
Dua jam kemudian, Jessica memasuki dapur, ternyata Puput masih berkutat dengan alat-alat memasak.
"Mama masak apa?" tanya Jessica.
Berkat kemampuannya dalam hal make up wajah yang pucat terlihat masih segar, Puput pun tak tega untuk memarahi Jessica seperti biasanya, kini dirinya hanya tersenyum.
"Aku bantu ngapain Ma?" tanya Jessica.
"Kamu potong-potong sayuran ini, kita masak sama-sama dan setelah itu kamu antar makanan untuk Alex," ucap Puput.
Jessica meneguk saliva begitu mendengar nama Alex, tapi lagi-lagi dirinya harus mengangguk setuju.
Flashback on...
Saat semalam ponsel Jessica berdering, tertulis nama Sela pada layar ponsel,, segera Jessica menjawabnya dan ternyata dirinya diajak dugem.
Jessica menolak dengan alasan tidak enak badan saat pembicaraan berlangsung Alex pun masuk ke dalam kamar dan mendengar pembicaraan.
Setelah panggilan terputus, Jessica baru menyadari bahwa dirinya tak lagi sendiri di dalam kamar melainkan ada Alex juga ternyata, entah sejak kapan.
"Pergi saja dari rumah ini, kau tak berguna," ucap Alex.
Jessica menutup telinga rapat-rapat seakan tidak mendengar apa-apa.
"Kamu udah pulang, aku udah nyiapin air hangat buat mandi," ucap Jessica.
Dengan hati bahagia Jessica menyiapkan semua itu, secangkir kopi pun sudah tersedia di atas meja.
"Tidak usah berakting, ayolah kau fokus pada hidupmu dan aku pun pada hidupku! jangan membawaku masuk pada kehidupanmu lagi dan setelah itu kau tinggalkan pergi," ucap Alex.
"Alex kali ini aku serius nggak main-main," ucap Jessica.
"Simpan omong kosong mu itu, tidak usah mencari simpati! wanita liar sepertimu tidak akan cukup dengan satu pria," ucap Alex.
Flashback off...
"Jessica" Puput menyadarkan Jessica dari lamunannya dengan menepuk punggung menantunya tersebut.
Sesaat kemudian Jessica tersadar.
"Ya Ma, kenapa?" panik dan takut Puput akan mengomel membuatnya cepat-cepat berfokus pada Mama mertuanya tersebut.
Puput menarik nafas berat, kasihan pada Jessica yang tampaknya cukup terbebani atas pernikahannya.
"Ini makanan kamu antar pada Alex," ucap Puput.
__ADS_1
Jessica menatap rantang yang diberikan oleh Puput, sejenak diam dalam kebingungannya.
"Kamu harus romantis pada Alex, Mama kesal sekali sepertinya dia sangat dekat dengan asistennya itu," ucap Puput.
Tak tahu bagaimana cara untuk menolaknya, Jessica pun mengangguk dan segera menuju rumah sakit.
Tapi saat sampai di rumah sakit, Alex tak berada di ruangan, perawat mengatakan bahwa Alex sudah pulang satu jam yang lalu.
###############
Alex sampai di rumah begitu sampai Puput langsung mengajaknya berbicara dengan serius.
"Mama sebenarnya tidak mau ikut campur dalam rumah tanggamu, tapi kamu sangat keterlaluan sekali, kenapa kamu bergandengan tangan begitu mesra dengan asistenmu itu? kamu sudah menikah Alex, Jessica juga menangis di kamar barusan, kamu harus bisa menghargai wanita dong! kamu kan punya adik perempuan harusnya kamu itu menyayangi perempuan, kalau-kalau tidak mau adik mu disakiti suaminya nanti," omel Puput.
"Ini tidak ada hubungannya dengan adikku, lagi pula apa yang Mama bicarakan tidak jelas sama sekali," ucap Alex.
Puput kembali menunjukkan ponselnya pada Alex.
"Lalu foto ini apa?" tanya Puput.
"Siapa yang mengirimkannya? Jessica?" tebak Alex sambil tersenyum miring, yakin wanita itu kembali pada sikap aslinya.
"Jangan menuduh Jessica," tegas Puput.
"Alex kamu bicara apa," ucap Puput.
Puput terus memanggil Alex yang sudah berlalu pergi menuju kamar, rasanya sangat kesal bukan main mendengar ucapan barusan, tak berselang lama Jessica kembali ke rumah memasang senyuman seakan dirinya sedang bahagia.
"Bagaimana?" tanya Puput sambil mengusap wajah yang sebenarnya tidak tahu maksud dari pertanyaan.
Mungkin hanya sebuah basa-basi.
Tidak ingin Puput merasa kecewa, Jessica pun memberikan makanan tersebut pada seorang pemulung yang kelaparan saat perjalanan pulang.
"Alex sudah habisin makanannya Ma," bohong Jessica lagi.
Puput terkejut bukan main, dirinya seketika menatap Jessica dengan tatapan penuh tanya. Pernikahan yang dijalani oleh Jessica dan Alex memang tidak sehat, semuanya sudah cukup jelas.
"Aku ke kamar dulu ya Ma," ucap Jessica.
Puput pun mengangguk lemah, menatap punggung Jessica yang perlahan menghilang dari pandangan matanya, sampai di kamar alangkah kagetnya Jessica melihat Alex, artinya barusan Puput tahu dirinya sedang berbohong, entah bagaimana caranya nanti bertemu dengan Puput, apalagi keduanya tinggal di bawah atap yang sama.
"Kenapa kau menatap ku begitu? apa kamu pikir hantu?" ucap Alex dan Jessica menggeleng, pikirannya masih begitu kacau tanpa arah.
"Untuk apa kau memberikan fotoku bersama Zaskia pada Mama? untuk membuat dirimu seakan korban! agar kau terlihat seperti wanita yang tersakiti, kau itu wanita murahan," ucap Alex.
__ADS_1
"Foto apa? aku tidak tahu apa-apa," ucap Jessica.
"Kamu itu sangat menguji kesabaranku," Alex menarik rambut bagian belakang Jessica dengan kencang, hingga Jessica mendongak menatap ke atas.
"Alex sakit," sungguh rasanya sangat menyakitkan, tangan Alex begitu kasar hingga membuatnya hampir pingsan.
"Kau itu selain wanita murahan ternyata bermuka dua!" ucap Alex lagi.
"Alex sakit. Kalau kamu tidak mau meneruskan pernikahan ini tidak masalah, ayo ceraikan aku!" ucap Jessica.
Alex tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat cerai yang dipinta Jessica.
"Lihatlah wanita murahan ini mulai berlagak korban! kamu pernah menyakitiku bukan? kalau begitu kini biar kau yang merasakan betapa sakitnya bersamaku, agar kau tahu betapa aku sangat terluka saat itu, untuk apa aku menikahimu kalau bukan untuk disakiti?" ucap Alex.
Kaki Puput bergetar hebat mendengar perkataan Alex, dirinya mengintip dari celah pintu, tak menyangka ternyata benar, adanya rahasia di balik pernikahan anaknya.
"Aku sadar aku salah Alex, aku ingin memperbaiki segalanya kalau memang kamu tidak mau baiklah aku menyerah, biarkan aku kembali pada orang tuaku, tolong ceraikan aku!" lirik Jessica dengan air mata kian membasahi pipinya.
"Setelah kamu menderita," Alex menghempas tubuh Jessica pada dinding.
"Setelah sakitku terbalas kau akan kubuang pada tong sampah," ucap Alex lagi.
Alex pun pergi, Puput bersembunyi di balik pintu setelah memastikan Alex keluar, dirinya masuk ke kamar Jessica.
"Mama," cepat-cepat Jessica mengusap air matanya, memasang senyuman sekalipun mungkin sudah terlambat.
Puput hanya menggeleng tak tahu harus berkata apa, rasanya apa yang dilihat sudah cukup jelas, sampai tak perlu lagi bertanya
"Kamu jangan pergi, Mama akan membantu kamu," ucap Puput sambil memeluk Jessica.
Tampaknya Jessica hanya bisa mengangguk pasrah, saat menyadari bahwa Puput sudah mendengar segalanya barusan, dirinya pun menangis sekencang-kencangnya dalam pelukan Mama mertuanya.
"Menangis sekencang-kencangnya, setelah itu Mama harap kamu akan menjadi lega, Mama tahu kamu punya hati yang baik, tolong tetap di sini," pinta Puput.
Bagaimana cara mencintai Alex sedangkan sikapnya saja begitu keras, kasar, tak segan menyakiti tanpa peduli.
"Kamu harus tetap bertahan, Mama yakin hati Alex akan luluh, apapun kesalahan seseorang di masa lalu bukan berarti tidak bisa mencoba untuk berubah, kamu wanita baik Mama tidak akan bertanya atas kesalahan kamu pada Alex di masa lalu, Mama benar-benar berharap kamu dan Alex bisa bahagia," ucap Puput.
"Gimana bisa bertahan Ma, Alex nggak mau baikan dan coba menerima Jessica," bingung akan jalan cerita hidupnya yang berantakan, entah mengapa semua kini menjadi begitu rumit tanpa adanya titik terang.
Apakah hati Alex sudah tertutupi api kebencian hingga tidak bisa menerima kesalahannya? sampai kapan?
Apa yang harus dilakukan hingga Alex sudi menerima maaf darinya?
"Mama mohon tetap bersama Alex, tetapi jika ternyata dia tetap tidak bisa menerima kamu, memperlakukan kamu dengan baik, Mama mohon kamu pergi saja dari hidupnya, kamu juga harus bahagia!" ucap Puput.
__ADS_1