Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Kelakuan suami gilanya...


__ADS_3

"Dokter Devan mau bicara,, Nay," ucap Reyna sambil memberikan ponselnya pada Nayla.


"Ckk," Nayla dengan segera mendorong kembali ponsel Reyna,, Nayla sama sekali tidak ada rasa tertarik untuk bicara dengan Devan.


Nayla lebih memilih fokus ke makanannya,, Nayla makan dengan lahap dan berdoa semoga setelah makan ini dia tidak lagi muntah. Seharian dirinya muntah-muntah membuat tubuh Nayla benar-benar lemas bahkan sangat susah untuk bergerak.


"Nay," ucap Reyna sambil memberikan kembali ponselnya pada Nayla,, Reyna berharap Nayla mau berbicara dengan Devan meskipun hanya sebentar saja.


"Aku sedang makan Rey," ucap Nayla sambil menunjukkan piring yang masih berada di atas ranjang saat ini,, Nayla duduk bersila, menyendok nasi dengan tangan kanannya yang masih terpasang selang infus.


Sebenarnya kemarin selang infus Nayla berada di tangan kirinya, tapi siang tadi Reyna memindahkan di tangan kanannya karena tangan kiri Nayla terlihat mulai bengkak.


Sudah hampir satu minggu tangan Nayla dipasangkan selang infus karena keadaan Nayla yang kadang-kadang sangat mengkhawatirkan. Sehingga Devan belum mengizinkan Reyna untuk melepas selang infus ditangan Nayla.


"Nayla," ucap Reyna.


"Tangan aku lagi aku gunakan sekarang,, kamu nggak lihat?" ucap Nayla.


Nayla menunjukkan tangan kanannya yang sedang memegang sendok saat ini.


Reyna pun memutuskan untuk mengeraskan volume suara ponselnya, agar Nayla bisa bicara dengan jarak jauh sekali pun.


"Em," ucap Nayla dengan nada malas.


"Kamu lagi apa?" tanya Devan dari seberang sana.


Sekalipun suara Nayla hanya sebuah dengungan saja tapi Devan sudah sangat mengenali suara istri keduanya itu begitupun dengan saat ini.


"Lagi nyuci," jawab Nayla dengan asal.


Devan langsung tertawa kecil begitu mendengar ucapan Nayla, Devan tau betul istri keduanya itu masih marah besar padanya sampai saat ini.


"Bagaimana hari ini?" tanya Devan lagi.


"Tanya saja pada Reyna,, ngapain bertanya padaku," ucap Nayla malas.


Tidak ada jawaban yang baik sama sekali dari Nayla,, Nayla benar-benar tidak suka berbicara dengan Devan saat ini.


Sedangkan Devan mulai melihat ke sekelilingnya,, terlihat tidak ada orang disekelilingnya,, mendengar suara Nayla semakin membuat pisang keramat Devan bertambah keras.


"Kamu sudah minum susu malam ini?" tanya Devan lagi.


Devan tau pasti tidak ada yang berkeliaran malam-malam begini, seketika Devan memasukkan tangannya ke dalam celana boxer yang dipakainya,, dan mulai mengelus miliknya di bawah sana.


"Sudah," jawab Nayla seadanya, tanpa ada pertanyaan lain untuk berbasa-basi pada Devan,, padahal Devan tidak menjenguk dirinya sejak tadi.


Apa Nayla perduli? tentu tidak sama sekali.


"Sudah minum obat?" tanya Devan lagi.

__ADS_1


Devan menutup matanya dan menikmati betapa nikmatnya saat ini,, padahal hanya suara Nayla saja,, tapi Devan sudah dibuat tidak karuan dengan suara itu.


"Semuanya sudah,, tidak usah banyak tanya lagi,, aku mau tidur," ucap Nayla.


Nayla ingin segera mengakhiri pembicaraan nya dengan Devan, sungguh Nayla sangat bosan sekali jika bicara lama-lama dengan suami gila nya itu.


"Panggil Mas dulu," Devan ingin sekali mendengar itu dari Nayla,, Devan ingin mendengar suara lembut Nayla memanggil dirinya dengan panggilan Mas.


Devan membayangkan saat-saat sebelumnya,, betapa indahnya berlama-lama di dalam lubang surga milik Nayla yang sudah dirasakannya beberapa kali.


"Apa sih nggak jelas banget jadi orang," ucap Nayla.


Nayla tampak tidak mengerti sama sekali dengan apa yang terjadi pada Devan di seberang sana, padahal saat ini Devan sedang meram-melek membayangkan Nayla berada di bawah kungkungan nya saat ini.


"Panggil Mas, ayolah," ucap Devan lagi sambil menahan suaranya yang perlahan mulai berubah parau.


Reyna sudah mulai merasa ada yang tidak beres,, tapi tidak dengan Nayla saat ini,, sampai saat ini pun,, Nayla terlihat sangat cuek, tidak perduli sama sekali apalagi mau mengerti.


"Ada apa dengan kamu? kamu tidak waras lagi? kamu kumat lagi, belum minum obat supaya tidak kumat," ucap Nayla kesal.


"Nayla,, ayolah panggil mas sekara-ng," sedikit lagi akan keluar tapi Nayla tidak menuruti keinginan Devan.


"Dasar orang gila," seru Nayla.


Bip!


Sementara Reyna langsung meneguk salivanya kasar dan langsung merinding.


"Kenapa?" tanya Nayla sambil menatap keanehan pada ekspresi wajah Reyna saat ini.


"Hehe nggak kok," ucap Reyna sambil mengambil kembali ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur Nayla.


Drettt...


Ponsel Nayla berdering dan terlihat Devan yang menelepon dirinya.


"Apa lagi sih? bukannya tadi sudah berbicara,, aneh sekali pria ini," ucap Nayla kesal.


"Angkat saja Nayla selagi dia suami mu lebih baik kamu angkat,, kalau kalian sudah bercerai tidak usah angkat lagi panggilan telepon dari dia," ucap Reyna.


Reyna memberikan saran pada Nayla agar Nayla bisa segera beristirahat,, tapi jika ponselnya terus saja berdering,, tentunya Nayla tidak akan bisa tidur begitu mendengar suara ponselnya.


Dengan malas Nayla mengangkat panggilan telepon dari suami gilanya itu.


"Em,, ada apa lagi?" ucap Nayla.


"Video call," ucap Devan.


"Apa sih,, ada-ada saja mau mu," ucap Nayla yang langsung menolak keinginan Devan,,, Nayla tidak ingin melihat wajah Devan.

__ADS_1


"Cepat,, agar kamu bisa tidur," ucap Devan lagi.


"Iya," ucap Nayla.


Nayla dengan malas menerima panggilan video dari Devan,, Nayla sudah ingin beristirahat namun harus mengikuti keinginan suami gilanya itu dulu.


"Apa? ayo cepat bicara aku mau tidur," ucap Nayla dengan nada ketus.


"Buka kancing piyama mu," ucap Devan.


Glekk!!!


Reyna langsung terkejut dengan wajah yang sudah memerah.


Begitu pun Nayla yang kini melihat ekspresi wajah Reyna,, saat ini Reyna tengah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Jangan gila yah kamu," ucap Nayla yang benar-benar tidak menyangka dengan permintaan Devan.


Nayla kembali melihat layar ponsel nya dan melihat Devan disana.


"Nay,, aku tidur di kamar sebelah aja yah," ucap Reyna pelan dan Reyna segera keluar dari kamar Nayla.


Devan mendengar suara Reyna,, sekalipun Reyna mengecilkan volume suaranya tapi Devan tetap bisa mendengar nya.


"Apa Reyna berada di dalam kamar kita juga?" tanya Devan penasaran.


"Tadinya sih iya,, tapi sekarang sudah tidak,, aku juga mau tidur ini," ucap Nayla.


"Tunggu dulu,, ayo buka kancing piyama mu dulu,, cepat!" ucap Devan.


Devan belum mendapatkan apa yang diinginkannya. Tidak mungkin bisa tidur dalam keadaan tidak enak seperti ini.


"Jangan gila!!" ucap Nayla yang lagi-lagi menolak.


"Ayolah agar kamu juga bisa istirahat," ucap Devan lagi.


Nayla pun terpaksa menuruti keinginan suami gilanya itu,, Nayla segera membuka kancing piyama hingga menampilkan kedua gunung kembar yang selalu menjadi mainan kesukaan Devan itu.


"Panggil mas," ucap Devan lagi.


"Mas,, jangan bilang kalau kamu lagi...," Nayla mendadak langsung tersadar begitu memperhatikan baik-baik Devan,, bahwa tangan Devan saat ini sedang sibuk bermain dengan pisang keramatnya di bawah sana.


Sungguh Nayla benar-benar melongo dengan kelakuan Devan.


"Ayo panggil Mas lagi," ucap Devan.


"Em Mas," ucap Nayla.


"Akhirnya,," Devan benar-benar merasa sangat lega begitu bisa sampai pada puncak kenikmatan nya.

__ADS_1


__ADS_2