
Devan hanya diam menatap Alex, ingin mengambil Felix pun yang ada hanya membuat dirinya malu saja, karena Felix menangis di gendongannya. Felix masih belum terbiasa dengan dirinya, baiklah mulai hari ini Devan akan merebut kembali anaknya,, bukankah dia yang lebih berhak daripada Alex dan juga yang lainnya? tetapi kenapa malah dia begitu asing bagi anaknya sendiri,, karma memang langsung dibayar nyata,, Devan hanya bisa berdoa semoga tidak selamanya Felix menganggap dirinya adalah orang asing.
"Nayla,, boleh Mas bicara?" ucap Devan sambil menatap Nayla dengan penuh harap.
Mas? Nayla ingin sekali mengambil air panas dan menyiramkan air panas itu tepat di bibir Devan. Bibir kurang ajar itu yang dulu selalu memaki dirinya, menceraikan dirinya, bahkan memberikannya peringatan untuk tidak jatuh hati pada seorang Devan. Tapi hari ini Devan datang dengan senyum manisnya seakan ingin lebih dekat, maaf saja!!! Nayla tidak akan mudah luluh. Sudah pernah berjuang terus di sia-siakan, setelah dilepas jangan lagi mengharapkan kembali!!! Nayla tentu tidak akan mau jatuh untuk kedua kalinya ke dalam lubang yang sama,, lubang penderitaan yang tidak kunjung usai.
"Bicara saja," ucap Nayla sambil melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Devan dan menunggu apa yang akan didengarnya.
Devan menatap Alex yang juga kini tengah menatap dirinya, Devan ingin berdua saja tanpa Alex atau tanpa siapapun kecuali Felix.
"Kita bicara berdua saja," ucap Devan.
"Tidak bisa!!! aku mau masuk dulu,, aku lelah," ucap Nayla yang memilih masuk untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Beberapa saat kemudian Nayla kembali ke teras dengan pakaian yang santai, tubuhnya jauh lebih segar setelah mandi. Felix mengulurkan tangannya pada Nayla dan Alex pun segera memberikannya.
"Aku pamit yah!!! besok libur,, kita jalan-jalan yah bocah ganteng," ucap Alex sambil mengusap pipi tembem Felix dan sampai akhirnya dia benar-benar pergi.
Devan masih diam di sana dan Nayla memilih tidak peduli lalu memilih masuk.
"Nayla tunggu," ucap Devan.
Nayla kini sudah berdiri di ambang pintu, tetapi suara Devan mampu menghentikan langkah kakinya. Dengan malas Nayla berbalik sambil mendongak menatap wajah Devan.
"Sebentar saja," ucap Devan lagi.
"Lima menit dari sekarang," ucap Nayla.
"Nayla apa harus menggunakan waktu?" tanya Devan.
"Tidak mau? yah tidak usah!!!" ucap Nayla.
"Ya sudah iya!!!" ucap Devan cepat dan dengan refleks memegang tangan Nayla, Devan takut Nayla benar-benar masuk dan tidak ingin berbicara dengannya sama sekali.
"Lepas!!!" ucap Nayla.
Devan pun mengangguk dan dengan terpaksa melepaskan pegangan tangannya pada Nayla.
"Hai,, anak Tante,, sama Tante Reyna dulu yah," ucap Reyna yang memilih mengambil alih Felix, setelah itu dia pergi sambil menatap Devan dengan tatapan tajam.
"Cepat aku ingin istirahat!!!" ucap Nayla. Orang-orang yang lelah bekerja tentu saja ingin istirahat begitupun juga dengan Nayla.
"Nayla," ucap Devan membuang harga dirinya yang selama ini dijaganya dengan baik-baik, dia berlutut dibawah kaki Nayla. Memohon agar Nayla mau menerimanya kembali, memulai dari awal untuk membesarkan Felix.
"Nayla, aku sangat mencintaimu," ucap Devan dengan cepat.
Nayla hanya diam tanpa perduli, baginya Devan hanyalah sebuah kenangan, sudah pernah disakiti apa mungkin bisa bersama kembali? itu sungguh sangat sulit.
__ADS_1
"Aku tidak!!!" jawab Nayla dengan jelas dan tanpa ragu sedikit pun.
Devan kembali berdiri sejenak lalu mengingat dulu Nayla menyatakan cinta padanya, lalu mengapa Nayla kini mengatakan tidak mencintainya.
"Tapi kamu sendiri yang mengatakan pernah mencintai Mas,, sebelum kita bercerai waktu itu," ucap Devan sambil menatap manik mata Nayla dengan begitu dalam.
"Aku tidak bisa hidup tanpa kamu Nayla,, tolong mengertilah!!!" ucap Devan lagi.
"Dulu iya tapi sekarang tidak lagi,, silahkan pergi dari kontrakan reyot ku ini," usir Nayla yang benar-benar mengingat saat dulu Devan datang ke kontrakannya bersama dengan Jessica, saat itu Jessica mengatakan kontrakannya reyot dan Devan hanya diam saja padahal anaknya yang tinggal di dalam rumah itu.
"Nayla, Mas dan Jessica sudah bercerai, Mas ingin kita bersama membesarkan anak kita sama-sama," ucap Devan dengan harapan yang begitu besar untuk bisa bersatu lagi dengan Nayla, berharap Nayla tidak akan menolaknya.
"Nayla, demi anak kita, Mas mohon," ucap Devan lagi yang mencari segala cara,, karena melihat Nayla yang hanya diam saja.
"Dokter Devan Anda ini lucu sekali yah!!" ucap Nayla sambil tertawa kecil saat mendengar keinginan Devan untuk berdamai dengannya lagi,,, mungkin dia berpikir setelah meninggalkan Jessica bisa kembali dengan dirinya lagi.
"Apa yang salah Nayla?" tanya Devan.
"Salah? Anda pikir semuanya semudah itu? setelah menikahi aku secara siri, kemudian menjadikan aku hanya sebagai pelampiasan,, serasa figura dalam kehidupan kamu! kamu pikir itu mudah? aku tidak ingin berdamai lagi dengan kamu sekalipun karena anakku!" ucap Nayla tegas.
"Tapi ini demi kebaikan Felix," ucap Devan yang tidak ingin menyerah dan membawa-bawa nama anaknya, berharap Nayla bisa luluh.
"Anakku akan bahagia jika ibunya bahagia, dan kebahagiaan ibunya tanpa ayahnya," ucap Nayla tegas.
Bagaikan pukulan keras menimpa dada Devan, kata-kata Nayla begitu terdengar sangat memilukan, ternyata semuanya tidak sama lagi seperti dulu.
"Waktu anda sudah habis, silahkan pergi!!!" ucap Nayla lalu segera masuk ke dalam kontrakannya, menutup pintunya dengan rapat sekalipun Devan masih berdiri mematung di sana.
Devan tertunduk tidak menyangka dirinya mengemis cinta pada Nayla sekarang. Ludah yang terbuang kini ditelan kembali, harga diri yang dijunjung tinggi kini jatuh di bawah kaki seorang Nayla.
Devan kembali dengan membawa rasa sedih, tidak membawa hasil yang sempurna seperti yang diinginkan olehnya. Awalnya Devan berpikir Nayla begitu mencintai dirinya dan akan senang hati menerima keinginannya untuk bersatu kembali dalam ikatan pernikahan. Ternyata Devan yang terlalu percaya diri, telinga Devan sendiri yang mendengar kalimat penolakan mentah-mentah dari Nayla terhadap cintanya yang besar.
Setelah beberapa saat Devan pergi,, Jessica turun dari mobilnya. Jessica sudah cukup lama berada di sisi jalanan, dia ingin menemui Nayla dan ingin meminta maaf sudah pernah menghina wanita tersebut. Tapi ada keraguan untuk dirinya turun hingga dirinya memilih diam sejenak di dalam mobil sambil menatap kontrakan Nayla.
Hingga tanpa sengaja Jessica melihat Devan yang sedang bersimpuh di bawah kaki Nayla, Jessica benar-benar tercengang atas apa yang dilakukan oleh Dokter arrogant tersebut. Saat bersamanya dulu Devan tidak pernah seperti itu dan juga terlihat sangat cuek, sungguh berbeda sekali dengan yang dilihatnya sekarang ketika dia sangat jatuh cinta pada Nayla. Hati Jessica semakin yakin saat keputusan cerai yang dia ambil pernah.
Jessica mengetuk pintu kontrakan Nayla, baru saja Nayla menutupnya kini sudah diketuk lagi. Dengan malas Nayla kembali membuka pintu. Nayla cukup terkejut begitu melihat Jessica yang berdiri di depan pintu.
Jessica menemui dirinya? ini cukup mustahil!!! tetapi itulah kenyataannya yang terjadi.
"Nayla,, siapa sih?" tanya Reyna sambil berjalan untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.
"Ckk!! tadi mantan suaminya sekarang dia," ucap Reyna kesal.
"Kamu jaga Felix dulu," ucap Nayla sambil melihat ekspresi wajah Jessica yang tampak tenang tidak ada kemarahan seperti biasanya saat menemui dirinya.
Dalam hati Nayla bertanya-tanya tujuan apa yang membuat Jessica datang menemui dirinya, sekalipun dalam hati adalah perasaan was-was jika kedatangan Jessica hanya untuk marah-marah saja hingga tetangga mendengar dan membuatnya malu hingga sampai ke ubun-ubun.
__ADS_1
"Aku ingin bicara, apa boleh aku masuk?" tanya Jessica.
Nayla mengangguk, menimbang Jessica adalah seorang wanita, Nayla berdiri ke samping memberikan jalan kepada Jessica untuk masuk ke gubuk reyot nya. Yah Jessica dulu menghina rumah kontrakan Nayla,, kini Jessica malah datang menemuinya dan malah meminta izin untuk masuk.
Jessica perlahan duduk di sebuah kursi kayu yang tertata rapi di ruang tamu, begitupun dengan Nayla yang duduk di kursi lainnya sambil menantikan apa yang akan dikatakan oleh Jessica.
"Aku minta maaf," ucap Jessica yang terdiam sejenak untuk melihat ekspresi wajah Nayla.
"Aku minta maaf, karena aku kamu jadi menikah siri dengan Devan, menjadi istri kedua, istri yang tidak dianggap hingga anakmu ikut menderita," ucap Jessica yang benar-benar ingin meminta maaf.
Kalimat yang keluar dari bibir Jessica cukup mencengangkan, Nayla tidak pernah membayangkan bahwa Jessica akan datang meminta maaf padanya.
Apa dirinya sedang bermimpi saat ini? tidak sama sekali ini terlalu nyata, bahkan terlalu siang untuk Nayla bermimpi.
"Apa kamu mau memaafkan aku?" tanya Jessica.
Nayla pun mengangguk,, tidak ada hak untuk tidak memaafkan siapa saja, percuma saja untuk terus membenci seseorang yang hanya akan membuat diri tak pernah mendapatkan ketenangan dalam hidup. Bukankah seseorang memaafkan kesalahan orang lain itu sangat mulia? Nayla ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
"Aku ingin berteman dengan kamu, aku mohon," ucap Jessica sambil mengulurkan tangannya pada Nayla.
Nayla terdiam sejenak sambil menatap uluran tangan Jessica, sesaat kemudian Nayla membalas uluran tangan itu.
"Boleh aku memelukmu?" tanya Jessica lagi yang membuat Nayla kembali menganggukkan kepalanya.
Seketika Jessica memeluk Nayla dengan erat,, lalu menangis tersedu-sedu tanpa bisa ditahan lagi
"Aku sudah bercerai dari Devan, aku mohon tolong kembalilah padanya, aku ingin dia bahagia karena dia tidak bahagia bersamaku,, kamu adalah kebahagiaan dia, aku ingin menebus semua kesalahanku," ucap Jessica dengan lirih sambil menangis tersedu-sedu membayangkan betapa Devan sangat tersiksa tanpa Nayla, hari-hari menyakitkan hati dengan segala kesakitan.
Nayla melepaskan pelukannya menatap wajah Jessica dengan senyuman.
"Kamu kenapa?" tanya Jessica dengan segala kebingungannya.
"Kamu melepaskan dia? lalu ingin aku kembali padanya?" tanya Nayla.
"Aku mohon Nayla,, ini sebagai penebus rasa bersalahku, tolong Nayla aku sudah membuat Devan kecewa dengan memberikan kesucianku pada laki-laki lain sebelum kami menikah. Aku ingin dia hidup bahagia, mungkin ini hukuman untukku," ucap Jessica dengan memohon.
"Apapun alasannya aku tidak akan kembali padanya, aku tidak akan mau bahagia di atas penderitaan wanita lain," ucap Nayla dengan tegas, dan memang dia juga tidak ingin kembali dengan Devan.
"Tapi aku bahagia!!! jika dia bahagia!!!" ucap Jessica.
"Bohong Jessica!!! kau bohong saat bilang kamu bisa bahagia saat melihat orang yang kau cintai bahagia dengan wanita lain, kamu munafik!!!" tegas Nayla lagi.
Jessica terdiam sambil mengusap air matanya, mungkin apa yang dikatakan oleh Nayla memang benar adanya, tetapi dirinya ingin menembus kesalahannya, cara satu-satunya adalah menyatukan Devan dan Nayla, apalagi ada seorang anak dari keduanya, bukankah Jessica akan semakin merasa bersalah karena sudah menyakiti hati kedua orang tua malaikat kecil itu?
"Aku mohon Nayla," pinta Jessica lagi.
"Jika kamu datang untuk meminta maaf aku sudah memaafkan kamu, tapi jika kamu meminta aku untuk kembali pada dia? maaf aku tidak bisa," ucap Nayla dengan tegas.
__ADS_1