Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Pengganti!


__ADS_3

"Di luar banyak tamu, dan aku kembali merasakan malu. Aditya, kutukan apa yang Mama dapatkan sampai harus menanggung malu terus-menerus karena kau yang tidak menikah sampai sekarang?


Dada Arini terasa sakit, kepala mendadak pusing, sampai akhirnya jatuh pingsan.


Dengan cepat Aditya menahan tubuh Arini dan merebahkannya di atas sofa.


Setelah beberapa saat kemudian akhirnya Arini pun sadarkan diri, perlahan mendudukkan tubuhnya dengan tidak sabaran.


Matanya menatap ranjang pengantin yang sudah dihiasi bunga-bunga.


"Ma, seharusnya istirahat dulu," kata Aditya memberikan peringatan. Sayang, tidak diperdulikan sama sekali oleh Arini


"Jeng, Anda harus bertanggungjawab. Ini awalnya karena kamu," geram Arini pada Inggit.


Inggit pun tidak tahu harus mengatakan apa, kepalanya benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih.


Kini Inggit sendiri, tanpa ada suami sebab sudah meninggal dunia Putri sulungnya Rara masih berada di luar Negeri, sedangkan Jessica sudah pergi meninggalkan dirinya.


"Aditya, semua keluarga sudah menunggu di luar, apa kata mereka? Terutama keluarga Mama, kama tahu kan mulut mereka seperti apa?" Arini mengusap dada hingga beberapa kali, tidak mengerti seperti apa lagi.


"Kamu!" Aditya menunjuk Rima.


Rima melihat sekitarnya, namun tidak ada siapa-siapa.


"Saya, Dok?" Tanya Rima memastikan, sambil menunjuk dirinya sendiri.


Nayla, Devan, Arini, Inggit, semua beralih menatap Rima. Menantikan hal apa yang akan dikatakan oleh Aditya.


Aditya terdiam sejenak dan melihat MUA yang dari tadi menunggu di luar kamar.


"Kalian,"


"Iya, Pak," jawab seorang MUA.


"Berapa baju pengantin yang ada?" Tanya Aditya lagi.


"Dua Pak."


"Lihat wanita itu, Aditya kembali menunjuk Rima ke arah dalam.


"Dia yang akan menjadi pengantin wanita nya!" Tegas Aditya.


"APA?" Pekik Rima panik sambil menggelengkan kepalanya.


"Nggak, saya nggak mau ya Dok!" Tolak Rima dengan lantang

__ADS_1


"Kemari!" Aditya menarik Rima keluar dari kamar sejenak, membawanya pada lorong-lorong.


Rima sampai terhuyung-huyung karena tarikan pada tangannya begitu kuat sampai akhirnya Aditya melepaskan setelah memastikan tidak ada orang di sana yang dapat melihat mereka.


"Dok, saya tidak mau!" Belum juga Aditya berbicara Rima sudah kembali mengeluarkan kalimat penolakan.


"Pertama, pernikahan ku dan Jessica batal karena mu!" Papar Aditya.


"Apa?" Rima tidak henti-hentinya dalam keterkejutan terhadap tuduhan-tuduhan Aditya yang terbilang tidak memiliki dasar.


"Itu tidak ada hubungannya dengan saya Dok!"


"Ada!"


"Apa? Hubungannya apa?"


Kali ini saja Rima butuh penjelasan, tidak mungkin dirinya yang hanya tamu undangan mendadak menjadi mempelai wanita. Aneh dan lucu tentunya, dirinya juga tentu tidak mau menikah dengan lelaki yang tidak di cintai nya.


"Karena, kau yang menghasut Cahaya agar tidak menyetujui Jessica menikah,"


"Mana ada!" Jawab Rima tidak mau kalah.


"Tadi kau mengatakan bahwa Jessica akan menikah, anak itu bertanya apa itu pernikahan, dan kau menjelaskan. Setelah penjelasan mu itu semua mendadak rusak!


Rima sampai ternganga mendengar penjelasan Aditya.


"Maksud mu, kau mau meminta Nayla yang aku nikahi? Kau berani pada Devan?


Rima meneguk saliva sambil menggelengkan kepalanya dengan panik.


"Atau Dokter aja yang menikah dengan Tante Inggit," Usulan Rima memang sangat bagus, bahkan sampai detik ini pun tidak ada yang benar.


Ungkapan Rima barusan membuat muka Aditya memahan emosi.


"Jadi, gani Dok," Rima berusaha berdamai dengan sedikit menjelaskan.


"Tante Inggit janda dan sama-sama sendiri seperti Dokter," Rima tersenyum kikuk tidak mengerti juga dengan penjelasannya yang nyeleneh.


"Saya tidak meminta pendapat mu! Yang jelas kamu harus bertanggungjawab atas ucapan mu sendiri pada Cahaya, yang membuat pernikahan ku gagal! Kau mau membuat Mama ku mati karena serangan Jantung?" Tanya Aditya.


Rima menggeleng cepat.


"Tapi nggak harus saya juga yang jadi penggantinya, saya juga punya pacar," jelas Rima tanpa Ingin menyerah.


"Aku tidak perduli, jika terjadi sesuatu pada Mama ku, kau yang bertanggungjawab" Ancam Aditya.

__ADS_1


"Dok, nggak gitu jugal" Rima mengacak rambutnya tidak mengerti mengapa dunia sesulit ini, selama hidupnya ini adalah ujian paling berat menurutnya.


Aditya masih diam melihat wajah Rima penuh penolakan.


"Dok, saya punya Ibu, panya Bapak. Dok, saya orang miskin," kata Rima lagi berharap Aditya berubah pikiran. Mungkin setelah mengetahui kehidupannya yang miskin Aditya tidak akan mau dengan nya.


"Cepat kembali ke kamar dan pakai baju pengantin, atau karir mu aku hancurkan. Kamu mau akhirnya gila seperti Zaskia? Masih ingat Zaskia?" Aditya membulatkan matanya menatap Rima penuh kemarahan.


Glek!!!


Rima meneguk saliva sambil mengingat kembali Zaskia yang kehilangan karir karena kejahatan.


"Tapi, saya kan nggak sama jahatnya seperti dia Dok," wajah Rima benar- benar ketakutan, tidak ingin mengalami nasib sama seperti Zaskia.


"Sudahlah, simpan wajah melas mu itu. Aku tidak mau bernegosiasi!"


"Dok!"


Aditya diam dengan wajah dinginnya, membuat Rima bergidik ngeri.


"Dok, ini cuma formalitas 'kan? Karena, untuk menutupi malu saja 'kan?" Tanya Rima hati-hati


Aditya pun hanya diam tanpa bicara.


"Dok, saya nggak mungkin menikah tanpa sepengetahuan kedua orang tua saya," imbuh Rima dengan suara pelan.


Aditya menarik tangan Rima kembali menemui MUA.


"Cepat, rias wanita ini!" Titah Aditya.


"Nayla," Rima menangkup kedua tangannya berharap Nayla dapat menolongnya.


"Aditya" Mulut Nayla mendadak diam setelah Devan menariknya menuju tempat pesta dengan banyaknya para tamu undangan.


"Mas, itu......" Nayla menatap kebelakang sekalipun kakinya sedang menuruni anak tangga.


"Biarkan saja, ini demi menyelamatkan Tante Arini, jangan sampai dia jatuh sakit karena malu," bisik Devan.


Nayla pun mengangguk dengan berat hati, walaupun dirinya masih merasa bahwa tidak selayaknya Rima ikut terseret dalam hal ini.


"Mana calon pengantinya? Apa kali ini juga anak mu itu tidak menikah? Aku curiga dari dulu kalau putra mu itu tidak normal," ujar salah seorang wanita, sepupu dari Arini sendiri.


Pertanyaan wanita itu sampai di telinga Nayla dan Devan


"Dengar!" Bisik Devan lagi seakan membenarkan apa yang barusan di ucapkan nya.

__ADS_1


Arini masih berdiri di sudut, tidak banyak bicara dengan perasaan was-was.


__ADS_2