
Tanpa sengaja mata Devan melihat Jessica yang berdiri di pintu masuk, seketika itu Jessica pun masuk dan duduk di samping Devan.
"Kenapa menyusul?" tanya Devan.
"Aku sangat lapar,, kamu aku tungguin tapi nggak muncul-muncul,, kita makan di sini saja aku udah lapar banget," ucap Jessica dan Devan pun mengangguk menyetujui usulan Jessica, sesaat kemudian makanan yang dipesan oleh Devan pun tiba dan mereka mulai menikmati makan siang mereka.
Sesekali mata Devan terus curi pandang ke arah Nayla, sekalipun wanita itu benar-benar tidak menyadari bahwa dia tengah menjadi pusat perhatian seorang Devan Direktur rumah sakit tempatnya bekerja lebih tepatnya sang mantan suami.
Jessica terbatuk-batuk supaya Devan beralih menatap dirinya, memberikan mineral sehingga membuat tenggorokannya merasa jauh lebih baik.
Jessica bukan karena tersedak biasa, melainkan dengan sengaja agar Devan tidak lagi memperhatikan Nayla. Sedih rasanya hanya dianggap sebuah figura semata, ada di dekat Devan tapi tidak dianggap sama sekali oleh Devan.
Sesaat kemudian Nayla dan Denis selesai makan siang, keduanya keluar dari restoran kembali menuju rumah sakit karena jam istirahat sudah habis,, lagi-lagi Devan pun hanya bisa menatap,, sekalipun Jessica terus mencari perhatian Devan tapi Devan masih sangat betah untuk menatap wajah Nayla yang sangat dirindukannya itu.
###########
Pukul tiga sore...
Jessica tertidur di ruang kerja Devan, sedangkan Devan masih sibuk membaca data pasien yang berada di tangannya saat ini. Sesaat kemudian Devan mengambil ponselnya untuk menghubungi Alex, karena tidak ada jawaban Devan pun memutuskan untuk menemui Alex secara langsung.
Cukup lama keduanya tidak bertemu meskipun berada di rumah sakit yang sama,, sejenak Devan melihat wajah Jessica yang masih terlelap di atas sofa. Sesaat kemudian Devan keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa lembar kertas dan segera menuju ruangan Alex. Begitu sampai di sana pintu ruangan Alex tidak tertutup dengan rapat, menampakan wajah Nayla dan Alex yang tengah duduk di sofa sambil terlihat berbicara serius.
Devan sejenak terdiam sambil memandang ke arah dalam,, menimbang apakah dirinya masuk atau tidak.
"Nayla sepertinya aku ingin membahagiakan kamu,, aku mohon Nayla kamu mau, karena aku sudah pernah membuatmu terjebak masuk dalam kehidupan Devan dan juga Jessica. Aku benar-benar sangat menyesal,, aku ingin menebus semuanya dengan membahagiakan kamu dan juga Felix,, aku berjanji akan selalu membahagiakan kalian," ucap Alex sambil menatap wajah Nayla dengan serius.
Devan masih diam di tempatnya,, Devan semakin penasaran dengan maksud Alex berkata seperti itu.
Masuk ke kehidupan Devan dan Jessica?
Devan sungguh masih bertanya-tanya dan juga bingung, mungkin lebih baik mendengarkan apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh Alex.
"Kamu mau kan menjadi istriku? aku benar-benar sangat tulus ingin membahagiakan kamu," ucap Alex lagi.
Nayla tersenyum dan menghargai begitu besar rasa bersalah Alex pada dirinya. Akan tetapi Nayla juga tidak mau dinikahi karena dikasihani semata. Nayla tidak ingin lagi gagal dalam membina rumah tangga untuk kedua kalinya,, sehingga jika pun dia akan menikah lagi, Nayla sungguh ingin menikah dengan lelaki yang tulus mencintainya dan mencintai putranya juga sungguh-sungguh,, tanpa terkecuali.
"Maaf Dokter...," ucap Nayla tidak selesai karena dipotong Alex duluan.
"Aku mohon Nayla,, jika aku tidak membahagiakan kamu sampai kapanpun aku akan sangat menyesal," ucap Alex cepat.
"Tapi aku belum siap untuk menikah lagi Dok," jawab Nayla.
__ADS_1
"Apa karena Dokter Devan?" tanya Alex.
Nayla langsung menggelengkan cepat kepalanya sambil terdiam,, saat ini masalahnya bukan karena Devan, tapi karena rasa trauma yang masih sulit untuk dilupakan oleh Nayla.
"Aku berjanji akan membahagiakanmu Nayla,, aku janji, aku takut kamu tidak akan bahagia, aku benar-benar merasa bersalah karena sudah membuatmu menderita,, aku mohon menikahlah denganku untuk menebus dosaku, dosa yang sudah membuatmu dianggap menjadi perusak rumah tangga Devan dan Jessica," ucap Alex lagi.
Devan sudah tidak mampu lagi berdiri terlalu lama tampaknya ada hal yang harus diluruskan. Sudah berapa kali Alex menyebut namanya,, Jessica dan juga membawa-bawa Nayla. Dengan langkah kakinya yang lebar Devan masuk tanpa permisi, Alex dan Nayla tersadar ada yang masuk, seketika keduanya berdiri menatap Devan.
"Apa maksudmu Alex mengatakan bahwa kamu sudah membuat Nayla terjebak dalam rumah tanggaku dengan Jessica?" tanya Devan langsung.
Alex langsung terdiam,, Alex diselimuti rasa was-was dalam hatinya saat ini, tetapi lagi-lagi semuanya harus tahu tentang apa yang sudah terjadi, lebih baik mengakui semuanya dan minta maaf daripada terus terjebak dalam perasaan bersalah.
"Aku benar-benar minta maaf Devan,, tapi aku bersalah, akulah orang yang sudah memasukkan obat perangsang di minuman mu,, entah apa maksudku waktu malam itu,, aku pun tidak tahu, aku gelap mata, aku minta maaf Devan," ucap Alex yang merasa lega karena sudah mengakui kesalahannya pada Devan, kesalahan yang membuat Alex sulit memejamkan mata saat akan tidur, Alex benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang telah dilakukannya malam itu memiliki resiko yang begitu besar, tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya kini Alex hanya pasrah akan keadaan. Sedangkan Jessica pun terdiam di ambang pintu, sebelumnya dia berpura-pura tidur,, hingga saat Devan melangkah keluar dia juga mengikuti Devan dari belakang.
Jessica mencurigai Devan akan bertemu diam-diam dengan Nayla, namun sayangnya salah ternyata Devan pergi menemui Alex dan malah mendengar sebuah fakta yang ternyata begitu mengejutkannya. Alex adalah penyebab dari semuanya, Jessica hanya terus terdiam di tempatnya sambil mendengarkan apa tanggapan Devan selanjutnya begitu mengetahui semuanya.
Devan langsung memukuli Alex hingga membabi buta, bahkan hingga Alex jatuh terkapar di lantai.
"Sudah!!! sudah!!! jangan seperti ini," ucap Nayla yang sebenarnya bingung harus berbuat apa,, kecewa pada Alex sudah pasti kecewa. Akan tetapi semuanya sudah berlalu,, nasi yang sudah menjadi bubur tidak mungkin akan menjadi beras lagi,, itulah kenyataannya bahwa keadaan tidak mungkin akan kembali seperti semula lagi.
"Kau kurang ajar!!! kamu benar-benar laki-laki kurang ajar!!! karena kamu rumah tangga aku hancur,, Nayla hancur, dan kamu tahu siapa korban sesungguhnya? anakku!!! anakku Felix menjadi korbannya," ucap Devan lalu kembali menendang perut Alex.
"Aku benar-benar menyesal," ucap Alex.
"Percuma kata menyesal mu itu,, tidak bisa merubah apapun," ucap Devan dengan penuh amarah.
Ternyata sahabatnya sendirilah yang menjadi akar permasalahan yang begitu rumit, berjuta kata maaf pun sulit untuk menerima.
"Dokter Devan sudahlah semuanya sudah terjadi, kalaupun terlalu mempermasalahkan kasihan Felix, jika Felix tau semua ini pasti dia akan merasa menjadi anak yang tidak diharapkan di dunia ini, aku benar-benar tidak mau, aku ingin anakku hidup bahagia meskipun tanpa Ayahnya," ucap Nayla.
Devan kembali mendekati Alex dan menarik kerah kemeja Alex dengan begitu kuat,, ingin sekali dia menghabisi sahabatnya itu saat ini juga.
"Kamu mau menikah dengan dia? dia sudah menghancurkan hidupmu!!!" tanya Devan pada Nayla dengan nada tinggi, seakan penuh kemarahan.
"Jika itu pertanyaannya aku tidak tahu Dokter Devan, yang jelasnya semua orang pasti pernah memiliki kesalahan dan semua orang bisa dimaafkan," ucap Nayla.
"Sadar Nayla!!! dia sudah menyakiti kamu," ucap Devan.
"Lalu apa bedanya dengan kamu," tantang Nayla.
Devan diam sambil melepaskan cengkraman tangannya pada kerah kemeja Alex.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Devan.
"Jika kamu masih bertanya berarti kamu tidak pernah sadar telah menyakiti hati mantan istrimu selama ini,, jika kamu ingin tahu maka tanyakan pada dirimu sendiri" ucap Nayla.
Jessica yang masih berdiri di ambang pintu tidak mampu lagi mendengarkan pertengkaran mereka,, hingga memilih pergi tanpa diketahui oleh ketiga orang itu.
"Nayla yang salah itu dia!!!" ucap Devan.
"Iya Dokter Alex memang salah bahkan dia mengakui kesalahannya, dia hebat Dokter Devan. Orang yang baik itu seperti dia,, salah tapi berani mengakui kesalahannya, tidak seperti kamu apa pernah kamu menemui anak mu? apa kamu pernah menanyakan kabarnya? apa pernah?" ucap Nayla.
Bagi Nayla apapun masalah yang terjadi di antara mereka,, Devan harus tetap menemui Felix,, menjadi sosok ayah yang baik dan memberikan kasih sayang layaknya seorang ayah, tapi tidak!!! Devan tidak melakukan hal itu hingga merasa anaknya hanya sebuah benalu saja.
"Nayla kenapa kamu malah membela pria kurang ajar itu?" ucap Devan.
Nayla tidak ingin lagi berdebat. Percuma saja berbicara dengan Devan karena itu tidak akan menyelesaikan apa-apa. Nayla sedang dalam keadaan emosi begitu juga dengan Devan, akhirnya Nayla memilih untuk pergi meninggalkan Devan dan Alex berdua saja di ruangan itu.
"Kamu memang kurang ajar Alex!!! semua masalah ini karena kamu, kamu memang sumber masalah," ucap Devan sambil mengepalkan tangannya.
"Aku minta maaf Devan,, saat itu aku benar-benar gelap mata hingga tanpa pikir panjang aku memasukkan obat itu. Lagi pula saat itu aku tidak mau kamu mendapatkan sisa ku, kami sudah tidur bersama di belakangmu, aku dan Jessica sudah menjalin hubungan diam-diam di belakang, aku minta maaf!!! tolong maafkan aku Devan," ucap Alex dengan ekspresi wajah yang bener-bener sangat menyesal.
Devan ingin sekali menghajar Alex lagi,, tapi tiba-tiba ponselnya berdering membuatnya urung untuk menghajar Alex lagi.
"Halo Ma," ucap Devan sambil melihat Alex dengan tatapan mata penuh kemarahan.
"Devan,, Jessica pendarahan, Mama baru saja menemukannya pingsan di pinggir jalan dekat lampu merah,, kamu di mana? cepat ke UGD sekarang," ucap Ana di balik telepon.
Devan menjauhkan ponselnya,, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin begitu mendengar berita yang membuatnya merasa gagal menjaga janin yang ada di dalam kandungan Jessica, segera dia keluar dari ruangan Alex lalu menuju ke UGD.
Begitu sampai di UGD,, Devan melihat Jessica terbaring tidak sadarkan diri dengan wajah pucat, pertanyaannya saat ini mengapa Ana menemukan Jessica di pinggir jalan? bukannya sebelumnya Devan meninggalkan Jessica di dalam ruangannya dalam keadaan terlelap.
"Ma, Jessica kenapa?" tanya Devan.
Ana menatap Devan dengan perasaan sedih,, melihat keadaan Jessica yang belum juga sadarkan diri.
"Devan apa yang terjadi sebenarnya? bukankah kini pernikahan kalian sudah membaik? lalu kenapa Jessica bisa sampai seperti ini?" tanya Ana yang memiliki banyak pertanyaan untuk dijawab oleh Devan, hingga dia tidak menjawab pertanyaan Devan tadi.
Devan tidak menjawab karena keadaan rumah tangganya sesungguhnya hanya sandiwara saja,, Devan terus bersandiwara membuat Jessica bahagia,, bersandiwara dia terlihat bahagia juga, padahal sebenarnya sudah berniat ingin menceraikan Jessica ketika Jessica telah melahirkan nanti,, Devan benar-benar sudah mantap ingin menceraikan Jessica tidak ada kebimbangan sedikit pun dibandingkan dengan dulu dia hendak menceraikan Nayla, dia begitu sangat bimbang. Percuma memaksakan rumah tangga yang sudah hancur, memaksakan diri mencintai wanita itu,, padahal sudah tak ada cinta lagi untuk wanita itu. Benar-benar sudah tidak ada lagi cinta yang tersisa walau sedikit pun untuk Jessica.
"Dokter bagaimana keadaannya?" tanya Devan kepada dokter yang menangani Jessica.
Dokter tersebut hanya menggeleng lemah saja.
__ADS_1