
Sampai di rumah, Reyna sudah disambut oleh Nanda, tatapan mata Nanda begitu tajam padanya dan terlihat menyimpan kemarahan.
"Kamu udah pulang? udah lama pulang?" Reyna mencoba bertanya berharap Nanda tidak lagi dengan wajah seriusnya.
Nanda memilih menyingkir dari tempatnya berlalu begitu saja tanpa satu patah kata pun hingga membuat Reyna semakin bertanya-tanya.
"Nanda tunggu," Reyna pun segera menyusul suaminya, berdiri saling berhadapan untuk bertanya.
"Kamu kenapa? aku salah apa sama kamu?" tanya Reyna.
Reyna merasa tidak memiliki kesalahan sejak pagi tadi, mereka baik-baik saja tanpa pertengkaran.
Pagi tadi bahkan Nanda sendiri yang mengantarkannya pergi bekerja, sore ini Reyna pulang sendiri dengan membawa mobil milik Nayla.
Namun tiba-tiba saja disambut wajah Nanda yang judes membuatnya bingung dan bertanya-tanya atas kesalahannya.
"Jawab aku, aku salah apa ke kamu?" Reyna mendongak dan membalas tatapan tajam Nanda.
"Coba kamu sadari, apa salah kamu ke aku?" ucap Nanda.
Nanda bukan menjawab tapi malah memberikan pertanyaan kembali seakan memberikan sebuah teka-teki pada Reyna.
"Nanda kamu nggak usah ngajak ribut, kalau ada yang harus dipertanyakan ngomong baik-baik nggak usah bentak-bentak dong," kesal Reyna.
"Aku nggak bentak-bentak kamu jangan asal ngomong," ucap Nanda.
Reyna pun segera menuju kamar, kesal rasanya terus berdebat dengan Nanda, belum lagi dirinya sedang lelah, keributan tanpa jelas penyebabnya adalah hal yang menjengkelkan sekalipun keduanya memang sering bertengkar tapi selalu ada penyebabnya berbeda dengan kali ini.
Sampai pintu kamar pun didorong tiba-tiba ada sesuatu jatuh dari bagian atas bertaburan dengan begitu banyaknya, seperti kemerlap bintang di langit, Reyna tertegun sejenak melihat sekitarnya, tak disangka ternyata mertuanya datang membawa sebuah kue bertuliskan namanya.
"Happy anniversary," Arni berjalan mendekati Reyna, bibirnya tersenyum penuh kebahagiaan.
"Memangnya ini tanggal berapa?" tanya Reyna bingung.
"Ya ampun Nanda, ternyata kita sudah empat tahun menikah," ucap Reyna.
Arni selalu merayakan hari pernikahannya, mertuanya akan datang demi mengucap kalimat bahagia.
"Kapan Mama dapat cucu?" pertanyaan Arni membuat Reyna bergidik ngeri, dirinya merasa sekelilingnya horor jika dipertanyakan masalah anak.
Reyna memegang tengkuknya tidak tahu harus menjawab apa.
"Kalian tidak sedang menunda untuk punya anak kan?" tanya Arni lagi penuh intimidasi.
Reyna menatap Nanda sedangkan Nanda melihat ke arah lainnya.
"Reyna jawab pertanyaan Mama, apakah kamu sedang menunda kehamilan? empat tahun itu bukan waktu yang singkat, kalau ada masalah dengan salah satu dari kalian kenapa tidak menemui Dokter?" cerca Arni dengan berbagai macam pertanyaan.
__ADS_1
Reyna pun berharap Nanda bisa menyelamatkan dirinya seperti sebelum-sebelumnya, tapi tidak Nanda terlihat biasa saja tanpa ada alasan yang keluar dari mulutnya.
Ada apa dengan Nanda?
"Mama cuma punya satu orang anak, Mama ingin cucu jika salah satu dari kalian memiliki masalah kesuburan bisa hubungi Dokter, zaman sudah canggih tidak harus dengan metode istri kedua," papar Arni.
"Jelaskan pada Mama," kali ini Nanda yang berbicara dari tadi pria itu hanya diam sekalinya bicara malah membuatnya tersudutkan.
"Kok aku?" tanya Reyna kembali.
"Empat tahun kita menikah sudah berulang kali aku meminta anak, mulutmu selalu diam aku kira diam mu bersedih karena belum bisa memberikanku seorang anak, ternyata kau tidak mau mengandung anakku!" ucap Nanda.
"Maksudnya ini bagaimana?" tanya Arni kebingungan.
Bukan pertengkaran yang diinginkan oleh Arni melainkan usaha yang dilakukan oleh Nanda dan Reyna untuk memiliki anak, seringkali Arni merekomendasikan Dokter kandungan terbaik tetapi terus ditolak secara halus oleh Reyna hingga dirinya kini kesal sebab sudah berulang kali.
"Dia meminum ini," Nanda pun melemparkan pil KB pada wajah Reyna kesal bukan main saat mengetahui ternyata istrinya itu mengkonsumsi pil pencegah kehamilan.
Saat pulang dari kantor Nanda masuk ke kamar dan mencari alat cukur di laci meja rias milik Reyna tanpa diduga ternyata menemukan hal mengejutkan.
Nanda kesal dan ingin bertanya secara langsung, apakah Reyna masih membencinya hingga tidak sudi mengandung anaknya sampai detik ini pun?
"Kamu nyalahin aku? tanya sama diri kamu sendiri kenapa aku minum pil ini," ucap Reyna.
Reyna pun tidak ingin disalahkan segera masuk ke dalam kamar tak lupa pintu dibanding dengan kencangnya.
Perasaannya tidak enak saat melihat kemarahan di wajah Reyna, sejenak Arni merasa bersalah atas perlakuannya tapi maksudnya baik dirinya yakin jika keduanya memiliki kesuburan yang baik hanya saja mungkin Nanda yang tidak menginginkan punya anak dulu hingga Reyna menurut.
Sampai hari ini Arni malah berharap Reyna mengatakan bahwa Nanda belum mengizinkannya hamil, tetapi yang terjadi justru sebaliknya ternyata Nanda pun sama seperti dirinya yang menginginkan hadirnya malaikat kecil di antara mereka.
Arni benar-benar merasa bersalah sudah menjadi penyebab pertengkaran anak dan menantunya.
"Biarkan saja, dia sangat keterlaluan!" ucap Nanda.
"Tidak boleh begitu, susul dan bicarakan baik-baik," Arni mendorong Nanda menuju pintu kamar, menangkup kedua tangannya agar Nanda mau menyusul Reyna ke dalam kamar.
Dengan terpaksa Nanda pun menyusul Reyna ke dalam kamar, beruntung kamar tidak terkunci hingga memudahkan Nanda untuk masuk.
Kesalnya masih sampai di puncaknya sehingga tidak ada kata kompromi saat ini apapun alasannya.
Mata Nanda melihat Reyna tengah telungkup di atas ranjang, perlahan pintu ditutup dan melangkah.
"Kenapa kamu meminum pil itu? apakah kamu terlalu jijik mengandung anakku atau kamu masih ingin berpisah seperti keinginanmu saat awal kita menikah dulu?" tanya Nanda.
Reyna segera bangkit kemudian ingin berjalan menuju pintu keluar, sayangnya tangannya dicegat oleh Nanda, Reyna terpaksa harus diam di tempatnya.
"Apa kamu tidak tahu cara menghormati suami? bukankah Mama Puput selalu mengajarkan sopan santun terutama pada suamimu, lantas bagaimana bisa kamu tidak melakukannya?" ucap Nanda.
__ADS_1
"Lepasin," Reyna ingin dilepaskan tapi cengkraman tangan Nanda masih menggenggam erat tangannya.
"Jawab!" ucap Nanda.
"Apanya? kamu mau punya anak dari siapa? dari aku? kenapa? kenapa kamu mau punya anak dari aku?" tangan Reyna terlepas juga menatap Nanda dengan penuh kemarahannya.
Tatapannya terus tajam tanpa jeda, menatap manik mata elang Nanda penuh tanya.
"Maksud kamu apa?" tanya Nanda tidak mengerti.
"Kenapa kamu ingin mempunyai anak dari aku?" Reyna mengulangi pertanyaannya.
"Pertanyaan aneh, mana mungkin aku minta anak dari wanita lain," ucap Nanda.
"Jawabanmu membuat aku semakin yakin untuk tidak mengandung anakmu," ucap Reyna.
"Reyna, masalah apa? apakah jawabanku salah?" tanya Nanda.
"Tanya pada dirimu sendiri," ucap Reyna.
"Reyna jangan pergi atau tidak usah kembali lagi!" ancaman Nanda yang membuat Reyna membeku, mendengar ancaman itu membuat setitik air mata Reyna tumpah.
Kembali berjalan mendekati Nanda dengan tubuh bergetar.
"Maksudnya kamu menceraikan aku?" ucap Reyna.
Degh!!!
Nanda meneguk saliva saat pertanyaan Reyna terlontar.
"Jawab!" kata Reyna dengan suara hampir menghilang.
"Aku ingin kau memberikan anak, itu saja! kenapa kamu tidak mau mengandung anakku? kenapa kamu minum pil itu, sudah berapa lama kau meminumnya?" tanya Nanda.
"Sudah empat tahun selama kita menikah dan saat kita mulai menjadi suami istri pada umumnya, aku sudah meminumnya," jawab Reyna dengan lugas.
Nanda kecewa mendengar jawaban Reyna, karena tidak ada kesedihan di mata Reyna saat menjawabnya.
"Kenapa?" tanya Nanda.
"Karena kau tidak mencintai aku," tandas Reyna.
Degh!
Nanda mematung dan tidak bisa bergerak sama sekali.
Reyna pun pergi meninggalkan Nanda masih mencerna kalimatnya barusan.
__ADS_1