
"Ya ampun Mas, jahat banget ya. Aku kok jadi serem ya," Nayla mendadak menatap Devan dengan wajah bingungnya.
"Ternyata kamu kejam banget ya," imbuh Nayla.
"Itukan jaman dulu sayang, sekarang sudah tidak lagi. Namanya masa-masa sekolah semua orang punya ceritanya masih-masing," Devan berusaha untuk meyakinkan Nayla, bahwa dirinya tidak akan pernah melakukan hal itu lagi.
"Tapi nggak sampai gitu juga kali Mas, takut juga aku, di ikat begitu," Nayla bergidik ngeri membayangkan kekejaman Devan.
"Kamu udah di ikat di hati Mas," kata Devan sambil terkekeh kecil.
"Lebay!" Kesal Alex yang melihat keromantisan Devan bucin tingkat dewa.
Devan beralih menatap Alex dengan kesal, kalau tidak karena Alex semuanya tidak akan terjadi.
Mulut Alex yang mengatakan itu semua.
"Udah-udah, ayo di lanjutkan lagi,"
Reyna pun mulai mengembalikan permainan awal, hingga semuanya kembali berfokus pada botol.
"Kak Alex yang muter!" Alex pun mengambilnya dan mulai memutarnya, tidak di sangka malah menunjuk Rima.
"Ehem-ehem," Reyna pun berdehem menggoda Rima.
"Jujur atau tantangan?" Tanya Nayla.
"Kejujuran," jawab Rima cepat.
Jika yang lainnya duduk saling bersebelahan dengan pasangan masing-masing, tidak dengan Rima yang memilih duduk di samping Nayla. Sedangkan Aditya duduk sendiri.
"Siapa yang mau bertanya?" Tanya Reyna.
Tidak tahu apa yang mau ditanyakan pada Rima, mengingat hubungannya dengan Aditya jauh dari kata baik.
"Aku saja," Nayla mengajukan diri, melihat yang lainnya diam.
"Silahkan," kata Reyna lagi.
"Kok kamu tiba-tiba setuju nyusul kesini?
Rima pun menatap Aditya dengan pandangan mata tajam.
"Terpaksa, katanya di rumah aku tinggal sendiri. Terus ada hantu di rumah besar itu," jelas Rima dengan bibir mengerucut.
Nayla menyembunyikan senyumannya, selama ini dirinya baik-baik saja tinggal di rumah tersebut.
Sedangkan Reyna langsung tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Rima.
"Sejak kapan kamu takut yang begituan, bukannya kamu udah sering ngurus mayat?" Tanya Reyna di selingi tawa.
"Iya, tapi inikan beda!" Jawab Rima dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
"Ini udah jadi hantu!"
"Ahahahhaha," Reyna kembali tertawa terbahak-bahak sambil melihat raut wajah Rima.
"Bisa di coba," kata Alex menimpali, dirinya mengejek Aditya yang hanya diam dengan wajah datarnya.
"Kamu udah dikasih apa sama Aditya selama menjadi istrinya?" Tanya Jessica iseng.
"Nggak ada, cuma bismillah doang!" Gerutu Rima.
"Ahahahhaha," Reyna, Jessica dan Nayla tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Rima, sampai saat ini pun terlihat begitu memusuhi Aditya.
"Kamu nggak punya harga diri ya?" Seloroh Devan.
"Dia yang memintanya, kenapa sekarang menjadi masalah?" Tanya Aditya tidak mengerti.
"Nggak! Aku nggak mau nikah sama kamu!" Pekik Rima kesal.
"Sudah-sudah," Nayla berusaha menengahi pertengkaran antara Aditya dan Rima, takut malah menjadi lebih rumit.
"Seharusnya kamu beruntung bisa di cintai lelaki sebesar itu," tiba-tiba saja Nanda bersuara, terdengar serius sehingga semua mendengar dengan baik.
Termasuk Rima yang tidak mengerti dengan cerita Nanda, dan ingin mendengar lebih jauh.
"Jadi, dulu ada seorang wanita yang diam-diam suka sama teman sekelasnya, diam-diam memberikan perhatian, diam-diam memberikan hadiah kepada laki-laki itu. Tapi, sayang tidak ada cinta untuk wanita itu. Ngasih ini, ngasih itu, apa aja di kasih..." Mendadak Nanda terdiam saat Nayla melemparkan sebuah botol minuman padanya.
Hingga akhirnya kini semua beralih menatap Nayla dengan bingung.
Buk! Kembali Nayla melemparkan sebuah jagung pada Nanda dengan refleks.
"Wanita itu marah!" Ujar Nanda lagi sambil tertawa lepas.
"Sayang, apakah wanita itu kamu?" Tanya Devan penasaran.
"Parah kamu Nayla!" Reyna pun menimpali.
"Nanda!" Seru Nayla dengan wajah bersemu merah.
"Ahahahhaha, dulu kau yang mengatakan begitu pada ku, apa kau ingin bertemu dengan anak Pak lurah itu?" Nanda benar- benar tak bisa berhenti tertawa, apa lagi melihat wajah Nayla dipenuhi kekesalan.
"Kamu suka sama anak Pak lurah?" Kali ini Jessica yang bertanya.
"Sekarang nggak," Nayla pun akhirnya tertawa mengingat kebodohannya di masa lalu.
"Sayang, kamu udah diapain sama dia?" Devan mendadak emosi, kesal bukan main saat mengetahui Nayla pernah jatuh hati pada pria lain.
"Di tolak mentah-mentah," jawab Nayla sambil tertawa geli.
"Belum sempat di obok-obok kaya Rima," Nayla masih terus tertawa, apa lagi saat melihat waiah masam Rima saat ini.
"Di obok-obok?" Reyna merasa tertarik dan bodohnya langsung bertanya.
__ADS_1
"Iya, Dokter Aditya jahat. Masa aku baru sadar langsung di obok-obok," Rima pun melemparkan jagung bakar miliknya pada Aditya, beruntung bisa menghindar cepat hingga tidak mengenai muka Aditya sedikitpun.
"Pas diobok-obok enak nggak?" Tanya Reyna lagi.
Bukan Reyna namanya kalau tidak kurang ajar seperti saat ini.
"Kamu nanya apa!" Nanda pun mengetuk kepala Reyna.
Bukannya diam malah tawa Reyna semakin menggelegar.
"He'um, aku pingsan lagi. Pas kira-kira dua menit sadar, malah dilanjutkan lagi! nggak punya otak!" Ujar Rima.
"Sebaiknya kita istirahat, kau sedang kelelahan," Aditya bangun dari duduknya dan membawa Rima masuk ke dalam tenda yang sudah terpasang di halaman.
Aditya tahu istrinya terlalu polos dan berbicara asal.
"Dok, apaan sih!"
Aditya pun melepaskan tangannya saat sudah berada di dalam tenda.
"Kamu mau buka aib sendiri?"
"Aib?" Wajah Rima kebingungan.
"Iya, kamu mau jadi bahan tertawaan?"
Rima pun menggeleng cepat.
"Makanya jangan aneh-aneh!"
"Waaaaaaa!" Teriak Rima dengan kencang.
Nayla panik saat mendengar suara Rima dan ingin berlari menuju tenda.
"Rima kenapa?" Reyna dan Jessica pun bertanya dalam waktu bersamaan.
"Biarkan saja, lihat itu! Tendanya bergoyang!" Devan menunjukkan tenda yang dimasuki Rima dan Aditya.
"Abang kok tendanya goyang?" Tanya Reyna.
"Karena ada gempa lokal!" Jawab Nanda asal.
Glek! Semuanya mendadak meneguk saliva memikirkan hal yang sama.
"Mas, apa mereka sedang main obok-obok?" Nayla bertanya dengan keringat dingin.
"Sepertinya," jawab Devan yang terus melihat tenda bergoyang.
"Bertengkar mulu ya mereka, tapi obok-obok juga jalan terus," Jessica pun menegang merasa horor.
Sedangkan Rima tengah memukuli Aditya karena barusan tanpa sengaja Aditya menginjak tangannya.
__ADS_1