Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tubuh proporsional Devan.


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan pemandangan yang begitu asri, menyejukkan mata dan terasa lebih berbeda.


Suasana yang nyaman dan tentram tentunya sangat mempengaruhi kesehatan pikiran, sejenak menepikan banyaknya pekerjaan di kota.


Menikmati liburan sederhana. Namun, penuh kesan yang berbeda.


"Selamat pagi sayang?" Devan mengecup kening Nayla saat terbangun dari tidurnya. Melihat istrinya tengah mengambil ponselnya dibawah bantal.


Nayla pun tersenyum melihat Devan yang sudah bangun tidur.


"Aku, bikin Mas kebangun ya?"


Devan tersenyum penuh cinta menatap istrinya yang begitu cantik, bulu mata lentik, rambut panjang yang terurai indah.


Walaupun sebenarnya ranjang dengan kasur yang terbilang cukup keras tetapi tidak ada keluh yang terlontar dari bibir Devan.


Dan mungkin sebenarnya Devan merasa kamar yang mereka tempati jauh dari kata bagus, tetapi tetap saja Devan menikmati tidurnya walaupun sedikit sulit memejamkan mata.


"Maaf ya Mas, di kampung memang begini. Aku udah biasa hidup begini, mungkin menurut Mas ini sulit. Tapi, kami sudah biasa," kata Nayla memperkenalkan kehidupan sehari-hari sebelum menikah dengan Devan.


Desa masa kecil penuh kesan, kenangan sederhana penuh keindahan.


Devan tersenyum, mulai bangkit dari tempat tidur. Beralih memeluk Nayla yang kini mulai membuka jendela. Tangan Devan melingkar di perut Nayla, sesekali tangannya mengusap perut rata istrinya penuh cinta.


Mata Devan menatap keluar, jendela sederhana yang terbuka lebar menampakkan hamparan sawah yang begitu luas di seberang jalan yang menjadi jarak.


"Kamu udah lama bangunnya?" seakan tidak memperdulikan seperti apa kehidupan sederhana Nayla, Devan memilih bertanya tentang masa kini.


Seperti apa pun istrinya sama sekali tidak menjadi beban bagi Devan, menurutnya tugasnya kini adalah membuat Nayla bahagia.


Hingga lupa pernah merasakan sengsara, baik karena dirinya maupun karena terlahir dari keluarga menengah ke bawah, sekaligus keluarga broken home.


Pahit, penuh perjuangan, kegetiran demi bisa tetap melanjutkan perjalanan hidup yang masih panjang. Sejuta semangat mampu menumbuhkan rasa percaya diri, hingga berhasil menyelesaikan pendidikannya.

__ADS_1


"Aku, udah masak nasi goreng kampung. Maklum bahan seadanya," Nayla berbalik dan melingkarkan tangannya di tengkuk Devan.


Tersenyum saat memandang wajah Devan murni apa adanya setelah bangun dari tidurnya.


"Nggak apa-apa, yang penting yang masakin kamu," Devan pun menggabungkan dahinya dan dahi Nayla.


Tersenyum penuh kehangatan, sebelah tangannya menyelipkan beberapa anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya.


"Badan nya pegel nggak? Maklum kasurnya kurang empuk, bahkan emang enggak empuk. Beda sama kasur Mas di kota," Nayla tersenyum melihat wajah Devan, sambil bergelayut manja pada leher Devan.


Mungkin ini akan menjadi pengalaman berkesan, penuh dengan tantangan. Sampai tidurpun merasa kurang nyaman.


"Kalau gitu kamu aja jadi kasur nya," seloroh Devan sambil menyentil hidung Nayla.


"Nggak mau! Mas, tega banget sih, sama istri sendiri begitu," Nayla pun mengerucutkan bibirnya dan berbalik memunggungi Devan.


Dengan melipat kedua tangannya di dada. Kembali melihat ke luar jendela yang terbuka lebar.


Devan merasa geli melihat tingkah laku istrinya yang manja, kadang dalam waktu bersamaan bisa berubah seketika.


Sejenak keduanya terdiam menikmati pagi yang indah, udara yang segar dan pelukan yang saling menghangatkan.


"Mas, masih betah di sini nggak?"


"Asal sama kamu. Mas, pasti betah." Nayla pun mengangguk dan melepaskan diri dari pelukan Devan.


"Belum gosok gigi."


"Masih wangi," Devan kembali memeluk Nayla, tidak perduli pada dirinya yang belum gosok gigi, dan mencuci wajah.


"Ayah!" Seru Felix dan Adnan bersamaan.


Devan pun mengeratkan giginya, kesal pada dua bocah yang masuk tidak pernah ijin dulu. Nayla pun melepaskan diri dari pelukan Devan, beralih menatap anak-anaknya.

__ADS_1


"Ada apa? Ayo sarapan dulu," titah Nayla.


"Ayah, ayo sarapan. Abis ini kita mau ke kali, kita mancing," seru Felix dengan antusias.


"Ke kali?" Devan sama sekali tidak tertarik pada hal-hal sedemikian rupa.


"Iya, Kakek juga ikut," Adnan pun menimpali.


"Bukannya Kakek masih sakit?" Malah Nayla bingung mengetahui Ayahnya juga ikut memancing.


"Kakek, bilang udah kuat," jelas Adnan lagi.


"Tidak, Kakek belum boleh pergi ke sungai. Bunda, akan bicara pada Kakek, sekarang kalian makan, Ayah juga," Nayla kembali menatap suaminya.


"Ayah cuci muka dan sarapan."


"Sarapan Bunda?" Seloroh Devan dengan menaik turunkan kedua alis matanya menggoda Nayla.


"Ayah! Maksudnya Bunda udah bikin sarapan. Nggak mungkinkan Bundanya yang dimakan!" Kesal Felix tidak ketulungan mendengar ucapan sang Ayah yang menurutnya sangat aneh.


Nayla pun tersenyum sambil memijat dahinya, memang jika sudah berkumpul bersama ada saja yang menjadi topik bahasan.


Bahkan seringkali anak dan suaminya berdebat hanya karena hal-hal yang terbilang aneh.


"Sudah, ayo makan," Nayla menuntun kedua anaknya untuk menuju dapur di mana sudah ada sarapan di atas meja makan.


Devan pun mengacak rambutnya, kemudian berjalan setelah istri dan anaknya.


Devan tercengang melihat toilet jongkok, sebenarnya tidak terlalu aneh. Hanya saja dirinya tidak terbiasa dengan toilet jongkok hingga sedikit kurang nyaman.


Meskipun demikian Devan tetap lakukan ritual paginya dengan baik, tidak ada satupun kalimat komentar yang keluar dari mulutnya.


Selesai mandi Devan pun keluar dari kamar mandi yang letaknya tepat berada di dapur, lupa membawa baju ganti karena sudah terbiasa tidak membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Hingga semua yang duduk di meja makan tercengang, tak terkecuali Santi yang sampai menjatuhkan piring di tangan nya karena melihat tubuh proporsional Devan.


__ADS_2