Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Sudah menggantikan posisi dirinya,,


__ADS_3

"Alex" Puput menghentikan langkah kaki Alex saat melewati Puput yang sedang duduk di sofa.


Merasa namanya dipanggil, Alex pun berbalik dan menatap Puput.


"Jessica di mana?" Puput bahagia sekali yakin jika rencananya berhasil.


Hanya saja pagi ini belum terlihat batang hidung menantunya tersebut, padahal hari sudah terang bahkan belum sarapan.


"Di kamar Ma masih tidur," jawab Alex.


"Kalau gitu kamu bawa saja sarapannya ke kamar, takutnya nanti dia masuk angin," tanpa mendengar jawaban dari Alex, Puput bergegas menuju dapur menata beberapa potong roti dan buah di atas nampan, tak lupa pula segelas susu hangat.


"Bawa ke kamar, Mama tidak mau ada penolakan," ucap Puput.


Sebenarnya sedang tak ingin melakukan apa-apa, tapi baiklah agar tidak membuat Puput banyak bertanya.


"Alex jangan lupa Mama pesan cucu," Puput tersenyum sambil melambaikan tangannya.


"Menantu Mama itu mandul," ucap Alex.


Alex pun membawanya menuju kamar tidak ingin berdebat dengan masalah tersebut.


Melihat mata Jessica masih terlelap, membuat Alex menyiram segelas susu hangat pada wajah Jessica.


Jessica terbangun seketika, melihat gelas kosong perlahan diletakkan Alex pada meja.


Ya Jessica tahu, Alex sudah membuatnya terkejut karena siraman air susu.


"Kenapa?" Alex bertanya dengan wajah dinginnya seakan menantang Jessica.


"Sakiti saja aku sampai kamu puas! aku akan diam di sini selama aku mampu menahannya, suatu hari aku akan pergi disaat hati sudah menyerah," ucap Jessica.


Segera Jessica turun dari ranjang dengan tubuh polosnya, berjalan melewati Alex dan akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.


Tak lupa suara benturan keras menggema tak berselang lama terdengar lagi suara gemericik air.


Alex menatap pintu tertutup rapat, sejenak dirinya terdiam, mengingat kata-kata Jessica barusan.


Kenapa dadanya terasa sesak saat mendengarnya, apakah dirinya sebentar takut kehilangan Jessica!


Entahlah yang dinginkannya sebenarnya sederhana, Jessica melupakan Devan untuk selamanya.


Seketika menepis pikiran gundahnya, mengapa harus takut kehilangan Jessica?


Masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik, Jessica bukan satu-satunya wanita!


Setelah selesai dengan ritual mandi paginya, dengan wajah datarnya melewati Alex, handuk putih masih melingkar di dada, percuma juga merasa malu karena di mata Alex dirinya hanyalah barang rongsokan yang tak berguna.


"apa kau sedang berusaha lagi untuk memancingku?" ucap Alex.


"Terserah kau saja! apa saja yang aku katakan kau tidak akan pernah bisa menghargai aku," jawab Jessica tanpa menatap Alex.


Jika kesalahan di masa lalu terus menghakiminya, bagaimana bisa dirinya menjadi lebih baik?


Sekalipun dalam hati kecil ingin membina rumah tangga bersama Alex selamanya, tampaknya ketulusan hati Jessica tak bisa membuat Alex yakin, hanya menunggu waktu saja!


##############


"Jessica itu leher kamu kenapa di plester?" tanya Reyna dan Jessica memegang bagian lehernya mengusap benda tersebut sambil menatap Reyna.


"Hah? biar aku tebak," ucap Reyna lagi sambil menggerakkan kedua alis matanya, yakin jika kakak iparnya tersebut sudah mencetak keponakan untuknya.


Jessica tersenyum kecut tanpa menjawab, dirinya kembali memotong sayuran.


Dalam hati sedang menimbang perasaan, hanya untuk membuktikan pada Alex bahwa dirinya tak mandul.


Jika masih saja Alex menyiksanya,, Jessica akan pergi dengan membawa kandungannya.


Tunggu sampai waktu itu tiba!


"Kamu bicara dong Kakak ipar, atau kamu sedang memikirkan masalah wortel yang kamu potong itu yah?" ucap Reyna lagi.

__ADS_1


Jessica pun menatap Reyna penuh tanya, dirinya masih bingung, aneh bukan sudah pernah dua kali menikah tapi tak mengerti maksud Reyna.


Mungkin karena adik iparnya tersebut sangat jail dan suka berbicara sembarangan.


"Maksud aku, ini harta wortel Kakak Alex," Reyna menunjuk wortel yang berada di tangan Jessica.


Seketika Jessica mengetuk kepala Reyna, otak adik iparnya itu mungkin sedikit tergeser.


"Ngawur kamu," ucap Jessica.


"Hehehe,"


Tak lama berselang Puput pun memasuki dapur dan melihat keberadaan Jessica di sana bersama dengan Reyna sedang memasak.


"Kalian masak apa?" tanya Puput.


"Masak makanan lah Ma," jawab Reyna asal.


"Ya ampun Reyna, kamu itu loh, punya mulut tapi asal jawab saja," ucap Puput.


"Mama udah lihat, kita lagi masak, eh malah banyak tanya," tak ada habisnya jika Puput dan Reyna berdebat, keduanya sama kuat dan tak ada yang mau mengalah.


Rasa rindu di hati Jessica semakin mendalam pada kedua orang tuanya, mungkin sebentar lagi dirinya bisa meminta izin pada Puput untuk bertandang ke rumah kedua orang tuanya, walaupun hanya sebentar.


"Di depan ada Nayla," Puput menunjukkan arah ruang keluarga.


Sebenarnya dirinya ingin bertanya pada Jessica perihal ucapan Alex, tapi dirinya pun masih ragu takut Jessica tersinggung.


Mungkin diam lebih baik, sekalipun ada rasa penasaran mendalam.


"Kok dia ke sini Ma? hari ini aku udah izin mau pergi sama Nanda" ada apa dengan sahabatnya tersebut, kini Nayla sudah menjadi majikannya, tentu akan sangat aneh mengunjunginya.


"Kenapa kalau aku di sini?" ucap Nayla.


"Ya ampun kamu ya," ucap Reyna terkejut.


Entah sejak kapan Nayla muncul, tapi suaranya membuat Reyna kesal.


Nayla tak peduli pada pertanyaan Reyna, dirinya beralih menatap Jessica.


"Kamu udah lama datangnya?" tanya Jessica berbasa-basi dengan senyuman drama.


"Barusan tadi, Mama masak dia minta aku nganterin sebagian buat tante Puput, buat kamu juga dan Mama kirim salam juga, leher kamu kenapa?" tanya Nayla.


"Caelah kagak paham amat sih," ucap Reyna sambil terus memotong wortel.


Nayla membulatkan mulutnya dan tersenyum manis, dia meyakini hubungan Jessica dan Alex cukup bahagia dan baik-baik saja.


"Aku ke kamar mandi bentar yah," Nayla langsung menuju toilet letaknya tak jauh dari dapur.


"Kenapa tuh anak?" tanya Reyna melihat dari kejauhan.


Setelah memuntahkan cairan, berlanjut berkumur dan mencuci wajahnya.


Melihat pantulan wajah pucat nya di depan cermin, sesaat kemudian Devan menyusul masuk dan melingkarkan tangannya di pinggang Nayla.


Huffftt hampir saja jantung Nayla copot, tapi tunggu kapan Devan datang ke kediaman Puput?


Bukankah sudah berangkat ke kantor terlebih dahulu sebelum dirinya menuju rumah Puput?


Nayla tidak mungkin salah, masih waras dan benar-benar yakin, dirinya bahkan mencium tangan Devan sebelum berangkat bekerja.


"Kenapa diam? nggak suka suamimu ada di sini?" cerca Devan dengan pertanyaan.


Nayla pun melepas tangan Devan dan menjauh, dirinya masih bingung dengan Devan.


"Mas bukannya tadi udah berangkat?" tanya Nayla.


"Sudah, tapi Mas pulang karena kangen kamu," Devan kembali memeluk Nayla dengan eratnya.


Sehari tak bertemu rasanya setahun, tapi masalahnya baru satu jam Devan berpamitan berangkat kerja.

__ADS_1


"Terus kok bisa di sini?" tanya Nayla.


"Kan tadi kamu pamit ke Mas, mau ke rumah Reyna," jawab Devan.


"Iya juga sih! tapi nggak usah peluk-peluk juga kan Mas," ucap Nayla.


Nayla melepaskan dirinya tapi Devan kembali memeluknya.


"Mas," Nayla mendesus merasa kesal pada Devan.


"Hehehe," Devan pun menjauh sambil menunjukkan kedua baris gigi rapinya.


Setelah berulang kali mencuci wajahnya, Nayla pun keluar dari kamar mandi.


"Mas nggak usah peluk-peluk," ucap Nayla.


"Kamu itu kenapa sekarang nggak suka dipeluk? masalahnya di mana coba?" ucap Devan.


"Bau badan Mas nggak enak," Nayla mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.


"Woi kalau mau mesra-mesraan jangan di rumah orang," omel Reyna.


"Lihatkan Mas, ada Reyna, malu," ucap Nayla.


Dengan terpaksa Devan pun menjauh, padahal masih betah berlama-lama memeluk Nayla.


"Tante, aku pamit pulang yah," ucap Nayla.


"Iya," Puput tersenyum melihat keromantisan Nayla dan Devan.


Andai saja Jessica dan Alex bisa semanis itu, tentu saja saat ini dirinya sudah menimang cucu.


Menimang cucu?


Apa itu mungkin? kembali mengingat omongan Alex pagi tadi.


"Sayang kamu temani Mas bekerja hari ini," pinta Devan.


"Kalian mau ke rumah sakit?" tanya Puput.


"Iya Tante," jawab Nayla.


"Jessica kamu sekalian ke rumah sakit dan bawa makanan ini buat Alex, kamu harus jagain dia menurut Mama asistennya itu terlalu berlebihan," Puput pun menyiapkan bekal makan siang dan memberikan pada Jessica.


"Tapi Ma..."


"Nayla, boleh yah, Jessica menumpang?" tanya Puput penuh harap.


Devan tentunya tidak ingin memberikan tumpangan pada Jessica, baginya perasaan istrinya adalah prioritas utama.


"Aku naik taksi saja Ma,," Jessica pun tidak akan mau menumpangi mobil Devan, dulu pernah merasakan belaian hangat tangan Devan dan kini hanya menjadi saksi saja.


"Nayla boleh yah?" tanya Puput lagi.


"Iya boleh Tante," terpaksa Nayla menjawab demikian karena tidak enak hati pada Puput.


Jika dulu Jessica duduk di samping Devan maka kini berbeda, Nayla duduk di samping Devan sedangkan Jessica duduk di jok belakang, ingin sebenarnya Nayla ikut duduk di belakang juga menemani Jessica, sayangnya Devan tidak mengizinkannya hingga akhirnya duduk di sebelah Devan.


Sebelah tangan Devan terus saja memegang tangan Nayla, sekalipun sedang mengemudi bahkan sesekali mencium tangan tersebut.


Ingin sekali Nayla menarik tangannya tapi Devan semakin memegangnya erat.


Jessica hanya bisa diam sambil menyaksikan kebahagiaan Devan, benar adanya Devan bisa bahagia tanpa dirinya.


Nayla kini sudah menggantikan posisi dirinya di hati Devan, bahkan mungkin tanpa sisa, setetes air mata Jessica jatuh begitu saja rasanya sangat menyesakkan dada.


"Mas" Nayla menarik tangannya dengan kuat hingga akhirnya Devan melepaskan, merasa tak enak pada Jessica sekalipun Nayla tidak melihat air mata Jessica sebab secepat mungkin diusapnya.


Dengan terpaksa Devan pun melepaskan tangan Nayla.


"Jessica kamu pinter memasak yah?" tanya Nayla memecahkan keheningan yang ada.

__ADS_1


"Nggak sepintar kamu, masih harus belajar," jawab Jessica.


Nayla pun mengangguk hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit.


__ADS_2