
Sekalipun Ana berulang kali meminta Nayla dan Felix untuk menginap di kediamannya walaupun malam ini saja tapi Nayla menolak. Nayla memilih pulang sekalipun sudah malam, merasa malu jika menginap di sana mengingat dirinya adalah mantan istri dari Devan. Nayla tidak ingin memanfaatkan keadaan dirinya yang memiliki seorang anak dari Devan, tentunya memiliki rasa malu juga. Sampai akhirnya pulang ke rumah diantar oleh seorang sopir keluarga Devan. Sampai di rumah Nayla segera turun dari dalam mobil dengan menggendong Felix yang sudah terlelap di gendongannya. Hari ini bocah itu terlalu asik bermain bersama dengan keluarga sang ayah hingga membuatnya begitu kelelahan.
"Kamu jam segini baru pulang?" tanya Reyna yang membukakan pintu untuk Nayla.
"Tadi Felix asik banget main sama sepupunya, Mama Ana dan Papa juga," jawab Nayla.
Nayla segera meletakkan Felix di atas ranjang dengan perlahan, agar balita itu bisa tidur dengan nyaman di ranjang. Reyna ikut masuk ke kamar Nayla melihat wajah balita itu yang sudah terlelap.
"Aku kesal banget Reyna," ucap Nayla yang menarik Reyna keluar dari kamarnya agar suaranya tidak membuat Felix terbangun.
Keduanya duduk di kursi meja makan terletak tepat di depan kamar Nayla.
"Masa iya aku jadi asisten Dokter malah lebih ke asisten rumah tangga," keluh Nayla.
"Asisten rumah tangga?" ucap Reyna.
"Iya aku itu udah kerja sama ayahnya Felix, jadi asisten Dokter tahunya aku disuruh masak, bikin kopi dan... Ah," ucap Nayla yang mendesus sambil memijat kepalanya mengingat hari ini Devan terus mengerjai dirinya.
Sesaat kemudian Nayla melihat Reyna yang menertawakan dirinya.
"Kok ketawa sih?" tanya Nayla.
"Kenapa nggak rujuk aja sekalian?" ucap Reyna.
"Apa hubungannya?" tanya Nayla.
"Bego banget sih!!! dia itu pengen dekat dengan kamu," ucap Reyna.
"Dia tidak ngomong begitu cuma bilang demi anaknya. Entar kalau balik dia gampang nyakitin hati dengan alasan rujuk karena anak," ucap Nayla lalu segera meneguk air mineral, seakan tidak peduli dengan keinginan Devan yang ingin rujuk lagi dengan dirinya, wanita mana yang tidak akan trauma, kembali pada pria yang pernah membuatnya terluka begitu dalam.
"Emang kalau dia ngomong nggak karena anak,, kamu mau?" tanya Reyna.
"Nggak tau juga sih, tau ah. Biarin aja dulu lagian aku masih takut," ucap Nayla.
Reyna mengangguk mengerti tahu akan trauma yang dialami oleh Nayla. Sesaat kemudian sebuah pesan masuk di ponselnya dengan santai Nayla membuka pesan itu.
( Udah nyampe? )
Nayla mengabaikan pesan tersebut lalu meletakkan kembali ponsel itu di meja, namun sesaat kemudian sebuah pesan kembali masuk.
( I love you )
Nayla membalikkan layar ponselnya setelah membaca pesan kedua dari Devan.
"Caelah,, kayaknya jadi ABG lagi nih," goda Reyna.
Nayla memilih bangun dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.
"Dipikirkan dulu Nay,, karena dulu itu beda dengan sekarang," ucap Reyna sekalipun Nayla sudah masuk ke dalam kamar, lagi pula suaranya pasti sampai ke dalam kamar Nayla.
##############
Pagi ini burung berkicau dengan riangnya sekalipun itu suara burung tetangga yang tengah dimainkan oleh sang majikan. Sesekali disemprotkan air saja tapi cukup membuat basah dan melepaskan dahaga, dia adalah Pak Tarji, rumahnya berseberangan dengan rumah kontrakan Nayla.
"Pagi suster," sapa Pak Tarji yang memakai sarung sambil memainkan burungnya yang berada di dalam sangkar, tak lupa senyum merekah diberikan kepada Nayla yang tengah menyapu halaman.
__ADS_1
Nayla tersenyum membalas sapaan Pak Tarji, hingga tak berapa lama seorang wanita dengan berdaster sampai lutut, mulutnya mengunyah sirih dengan bibir merah keluar dari dalam rumah. Dia adalah istri pertama Pak Tarji langsung menjewer telinga suaminya itu.
"Sudah punya tiga istri masih godain janda kamu yah," ucap istri pertama Pak Tarji.
Reyna dan Nayla tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Pak Tarji yang mendadak kecut karena ditarik paksa masuk ke dalam rumah oleh istrinya.
"Dasar tua tua keladi," ucap Reyna lalu segera menuju bagian samping rumah, baru kemarin hari dia menanam sebuah anggrek, namun sayup-sayup terdengar suara ******* manja, rumah yang berjarak dua meter saja dari rumah tetangga membuatnya bisa mendengar dengan jelas. Belum lagi posisi kamarnya tepat berada di sana, rumah kontrakan model yang sama pula dengan jendela kamar sedikit terbuka.
"Sungguh kasihan!!!" ucap Reyna yang tidak kuasa menahan kesal mendengar jeritan seorang istri yang tengah bermain misterius dari arah rumah tetangga.
"Ya ampun jiwa jomblo ku seketika meronta-ronta,," ucap Reyna yang benar-benar tidak mengerti ada apa dengan pagi ini, Pak Tarji sudah memiliki istri tiga sedangkan tetangga barunya adalah pengantin baru.
Segera Reyna pergi dari sana, memilih kembali masuk tanpa menyiram tanamannya terlebih dahulu.
"Kok nggak disiram Reyna?" tanya Nayla.
"Kamu saja yang siram!!!" ucap Reyna yang membuat Nayla bingung dengan sahabatnya tersebut, tapi tidak berselang lama setelah selesai menyapu halaman segera dia menyiram tanaman milik Reyna.
"Aduhh...lagi Pa,, nggak kuat, iya begitu!!!"
Begitulah suara yang didengar oleh Nayla, awalnya dirinya bingung dan diam di tempatnya. Sesaat kemudian dirinya juga berlari masuk ke dalam rumah menyusul Reyna.
"Reyna, kamu dengar sesuatu nggak barusan?" tanya Nayla.
"Dengar,, makanya aku masuk, dari semalam tetangga baru itu terus saja berisik,, nggak capek apa ya?" ucap Reyna.
"Namanya masih baru,, masih candu gitu," jawab Nayla.
"Ya ampun jiwa jomblo ku meronta-ronta, apa mereka tidak mengerti tetangganya jomblo dan janda," ucap Reyna.
"Mau lah," jawab Reyna.
"Jadi istri keempat Pak Tarji," ucap Nayla.
"Kurang ajar!!!" ucap Reyna sambil mengetuk kepala Nayla dengan geram.
"Nggak dia juga kali ini Nay, burung perkututnya sudah loyo pasti," ucap Reyna sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Otak ngeres aja!!!" ucap Nayla.
"Ahahahah,," keduanya tertawa terbahak-bahak,, merasa pagi ini cukup membuat keduanya terhibur.
Tidak lama berselang terdengar suara ketukan pintu.
"Kamu aja yang buka pintu, aku mau siap-siap dulu, hari ini aku dinas," ucap Reyna lalu segera masuk ke dalam kamar.
Nayla pun bergegas menuju pintu dan membukanya. Setelah pintu terbuka ternyata Devan di sana, kemeja merah maroon berpadu celana hitam melekat di tubuhnya. Tubuh jangkung dengan senyuman menawan berdiri di depan pintu tanpa menggunakan kursi roda seperti kemarin hari.
"Apa kabar?" tanya Devan dengan suara serak dan tertahan terdengar seksi ditelinga siapa saja.
Nayla pun tersadar dari lamunannya dan mengangguk dengan perlahan sambil bingung menatap kaki Devan yang sudah bisa berdiri dengan tegak.
"Mas?" ucap Nayla sambil menunjuk kaki Devan.
"Iya sudah lebih baik setelah dirawat sama Bundanya anak Mas," jawab Devan.
__ADS_1
Oh. ada apa lagi dengan Dokter gila di hadapannya ini? sungguh Nayla tidak mengerti. Nayla tahu Devan sedang bercanda, tapi hanya pada orang-orang terdekatnya saja tapi kenapa kini pada dirinya juga begitu.
"Kamu mikirin apa? Mas nggak dipersilahkan masuk?" tanya Devan.
"Nggak!!! di sini aja duduk,, aku janda!!!" ucap Nayla.
"Mas juga duda!!! gimana kalau kita nikah?" tawar Devan sambil menggoda Nayla.
"Ogah!!!" ucap Nayla lalu segera masuk sedangkan Devan duduk di kursi kayu yang ada di teras rumah, setelah beberapa lama menunggu Nayla kembali muncul dengan seragam perawatnya.
"Lama sekali kapan atasan menunggu bawahan?" ucap Devan sekalipun demikian dia tidak pernah mempermasalahkannya.
"Siapa suruh Mas datang menjemput bawahan?" ucap Nayla yang juga tak mau kalah, kini keduanya sering berdebat tanpa alasan yang jelas.
Lihat saja kini keduanya berjalan menuju mobil bahkan Devan yang membukakan pintu mobil untuk Nayla.
Sampai di rumah sakit keduanya berjalan beriringan, jika beberapa waktu yang lalu Nayla adalah asisten Dokter Alex kini berubah dia menjadi asisten Dokter Devan sekarang. Entah pantas disebut asisten atau tidak, sebab pekerjaan Nayla hanya memijat Devan sesekali diminta untuk membuatkan kopi untuknya.
"Mas sebenarnya kerjaan ku itu apa sih?" tanya Nayla sambil berdiri di depan Devan yang sedang duduk di kursinya, sedangkan ada meja yang menjadi pemisah keduanya hingga menciptakan jarak.
"Memangnya kenapa?" tanya Devan yang merasa tidak memiliki masalah, bahkan masih bertanya tanpa ambil pusing pada kemarahan Nayla.
"Mas aku tuh asisten Dokter kok malah cuma diminta buat kopi sama mijitin doang?" tanya Nayla.
"Jangan banyak protes kamu hanya bawahan!!!" ucap Devan lalu berdiri dari duduknya dan memeluk Nayla dari belakang.
"Mas apa sih!!!" ucap Nayla menjauh dan mendorong Devan.
Devan kembali mendekati Nayla dan melakukan hal yang sama.
"Mas kita ini udah cerai!!!" ucap Nayla.
"Kita kan pacaran!!!" ucap Devan sambil menelusup kan wajahnya di tengkuk Nayla, menghirup aroma tubuh Nayla dengan sebanyak-banyaknya.
"Mas lepasin!!!" ucap Nayla.
"Mas kangen banget sayang, serius!!!" ucap Devan.
Ya ampun situasi ini membuat tubuh Nayla menegang seketika, benarkah Devan sudah mencintainya dengan sepenuh hati tanpa ada wanita lain di hatinya. Entah mengapa hati Nayla tergerak menimbang keinginan Devan untuk kembali bersama.
"Masih lepas!!! kalau ada yang tiba-tiba muncul kan nggak enak," ucap Nayla.
"Nggak akan ada yang berani masuk, kecuali sudah bosan bekerja di sini," ucap Devan.
"Mas jangan begini," ucap Nayla yang semakin risih merasa ada benda keras yang menyentuh bagian belakang tubuhnya,, tahu itu benda apa yang membuat benar-benar tidak nyaman.
"Sebentar saja!!!" ucap Devan yang semakin menekan miliknya dengan begitu kuat.
"Mas ini sudah pelecehan," ucap Nayla.
"Kalau gitu ayo kita menikah. Mas butuh kamu," ucap Devan sambil membalikkan tubuh Nayla agar menghadap pada dirinya.
Tatapan matanya terlihat begitu teduh, menatap bibir indah Nayla.
"Mas kalau mau rujuk bicara yang bagus gitu!!! buktiin kalau Mas itu serius,, jangan begini!!!" ucap Nayla.
__ADS_1
"Mas juga buktiin!!! tapi Mas nggak bisa mengontrol diri kalau sudah berdekatan dengan kamu," ucap Devan.