
"Sayang, Reyna nelpon kamu terus," seru Devan saat melihat ponsel istrinya terus berdering, kali ini Devan tidak berbohong.
"Paling Mas modus," teriak Nayla dari dalam kamar mandi, merasa tersebut hanyalah bualan Devan saja.
"Ya udah deh, kalau nggak percaya," ucap Devan.
Devan diam dan tak lagi berteriak memberitahu istrinya.
"Ke mana sih dari tadi dihubungi nggak dijawab," Reyna menggerutu kesal, padahal dirinya ingin bertanya tentang berapa sendok gula untuk membuat kopi Nanda.
Ya sudahlah!
Reyna pun yang sudah mandi pagi dan memakai dress langsung keluar dari kamar. Betapa shock melihat Nanda ternyata tidur di ruang televisi, tepat berada di depan kamar.
Kenapa Nanda malah tidur di luar? bukankah dirinya sudah meminta untuk tidur bersama?
Apakah Nanda masih marah?
Atau tidak benar-benar memaafkan dirinya?
Ini sakitnya sangat luar biasa!
Mungkin juga inilah yang dirasakan oleh Nanda selama ini, rasanya begitu kehilangan harga diri saat tak dihiraukan begini.
Baiklah tak apa ini adalah hukuman yang harus diterima oleh Reyna dengan demikian dirinya tahu apa yang selama ini dirasakan oleh Nanda, segera Reyna menuju dapur menyeduh kopi dan mempersiapkan sarapan, selesai dengan semua itu Reyna merasa bahagia.
"Kamu sudah masak?" tanya Arni saat menjejakkan kaki di dapur ternyata ada menantunya.
Baru saja Arni ingin membuat sarapan pagi, tapi sudah tersaji, hati Arni cukup bahagia melihatnya, senang sekali kini Reyna sudah mau belajar menjadi istri yang baik.
"Udah Ma, cuma pasti rasanya nggak seenak masakan Mama," ucap Reyna.
"Siapa bilang?" Arni duduk di kursi meja makan dan mulai menikmati nasi goreng buatan Reyna untuk pertama kalinya.
"Ini enaknya luar biasa," kata Arni dengan senyum tulusnya.
Reyna pun terharu mendapatkan sedikit pujian berharap Nanda pun akan suka dengan masakannya, tak lama berselang Nanda pun memasuki dapur ternyata sudah dengan kemeja rapi di tubuhnya.
"Kamu mau ke mana? bukannya ini hari libur?" tanya Arni bingung.
Sebab biasanya saat libur Nanda lebih suka menghabiskan waktu di rumah dengan alasan ingin beristirahat dan memulihkan tenaga saat seminggu penuh bekerja, tapi tidak kali ini sepertinya Nanda ada kesibukan tersendiri.
"Oh Mama tahu kalian berdua mau jalan-jalan?" tebak Arni dengan antusias.
Reyna tersenyum dan melihat Nanda.
Benarkah apa yang dikatakan oleh Arni barusan? dirinya sangat tidak sabar mendengar penjelasan dari mulut Nanda.
"Nggak Ma, aku ada acara sama teman-teman, aku berangkat yah Ma," pamit Nanda.
Kaki Reyna rasanya lemah sekali, ternyata dirinya sama sekali belum mendapatkan maaf dari Nanda.
Apa mungkin begitu?
Baru saja tersenyum bahagia sudah jatuh sendiri dengan begitu saja, ini sungguh menyakitkan hingga menyesakkan dada.
"Nanda kamu kok gitu libur cuman sekali-kali tapi kenapa pilih main sama teman-teman mu kasihan istrimu," ucap Arni.
"Kamu sarapan dulu," tawar Reyna tak ingin memperkeruh suasana lagi pula Nanda begini karena dirinya, tak apa diacuhkan Reyna siap menerimanya.
__ADS_1
Mungkin saja suatu hari Nanda dapat lagi seperti sebelumnya, Nanda meneguk secangkir kopi kemudian berpamitan pergi.
Reyna segera membersihkan meja makan setelah itu kembali masuk ke dalam kamar.
Mengurung dirinya sendiri, lama Reyna terdiam hingga akhirnya terdengar suara Nanda.
"Kamu mau ikut?" tanya Nanda.
Reyna pun tersadar dan ternyata ada Nanda.
"Bukannya kamu udah pergi?" ucap Reyna.
"Kamu mau ikut?" Nanda tidak menjawab pertanyaan Reyna, dirinya kembali bertanya.
"Emang boleh?" lagi-lagi Reyna bertanya, mungkin tidak menyangka bahwa Nanda mengajak dirinya.
Lagi pula barusan bukannya Nanda sudah pergi lalu kenapa tiba-tiba berada di kamar.
"Boleh, kalau kamu mau," ucap Nanda.
Reyna tersenyum dan langsung memeluk Nanda tidak menyangka ternyata di ajak.
"Mau," ucap Reyna.
Tak lama berselang suara perut Reyna terdengar begitu kencangnya.
"Aduh," malu sekali rasanya.
"Kamu belum makan?" tanya Nanda.
Reyna pun menggeleng, sejak kemarin hari dirinya hanya makan sedikit kepalanya terlalu pusing memikirkan Nanda.
Kesalahannya cukup besar!
"ke mana makanan yang kamu masak barusan?" tanya Nanda.
Reyna menggaruk kepalanya sebab semua makanan tersebut sudah dibuang.
"Aku buang lagian siapa yang mau makan?" raut wajah Reyna lagi-lagi murung dengan penuh penyesalan.
Nanda pun menarik kursi meja makan.
"Sekarang kamu masak. Aku tunggu di sini aku juga sangat lapar," ucap Nanda.
"Kamu serius mau makan masakan aku?" tanya Reyna.
Setelah Nanda mengangguk, segera Reyna memulai masak dengan serius dan siap menyajikan untuk dirinya dan Nanda di atas meja makan.
"Wangi sekali aku sudah sangat lapar sekali," Nanda pun mencoba mengambil nasi.
"Aku aja yang ngambilin," Reyna segera mengambil nasi untuk Nanda dan menambahkan dengan lauk pauknya.
"Terima kasih," Nanda pun mulai menyendok nasi pada mulutnya.
Sedangkan Reyna masih terdiam menunggu respon yang akan diberikan oleh Nanda setelah itu.
"Kamu kok nggak makan?" tanya Nanda.
"Makan, tapi rasanya gimana enak atau?" Reyna sangat menantikan komentar dari Nanda.
__ADS_1
"Lumayan," jawab Nanda.
Reyna tersenyum merasa masakannya tak terlalu buruk.
Segera ikut makan dan akhirnya makan bersama, dibilang pagi tapi sudah terlalu siang, dikatakan siang tapi belum juga. Tak apa sarapan pagi agak terlambat daripada tidak sama sekali.
Ponsel Nanda berdering dan segera menjawabnya, berbicara melalui sambungan telepon.
"Reyna aku harus segera pergi, ada tugas mendadak," ucap Nanda.
Nanda pun segera berdiri dan menyimpan kembali ponselnya pada saku celananya.
"Tadi katanya mau ngajakin aku ikut," Reyna berbicara hati-hati berharap Nanda tidak marah.
"Bukan, aku harus ke kantor ada sedikit masalah, lain kali kita jalan-jalan," kata Nanda karena tak ingin Reyna merasa tersisihkan.
Reyna pun mengangguk setuju, artinya Nanda benar-benar tak lagi marah padanya, segera menuju kamar dan mengambil beberapa benda miliknya saat di depan pintu kamar ternyata Reyna berdiri di sana.
"Kamu serius nggak marah sama aku lagi kan?" Reyna memainkan buku-buku jarinya sambil melihat wajah Nanda.
Nanda menggeleng dan mencium kening Reyna, kemudian berpamitan pergi, Reyna tersenyum bahagia tidak menyangka ternyata Nanda mencium keningnya.
"Nanda," ucap Reyna.
Nanda pun menghentikan langkah kakinya saat akan membuka pintu utama, berbalik melihat Reyna yang berjalan ke arahnya.
"Kamu cepat pulang yah, aku janji nanti malam," Reyna pun mencium tangan Nanda.
"Aku pergi," Nanda mengusap wajah Reyna kemudian pergi dengan menggunakan sepeda motornya.
Reyna berdiri di ambang pintu melihat ke sepeda motor Nanda yang sudah keluar dari gerbang, bibir Reyna tertarik pada masing-masing sudutnya merasa bahagia karena Nanda benar-benar sudah memaafkan dirinya.
"Aaaaaaaa," Reyna benar-benar bahagia hingga berteriak dengan suara keras.
"UPS," Reyna pun tersadar dan segera menutup mulutnya.
"Ehem... ehem,"
Reyna pun tersadar ternyata ada Arni yang duduk di kursi yang ada di teras.
"Mama di sini?" tanya Reyna canggung.
"Sejak kapan?" senyum merekah seketika berubah menjadi senyum kecut.
"Sejak kamu cium tangan suamimu terus ngomong nanti malam," jawab Arni santai.
OMG!!!
Ini sangat memalukan sekali ternyata mertuanya mendengar, jika saja ada lubang dalam mungkin dirinya akan masuk dan bersembunyi agar Arni tidak melihat wajahnya lagi.
"Nggak apa-apa namanya pengantin baru," Arni mengusap punggung Reyna.
"Tapi lain kali kalau ada yang hal seperti itu diomongin di dalam kamar, pikirkan juga perasaan wanita janda seperti Mama yang bisa meleleh melihat kemesraan kalian," seloroh Arni.
Wajah Reyna semakin bersemu merah, godaan Arni sungguh luar biasa, ini sangat gila sekali!
"Mama ke pasar dulu deh, kamu siap-siap untuk menunggu suamimu nanti malam kan?" Arni pun pergi sebelum itu dia tersenyum terlebih dahulu menggoda menantunya.
"Malunya," segera Reyna ke dapur membereskan dapur, rasanya seperti nano-nano.
__ADS_1
Asam, asin, manis, pahit jadi satu.
Tapi Reyna pun sangat bahagia, mungkin hari ini dirinya akan ke salon untuk membuat badan lebih segar, lagi pula malam nanti dirinya benar-benar akan menyerahkan dirinya pada Nanda, mungkin tidak ada lelaki yang jauh lebih baik lagi, kesabaran yang tinggi saat bersama belum lagi hanya diam saat dikasari, Reyna benar-benar merasa dimuliakan saat bersama Nanda, dihargai dan dianggap ada.