Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Prioritas utama!


__ADS_3

Sekalipun kini keduanya tengah melakukan video call, tapi tak serta bisa membuat kerinduan terobati.


"Sayang mana mukanya?" tanya Devan.


Devan tidak melihat wajah Nayla hingga bingung dan bertanya-tanya.


"Apa?" Nayla mengarahkan kamera padanya hingga Devan bisa melihatnya dengan jelas.


"Nah gitu dong, wajah kamu kok pucat banget?" tanya Devan.


Devan melihat dengan jelas pada layar ponselnya istrinya memang sangat cantik tanpa polesan make up sekalipun, akan tetapi kini terlihat lebih pucat.


"Apa kamu sakit?" tanya Devan.


"Mas kapan pulang?" tanya Nayla.


"Jawab dulu pertanyaan Mas," ucap Devan.


"Iya, dada aku sakit, ASI nya Nggak keluar udah beberapa hari ini Mas pergi sakit banget Mas," ucap Nayla.


Devan menarik nafas panjang sambil melihat wajah istrinya, Nayla menutup mata tak nyaman dengan keadaan saat ini hanya bisa melihat tanpa menyentuh.


"Aku istirahat dulu ya Mas," ucap Nayla.


Belum juga Devan memberikan izin malah panggilan sudah terputuskan oleh Nayla, sesaat kemudian ponselnya berdering kembali nama suaminya Devan lagi-lagi tampak di sana, Nayla menjauhkan ponselnya memilih berpindah berbaring di atas ranjang memilih tidak peduli pada panggilan telepon tersebut.


Tok... Tok... Tok...


Pintu terbuka Nayla berpikir mungkin Reyna yang datang untuk membawa Felix masuk, namun ternyata tidak.


"Nayla, Devan telepon Mama katanya mau ngomong sama kamu," Ana pun memberikan ponselnya pada Nayla.


Setelah puas menghubungi Nayla yang tak kunjung mendapatkan jawaban, Devan memilih menghubungi Ana.


"Ma, aku sedang sariawan," Nayla sedang tak ingin berbicara dengan Devan.


Dirinya hanya ingin Devan lekas pulang beberapa hari tidak bertemu membuatnya rindu berat.

__ADS_1


"Jangan begitu, ini cepat bicara," Ana memaksa Nayla untuk mengambil ponsel dari tangannya, di mana masih terhubung dengan Devan di seberang sana.


Dengan terpaksa Nayla mendekatkan pada telinga, matanya melihat Ana yang beranjak keluar tak lupa menutup pintu kamar.


"Em," jawab Nayla dengan sangat malas.


"Nayla, kenapa sekarang tidak sopan? kamu lupa cara menghormati suami?" geram Devan.


Nayla hanya diam sambil terus mendengarkan ocehan Devan, terserah mau berbicara apa dirinya mendengarkan saja.


"Baru ditinggal beberapa hari kamu sudah pandai rupanya, apa kamu juga lupa punya suami?" imbuh Devan.


Sampai di sini pun Nayla hanya diam dan mendengarkan saja entah apa yang kini tengah terjadi hingga tidak ada satu kata pun yang terlontar dari bibirnya.


"Jawab! jangan diam saja, setiap aku menghubungimu tak pernah ada jawaban sekali dijawab kamu hanya berbicara satu menit dan memutuskan panggilan sepihak, apa mau mu? jawab! jangan diam saja," ucap Devan.


Nayla tidak menjawab sama sekali, hanya saja Devan mendengar suara tangisan istrinya dalam hati bertanya-tanya apakah dirinya sudah sangat keterlaluan barusan?


Tetapi itupun terjadi karena menurutnya Nayla salah, sebab tidak menghargainya.


Selama berjauhan Nayla tak pernah mau membalas chat ataupun panggilannya, padahal Devan hanya ingin tahu keadaan anak istrinya di rumah, Devan menarik nafas dan merasa bersalah sudah memarahi Nayla, sebab maksudnya bukan begitu.


"Aku kangen," jawab Nayla dengan sesenggukan, air matanya terus menetes tanpa henti.


Rasanya begitu lebay sekali, akan tetapi itulah yang kini dirasanya, biasanya bisa tidur setelah Devan memijatnya di saat usia kehamilan memasuki trimester ketiga ini sungguh luar biasa.


Sulit sekali hanya untuk memejamkan matanya saja, padahal istirahat cukup sangat penting bagi kesehatannya, kini tidak bisa tidur sama sekali kadang saat sudah mengantuk Felix datang dan merengek ingin digendong.


"Sayang maaf," Devan benar-benar merasa bodoh sudah memarahi Nayla, mengapa dirinya bisa kehilangan kendali hanya karena khawatir.


"Aku nggak mau cuma lewat video call atau panggilan suara, aku maunya Mas pulang aku kangen," papar Nayla lagi masih dengan air mata yang terus tumpah.


Devan hanya diam mendengarkan suara tangisan Nayla, dirinya sedang berusaha menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin untuk segera pulang, malah dibuat galau tingkat dewa, fokusnya benar-benar rusak.


Devan ingat seperti apa susahnya Nayla akan tidur di malam hari, mengeluh sakit pinggang, susah bergerak, kadang juga minta dipijat, bantal guling yang disusun sedemikian nyaman agar Nayla bisa terlelap, jadi bagaimana nasib istrinya itu saat ditinggal pergi beberapa hari begini, Devan malah menyesal sempat lepas kendali dirinya yang juga merindukan istri dan anaknya sudah tidak dapat lagi menahannya hingga marah pada istrinya karena merasa diacuhkan malah ternyata Nayla pun sama tersiksa saat berjauhan darinya.


"Semoga besok kerjaan Mas selesai dan Mas langsung pulang," ucap Nayla.

__ADS_1


"Nunggu besok lama Mas, aku nggak mau! aku maunya sekarang," Nayla terus menangis tanpa henti, sulit sekali untuk berjauhan dengan Devan.


"Iya sayang sabar yah, Mas juga kangen, kangen banget!" ucap Devan.


Tidak ada lagi nada tinggi apalagi emosi, Devan hanya diam sambil mendengarkan tangisan Nayla dari balik telepon.


Walaupun tidak menggunakan video call sudah pasti kini mata istrinya itu bengkak.


"Jangan nangis terus, nanti kamu tambah sakit," ucap Devan lagi.


Devan semakin khawatir saja dengan keadaan istrinya belum lagi janinnya.


"Felix rewel nggak?" Devan mencoba mengalihkan pembicaraan agar Nayla tak terus menangis.


"Sedikit," sekalipun sudah berhenti menangis tapi masih terdengar suara yang bergetar.


Devan belum bisa tenang saat seperti ini dirinya benar-benar bingung, bagaimana cara agar cepat kembali ke rumah, semua pekerjaan sedang berusaha diselesaikan secepat mungkin menimbang kehamilan Nayla yang semakin menua tentunya tak bisa ditinggal lagi nantinya, walaupun begitu ternyata istrinya itu masih menangis juga panggilan telepon terputus, Devan yang mengakhiri tak sanggup mendengar suara kesedihan istrinya, tangannya mengetuk-ngetuk meja berusaha berdebat dengan pikirannya.


Dirinya yang berprofesi sebagai Dokter harus turut mengurus bisnis yang sejak masih SMA dirintisnya.


Saat ini berkat dari buah kepintaran Devan berhasil membangun perusahaannya sendiri yang bergerak di bidang perindustrian kertas, ditambah rumah sakit kedua sedang dalam pembangunan banyaknya anggota medis yang tidak bekerja sebagaimana mestinya membuat Devan kasihan.


Hati nuraninya bergerak dan ingin membuka lowongan pekerjaan bagi mereka, tak berselang lama ponsel Devan berbunyi ternyata Ana yang kembali menghubungi tanpa berpikir Devan pun menjawabnya.


"Halo Ma," ucap Devan.


"Devan apa tidak bisa jadwal kepulanganmu disegerakan? Mama kasihan sama Nayla dia demam," kata Ana dari seberang.


Dirinya mengerti seperti apa posisi Nayla saat ini, bagaimanapun wanita hamil pasti terus ingin dimanjakan oleh suaminya.


"Iya Ma, aku sedang mengusahakannya," jawab Devan.


"Uang bisa dicari tetapi istri lebih penting, uang tidak cukup untuk membeli kebahagiaan, istri yang akan menemanimu dalam segala kesenangan maupun kesedihan," ucap Ana.


"Iya Ma," ucap Devan.


"Ya udah kamu makan dan istirahat juga, kalau memang bisa pulang dengan segera jangan ditunda kasihan istrimu belum lagi anak kamu Felix juga nyariin terus," ucap Ana lagi.

__ADS_1


Setelah panggilan selesai, Devan meminta orang yang dipercayakan untuk mengurus semua pekerjaan, dirinya memilih pulang dengan segera daripada harus mendengar kabar istrinya yang sedang menangis menantikan kepulangannya, jika sedang tidak hamil Nayla tidak akan cengeng mungkin anaknya memang tak ingin berjauhan darinya, memutuskan pulang dengan segera sekalipun Devan harus mengalami kerugian senilai tiga miliar karena proyek yang dibatalkan membuatnya harus membayar denda, tidak masalah baginya uang bisa dicari sedangkan kesehatan istrinya adalah prioritas utama.


__ADS_2