
"Nayla,, jangan mengundang kemarahan ku lagi," ucap Devan dingin sambil menatap tajam Nayla.
"Berulang kali aku katakan,, kamu bisa meminta cerai setelah anakku lahir,, ingat Nayla aku ini suami mu,, aku berhak atas dirimu,, jadi kamu jangan macam-macam, dan selalu mengundang kemarahan ku,," ucap Devan lagi.
Nayla langsung melihat ke arah lain,, tidak ingin menatap Devan sama sekali,, begitu Nayla mendengar ucapan Devan.
"Ayo lebih baik kamu makan,,," ucap Devan lagi.
Nayla dengan terpaksa makan walaupun sebenarnya dirinya sangat malas untuk makan.
"Aku sudah kenyang,," ucap Nayla begitu makan beberapa sendok saja.
Devan dengan segera memberikan botol mineral pada Nayla, dan Nayla pun langsung meminumnya lalu menaruh di atas meja,, namun tanpa Nayla duga sebelumnya,, Devan mengambil botol itu lalu meminumnya kembali di botol yang sama dengan Nayla.
"Kamu tidak ingin makan yang lain?" tanya Devan sambil melihat Nayla yang masih terus cemberut.
"Tidak,," jawab Nayla.
"Kamu yakin?" tanya Devan lagi.
"Iya sangat yakin,," jawab Nayla lagi.
Tiba-tiba ponsel Nayla terus berdering membuat Devan benar-benar penasaran siapa yang menghubungi istri keduanya itu.
"Ponsel mu terus berdering,, kenapa kamu tidak menjawabnya? ayo jawab,," ucap Devan.
Nayla langsung menggelengkan kepalanya memilih tidak menjawab panggilan telepon itu,, karena Nayla sudah sangat yakin itu pasti panggilan telepon dari Denis.
Melihat ekspresi Nayla yang seperti itu,, membuat Devan mengangkat sebelah alisnya sambil melihat Nayla dengan tatapan penuh intimidasi.
Lagi-lagi ponsel itu berdering.
"Ayo jawab Nayla,, ponselmu sudah berdering beberapa kali," ucap Devan lagi begitu mendengar ponsel Nayla lagi-lagi berdering.
"Baiklah,, aku permisi,," ucap Nayla.
Nayla memang sejak tadi ingin menjawab panggilan telepon dari Denis,, namun masih ada Devan membuat Nayla mengurungkan keinginannya,, tetapi Devan terus saja menyuruhnya untuk mengangkat panggilan telepon itu,, Nayla mau tidak mau harus keluar karena tidak ingin Devan mendengar pembicaraan nya dengan Denis,, namun Devan langsung menahan tubuh Nayla agar tetap ditempatnya,, Devan sama sekali tidak mengizinkan Nayla menjawab panggilan telepon di luar ruangannya.
"Jawab disini!!!," ucap Devan tegas tidak ingin dibantah sama sekali.
Devan seorang pria dan juga suami Nayla,, biarpun Devan tidak mencintai Nayla dan juga Nayla tidak mencintai dirinya,, namun Devan tidak mau harga dirinya diinjak-injak oleh orang yang menelepon Nayla dan juga Nayla.
__ADS_1
"Cepat jawab!!!," ucap Devan.
"Tapi aku ma...,"
"Cepat!!!," tegas Devan lagi yang langsung memotong ucapan Nayla.
Nayla dengan terpaksa mengambil ponselnya lalu menatap layar ponsel tersebut sangat jelas tertera nama Denis di layar ponsel tersebut,, Nayla mempertimbangkan apakah harus menjawab atau tidak,, Nayla dilema.
"Cepat!!!," ucap Devan lagi sambil mengambil ponsel dari tangan Nayla.
"Jangan,, kembalikan padaku,," ucap Nayla.
Nayla sangat ingin mengambil kembali ponselnya,, namun tentu tidak bisa karena Devan lebih tinggi darinya.
"Cepat bicara Nayla,," ucap Devan lalu segera menjawab panggilan telepon dari Denis.
Devan segera menaikkan volume ponsel Nayla,, agar Nayla bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Denis.
"Halo sayang ku," ucap Denis dari balik telepon.
Devan langsung menggerakkan alisnya yang menjadi pertanda bahwa Nayla harus bicara.
"Sayang,, apa dia sudah menceraikan kamu?" tanya Denis lagi dengan penuh harap bahwa Devan telah menceraikan kekasihnya.
Degh!!!
Jantung Nayla langsung berdetak dengan sangat kencang,, sudah menduga bahwa pasti itulah yang akan ditanyakan oleh Denis,, Nayla langsung melihat Devan.
Devan memberikan isyarat agar Nayla berbicara lagi,, menjawab pertanyaan Denis,, namun Nayla tidak berani berbicara apapun.
"Sayang,, Nayla sayang apa kamu mendengar ku?" tanya Denis karena tidak mendengar suara Nayla lagi.
Denis menjadi bingung dan khawatir ketika dirinya terus memanggil Nayla namun tidak ada jawaban sama sekali.
Devan langsung melempar ponsel itu pada dinding hingga bertaburan di lantai.
Nayla langsung tersentak dan mencoba bangun dari duduknya untuk mengambil ponselnya, namun Devan langsung menahan pundak Nayla.
"Nayla,, kamu sangat menguji kesabaran ku,," ucap Devan dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.
"Salahnya dimana?" tanya Nayla yang memberanikan diri karena sudah sangat kesal pada Devan.
__ADS_1
Devan langsung tersenyum miring begitu mendengar pertanyaan Nayla.
"Kamu masih berani bertanya salahnya dimana?" ucap Devan.
"Mas, coba kamu pikir baik-baik,, kalau kita bercerai ini sangat bagus untuk kamu,, kamu bisa hidup tenang dengan Nyonya Jessica tanpa selalu merasa ketakutan akan ketahuan oleh Nyonya Jessica,,," ucap Nayla mencoba menyadarkan Devan bahwa Devan lah yang akan untung banyak jika mereka bercerai.
"Iya memang benar yang kamu katakan,, tapi itu anakku Nayla,, bagaimana bisa aku memberikannya pada orang lain? pikir Nayla,, pikir" ucap Devan sambil mengeratkan giginya menahan kemarahan.
Nayla seketika itu langsung menelan salivanya kasar,, Nayla benar-benar tidak menyangka bahwa Devan lebih memilih mempertahankan anaknya dan dirinya dengan resiko yang besar daripada harus memberikan anaknya pada orang lain.
"Nayla,, apa kamu mendengar ku?" tanya Devan.
Nayla terpaksa mengangguk tetapi otaknya masih terus berpikir bagaimana caranya berpisah dengan Devan.
"Nayla,, jangan berpikir untuk cerai dariku sekarang karena itu tidak mungkin terjadi, tapi setelah anakku lahir tanpa kamu minta pun aku pasti akan langsung menceraikan kamu," ucap Devan lagi.
Nayla langsung mengambil laptop Devan lalu membantingnya di lantai sekuat mungkin,, ucapan Devan barusan membuat emosi Nayla mendidih.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Devan terkejut sambil melihat laptopnya yang sudah terhambur dilantai.
Keringat Nayla keluar dengan cepat karena terlalu marah,, Nayla tidak mau lagi Devan memegang kendali dalam pernikahan mereka,, hati Nayla benar-benar sakit saat mendengar perkataan Devan yang telah menetapkan perceraian mereka setelah anaknya lahir. Karena Nayla ingin diceraikan sekarang bukan nanti.
"Baiklah,, aku akan menunggu sampai anak ini lahir lalu kamu harus segera ceraikan aku,," ucap Nayla diselimuti dengan kemarahan.
Devan mengangguk dengan cepat lalu melupakan laptopnya yang sudah berhamburan dilantai,, Devan mendekati Nayla lalu mengelus perut Nayla lembut seakan tidak habis terjadi apa-apa.
"Jangan stres agar dia juga tidak stres," ucap Devan sambil terus mengelus lembut perut Nayla.
"Bagaimana tidak stres kalau pernikahan ini mengundang emosi,," ucap Nayla kesal.
Devan hanya menghembuskan nafasnya kasar lalu segera mengambilkan air mineral untuk Nayla agar Nayla minum.
Devan juga tak lupa mengambil satu butir vitamin.
"Ayo telan vitamin ini sekarang,," ucap Devan lagi.
Nayla pun segera menelannya meskipun saat ini dirinya sangat ingin menelan Devan hidup-hidup,, tapi Nayla tak mau lagi bertengkar karena tentu dirinya akan selalu kalah dihadapan Devan.
Tangan Devan mengusap dengan lembut kepala Nayla,, berusaha menenangkan perasaan ibu hamil yang habis mengamuk tadi, agar janinnya tidak ikut stres,.
Nayla segera menepis tangan Devan namun Devan tetap melakukannya,, Nayla sampai lelah menepis tangan Devan dan akhirnya membiarkan Devan melakukan itu.
__ADS_1