
Rani mengunci pintu kamar bahkan mengantongi kunci agar Nayla dan Andini tidur dengannya sampai pagi harinya, bocah itu benar-benar membuat Devan dan Angga merasa kesal terutama Devan yang kini sedang menikmati indahnya bercinta bersama dengan Nayla bisa dikatakan tengah menjalani kehidupan pengantin baru, walaupun kata Angga pengantin basi tapi tak menjadi masalah baginya, kedua pria tersebut berjaga di depan pintu berharap pintu bisa dibuka.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Ana yang tak sengaja melewati kedua anaknya yang aneh itu.
"Mau memastikan aja Ma, apa Rani masih ngambek," ujar Devan memberi alibi.
"Emmm," Ana mangguk-mangguk.
"Mereka sudah tidur sebaiknya kalian juga segera tidur," ucap Ana.
Dengan wajah lesu Devan dan Angga berjalan menuju kamar, padahal mereka ingin istri mereka dikembalikan, Rani memang bocah yang sangat mengesalkan sekali, bisa-bisanya bocah tersebut menyiksa ayah dan Papa yang sangat mencintainya, tidak lama berselang terdengar suara tangisan Felix, Nayla pun berusaha untuk membuat tenang tapi tak bisa, sekalipun sudah memberikan ASI tetap saja Felix menolak.
"Sayang kamu kenapa?" Nayla segera turun dari atas ranjang dan menggendong Felix.
Andini pun ikut terjaga mendengar suara tangisan Felix.
"Felix kenapa?" tanya Andini.
"Nggak tahu Kak, dari tadi pagi nggak mau ASI dan kayaknya lapar juga dia," jawab Nayla.
"Ya udah kamu kasih makan dulu," ucap Andini.
Andini pun mencari kunci dan membuka pintu melihat Felix yang terus saja menangis karena lapar dan haus, tangisan Felix menggema hingga semua penghuni rumah terbangun tak terkecuali Devan yang sama sekali belum tidur segera menghampiri Nayla yang kini masih berdiri di depan pintu kamar Rani.
"Felix kenapa? kok nangisnya kencang banget?" tanya Devan segera mengambil alih Felix dan berusaha untuk menenangkan.
Sayangnya Felix masih terus saja menangis tiada hentinya, semua anggota keluarga mencoba untuk menenangkan akan tetapi tak ada yang bisa membuat Felix diam.
"Nayla di mana?" tanya Ana menyadari Nayla yang sudah tak berada di tempatnya, sedangkan Felix masih menangis di gendongannya.
"Ke toilet Ma," Andini menunjukkan arah toilet.
"Ya udah, Devan kamu bikinin susu formula aja dulu," ucap Ana.
"Iya Ma," ucap Devan lalu segera menuju dapur dan membuatkan susu untuk Felix.
Sayangnya Felix menolak malahan semakin menangis kencang.
"Felix mau apa?" tanya Devan yang mulai bingung.
"Bunda," teriak Felix di sela-sela tangisannya.
Nayla pun kembali dan mencoba mengambil alih Felix.
"Hueekkkkkk," Nayla urung mengambil Felix dan berlari kembali menuju kamar mandi.
Devan terdiam saat melihat wajah Nayla yang pucat, segera menyusul dan melihat istrinya yang tengah muntah-muntah.
"Hueekkkkkk,"
"Kamu hamil lagi?" tanya Devan.
Cepat-cepat Nayla melihat Devan dan mengingat kapan terakhir kali mendapatkan tamu bulanan.
"Nggak mungkin Mas, soalnya aku minum pil KB," jawab Nayla sambil memegang perutnya.
__ADS_1
Perasaannya mulai cemas berharap semoga saja tidak hamil lagi sebelum Felix berusia dua tahun dan tak lagi minum ASI, Felix masih terlalu kecil dan butuh ASI apalagi bocah tersebut tak terlalu menyukai susu formula, ditambah lagi barusan baru saja Felix merasakan keutuhan keluarga mungkin harus terbagi jika dirinya hamil lagi, tapi jika pun hamil lagi tak mungkin Nayla menolaknya, ada rasa campur aduk yang kini dirasakan.
"Ayo berbaring," Devan meminta Nayla berbaring di atas ranjang lalu memeriksa keadaan Nayla.
Semua keluarga berdiri di sekeliling ranjang dan menunggu hasil pemeriksaan dari Devan.
"Devan kenapa hanya diam?" tanya Ana dengan tidak sabar.
"Nayla hamil Ma," jawab Devan.
"Wah," Ana tersenyum bahagia, Felix yang sudah terlelap di gendongannya merasa terusik, dengan cepat Ana berusaha menenangkan bocah itu agar kembali terlelap, sulit sekali membuatnya tertidur bahkan meminum susu formula dengan rasa keterpaksaan, mungkin karena sudah terlalu haus dan terlalu lelah menangis membuatnya terpaksa meminum susu formula.
"Ya ampun Devan kamu itu luar biasa Felix belum juga dua tahun," Angga menepuk pundak Devan hingga beberapa kali.
Mengejek adiknya tersebut dengan rasa bahagia tentunya, walaupun sebenarnya tak ada bedanya juga dengan keduanya.
"Itu istrimu sedang bunting anak ke empat, nggak usah sok," gerutu Devan dengan kesal.
Angga pun tersenyum kecut, niat hati mengejek malah dirinya juga lebih parah, kadang pil KB pun tak mampu untuk menahan kecebong untuk menjadi janin.
"Tapi kamu kan minum pil," kata Devan pada Nayla.
"Iya minum, tapi pil baru sampai di leher, Mas udah..." beruntung Nayla masih sadar jika tidak hampir saja keceplosan berbicara di depan mertuanya, pasti akan membuat malu diri sendiri tentunya, tapi apalagi yang harus dikatakan? harus tetap bahagia tentunya meskipun kasihan pada Felix.
"Sudah ini namanya rezeki, tidak baik berdebat karena janin itu, nanti dia pikir tidak diinginkan lahir, itu tidak baik," Ana menasehati Nayla dan Devan.
Bagaimanapun ini adalah hal yang sangat membahagiakan tentunya.
##########
Keesokan harinya, Nayla terus saja muntah-muntah ditambah lagi dadanya yang membesar karena Felix tidak mau lagi minum ASI, lagi pula tak mungkin lagi bocah itu minum ASI saat tengah mengandung adiknya.
"Mas sakit banget, ASI nya juga udah tumpah begini," Nayla menunjuk piyama yang basah terkena ASI.
"Sini biar Mas yang sedot," tawar Devan.
Kali ini sepertinya nasib baik sedang berpihak padanya, jika biasanya harus berebut dengan Felix kini tidak lagi.
"Kapan keringnya kalau gitu?" ucap Nayla.
"Nggak apa-apa kan kamu juga sedang hamil nanti setelah bayinya lahir bisa lanjut menyusui lagi," bujuk Devan.
Kasihan sekali melihat istrinya menahan sakit, hingga Devan merasa tak tega.
"Ya udah dek," Nayla pun pasrah dan menerima tawaran Devan.
Apa yang dikatakan oleh Devan memang benar, daripada terus merasa pusing lebih baik setuju.
"Nayla," Reyna si gila yang tak tahu keadaan malah datang dan langsung masuk, pintu yang tidak tertutup rapat membuatnya yakin Devan tak ada di dalam kamar, dirinya yang tengah galau tingkat dewa ingin curhat sayangnya mata sucinya ternodai saat melihat ada bayi besar tengah menyusui.
"Mas," cepat-cepat Nayla mendorong Devan menjauh darinya. Reyna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, wajahnya pucat pasi menyaksikan adegan dewasa tersebut secara langsung.
"OMG," dengan memasang langkah kaki seribu Reyna berlari keluar dari kamar.
Sampai di depan pintu dirinya segera bersandar pada dinding memegang dada dengan nafas tersengal-sengal.
__ADS_1
"Tante kenapa?" tanya Rani yang ingin masuk kamar Devan, malah melihat Reyna seperti orang ketakutan berdiri di sana.
"Nggak apa-apa," Reyna pun menggeleng dengan dada yang tak dapat dikondisikan.
"Ya udah, Rani mau ketemu sama Bunda" Rani yang berniat masuk di tahan oleh Reyna sebab takut bocah itu pun ikut melihat apa yang barusan dilihat olehnya.
"Nanti aja," ucap Reyna.
"Aku ada perlu Tante, soalnya Bunda jahat, katanya semalam bobo sama aku ternyata aku cuma bobo sama Mama," ucap Rani kesal sampai dia berubah saat mengetahui bahwa Nayla tak ada di sampingnya saat pagi tadi, artinya bundanya itu sudah berbohong padanya sedangkan Nayla sendiri yang mengajarkan padanya tak boleh berbohong apalagi mengingkari janji.
"Iya tapi nanti aja," ucap Reyna.
"Nggak mau,," Rani segera masuk dan menemui Nayla.
"Rani," teriak Reyna yang kini berada di ambang pintu.
Devan dan Nayla pun sudah berdiri dan melihat Reyna.
"Hehehe," Reyna segera pergi merasa tak memiliki wajah lagi di hadapan Devan, sedangkan Rani terus mengomel pada Nayla yang sudah mengingkari janji.
"Bunda sakit! coba lihat wajah bunda Nayla, pucat banget," Devan berjongkok dan berusaha untuk membujuk Rani.
Perlahan Rani mengangguk dan mengerti.
"Ya udah, Bunda istirahat aja, aku pikir Bunda ingkar janji, kan nggak boleh ingkar janji kan Bunda?" ucap Rani.
"Iya, lain kali Rani bobo bareng, Bunda lagi sakit takutnya kami ikut sakit," ucap Nayla.
"Iya Bunda, aku sarapan dulu ya," ucap Rani.
"Iya sayang," ucap Nayla.
Devan pun menarik Nayla duduk di pangkuannya.
"Mas malu banget, Reyna tadi pasti melihatnya," ucap Nayla.
"Biar saja, lagian sebentar lagi juga dia akan menikah dan udah tahu gimana caranya," seloroh Devan.
"Mas ishh," Nayla mencubit perut Devan dengan kesal.
"Hehehe, salah dia masuk ke kamar orang," ucap Devan.
"Tetap malu Mas," ucap Nayla.
"Ngapain malu? kecuali buka baju," ucap Devan.
"Mas ishh," ucap Nayla lagi.
Semakin Nayla kesal, maka semakin membuat Devan bersemangat menggoda istrinya, sebenarnya Devan juga shock saat Reyna masuk tiba-tiba ke kamar, akan tetapi semua sudah terlanjur terjadi, tak mungkin dirinya bisa merubah, sungguh ini adalah pengalaman paling mengerikan menurutnya.
"Perasaan dulu pas kita masih curi-curi waktu berduaan nggak pernah ketahuan tapi kok bisa sekarang ketahuannya," Devan mengingat dulu keduanya berjanji bertemu tengah malam di taman belakang seperti sepasang kekasih yang tengah kasmaran.
"Nggak usah diingat Mas malu," Nayla menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Devan.
"Ya ampun sayang, kamu sekarang kok gemes banget sih, pengen dimakan aja!" ucap Devan.
__ADS_1
"Mas," ucap Nayla.
"Ahahahaha...."