Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Lancang sekali!!!


__ADS_3

"Sayang maaf yah kalau tadi malam kamu tidur sendirian di kamar,," ucap Jessica sambil melingkarkan tangannya di pinggang Devan lalu berjalan beriringan dengan Devan.


"Tidak apa-apa sayang,," ucap Devan sambil tersenyum,, Devan tidak mempermasalahkan sama sekali mengenai dirinya yang tidur sendiri.


Jessica baru saja sampai di rumah Devan setelah Devan menjemputnya atas keinginan Devan sendiri.


"Oh iya,, kita ke kamar Nayla yuk sayang,," ajak Jessica yang ingin mengecek keadaan Nayla.


"Nayla?" gumam Devan yang masih didengar oleh Jessica.


Mendengar nama Nayla membuat Devan menjadi panas,, tadi malam mimpi itu menjadi racun tersendiri buat Devan,, ditambah tadi pagi Devan merasakan bibir lembut Nayla membuat Devan semakin merasa tidak karuan.


"Iya sayang,, aku kasihan sama dia,, aku ingin memastikan keadaannya,, ayo kita pergi,," ucap Jessica sambil menarik Devan menuju kamar Nayla.


"Jessica,, aku rasa aku tak perlu ikut,, kamu pergi saja sendiri,," tolak Devan yang ingin menghindari pikiran aneh otaknya apabila melihat Nayla.


"Nggak boleh,, kamu harus ikut sayang,, kan kamu yang akan memeriksa Nayla," ucap Jessica tidak perduli dengan penolakan Devan,, Jessica tetap menarik paksa Devan.


"Nayla, kok dia sudah bekerja?" ucap Jessica begitu melihat Nayla sedang membantu memasak di dapur,, Jessica dengan cepat berjalan ke dekat Nayla untuk meluapkan rasa marahnya.


"Nayla,, kenapa bisa kamu yang melakukan ini? apa tidak ada lagi yang bisa melakukan pekerjaan ini disini?" ucap Jessica sambil mengambil sayur yang tengah dikerjakan oleh Nayla,, lalu menghempaskan ke lantai sambil melihat wajah-wajah orang yang sedang bertugas di dapur dengan perasaan marah luar biasa.


"Kalau kalian masih menyuruh Nayla mengerjakan ini disaat lengannya seperti ini,, maka kalian keluar saja dari pekerjaan kalian," ucap Jessica lalu segera membawa Nayla kembali ke kamarnya.


"Nayla,, kan sudah aku katakan kamu tidak boleh bekerja dulu sebelum lengan mu sembuh,, kamu istirahat saja dulu, jangan ngapa-ngapain,, ucap Jessica mengingatkan Nayla seperti kakak yang sedang mengingatkan adiknya.


Nayla bingung harus bagaimana,, Jessica sangat baik,, hal itu membuat Nayla menjerit minta ampun dengan posisinya saat ini,, sungguh Nayla tidak tega menyakiti hati Jessica yang sangat baik.


Terlintas dibenak Nayla,, apakah Jessica akan tetap baik seperti ini jika Jessica tau bahwa dirinya adalah madunya?


Apa Jessica masih mau melihat wajahnya?


Itu sungguh mustahil.


Nayla sangat yakin bahwa Jessica tanpa pikir panjang akan menganggap dirinya sebagai musuh bahkan dianggap sebagai pelakor.


"Nayla,," panggil Jessica karena melihat Nayla yang tampak sedang melamun.


"Ii..i..iya Nyonya,," ucap Nayla yang tiba-tiba tersadar dari lamunannya begitu mendengar panggilan Jessica.


"Kau sedang memikirkan apa Nayla? kemudian Jessica mengibaskan tangannya,, sudahlah kamu jangan banyak pikiran dulu Nayla,, sekarang biar suamiku memeriksa keadaan kamu dulu yah," ucap Jessica lagi lalu beralih melihat Devan.

__ADS_1


Suami? dia juga suamiku Nyonya,, entah seperti apa nantinya jika semuanya ketahuan? akhh tapi ya sudahlah,, aku juga akan pergi setelah anak ini lahir,, batin Nayla.


"Devan,, kok diam saja? ayo periksa Nayla," ucap Jessica sambil melihat Devan.


"Aku tidak membawa peralatan medis ku,, semuanya ada di kamar," ucap Devan sambil melihat Jessica.


"Oh iya juga yah, aku akan mengambilnya untukmu,, kamu disini saja," ucap Jessica lalu segera berjalan menuju kamar.


Devan berdiri diambang pintu sambil menatap Nayla yang sedang duduk di atas ranjang.


"Apa kamu masih sakit?" tanya Devan dengan ekspresi wajah dinginnya,, karena melihat masih banyak Art yang berkeliaran di dekat mereka.


Nayla langsung menggelengkan kepalanya cepat dengan perasaan yang masih saja tidak enak begitu mengingat betapa baiknya Jessica pada dirinya.


Setelah Devan mengganti perbannya,, Nayla duduk sendirian di atas ranjangnya,, memikirkan semua yang terjadi,, lagi-lagi Nayla dihantui rasa bersalah pada Jessica.


Jessica begitu baik dan perhatian padanya,, apakah mungkin dia menyakiti hati wanita baik itu? tentu saja tidak,, Nayla tidak setega itu pada wanita. Nayla sungguh tidak sanggup dan juga Nayla tidak sekejam itu.


Dengan tangan gemetar,, Nayla mengambil ponselnya karena ingin menghubungi Denis.


Meskipun Devan sudah menghancurkan ponselnya namun itu bukan halangan bagi Nayla untuk menghubungi Denis karena nomor ponsel Denis telah tercatat di dalam kepalanya tidak perlu susah mencarinya ataupun panik ketika nomor ponsel Denis tidak ada.


"Mas,," ucap Nayla.


Denis langsung tau siapa yang saat ini menghubunginya meskipun Nayla tidak mengucapkan namanya,, suara Nayla sudah melekat di dalam ingatan Denis.


"Sayang,, kamu kemana saja? kenapa nomor ponselmu tidak bisa dihubungi? aku selalu menghubungi nomor ponsel mu setiap hari tapi tidak pernah aktif," ucap Denis yang sangat khawatir,, panik dan juga rindu bercampur menjadi satu.


Denis benar-benar merindukan saat-saat Nayla memeluknya,, bergandengan tangan lalu berjalan berdua,, tertawa bersama tanpa ada beban yang ada hanya kebahagiaan,, membicarakan masa depan bersama Nayla,, Denis sangat merindukan masa-masa itu. Namun saat ini semuanya telah sirna. Semuanya tinggal cerita serta mimpi tanpa kepastian.


"Mas aku sudah membicarakan dengan dia mengenai perceraian,, tapi dia tidak mau menceraikan aku sampai bayi ini lahir,," ucap Nayla dari balik telepon.


"Kenapa dia tidak mau?" tanya Denis.


"Mas aku benar-benar merasa bersalah ketika istrinya sangat baik padaku,, aku mau pergi mas,, aku mohon mas bawa aku pergi dari sini sejauh mungkin,," ucap Nayla dengan suara bergetar yang tidak bisa ditutup-tutupi.


"Kamu yakin akan melakukan itu?" tanya Denis.


"Iya mas,, aku benar-benar yakin,, aku juga siap tidak membawa pakaian apapun agar orang-orang tidak curiga,," ucap Nayla lagi.


Denis yang benar-benar mencintai Nayla langsung setuju dengan keinginan Nayla akan pergi dari hidup Devan,, rasa cinta yang begitu besar membuat Denis lupa bahwa apa yang dia lakukan saat ini adalah kesalahan karena membawa pergi istri orang.

__ADS_1


################


"Dia akan pergi kemana?" batin Devan begitu melihat Nayla keluar rumah dengan terburu-buru.


Matanya dengan jelas melihat Nayla yang sedang berjalan menuju keluar rumah,, Devan sedang berada dibalik jendela kamarnya yang berhadapan langsung kearah luar rumah.


"Sayang," ucap Jessica sambil menyentuh bahu Devan.


"Jessica aku ke rumah sakit dulu yah,, aku ada urusan mendadak,," ucap Devan yang pamit dengan terburu-buru pada Jessica.


"Baik,, hati-hati,," ucap Jessica sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Devan.


Devan mengecup dahi Jessica sejenak lalu segera mengambil jas putih kebanggaannya beserta kunci mobil dan segera pergi dengan cepat.


Secepat mungkin Devan mengemudikan mobilnya agar bisa mengikuti taksi yang ditumpangi Nayla barusan.


"Bandara?" ucap Devan.


Devan dengan jelas mengikuti Nayla yang sedang ke bandara.


Devan segera menepikan mobilnya dengan tergesa-gesa lalu segera turun mengikuti Nayla.


Devan dengan jelas melihat Nayla bertemu dengan seorang pria,, dan pria itu adalah pria yang sama yang dilihatnya di restoran beberapa hari yang lalu bertemu dengan Nayla juga.


"Nayla,," ucap Devan sambil mengepalkan tangannya lalu berjalan cepat ke arah Nayla.


Dengan kasar Devan menarik tangan Nayla yang sedang dipegang oleh Denis saat ini.


Denis dan Nayla seketika tersadar bahwa saat ini ada Devan diantara mereka.


"Mm..mm..mas,," ucap Nayla terbata-bata. Nayla bingung mengapa Devan bisa ada di bandara padahal tadi Nayla sudah pastikan tidak ada yang melihat dirinya pergi.


"Mau kemana kau?" tanya Devan yang terlihat sedang menahan kemarahannya.


"Mas,, a..aa...aku.. aku," Nayla tertunduk sangat takut apabila Devan tau mengenai keinginannya yang ingin pergi meninggalkan hidup Devan dan Jessica.


"Aku dan dia ingin pergi,, kamu siapa menahan kami?" tanya Denis sambil menatap tajam Devan.


Devan tersenyum miring mendapatkan tatapan seperti itu dari Denis.


"Lancang sekali!!!" ucap Devan.

__ADS_1


__ADS_2