Dia punya kekuasaan sendiri.
Pagi itu langit begitu cerah sebahagia hati Nayla,, matahari bersinar menyambut pagi dengan sempurna.
Tiba-tiba sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah,, Devan melihat Nayla yang sangat cantik dipagi itu sedang menyiram bunga, senyum Nayla juga begitu manis membuat Devan semakin merindukan istrinya itu,, Devan ingin sekali bertemu lama dengan istri keduanya itu,, bisa akrab seperti dulu,, dengan segera Devan memarkirkan mobilnya lalu keluar dari dalam mobil,,, sebelum Nayla masuk ke dalam.
Senyum indah Nayla mendadak langsung hilang seketika begitu melihat Devan, bahkan mood Nayla mendadak jadi rusak seketika.
"Nayla tunggu," ucap Devan sambil berlari dan cepat-cepat berdiri di depan pintu,, agar istrinya itu tidak masuk ke dalam rumah dan mengabaikan dirinya seperti semalam.
Tidak ada raut wajah bahagia sama sekali di wajah Nayla karena Nayla benar-benar tidak ingin bertemu dengan Devan.
"Nayla, mas mohon berikan mas waktu lima menit saja untuk bicara," ucap Devan.
"Satu detik pun aku tidak punya waktu kalau bicara dengan anda Tuan Devan," ucap Nayla tegas lalu segera mencari jalan lain untuk masuk ke dalam rumah.
"Nayla, dengarkan Mas dulu," ucap Devan sambil berjalan cepat menapaki anak tangga berusaha mengejar Nayla yang sudah berada di ambang pintu.
Tapi sayang Nayla sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu lalu mengunci pintu,, Nayla tidak ingin Devan masuk dan Nayla tidak ingin bertemu dengan Devan.
"Nayla tolong buka pintunya,, aku suamimu," ucap Devan.
Devan terus mengetuk pintu beberapa kali,, Devan tidak ingin menyerah sama sekali,, sekalipun terus saja di tolak secara terang-terangan oleh Nayla.
__ADS_1
"Nayla,, bukain Mas," ucap Devan lagi.