Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Hanya ada rasa penyesalan..


__ADS_3

Baru saja Devan meninggalkan Nayla bersama Reyna,, tapi kini Devan datang kembali kepada Nayla.


Rasa bersalah Devan pada Nayla tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata,, semua kata-kata kasar yang diucapkan Devan untuk Nayla meninggalkan penyesalan yang luar biasa,, sangat dalam dan sangat menyakitkan untuk Devan.


Bahkan saat ini Devan benar-benar sangat takut jika Nayla tidak bisa memaafkan dirinya.


Langkah kaki Devan cepat-cepat masuk ke dalam rumah,, Devan tidak sabar untuk menemui Nayla kembali.


Dengan cepat Devan membuka pintu kamar lalu melihat Nayla masih terlelap akibat obat yang baru saja disuntikkan pada Nayla sebelumnya.


Reyna melihat pintu yang baru saja terbuka dan Reyna cukup terkejut begitu melihat Devan,, Devan baru saja berpamitan tapi kini malah melihat Devan datang lagi.


"Kamu boleh istirahat,," ucap Devan pada Reyna.


Reyna pun mengangguk dan tidak banyak tanya,, Reyna segera berjalan ke luar kamar lalu pergi ke kamar satunya yang tidak jauh dari kamar Nayla.


Sedangkan Devan kembali menutup pintu kamar dengan sangat rapat,, Devan sangat menyesal telah menghina Nayla dengan sangat kejam.


Entah mengapa kini dirinya menjadi manusia yang tidak terkendali apabila melihat Nayla dekat dengan pria manapun,, padahal apa yang dipikirkannya belum tentu itulah yang terjadi,, tapi Devan tidak bisa mengendalikan dirinya,, Devan pasti akan gelap mata.


Malam ini Devan benar-benar tidak pulang,, Devan memutuskan untuk berada di samping Nayla demi bisa membuat hubungan nya dan Nayla menjadi baik-baik lagi. Devan sangat tau Nayla pasti marah besar padanya.


Devan melihat pelupuk mata Nayla bergerak yang itu berarti sebentar lagi Nayla akan sadar.


Jam dinding menunjukkan pukul 22:00,, Devan tau Nayla pasti saat ini sangat lapar.


Setelah beberapa jam mata itu tertutup karena obat yang diberikan olehnya, kini barulah mata itu terbuka lagi.


"Ssstttt,," Nayla tampak kembali merintih merasakan sakit yang tiada henti dirasakannya itu.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Devan penuh perhatian tidak seperti sebelumnya. Terlihat jelas kekhawatiran dan juga kelembutan dalam pertanyaan itu.


"Yah seperti yang kamu lihat aku sangat baik-baik saja bahkan aku bisa berlari juga,," ucap Nayla dengan kemarahan.


Dalam hati Nayla sangat membenci Devan.


"Dasar orang gila sudah tau bagaimana kondisi ku masih bertanya lagi padaku,," ucap Nayla lagi.

__ADS_1


Nayla sebenarnya bukanlah wanita yang kasar tapi Devan telah membuat nya jadi seperti ini.


Perlakuan Devan padanya membuat nya menjadi wanita yang penuh kebencian dan juga pembangkang.


"Ayo minum obat ini," ucap Devan yang tidak lagi menyuntikkan obat pada Nayla,, tapi Devan memberikan obat pereda rasa sakit pada Nayla.


Nayla saat ini menatap wajah Devan dengan penuh kebencian yang tidak bisa disembunyikan sedikit pun,, ada apa dengan suami gilanya ini,, tiba-tiba dia berubah menjadi malaikat yang sangat baik hati, pikir Nayla.


"Ayo telan obat ini,," ucap Devan sambil memberikan segelas air putih untuk Nayla yang sudah tersedia di atas meja.


Nayla mengambil gelas itu lalu membuang nya dengan sekuat tenaga hingga banyak pecahan beling yang berserakan di atas lantai.


Devan hanya menatap gelas malang itu yang sudah pecah di atas lantai karena Nayla membuang nya.


Devan hanya memilih diam dan juga bersabar,, memilih mengambil air yang baru di dapur lalu kembali lagi ke kamar Nayla.


"Ayo minum obat ini,," ucap Devan lagi.


Nayla tidak perduli sama sekali,, lagian Nayla pikir untuk apa meminum obat itu.


"Nayla jangan menguji kesabaran ku lagi," ucap Devan dengan pelan namun terdapat penekanan di ucapan itu.


"Siapa juga yang mau menguji kesabaran mu,, kamu itu tidak waras,, pergi dari sini,, pergi dari hadapan ku," usir Nayla.


Devan tampak tidak perduli sama sekali dengan pengusiran Nayla pada dirinya,, kali ini Devan benar-benar mengaku salah dan sangat ingin memperbaiki hubungannya dengan Nayla seperti sebelum-sebelumnya.


"Setelah ini aku akan membuatkan kamu makanan,, sudah berhari-hari kamu tidak makan hanya cairan infus saja yang masuk,," bujuk Devan lagi pada Nayla.


"Hah, sejak kapan kamu perduli padaku? apa kamu tidak waras?" ucap Nayla sambil tersenyum miring melihat Devan.


Nayla tidak tertarik sama sekali dengan yang diucapkan Devan,, hati yang sudah sakit sangat sulit untuk terobati.


Devan duduk di atas ranjang dengan segelas air putih dan juga ada beberapa butir obat yang dipegangnya.


Tidak ada kemarahan sedikit pun dari Devan yang ada hanya penyesalan semata yang tidak dapat diungkapkan, mendengar penjelasan dari Rian sungguh membuat Devan tersadar dari kemarahan besarnya.


"Nayla,, aku mohon,," ucap Devan dengan nada pelan dan juga membujuk.

__ADS_1


"Apa kamu sadar baru beberapa jam kita habis bertengkar dan juga kamu mengucapkan kata kasar padaku bahkan menghina ku juga,, sekarang kamu malah memasang ekspresi wajah melas seperti ini dan juga lembut begini,, apa yang terjadi padamu Tuan Devan?" ucap Nayla.


Nayla benar-benar bingung dengan suami sialannya ini yang sangat tidak jelas, bukankah baru saja Devan mencaci maki dirinya lalu sekarang?


Aneh tapi juga nyata,, sikap Devan sungguh membingungkan.


"Nayla ayo minum ini dulu,, aku akan merawat mu sampai kamu sembuh,," bujuk Devan lagi tidak menyerah sedikit pun.


Nayla kembali meremas perutnya,, rasa yang sangat sakit itu kembali datang lagi.


"Tuan Devan aku benar-benar tidak kuat,, perutku sangat sakit,," ucap Nayla sambil meremas perutnya.


Devan tidak akan mungkin membiarkan janin itu tiada,,, Nayla harus tetap mengandung dan melahirkan. Hanya janin itu pengikat mereka.


Devan benar-benar tidak siap kehilangan Nayla,, meskipun bibirnya tidak pernah mengatakan itu secara langsung tapi hatinya mengakui itu,, Devan tidak ingin kehilangan Nayla.


Rasa bersalah Devan pada Nayla juga sangat besar,, hingga Devan akan mencoba segala cara untuk menebus kesalahannya itu.


Jika janin itu tiada maka Nayla tidak akan pernah memaafkan dirinya,, Devan juga pasti akan menganggap dirinya adalah manusia paling jahat di dunia ini,, di tambah lagi dirinya akan kehilangan Nayla.


"Ayo Nayla cepat minum obat ini," bujuk Devan dengan rasa takut luar biasa.


"Nggak,, aku nggak mau," tolak Nayla cepat.


"Nayla," ucap Devan.


"Bukankah dokter sudah menyarankan agar janin ini di angkat, aku benar-benar tidak sanggup lagi," ucap Nayla dengan merasakan sakit yang luar biasa.


Nayla tampak meremas selimut,, rasa sakit kini sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya selama beberapa hari ini.


"Nayla cepat buka mulut mu,," ucap Devan.


Tidak ada cara lain selain Devan memaksa Nayla membuka mulut lalu menelan obat itu,, meskipun sedikit memaksa tapi Devan tidak ada pilihan lain.


Setelah meminum obat itu,, tubuh Nayla mendadak kejang-kejang dengan wajah yang sangat pucat.


"Nayla!!" Devan panik dan takut setengah mati melihat Nayla,, padahal Devan seorang dokter yang sudah biasa melihat orang yang kejang-kejang tapi melihat Nayla seperti ini membuat nya kalang kabut,, mengapa reaksi tubuh Nayla sangat aneh setelah meminum obat itu.

__ADS_1


__ADS_2