
"Ahahahaha,"
"Nanda diam!"
"Tapi aku mau bilang satu hal ke kamu," ucap Nanda.
"Apa?" Reyna mengerucutkan bibirnya, kesal sekali sudah bersikap bodoh tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Itu barusan kamu bisa begitu tahu dari mana atau jangan-jangan?" Nanda memicingkan matanya menatap Reyna penuh intimidasi.
"Apaan sih Nanda!" Reyna ingin sekali menangis.
Merutuki kebodohannya yang sungguh luar biasa bodohnya!
"Mantap aku suka, lagi yuk!" ucap Nanda.
"Nggak mau!" ucap Reyna.
Dengan cepat Reyna meloncat dari ranjang sebelum Nanda kembali menindihnya, bahkan sampai terjatuh di lantai.
"Aduh sakit banget!" Reyna pun menggosok punggungnya, sakit dan kesal bercampur menjadi satu.
Bukan menolong Nanda justru menertawakan.
"Ketawa aja! dasar suami durhaka!" ucap Reyna.
Nanda pun menghentikan tawanya dan ingin menarik selimut yang menutupi tubuh polos istrinya, semakin istrinya kesal semakin membuatnya bahagia, lucu rasanya dua orang anak manusia yang selalu beradu paham kini malah menikah.
Rumah tangga yang keduanya jalani pun penuh dengan perdebatan yang panjang tanpa ada yang ingin mengalah.
"Mandi bareng yuk!" Nanda pun menaik turunkan kedua alis matanya menggoda Reyna dengan bahagia.
"Nggak!" tolak Reyna.
Segera berlari menuju kamar mandi mengunci pintu dengan cepat, agar Nanda tidak sampai ikut masuk.
"Kenapa bisa aku bodoh sekali!" sampai saat ini pun Reyna terlalu kesal pada dirinya.
"Ternyata budenya Nanda," ucap Reyna lagi.
Apa bude?
Artinya dirinya akan bertemu dengan wanita itu sebentar lagi, bagaimana cara berhadapan dengannya nanti? ya ampun Reyna kamu memang manusia paling bodoh.
Sudah berapa kali dirinya mengakui kebodohannya yang hakiki, lama-lama dirinya akan benar-benar bodoh juga kalau begini.
Tok... Tok... Tok...
Nanda berdiri di depan pintu dan mengetuknya berharap Reyna mau membuka pintu untuk dirinya.
"Reyna," ucap Nanda.
__ADS_1
"Nggak!" teriak Reyna dari dalam sana.
"Enak aja mau masuk aja, aku bisa jadi apa nantinya," gumam Reyna kesal.
Selesai mandi Reyna pun keluar dengan balutan handuk, Nanda menatap tubuh seksi Reyna dengan penuh hasrat.
"Nggak usah mikir aneh-aneh," Reyna berlalu pergi dan melihat pakaiannya berserak di lantai.
"Apa iya aku pakai baju kotor ini lagi?" ucap Reyna.
"Kamu pesan lewat aplikasi belanja online saja," ucap Nanda.
"Iya dong, mana mungkin aku pakai baju kotor ini, kamu yang bayar!" ucap Reyna.
"Iya," ucap Nanda.
"Dasar suami aneh, nggak ada tanggung jawab!"
Nanda tersenyum mendengar gumaman Reyna, istrinya itu memang sangat lucu dan menggemaskan, setelah keduanya memakai pakaian bersih akhirnya memutuskan untuk mencari sarapan pagi.
"Kita makan di pinggir jalan yah?" pinta Reyna.
"Boleh," ucap Nanda.
Keduanya mengendarai sepeda motor untuk mencari sarapan pagi, sampai akhirnya keduanya kenyang dan pulang ke rumah.
"Nanda apa bude kamu di rumah kita juga?" Reyna berjalan di samping Nanda dengan perasaan was-was.
"Sepertinya begitu," jawab Nanda.
"Ish,"
Reyna mencubit lengan Nanda, disaat dirinya sedang takut malah Nanda hanya santai saja.
"Eh anak Mama udah pulang," Arni tersenyum menggoda Reyna, belum lagi tengkuk Reyna yang keunguan.
"Oh sepertinya luar biasa yah," goda Arni lagi.
Wajah Reyna memerah mendengar godaan Arni, tapi itu karena Nanda, lagi pula semalam tak membawa apapun bahkan sesuatu yang bisa menyamarkan sisa-sisa percintaan.
"Nanda kamu itu ya, bude bukannya dijemput malah aneh-aneh," omel bude Asri langsung saat melihat keponakannya.
Nanda tersenyum dan mencium punggung tangan bude Asri.
"Selamat pagi bude," sapa Nanda.
"Iya," bude Asri pun melihat wanita yang berdiri di samping Nanda.
"Ini pasti istrimu yah? wah bening sekali, kalau begini wajar kamu nggak pulang kampung buat jenguk bude," bude Asri tersenyum pada Reyna.
"Apa kabar bude?" Reyna pun mencium punggung tangan bude Asri.
__ADS_1
Dalam hati semoga saja bude Asri tidak membahas perihal uh ah itu lagi, dirinya sangat malu jika itu terjadi.
"Iya kamu kapan datang ke kampung? kenalan sama pak de di kampung," ucap bude Asri.
"Dia ini anaknya Puput, apa kamu ingat?" Arni menimpali dan tersenyum.
"Oalah, ternyata kamu anaknya Puput, Mama kamu di mana? mama kamu itu dulu teman bude di kampung," bude Asri menarik Reyna duduk di sofa begitu juga dengan Arni yang ikut menyusul duduk.
Sedangkan Nanda merasa diacuhkan, sejak kapan Reyna dengan mudah menyingkirkan dirinya biasanya bude Asri akan bersikap demikian bila bertemu dengannya, kini seperti sudah berubah setelah adanya Reyna.
"Tapi lain kali saja soalnya bude besok pagi harus balik ke kampung, soalnya ada telepon dari pak de, ada hal penting dan bude harus buru-buru pulang," kata Asri lagi dengan ramahnya.
"Mama juga ikut pulang udah kangen sama rumah juga, males di sini juga yang cuma jadi nyamuk," ucap Arni.
Sebuah sindiran keras membuat Reyna dan Nanda hanya bisa meneguk saliva, walaupun hanya sebuah godaan tapi tak dipungkiri itu cukup membuat malu.
"Gimana bisa Mama di sini kalian pindah nginep di hotel?" ucap Arni.
"Ya sudah sabar saja nanti kamu akan bahagia setelah dapat cucu yah kan?" ucap bude Asri ikut menggoda, dirinya sudah tahu dari Arni jika pengantin baru tersebut menginap di hotel.
Bude Asri tidak masalah sama sekali, lagi pula itu wajar bagi pengantin baru dirinya pun pernah muda dan tahu rasanya seperti apa panasnya saat baru menikah.
"Ahahahaha," Arni dan bude Asri tertawa terbahak-bahak, begitu bahagia menyindir dua orang itu.
"Ma, aku ke kamar dulu," pamit Reyna dengan wajah memerah.
"Iya sayang, istirahat yang banyak, Mama tahu kamu pasti sangat lelah," jawab Arni sambil mengelus pundak Reyna.
Betapa bahagianya Arni melihat rumah tangga anaknya yang hangat, jika pun pulang kampung hatinya akan lebih tenang.
"Tentu itu tanda-tanda digigit harimau liar sepertinya," celetuk bude Asri.
"Arni sebaiknya kamu juga harus ikut pulang kampung, karena di sini kita yang polos bisa ternodai," ucap bude Asri lagi.
"Iya benar sekali! ayo bantu aku mengemasi barang-barangku," ucap Arni.
Reyna berjalan perlahan menuju kamar, dirinya sangat malu! benar-benar malu luar biasa.
"Mama dan bude jangan begitu, kasihan istriku," kata Nanda kesal pada Mama dan budenya.
"Kamu bilang jangan begitu?" bude Asri berkacak pinggang dan berjalan mendekati Nanda.
Menarik telinga keponakannya itu dengan kencangnya, menurutnya Nanda masih saja anak-anak sekalipun sudah dewasa.
"Bude sakit!" ucap Nanda.
"Bude lebih sakit, bude menunggumu di terminal bus, tapi apa? kamu tidak datang menjemput. Awas kalau kamu nggak kasih bude cucu," bude Asri pun melepaskan tangannya, pasti juga telinga Nanda sudah memerah.
"Ya udah bude dan Mama pulang aja ke kampung, biar aku bebas bikin anak di mana aja, di kamar, di kamar mandi, di dapur, di ruang ini, di mana aja, kalau perlu di atap!" ucap Nanda.
"Dasar bocah edan!"
__ADS_1
Nanda segera berlari menuju kamar, jika tidak sudah pasti sendal jepit bude Asri siap mendarat di kepalanya.