
Belum juga Devan mengembalikan Felix ke kamar Ana, tapi sudah terdengar suara pintu yang diketuk,, Ana kembali datang untuk melihat Felix,, jika cucunya tersebut sudah tidur maka dirinya akan membawa kembali ke kamarnya untuk malam ini tidur bersama.
Kamarnya pun tidak jauh dari kamar yang ditempati Devan dan Nayla, bahkan hanya bersebelahan saja, sebab dari awal tujuannya ikut menginap di hotel untuk menjaga Felix, Ana ingin memberikan waktu pada Nayla dan Devan merasakan indahnya malam pengantin yang tentunya menjadi dambaan setiap pasangan pengantin baru.
"Biar Felix tidur sama Mama malam ini," ana segera mengambil Felix dari gendongan Nayla, meskipun tahu Nayla cukup berat melepaskan Felix.
"Tapi Ma," Nayla merasa malu, bagaimana bisa orang tuanya menjaga anaknya sedangkan dirinya sibuk menikmati malam pengantin berdua saja dengan Devan, rasanya sangat tidak sopan! apalagi bisa menebak tujuan Ana adalah untuk memberikan waktu di malam ini bersama Devan.
"Sayang nggak apa-apa," Devan langsung memeluk Nayla dari belakang memohon agar Nayla menurut saja.
Nayla menjauh sambil melepaskan pelukan Devan,, tidak sopan rasanya Nayla adalah wanita yang tidak mau menunjukkan kemesraan di hadapan orang lain terutama mertuanya, tentu akan sangat memalukan pikirnya.
"Nggak apa-apa untuk malam ini, Mama juga kamarnya bersebelahan dengan kamar kalian sama Jeng Santi juga. Memang kamarnya dipesan demikian," jelas Ana.
"Mama jadi baby sitter dadakan malam ini, nggak apa-apa!" goda Ana.
"Ya ampun!" Nayla sampai mengusap wajahnya beberapa kali.
"Hai! pengantin baru," tiba-tiba saja Andini muncul.
Semuanya beralih menatap Andini jika sebelumnya Devan yang mengejek dirinya, kini akan dibalas dengan tunai oleh Andini. Kakak sulung Devan itu tidak akan membiarkan adiknya baik-baik saja, tentu akan lebih bahagia sedikit membuat keributan.
"Si gila muncul," ucap Devan.
"Kamu jangan kurang ajar! aku ini kakakmu! kalau aku gila kamu apa?" Andini berkacak pinggang, tidak mau kalah melawan Devan.
"Ckk," Devan melempar wajahnya ke arah lain,, seakan tidak peduli setiap ocehan Andini.
"Balikin Felix Ma," ucap Andini.
Wajah Devan terlihat panik, takut Ana malah memberikan Felix pada Nayla, artinya dirinya tidak bisa menguasai istrinya malam ini, tidak lagi kuat menunggu rasanya Devan memilih memohon pada Ana daripada memperpanjang puasanya. Sudah cukup lama puasa dan malam ini dia ingin berbuka dengan yang manis-manis, semanis bibir Nayla.
"Jangan dong Ma," ucap Devan.
"Makanya jangan kurang ajar," kesal Andini kemudian beralih menatap Nayla.
"Kakak punya sesuatu untukmu," Andini menunjukkan lingerie berwarna merah menyala di tangannya.
Wajah Nayla memucat melihatnya, mengapa bisa semua seakan semakin memperpanas suasana.
"Mama ke kamar dulu kalau begitu, hanya satu pesan Mama," ucap Ana.
Satu detik, dua detik, tiga detik Ana masih diam dengan Nayla menunggu apa yang akan dikatakan oleh Ana.
Empat detik...
"Pakai jangan lupa!" ucap Ana.
Entah sudah berapa kali Nayla meneguk saliva, tapi cukup membuat tenggorokan basah.
Nayla memegang lingerie di tangannya, bagaimana bisa keluarga Devan berubah menjadi begitu aneh, malam ini bahkan mereka semua menginap di hotel, sebab jika pulang pun sudah cukup malam dan sudah lelah, apalagi Ana sudah meminta pada manajer hotel untuk mempersiapkan kamar pengantin dan kamar untuk keluargamenginap, tentunya tidak ada yang keberatan sebab pemiliknya adalah suaminya sendiri.
Devan seketika menuntut pintu kamar, Andini tersentak bahkan daun pintu sampai membentur kepalanya.
"Kurang ajar!" ingin sekali Andini mengucek wajah Devan, rasanya tidak sopan adik bungsunya tersebut dalam memperlakukan dirinya sebagai seorang kakak sulung.
__ADS_1
Angga sudah lama menunggu, Andini pun memutuskan untuk menghampiri.
"Sayang sudahlah! ayo kita juga masuk kamar, ngapain pengantin basi itu diganggu, mending kita juga mengulangi masa-masa pengantin baru kita," tawar Angga sambil menarik turunkan kedua alis matanya.
Andini tersenyum manis mengangguk setuju,, sekalipun dia masih menggosok dahinya yang sakit, Angga langsung mengangkat tubuh Andini membawanya ke kamar membaringkan dengan perlahan dan menindihnya.
"Kamu masih tetap cantik," bisik Angga.
Andini pun tersenyum bahagia, suaminya masih saja romantis sekalipun sudah memiliki empat orang anak, seketika Angga mencium bibir Andini yang manis, Andini menutup mata menikmati sentuhan hangat Angga.
"Mama! Papa!" seru Rani tiba-tiba keluar dari kamar mandi.
"Sayang?" Devan tersadar.
"Mas," Andini mendorong Angga hingga turun dari atas tubuhnya, dengan refleks keduanya berdiri, Angga berusaha menenangkan diri sedangkan Andini mengancing kemejanya yang sempat dibuka Angga.
"Mama sama Papa kenapa?" Rani masih terlalu polos, sehingga bingung dengan gelagat aneh kedua orang tuanya.
"Nggak apa-apa,, Rani kok di sini?" tanya Andini.
"Aku pengen tidur sama Mama dan Papa," jawab Rani.
Rani naik ke atas ranjang, tidur di tengah-tengah ranjang dan meminta kedua orang tuanya untuk tidur ikut naik ke atas ranjang, Andini mengangguk sambil menatap Angga suaminya itu dalam tegangan tinggi tapi terpaksa harus tetap tenang.
"Ketawa saja enggak usah ditahan!" geram Angga.
"Ahahahaha," ketawa Andini akhirnya pecah,, tidak bisa ditahan.
"Mama kenapa?" tanya Rani.
"Mama gila, ayo tidur," ucap Angga.
"Mas aku mandi dulu,, badan aku lengket banget," Nayla hendak masuk ke dalam kamar mandi, namun sayangnya Devan menarik tangannya dan menghimpit Nayla pada dinding.
"Mas aku..." bibir Nayla dibungkam dengan ciuman manis yang didaratkan Devan di bibirnya hingga beberapa kali tubuh Nayla menegang seketika, merasakan tangan Devan bermain di belakangnya, sedetik kemudian tangan tersebut mengangkat tubuhnya.
"Nggak mandi juga kamu udah bikin panas," bisik Devan sambil berjalan ke arah ranjang.
Nayla melingkarkan tangannya ditengkuk Devan,, tidak menyangka Devan bisa berbisik mesra.
Karena dibandingkan sebelumnya Devan akan berbisik hal menyakitkan sebelum menyentuhnya.
"Tidak ada cinta! ini hanya kebutuhan istri yang dipenuhi suaminya, ini hanya karena aku ingin menafkahi batin mu! karena kamu istriku hanya sampai kita bercerai!" itulah bisikan yang membuat Nayla menangis dan menjerit merasa dirinya hanya benalu.
Tapi ini tampak berbeda, perlakuan Devan sangat lembut, menatap dengan penuh cinta hingga tidak merasa tubuh sudah tanpa sehelai benang pun,, walaupun hanya sebuah belaian tangan tapi cukup menghangatkan.
"Aku mencintaimu," bisik Devan di telinga Nayla,, menggigit kecil hingga merasakan nafas hangat.
Nayla menutup mata merasakan tangan Devan mulai menyusuri setiap lekuk tubuhnya,, membelai lembut wajahnya,, mengusap bibirnya dengan ibu jari seakan mendambakan.
Sesaat kemudian Devan mencium bibir tersebut perlahan ciuman berubah menjadi lebih menuntut,, menerobos masuk melilitkan lidah Nayla dan lidahnya untuk saling melilitkan.
Lama keduanya hanyut dalam permainan lidah, Devan pun mulai turun mencium Nayla,, menambahkan tanda merah untuk yang kesekian kali.
Nayla menggigit bibir bagian bawahnya, menahan ******* manja saat Devan bermain di dua benda kenyal miliknya seperti bayi, dengan tangan yang juga bereaksi di kedua benda kenyal miliknya.
__ADS_1
Rasanya malu sekali bila desahannya terdengar di telinganya Devan. Setelah puas bermain dengan benda favoritnya tersebut, Devan semakin turun ke arah pusar,, seakan semakin panas dan tidak kuasa untuk menahan desahannya tangan Nayla mencengkram selimut dengan sekuat tenaga.
"Mas" pekik Nayla begitu menyadari Devan sudah membuatnya tanpa sehelai benang pun,, entah kapan? dia tidak menyadari sama sekali,, Devan terkekeh melihat wajah Nayla, seketika Nayla menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Mas sudah sering memasuki mu,, ini bukan pertama kali sayang," ucap Devan.
"Malu tahu Mas,, nggak usah dijelasin juga kan bisa!" Nayla pun tidak tahu mengapa saat hamil dulu dirinya tidak merasa malu dan kini malah seperti wanita perawan yang belum pernah dijamah, padahal Devan sudah puluhan kali menidurinya saat dulu menjadi istri Devan.
"Kenapa harus malu, kamu seperti masih perawan padahal sudah Mas perawanin dulu," ucap Devan.
"Mas," ucap Nayla.
"Sayang ayolah! Mas sudah tegangan tinggi," ucap Devan membuang sambil membuang selimut yang menutupi tubuh Nayla.
Menatap tubuh polos istrinya yang begitu seksi,, seketika bermain di lubang surga milik Nayla, dengan perlahan memasukkan lidahnya ke bawah ke dalam sana.
Nayla malah semakin tidak kuasa menahan desahannya,, tangannya begitu kuat menjambak rambut Devan.
Tanpa sadar dirinya menekan kepala Devan semakin jauh.
"Mas apa itu..." Nayla mendapatkan puncaknya untuk pertama kalinya,, Devan tersenyum puas melihat wajah Nayla, baru sampai di sana istrinya sudah basah.
Seketika Devan bangun dan membuka pakaiannya sendiri,, Nayla kembali menarik selimut untuk menutupi dirinya,, secepat mungkin tangan Devan menyingkirkan selimut tersebut melempar sejauh-jauhnya.
"Mas ngapain?" Nayla melihat Devan tanpa sehelai benang pun,, bahkan tangannya sedang memegang batang pisang keramatnya yang begitu besar.
"Sayang ayolah! kita sudah dewasa, ini kebutuhan suami istri bukan?" ucap Devan.
"Iya tapi..."
"Mas nggak suka main lembut, lagian Mas tahu kamu juga suka yang kasar, jangan lupa dulu pernah membuat Mas panas dingin," ucap Devan.
Nayla tidak ingin mengingat hal tersebut, dulu dirinya pernah berinisiatif menggoda Devan,, entah mengapa saat itu nafsunya menggebu-gebu mungkin karena hormon kehamilan.
"Ingatkan?" ucap Devan.
"Nggak!" bohong Nayla dengan wajah merah padam.
"Baiklah! ayo Mas ingatkan sayang," Devan menarik Nayla untuk duduk di lantai dan segera memasukkan miliknya.
"Mas," Nayla tersedak merasakan batang besar sampai di tenggorokannya.
"Sayang Mas suka, ayo lanjutkan," Devan menarik kepala Nayla dengan gerakan maju mundur hingga dirinya menatap bibir seksi istrinya.
Cara begini saja gairahnya semakin liar, Devan menunduk dan melepaskan sejenak batangnya dari mulut Nayla, menggigit bibir bawah Nayla dengan penuh cinta dan juga hasrat, sesaat kemudian Devan kembali berdiri dan memasukkan miliknya kembali.
"Uhuk...Uhuk..." Nayla tersedak.
Devan tertawa melihat kelucuan Nayla.
Wajah Nayla memucat tangannya berusaha menarik selimut kembali,, dengan kasar Devan mendorong Nayla hingga telungkup di atas ranjang,, seketika Devan ikut naik dan menciumi tengkuk bagian belakang Nayla.
"Mas....sstttt " tidak tahu lagi cara untuk menahan suaranya tanpa sadar rintihan kembali lolos dari bibirnya,, lupakan keinginan ingin mencari keberadaan selimut, yang ada membuat Devan semakin bergairah, Devan membalikkan tubuh Nayla dengan cepat dan mencium bibir Nayla kembali,, perlahan Nayla membalas, merasakan lidahnya yang dililit membuatnya ikut terbuai, Nayla ingin menjerit saat dia ajari Devan memasuki dirinya,, lagi lagi Nayla hanya mampu menggigit bibir Devan untuk menahan rintihan nikmatnya.
"Kamu manis sekali," ucap Devan.
__ADS_1
Puas memasukkan jarinya, Devan pun mulai membuka kedua kaki Nayla kemudian menggesek gesekan-gesekan batang pisang keramat miliknya pada lubang surga di depannya.
"Ah....Mas...ugh!!!!"