
Keadaan Cahaya sudah lebih baik dari kemarin, bahkan hari ini sudah bisa duduk walaupun masih harus dibantu paling tidak Jessica sudah bisa bernapas lega saat ini.
"Ma, Om itu kok lihatin Aya terus sih?" tanya Cahaya sambil melihat pintu di mana Alex berdiri di sana menatapnya.
Jessica pun melihat Alex di sana, dari kemarin hari Alex hanya menatap dari kejauhan saja, entah apa yang sebenarnya ada pikiran Alex saat ini, sungguh Jessica tidak mengerti.
"Aya makan dulu biar cepat sembuh," Jessica berusaha untuk mengalihkan perhatian Cahaya sekalipun bocah itu masih saja bertanya-tanya saat Alex terus menatap dirinya.
"Om" seru Cahaya saat Alex bersiap untuk pergi.
Om?
Ya itu tidak salah sama sekali!
Alex tersenyum getir meratapi kesedihan yang sungguh luar biasa, Alex pun memutuskan untuk menemui Cahaya yang masuk ke dalam ruangan untuk bisa bercerita dengan anaknya itu.
Miris!
Anak?
Alex malu pada Cahaya.
Alex takut Cahaya akan membencinya saat tahu bahwa dirinya adalah seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab terhadap Mom nya Jessica.
Apakah Cahaya masih mau menatapnya bila saat itu tiba?
Apakah sudi menganggapnya sebagai seorang Ayah.
"Om, kenalin nama aku Aya," Cahaya pun mengulurkan tangannya pada Alex.
Bocah periang itu kembali pada mode awal cerewet dan sangat suka berkenalan pada seseorang yang dia sukai.
"Iya," Alex memaksakan diri untuk tersenyum di atas luka lara yang begitu dalam.
"Om yang kemarin ketemu sama Mom kan yang hampir nabrak Mom?" ucap Cahaya.
Lihat saja sampai saat ini pun memori bocah itu begitu baik, tidak lupa saat Mom nya hampir tertabrak.
"Aya sayang sama Mom?" tanya Alex sambil mendekatkan dirinya.
"Iya dong," Cahaya tersenyum bahagia.
"Kalau sama Daddy, Aya sayang nggak sama Daddy?" tanya Alex lagi.
__ADS_1
Cahaya terdiam dan berpikir keras, selama ini dirinya tidak memiliki seorang Ayah seperti teman-temannya, Cahaya pun menatap Jessica seakan butuh bantuan, mata hitam pekatnya seakan ingin mengatakan sesuatu hanya saja tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.
"Nggak tahu, tapi Mom bilang kalau Aya jadi anak baik pasti suatu hari bisa ketemu Daddy," jawab Cahaya dengan polosnya.
Jessica pun memilih pergi, tidak sanggup terus berada di ruangan yang sama dengan Alex menunggu di depan ruangan lebih baik.
"Apa ada hal lain yang Mom katakan tentang Daddy?" Alex kembali bertanya setelah memastikan kini hanya tinggal berdua saja dengan Cahaya.
"Ada, Mom bilang Daddy orang baik, Aya nggak boleh benci sama Daddy, soalnya berdosa," mulut bocah itu komat-kamit menjelaskan pada Alex tentang apa yang selama ini diajarkan oleh Jessica.
Hati Alex bergetar tidak menyangka Jessica masih menutupi keadaan yang sebenarnya, bukankah artinya Jessica masih istrinya sampai saat ini? ya dirinya dan Jessica masih pasangan suami istri yang sah, tidak mungkin sah talak itu diucapkan selama mengandung apalagi kata-kata jika anaknya sudah tiada.
Pada kenyataannya Cahaya ada sampai lahir ke dunia ini.
"Apa Cahaya mau ketemu sama Daddy?" tanya Alex.
"Mau dong! Aya mau kayak teman-teman punya Daddy, punya Mom, dan jalan-jalan bareng, main bareng," ucap Cahaya.
"Em," Alex pun mengangguk.
"Om kok di sini terus?" tanya Cahaya.
"Kamu nggak suka?" tanya Alex.
"Suka dong, Om kan ganteng love Om ganteng," Cahaya pun menyematkan jari kelingkingnya dengan milik Alex.
Kemudian tersenyum manis sambil menunjukkan giginya yang rapi tidak disangka saat tersebut salah satu gigi bagian depan Cahaya terjatuh.
"UPS" Cahaya mengambilnya dan melihat dengan pasti.
"Itu gigi Aya udah copot?" tanya Alex sambil tertawa kecil.
"Hehehe, giginya nakal Om," akhirnya Cahaya tersenyum sambil menunjukkan dua baris gigi ompongnya.
"Ahahahaha..." keduanya malah tertawa terbahak-bahak.
Jessica tidak menyangka bahwa secepat itu Cahaya dan Alex bisa dekat, inikah yang dinamakan dengan ikatan batin antara Ayah dan anak?
"Aya mau peluk Daddy?" tanya Alex tiba-tiba, dirinya tak sanggup lagi mendengar Cahaya memanggilnya dengan sebutan Om.
"Mau, memangnya Om tahu Daddy Aya di mana?" tanya Cahaya dengan antusias.
"Iya," jawab Alex.
__ADS_1
"Di mana Om?" tanya Cahaya.
"Di sini," Alex menunjuk dirinya.
"Om Daddy nya Cahaya," ujar Alex.
Cahaya memicingkan matanya, ingin mencari kebenaran menurutnya penjelasan Alex belum meyakinkan, Alex pun mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto di mana saat itu dirinya dan Jessica menikah.
Walaupun tidak yakin bahwa Cahaya akan mengerti.
"Ini Mom, ini Daddy," Alex mencoba untuk menjelaskan.
Cahaya menggaruk kepalanya dengan kebingungan, penjelasan Alex terlalu menyulitkan untuk bisa dimengerti oleh anak seumuran Cahaya, sedih sekali rasanya di saat anak seumuran Cahaya sudah tak mau lepas dari sang Ayah malah Alex masih harus memperkenalkan diri sebagai sang Ayah.
Miris sekali!
Ini suatu pukulan keras yang membuat hati menjerit penuh kesakitan.
"Mom" seru Cahaya.
Jessica yang berada di luar mendengar teriakan Cahaya, segera masuk kembali untuk melihat apakah yang tengah terjadi atau mungkin anaknya menginginkan sesuatu saat ini juga.
"Ada apa sayang?" tanya Jessica.
"Mom, dia bilang kalau ini Daddy nya Aya," Cahaya menunjuk Alex dengan bingung.
Jessica pun terdiam sambil menatap Alex, mungkinkah dirinya mengatakan iya atau memilih diam.
"Mom dia siapa? Daddy bukan?" tanya Cahaya.
Jessica pun mengangguk lemah, seakan menjawab iya.
"Jessica tolong jelaskan bahwa aku Ayahnya," Alex memohon dengan penuh harap.
Jessica mengangguk pelan dan duduk di sisi brankar, memegang tangan Cahaya dengan erat.
"Iya Om ini Daddy nya Aya, Aya seringkali bertanya kepada Mom dan ini jawabannya, Daddy nya ini," ucap Jessica.
Cinta memang tidak pernah salah, Jessica masih sama seperti dulu baik, mungkinkah Jessica masih mau kembali padanya?
Cahaya masih terdiam dalam pikirannya, seakan anak itu masih butuh pertimbangan.
"Aya nggak mau dipeluk Daddy?" pinta Alex penuh harap.
__ADS_1
Cahaya masih diam dan ragu, Alex pun mengusap dada berusaha untuk tetap tegar di saat air mata ingin tumpah ruah.