Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Masih tertolong...


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah Devan terus saja dibuat stres memikirkan perubahan sikap Nayla tadi, tidak ada lagi kelembutan seperti sebelum-sebelumnya yang ditunjukkan oleh Nayla. Hanya ada Nayla yang egois,, keras kepala dan susah ditebak.


Hati wanita itu terlalu sakit,, terlalu hancur,, karena luka yang ditorehkan Devan padanya begitu dalam. Berdamai dengan keadaan terlalu menyakitkan, menjadikan kenangan juga terasa sangat sulit.


Tapi apa mungkin bisa bahagia dalam dua perahu satu pendayung, satu payung dua pemilik,, tentu itu sangat mustahil!!!


##########


Devan yang sudah sampai di rumah segera memarkirkan mobilnya lalu berjalan menuju kamar,, hari memang masih siang tapi Devan memutuskan untuk ke kamarnya. Begitu sampai di kamarnya ternyata pintu kamar terkunci dari dalam. Devan pun segera mengetuk pintu kamarnya.


Devan juga tidak membawa kunci kamarnya,, lagi pula Jessica jarang mengunci pintu kamar,, kecuali mereka berdua ada di dalam kamar.


Devan mengetuk pintu kamar lagi,, tetapi tidak ada jawaban sama sekali ataupun pintu kamar terbuka,, saat ini pintu kamar masih tertutup dengan rapat.


"Jessica," panggil Devan dengan meninggikan nada suaranya agar terdengar sampai di dalam sana,, tetapi sampai saat ini pintu tidak dibuka juga oleh Jessica,, bahkan tidak ada jawaban juga dari Jessica.


"Kak Andini," ucap Devan menghentikan langkah kaki Andini yang melewati dirinya.


"Emm?" jawab Andini dengan malas karena sampai saat ini Andini masih membenci Devan yang ternyata mempunyai dua istri.


"Apa Jessica ada di dalam?" tanya Devan.


"Iya," jawab Andini.


Andini langsung pergi tanpa mau perduli lagi pada Devan.


Devan terdiam dan mulai berpikir sejenak,, lalu Devan kembali mengetik pintu kamar,, namun tidak dibuka juga oleh Jessica.


Seketika Devan mendobrak pintu kamar perasaannya was-was mengenai keadaan Jessica di dalam kamar.


Saat pintu berhasil dibuka paksa oleh Devan,, Devan langsung melihat tubuh Jessica yang tergantung dengan leher yang tercekik.


"Jessica," ucap Devan.


Dengan segera Devan menurunkan Jessica,, namun sayangnya Jessica sudah tidak sadarkan diri lagi.

__ADS_1


"Jessica bangun,, Jessica!!!" ucap Devan sambil menepuk pipi Jessica berusaha membangunkan Jessica.


Ana yang kebetulan melewati kamar Devan dan Jessica langsung masuk ke kamar mereka karena mendengar teriakan Devan.


Mata Ana langsung melebar begitu melihat Jessica yang sudah tidak sadarkan diri lagi.


"Jessica kamu kenapa? Devan ini Jessica kenapa?" tanya Ana kaget sambil berjongkok untuk melihat Jessica lebih dekat lagi.


"Jessica bangun," ucap Devan sambil memeriksa denyut nadi Jessica,, lalu mengangkat Jessica naik ke atas ranjang.


"Ma kita bawa dia ke rumah sakit saja,, Jessica butuh oksigen," ucap Devan.


Devan segera mengangkat tubuh Jessica untuk dibawanya ke mobil, lalu segera membawa ke rumah sakit,, begitu sampai di rumah sakit Jessica langsung mendapatkan penanganan intensif.


"Devan bagaimana keadaan Jessica?" tanya Ana yang masih sangat panik apalagi membayangkan tubuh lemah Jessica,, membuat Ana benar-benar merasa ketakutan.


"Jessica hamil Ma," ucap Devan.


"Hamil," ucap Ana yang benar-benar terkejut begitu mendengar ucapan Devan, tapi bukan berarti dia tidak bahagia akan berita ini.


"Iya Ma," ucap Devan.


Ana langsung tersenyum bahagia sekalipun dirinya masih merasa iba dengan keadaan lemah Jessica tadi.


Mata Jessica akhirnya terbuka,, Jessica langsung melihat di sekelilingnya begitu melihat tempat itu tidak asing ada rasa kecewa yang Jessica rasakan karena dirinya masih hidup.


"Kenapa aku masih hidup," ucap Jessica kecewa.


"Jessica kamu sudah sadar? ucap Devan sambil mengusap kepala Jessica,, menatap Jessica yang wajahnya pucat penuh kepedihan.


"Aku nggak mau hidup lagi,, aku mau mati saja,, aku nggak mau hidup!!!" teriak Jessica dengan histeris.


Devan langsung memeluk Jessica,, mencoba menenangkan Jessica agar alat medis yang masih terpasang di tubuh Jessica tidak terlepas,, karena Jessica yang histeris.


Jessica akhirnya merasa lelah karena terlalu banyak bergerak membuat tenaganya yang tidak seberapa itu habis terkuras.

__ADS_1


"Pokoknya aku mau kamu pilih,, Nayla atau aku? kalau kamu pilih Nayla aku yang akan mati!!!" ucap Jessica dengan suara putus asa dan diiringi dengan isak tangis.


Devan hanya diam tidak bisa berkata apa-apa,, sungguh sangat sulit jika harus melepaskan salah satu diantara mereka berdua,, karena keduanya sedang mengandung anaknya.


"Kenapa? kenapa kamu malah diam Devan? kamu bingung memilih aku atau dia? artinya kamu juga ada perasaan untuk dia kan? aku nggak mau Devan,, kamu sama aku tapi hati mu terbagi untuk wanita lain, lebih baik aku mati saja Devan, aku tidak mau hidup begini!!" ucap Jessica.


"Jessica kamu tenang dulu semuanya pasti ada jalan keluarnya," ucap Ana yang akhirnya ikut berbicara karena merasa kasihan dengan keadaan Jessica yang masih terbaring lemah.


Andai saja Devan tidak mendobrak pintu kamar dengan tempat waktu,, mungkin saat ini Jessica sudah tidak ada lagi di dunia ini bersama dengan anak yang dikandungnya.


Tentu saja jika hal itu terjadi akan membuat Ana merasa bersalah atas semua yang terjadi,, karena tidak berhasil mendidik putranya sehingga membuat Jessica mati konyol.


Tidak! Ana tidak bisa membayangkan hal mengerikan itu,, sangat di luar akal sehatnya.


"Jessica tidak mau seperti ini ma,, Jessica ingin Devan memilih antara aku dan Nayla,, dan kalau dia memilih Nayla maka aku nggak akan mau hidup lagi," ucap Jessica.


"Jessica kamu jangan seperti ini kasihan janin kamu," ucap Ana yang merasa sedih melihat keadaan Jessica.


Jessica langsung terdiam seketika dan mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Ana barusan.


"Ja..janin," ucap Jessica terbata tidak percaya.


"Iya, kamu sedang hamil sekarang," ucap Devan.


Jessica mendadak gagu dengan air mata yang mulai menetes tanpa bisa ditahannya.


"Ha..hamil?" ucap Jessica lagi.


Apa itu mungkin dirinya hamil rasanya sangat sulit dipercaya,, tapi itulah yang dia inginkan selama ini dia ingin mengandung anak Devan sehingga Devan tidak bersama wanita lain,, terutama bersama dengan Nayla wanita yang dianggapnya sebagai wanita penghancur rumah tangganya dengan Devan.


Jessica langsung memegang perutnya,, ada rasa kaget yang dia rasa begitu mengetahui bahwa dirinya hamil,, rasa kagetnya sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata.


"Tapi Devan aku mau kamu tetap memilih Nayla dan janinnya atau aku dan janinku,, aku tidak akan pernah mau dimadu apalagi maduku adalah Nayla pengasuh anak itu," ucap Jessica.


"Jessica tolong tenang,, jangan bahas dan pikirkan itu dulu,, kasihan janinmu kalau kamu banyak pikiran," ucap ana.

__ADS_1


Jessica terdiam sambil memegang perutnya,, bagaimanapun anaknya harus mendapatkan apa yang menjadi miliknya. Jika Bima Putra sudah mengatakan bahwa anak Nayla adalah pewaris dari kerajaan bisnisnya,, lalu bagaimana dengan anak yang dikandungnya?


__ADS_2