
Satu minggu telah berlalu,, Devan benar-benar tidak bisa bertemu dengan Nayla,, Bima Putra benar-benar menutup akses bagi Devan untuk bisa bertemu dengan Nayla seperti apa yang diinginkan oleh Nayla sendiri.
Tentu apapun akan Bima Putra lakukan demi kebaikan cucunya sekali pun cucunya masih di dalam kandungan, karena kebahagiaan Nayla merupakan kebaikan untuk cucunya juga yang masih berada di dalam kandungan.
Hari ini Devan segera menuju perusahaan untuk menemui Bima Putra.
"Pa, dimana Nayla?" tanya Devan langsung tanpa basa-basi, Devan tidak perduli sama sekali dengan Ayahnya yang masih rapat dengan beberapa bawahannya saat ini.
Bima Putra langsung menatap putranya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Rapat satu jam lagi akan kita lanjutkan," ucap Bima Putra,, para karyawan segera keluar dari ruangan.
Setelah semuanya keluar, pintu langsung tertutup kembali,, Bima Putra kembali menatap putra satu-satunya itu.
"Pa,, Nayla dimana?" tanya Devan lagi untuk kedua kalinya,, Devan sangat tidak sabar menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Nayla saat ini baik-baik saja,, janinnya juga baik-baik saja,, dan satu hal lagi yang paling penting dia tidak ingin bertemu dengan mu," ucap Bima Putra dengan santainya.
"Pa,, katakan dimana Nayla,, Devan suami Nayla Pa,, dan aku lebih berhak atas dia," ucap Devan.
"Iya memang benar kamu lebih berhak,, tapi istrimu itu tidak mau bertemu dengan kamu," ucap Bima Putra lagi.
Devan tidak mengerti dengan dirinya sendiri,, sungguh satu minggu tidak bertemu dengan Nayla terasa amat menyiksa,, Devan sangat ingin bertemu Nayla,, Devan merindukan Nayla, rasanya sungguh berat hari yang dijalaninya selama satu minggu ini tanpa bertemu Nayla. Devan sering uring-uringan memikirkan Nayla.
"Pa beritahu saja aku alamatnya,, nanti kalau Nayla menyuruh aku pergi,, aku pasti langsung pergi,, tapi tolong....,"
"Tidak bisa kecuali Nayla sendiri yang menginginkan," ucap Bima Putra memotong ucapan Devan.
###########
Sekeras apapun Devan mengemis pada Ayahnya untuk mengetahui alamat tempat tinggal Nayla tetap saja tidak menghasilkan apa-apa,, Bima Putra masih tetap dengan kerasnya pendiriannya tidak goyah sedikit pun ataupun merasa kasihan meskipun Devan telah memohon untuk tau alamat tempat tinggal Nayla.
Dengan perasaan campur aduk,, Devan segera menuju ke rumah sakit, menghempaskan segala masalah di rumah sakit dengan sibuk bekerja yang mungkin akan membuat nya sedikit lebih baik.
__ADS_1
Namun saat melewati ruangan Alex, tiba-tiba saja Devan berhenti, sejenak kemudian Devan masuk ke dalam ruangan Alex tanpa izin dari pemilik ruangan terlebih dulu.
Tapi belum sempat Devan berbicara telinganya sudah lebih dulu mendengar suara Jessica yang saat ini tengah berbicara dengan Alex, mereka terdengar berbicara secara serius tidak seperti biasanya,,, Devan memutuskan untuk menjadi pendengar saja, apa yang mereka bicarakan. Tidak ada yang menyadari kehadiran Devan di ruangan Alex sehingga Devan bebas mendengar percakapan Jessica dan Alex.
"Aku nggak tau Alex, bahkan Devan saat ini sudah menikahi Nayla,, hati aku sakit banget Alex,, Devan tega banget sama aku," ucap Jessica dengan berurai air mata apabila mengingat dirinya sudah memiliki madu saat ini, dan madunya itu sangat dikenali olehnya.
Alex hanya terdiam,, Alex hanya menjadi pendengar setia saja untuk Jessica membiarkan Jessica mengeluarkan keluh kesahnya mungkin bisa membuat Jessica merasa lebih baikan atau mengurangi sedikit beban wanita itu.
"Alex,, aku mau tanya dulu ke kamu, apa kamu ingat waktu kita merayakan hari ulang tahun aku waktu itu? waktu itu kan Devan sedang berada di luar Negeri dan aku sedih banget waktu itu tapi untungnya ada kamu waktu itu dan kita berdua minum sampai teler, tapi saat paginya aku sadar ternyata aku sudah berada di kamar hotel dengan tubuh polos tanpa menggunakan sehelai benang pun,, aku hanya tertutup selimut saja,, Alex sebenarnya apa yang terjadi waktu malam itu?" tanya Jessica.
Degh!!!!
Pertanyaan dari Jessica membuat perasaan Alex jadi tidak menentu, begitupun dengan Devan yang kini sedang mendengarkan,, dia juga ikut penasaran akan jawaban dari pertanyaan Jessica.
"Setelah malam itu aku hamil,,, tapi aku nggak tau kalau aku hamil,, nanti Dokter yang mengatakan kalau aku keguguran barulah aku tau kalau aku hamil waktu itu, kapan aku hamil dan keguguran? Alex apa kamu ada penjelasan mengenai hal itu?" tanya Jessica lagi.
"Apa? kamu hamil dan keguguran?" tanya Alex yang langsung menegang begitu mendengar ucapan Jessica.
Jessica mengangguk pasti hingga membuat Alex mendengus dengan rasa putus asa.
Jessica mulai menebak-nebak bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Alex adalah malam terlarang.
"Alex coba beritahu aku dan beri aku penjelasan? aku butuh itu, karena hamil dan keguguran waktu itu membuat aku jadi sulit hamil sekarang, aku takut kehilangan Devan," ucap Jessica.
Jessica menangis meratapi rasa takutnya akan kehilangan yang semakin menusuk dada,, sungguh menyesakkan sekalipun telah berusaha untuk menerima segalanya bahwa dirinya telah mempunyai madu.
"Aku ingat Alex,, kamu pernah bilang cinta ke aku,, tapi itu tidak mungkin menjadi alasan kan? jelaskan Alex kalau malam itu tidak terjadi sesuatu diantara kita?" ucap Jessica lagi.
"Maaf Jessica,, tapi malam itu...."
Flashback on....
"Alex sekarang aku ulang tahun nih,, tapi sayangnya Devan lagi di luar negeri sekarang," ucap Jessica yang kini curhat pada Alex karena Alex dan dia juga berteman.
__ADS_1
Jessica menunjukkan ekspresi wajah murungnya,,, Jessica berharap Devan mengucapkan juga kata selamat padanya, tapi pada dasarnya Devan memang pria yang cuek,, tidak romantis tapi kalau kesetiaan Devan memang sangat setia.
"Jessica aku sebenarnya suka sama kamu,, aku benar-benar cinta sama kamu,, apa kamu tidak bisa membuka sedikit hati mu saja buat ku?" ucap Alex.
Malam itu keduanya duduk di balkon tepatnya di rumah Jessica, keduanya menatap ke arah luar tepatnya pada bulan yang bersinar.
"Kamu apa sih Alex," ucap Jessica,, karena ini bukan untuk pertama kalinya kata cinta keluar dari bibir Alex tapi sudah banyak kali.
"Jessica,, gimana kalau kita coba dulu,, kalau misalnya aku tetap tidak bisa masuk di hati kamu, kita udahan," ucap Alex.
"Devan juga tidak perhatian padamu, apa kamu yakin bisa bersama dia terus?" tanya Alex lagi.
Jessica tampak menimbang ucapan Alex,, sedetik kemudian Jessica menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, ya udah aku setuju," ucap Jessica.
Dan keduanya pun resmi berpacaran, bermain di belakang Devan teman mereka sendiri. Sampai akhirnya beberapa hari berikutnya Devan melamar Jessica.
"Alex maaf yah aku nggak bisa sama kamu, aku cinta sama Devan, tolong ngertiin aku yah Alex," ucap Jessica.
Alex hanya terdiam saja, tidak bisa memiliki Jessica sekalipun dia sangat mencintai Jessica.
Tidak menunjukkan kemarahannya sedikit pun, semuanya berjalan begitu saja, Alex berusaha menjauhi Jessica dan Devan untuk mengobati hatinya yang patah.
Flashback off...
"Iya Jessica,, kita malam itu yah kita gitu..," ucap Alex membenarkan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua.
"Ya ampun Alex kok bisa kita tidur bersama," ucap Jessica sambil menepuk jidatnya merasa menyesal.
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan di dalam ruangan itu,, Alex dan Jessica langsung melihat ke arah orang yang sedang bertepuk tangan dan betapa kagetnya mereka berdua begitu melihat Devan lah yang sedang bertepuk tangan.
"Devan,, kamu sejak kapan...?" ucap Jessica.
__ADS_1
"Sejak tadi, dan telingaku sudah mendengar semua kegilaan kalian dibelakang ku,, tidur bersama di belakangku sampai hamil,, wow!!" jawab Devan.
"Devan,, aku bisa jelaskan,, ini semua ada penjelasannya Devan," Jessica segera bangkit dari duduknya untuk menghampiri Devan, memegang tangan Devan namun sayangnya Devan segera menepis tangan Jessica secepat mungkin lalu pergi sekalipun Jessica mengejar dirinya,, Devan tidak perduli sama sekali, rasanya Devan sungguh sangat kecewa atas apa yang terjadi,, ini cukup terasa sangat menyakitkan,, dikhianati oleh teman sendiri.