Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Salah paham!


__ADS_3

Sampai di rumah Reyna pun di baringkan di atas ranjang, sesaat kemudian kelopak matanya bergerak dan melihat sekitarnya, mengingat kejadian yang baru dialami segera Reyna bangkit.


"Reyna kamu sadar," Puput pun segera memeluk putrinya.


Rasanya Puput begitu terpukul saat mendapatkan kabar tentang Reyna yang mengalami peristiwa mengerikan, sebagai seorang ibu pasti hatinya sangat hancur tanpa sisa.


"Ma, aku takut, Zaskia jahat Ma, dia bayar orang buat..." Reyna menangis dengan keras tak kuasa mengingat peristiwa mengerikan yang baru saja menimpanya.


Saat jatuh pingsan Reyna kemudian sadar dan dua pria itu berusaha untuk merobek pakaiannya, saat meronta-ronta dan ingin melepaskan diri dari dua preman itu kembali membenturkan kepalanya pada pohon hingga dirinya kembali jatuh pingsan dan benar-benar tak sadarkan diri lagi setelahnya.


"Ma, aku takut, aku udah..." menangis dengan sekencang-kencangnya mungkin adalah hal yang tepat, Reyna sangat trauma atas musibah tersebut.


"Nggak ada, dia nggak ngapa-ngapain kamu, Nanda yang bilang ke Mama," Puput berusaha untuk menenangkan Reyna, putrinya itu mungkin menganggap dirinya sudah kotor.


Mendengar nama Nanda disebutkan membuat Reyna semakin merasa takut, apa yang akan dikatakan pada Nanda saat bertemu.


Mungkinkah Nanda masih mau menerima dirinya yang sudah sisa? andai saja Reyna memberikan dirinya saat itu pada Nanda, mungkin saja semua tidak akan sesakit ini, tapi ini tampaknya adalah hukuman bagi istri yang selalu menolak suaminya sendiri.


"Ma, ayo kita pulang!" Reyna turun dari ranjang dan segera mengambil koper.


Menyadari kini dirinya masih berada di rumah Nanda, lebih baik pergi sebelum Nanda yang mengusirnya.


"Reyna, kamu mau apa?" Arni merebut paksa koper dari tangan Reyna.


"Kamu harus istirahat dulu, keadaan mu masih lemah," ucap Arni lagi.


Reyna pun duduk di lantai menangis tersedu-sedu, meratapi kebodohan andai dan andai, itulah kata dari sisa-sisa penyesalan yang ada.


"Reyna kamu bangun yah," Nayla mencoba untuk mendekati dan seketika Reyna pun memeluknya erat.


"Apa kamu jijik sama aku?" tanya Reyna dengan menangis tersedu-sedu.


"Kamu nggak apa-apa, mereka nggak ngapa-ngapain kamu, Nanda sendiri yang membawamu pulang dan memberitahu keadaanmu," jelas Nayla lagi.


"Nggak mereka udah buka baju aku, bahkan" Reyna berdiri di depan cermin.


"Lihat ini!" ada beberapa tanda merah di lehernya.


"Aku udah kotor, Nayla," Reyna meninju kaca dengan tangannya sendiri, dirinya jijik melihat bayangan diri pada cermin.


"Reyna apa yang kamu lakukan?" Puput benar-benar shock atas apa yang barusan dilakukan oleh anaknya.


Sampai akhirnya tangan Reyna mengeluarkan darah.


"Mas kasih obat penenang saja," pinta Nayla pada Devan.


Akhirnya Reyna kembali tertidur setelah Devan menyuntikkan obat bius.


"Tante, aku pamit yah, soalnya Felix rewel," pamit Nayla pada Puput dan Arni.

__ADS_1


"Hati-hati yah nak," kata Arni sedangkan Puput hanya mengangguk saja.


Satu jam kemudian Nanda pun tiba di rumah yang tersisa hanya Ayah mertuanya, Mama dan Mama mertuanya yang duduk di ruang televisi tepat berada di depan kamarnya.


"Nanda akhirnya kamu pulang juga, apa pelakunya sudah diproses?" Puput yang sudah tak sabar segera mencerca menantunya itu dengan pertanyaan.


"Ada seorang wanita otak dari semuanya Ma, dan wanita itu masih dalam pengejaran," jawab Nanda.


"Ya ampun! siapa wanita itu? apa dia punya dendam sama Reyna? tolong segera temukan siapa wanita itu," pinta Puput dengan berderai air mata.


"Reyna bagaimana Ma?" Nanda kini lebih memikirkan keadaan Reyna, seberapa besar pun kesalahan istrinya itu tak membuat Nanda lelah dalam memaafkan.


"Dia terus saja menangis, bahkan tadi sampai meninju kaca, sekarang dia tidur setelah Devan memberinya obat," ucap Arni.


Nanda pun segera masuk ke dalam kamar melihat Reyna yang tengah tertidur karena obat, wajah Reyna menyimpan keresahan tampaknya begitu trauma atas kejadian yang menimpanya, Nanda segera membersihkan diri, tubuhnya terlalu banyak lumpur saat melakukan pengejaran terhadap beberapa tersangka sebelumnya.


Reyna tersadar dan segera bangkit, matanya melihat Nanda yang keluar dari dalam kamar mandi.


"Kamu udah bangun?" tanya Nanda berbasa-basi.


Reyna mengangguk tidak tahu harus berbuat apa saat ini, dengan segera dirinya berlari memeluk kaki Nanda, menangis dengan tersedu-sedu meminta maaf atas dirinya yang sudah tidak lagi suci.


"Aku tahu aku salah, aku pasrah kalau kamu mau menceraikan aku, aku kotor Nanda, aku udah nolak kamu pada akhirnya aku kehilangan mahkota yang paling berharga dalam hidupku," lirih Reyna.


"Reyna bangun," Nanda mencoba untuk menarik Reyna berdiri.


"Nggak," seru Reyna menggeleng merasa ketakutan, lagi pula tak mungkin Nanda mau memaafkan istri seperti dirinya. Selalu menolak keinginan suaminya bahkan barusan pergi tanpa izin dari Nanda, sungguh ini adalah penyesalan yang begitu besar bagi Reyna.


Reyna menggeleng.


"Nggak aku ingat mereka..." Reyna menutup mulut tak mampu lagi menjelaskan.


"Aku jijik sama diri aku, kamu jijik sama aku kan?" seru Reyna.


"Nggak, nggak ada yang terjadi, aku nggak jijik sama kamu," ucap Nanda.


"Aku nggak percaya, kamu itu sebenarnya jijik tapi pura-pura tidak, aku tahu kamu lelaki yang baik dan nggak pantas dapat wanita seperti aku," ucap Reyna.


"Tidak ada yang terjadi Reyna percayalah padaku, aku tidak juga jijik padamu," Nanda memeluk Reyna dengan eratnya ingin membuktikan bahwa dirinya sama sekali tak jijik untuk memeluk istrinya itu.


"Kamu bohong," Reyna mendorong Nanda dan ingin menjauh.


"Reyna cukup!" seru Nanda.


"Kamu dengan aku mereka tidak melakukannya! aku tidak jijik padamu, bisa tidak kali ini saja kamu menurut padaku," ucap Nanda lagi.


Reyna terdiam sambil meneguk saliva, perlahan dia mengangguk, mungkin di sisa-sisa menjadi istri Nanda kali ini bisa menjadi sedikit baik.


"Dia tidak melakukannya," coba ulangi kata-kata ku itu, wajah marah Nanda terpancar jelas hingga membuat Reyna bergidik ngeri.

__ADS_1


"Dia tidak melakukannya," ucap Reyna.


"Jelas! sekarang tidur," Nanda pun menuntun Reyna untuk tidur di atas ranjang.


Sesekali mulut Reyna mengulangi kata-kata yang diperintahkan oleh Nanda.


"Dia tidak melakukannya,"


"Minum ini!" Nanda memberikan obat tidur dan akhirnya Reyna kembali terlelap.


Nanda terus memeluk Reyna dengan erat, takut nantinya akan bangun dan malah berteriak ketakutan lagi.


Tidak berselang lama, Arni pun masuk dan melihat Reyna tertidur dipelukan Nanda, dirinya kembali menutup pintu.


"Kami juga pamit Arni, besok kami akan kembali," pamit Puput melihat putrinya lebih tenang.


Pagi harinya Nanda terbangun, tapi tidak melihat Reyna di sampingnya, kemudian mata Nanda melihat selembar kertas yang ada di sofa.


Aku pulang ke rumah orang tuaku, aku tahu kamu udah jijik sama aku cuman kamu yang memang orang baik dan tetap tidak menunjukkan itu, aku makasih banget kamu selalu menghargai aku sebagai istri meskipun tidak dengan aku, kamu pantas dapat yang lebih baik aku tunggu surat cerai dari kamu.


Reyna.


Surat yang dituliskan oleh Reyna membuat Nanda menjadi panas, dirinya tidak pernah berpikir untuk menceraikan istrinya sama sekali, lantas mengapa bisa Reyna mengambil kesimpulan demikian, segera Nanda membuka lemari tidak tampak satupun baju Reyna yang tertinggal di sana, terdengar suara ketukan pintu dan ternyata Arni yang membawa makanan untuk Reyna.


"Reyna di mana?" tanya Arni saat tidak melihat menantunya itu.


"Reyna pulang ke rumah orang tuanya Ma, aku harus ke sana dia sepertinya salah paham mungkin juga karena terlalu sensitif akibat masalah kemarin," jawab Nanda.


"Ya sudah kamu susul dia," ucap Arni.


Setelah sampai di kediaman orang tua Reyna, Nanda segera turun dari sepeda motornya.


Puput pun menyambutnya.


"Nanda kamu datang, ayo masuk!" Puput mempersilahkan Nanda untuk masuk.


"Kamu langsung ke kamar saja, Reyna di kamar, kamu naik tangga dan belok kanan," ucap Puput.


"Aku permisi, Ma" ucap Nanda.


"Iya! tolong jangan bercerai, Mama mohon," pinta Puput dengan hati yang was-was.


"Semua akan baik-baik saja! dia hanya sedang salah paham, Ma" ucap Nanda.


Nanda pun segera menuju kamar Reyna sesuai dengan arahan mertuanya, kamar yang tidak terkunci membuat Nanda masuk dengan mudahnya.


Tak ada siapapun di dalam kamar, tak terlihat Reyna di dalam sana.


Sampai akhirnya Nanda melihat pintu kamar mandi yang terbuka, seketika dirinya memeriksa.

__ADS_1


Reyna!


__ADS_2