
Mata Reyna terbuka, badannya menggigil menahan rasa dingin, suhu tubuhnya begitu panas hingga membuat Nanda begitu cemas, Nayla yang baru saja sampai langsung memeriksa keadaan Reyna kemudian memberikan obat hingga membuat Reyna terlelap.
"Sebaiknya untuk sementara waktu ini kalian pindah ke kamar tamu saja, kamar ini biar dibersihkan dulu," Puput menatap kamar Reyna yang sudah seperti kapal pecah.
Beling berserakan di mana-mana dan belum lagi gorden yang ditarik paksa hingga membuat jendela kaca tak menggunakan penutup.
Meja rias hancur begitu saja!
Nanda pun mengangguk setuju, dengan hati-hati dirinya mengangkat tubuh Reyna untuk berpindah kamar.
Di kamar lainnya tersebut Reyna dibaringkan dengan hati-hati, hingga tak membuat sang pemilik tubuh terusik dari tidurnya.
"Nanda kamu apain Reyna?" tanya Nayla.
Nayla yang menarik Nanda pada sudut kamar begitu kesal, mungkin karena Nanda telah melakukan itu saat keadaan Reyna sedang terpuruk.
"Aku terpaksa, aku nggak tega melihat dia seperti orang tidak waras, dan hanya ingin membuktikan bahwa dia masih suci," jawab Nanda dengan suara pelan.
Baiklah! Nayla pun bisa menerima alasan Nanda yang cukup masuk akal.
Sebagai seseorang yang sudah mengetahui keadaan rumah tangga sahabatnya, Nayla pun mengerti.
"Baiklah aku terima alasanmu, tapi awas kalau setelah ini dia malah semakin terpuruk," ucap Nayla.
Masih saja ada kalimat ancaman yang keluar dari bibir Nayla, dirinya sangat takut kehilangan sahabatnya Reyna.
"Satu lagi kau harus mengusut tuntas kasus ini, jangan biarkan pelaku utamanya lepas begitu saja, ingat dia sudah hampir membuat istrimu mati," tegas Nayla.
"Itu pasti!" Nanda menyetujui permintaan Nayla sebagai seorang suami dirinya pun tak menerima hal ini.
Di mana istrinya sendiri yang menjadi korban.
"Aku akan menagih janjimu," ucap Nayla.
Nayla dan Devan pun berpamitan pulang, begitupun dengan Puput dan Pian yang ikut keluar dari kamar Nanda dan Reyna.
Nanda memandangi wajah pucat Reyna, dirinya merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukannya.
"Maaf," Nanda duduk di sisi ranjang mengusap kepala Reyna dengan perlahan.
"Maaf tadi aku sudah kasar semoga kamu tidak semakin membenciku, aku hanya takut kehilanganmu, aku tidak tahu kenapa tapi aku tidak ingin kalimat cerai terus keluar dari mulutmu," ucap Nanda.
Malam pun semakin larut Nanda menjaga Reyna dengan penuh kesabaran.
Di malam harinya saat Reyna bangun meminta makan, Nanda pun segera menyiapkannya, belum juga habis nasi di piringnya Reyna sudah muntah, mungkin karena tak makan sejak beberapa hari ini ditambah lagi stres karena beban pikiran atas musibah yang terjadi, tapi tak sedikitpun Nanda marah, sekalipun muntahnya Reyna mengenai pakaiannya dengan telaten membersihkan tubuh istrinya tanpa rasa jijik, tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Nanda dirinya hanya takut Reyna marah karena sudah memaksanya siang tadi, Nanda hanya melakukan apa yang harus dilakukan dan berikan apa yang pinta Reyna tanpa penolakan.
"Aku mual," kata Reyna sambil memegangi perutnya.
Sesaat kemudian kembali muntah, belum juga sampai Nanda yang membawakan wadah untuk tempat muntahan Reyna, lagi-lagi Nanda pun membersihkan tanpa rasa ragu.
Reyna yang merasa pusing memijat dahinya sendiri, Nanda pun tidak membiarkan, dirinya memijat kepala Reyna hingga tertidur lelap kembali.
Setelah terlelap, Nanda pun mulai memperbaiki tubuh Reyna agar lebih nyaman.
Pagi harinya matahari pagi bersinar dengan terangnya, Reyna terjaga tubuhnya jauh lebih segar seketika ingatan semalam membayang di benaknya.
__ADS_1
"Nanda" Reyna tidak melihat keberadaan Nanda di sampingnya ternyata Nanda tidur di sofa.
Sejenak Reyna menatap wajah Nanda merasa terharu karena semalaman penuh sudah merawat dirinya, Reyna pun teringat kembali akan peristiwa siang kemarin dirinya menyingkirkan selimut dan mencari noda merah yang mungkin saja ada.
Tidak ada sama sekali!
"Kamu mencari sesuatu?" Nanda terbangun dan melihat raut kegelisahan di wajah Reyna.
Reyna pun meneguk saliva, hatinya benar-benar tidak karuan, tidak ada noda merah pada sprei putih artinya dia sudah tidak lagi suci.
"Keluar dari sini!" teriak Reyna, dirinya bukan membenci Nanda hanya saja malu pada Nanda yang sudah menolak untuk memberikan hak suami, akan tetapi justru kejadian itu malah membuat kesuciannya terenggut begitu saja.
"Reyna, ada apa?" tanya Nanda dengan bingung.
"Keluar dari sini dan jangan temui aku lagi, ceraikan aku!" seru Reyna dengan penuh amarah.
Puput membawakan sarapan pagi begitu masuk sudah mendengar keributan hingga membuatnya bertanya-tanya, apakah sebenarnya yang terjadi?
"Reyna," Puput melayangkan tatapan tajam, kesal bukan main melihat kelakuan putrinya.
"Ma, tidak apa! dia sedang tidak baik-baik saja," Nanda menunjukkan tatapan memohon berharap Mama mertuanya mengerti.
"Tapi dia keterlaluan," ucap Puput.
"Ma," pinta Nanda lagi.
"Pergi! kenapa masih di sini!" teriak Reyna dan melempar bantal pada lantai.
Nanda pun segera pergi meskipun dengan berat hati, setelah Nanda pergi Reyna menangis tersedu-sedu, meluapkan rasa kecewanya kecewa pada dirinya yang sudah menyia-nyiakan suami sebaik Nanda.
"Reyna kenapa kamu bersikap begitu keras? siapa yang mengurusmu semalaman? Nanda. Siapa yang menolong mu? Nanda juga. Dia suamimu bukan musuhmu, kenapa kamu memperlakukannya seperti itu?" tanya Puput dengan rasa kecewa.
Kini dirinya bukan berada di dalam kamarnya, ini kamar tamu.
"Ma, kenapa aku di kamar tamu?" tanya Reyna.
"Semalam Nanda yang mengangkatmu, kamarmu banyak beling yang berbahaya dan sementara kamu di sini dulu," jelas Puput.
Dengan cepat Reyna meloncat dari atas ranjang, bahkan tubuh lelahnya sampai terjatuh di lantai.
"Sssttttt," Reyna meringis meresapi rasa sakit di bagian bawah, sesaat kemudian dirinya memaksa untuk berjalan kembali.
"Reyna kamu mau ke mana?" Puput pun panik dan segera menyusul Reyna, takut jika kini putrinya sudah benar-benar gila.
Mata Reyna melihat kamarnya yang sudah dibersihkan, sprei pun sudah diganti dengan yang baru.
"Ma, siapa yang beresin kamar aku?" tanya Reyna.
"Bibik," jawab Puput.
Segera Reyna menuju dapur berlari dengan tergopoh-gopoh demi bisa menemui Art.
"Bibik," Reyna berteriak dari kejauhan.
Yang dipanggil pun memutar lehernya beberapa derajat hingga melihat Reyna.
__ADS_1
"Iya Neng,"
"Sprei kamar aku di mana Bik yang semalaman atau pagi tadi atau kapan Bibik menggantinya?" tanya Reyna tidak sabaran.
"Oh, tadi malam,"
"Di mana sprei nya?" tanya Reyna lagi.
"Di belakang Neng mau dicuci,"
Segera Reyna berlari menuju dapur melihat Art yang lain sedang memasukkan sprei yang dicari-dicarinya segera Reyna merebutnya dari tangan Art itu.
"Ya ampun Neng Reyna, aku sampai kaget," kata Art itu.
Reyna tidak peduli sama sekali dirinya berusaha mencari secercah noda merah yang mungkin saja ada.
Mata Reyna melebar melihat noda merah itu artinya benar jika dirinya belum dinodai oleh preman kurang ajar itu, air mata Reyna menetes dirinya tidak perlu meminta cerai dari Nanda.
"Reyna kamu sebenarnya kenapa?" Puput benar-benar tidak mengerti sampai saat ini tapi kini senyum Reyna jelas terlihat.
"Ma aku mau pulang ke rumah Nanda, Nanda belum menceraikan aku kan Ma?" tanya Reyna.
"Tidak! dia tidak menceraikan dia cuma bilang menitipkan kamu sementara sama Mama sampai kamu mau kembali padanya," jawab Puput.
"Ma, antar aku pulang ke rumah Nanda yah, aku nggak berani sendirian," pinta Reyna dengan nada memohon.
Kejadian kemarin benar-benar membuatnya merasakan trauma hingga memilih meminta Puput mengantarnya, Puput tentunya setuju dengan segera mengantarkan Reyna pulang menuju rumah Nanda.
Sesampainya di rumah Nanda dengan segera Reyna pun turun, tak sabar ingin bertemu dengan Nanda dan meminta maaf.
"Reyna kamu pulang?" betapa antusias Arni menyambut kepulangan Reyna.
"Ma, Nanda ada?" tanya Reyna.
"Ada di kamar," jawab Arni.
Reyna segera menuju kamar, belum juga dirinya membuka pintu ternyata sudah terbuka terlebih dahulu, Nanda pun terkejut melihat kepulangan Reyna, dalam hati berharap semoga bukan untuk perceraian.
"Maaf!" lirih Reyna dengan mata yang berkaca-kaca.
Nanda tertegun mendengar kata maaf sejenak dirinya terdiam.
Mungkinkah ini hanyalah sebuah mimpi.
"Nanda maafin aku tolong jangan ceraikan aku," pinta Reyna hingga menitikkan air mata.
Nanda pun tersadar ternyata ini nyata bukan mimpi.
"Iya," jawab Nanda.
Dengan cepat Reyna memeluk Nanda hingga membuat Nanda terkejut, Puput dan Arni pun tersenyum menyaksikan sendiri bagaimana kini keadaan rumah tangga Nanda dan Reyna mulai membaik, meskipun mereka tak mengerti tentang apa penyebabnya, Nanda masih terlalu shock hingga tak bisa melakukan apapun untuk membalas pelukan Reyna saja dirinya lupa bagaimana caranya.
"Ehem... ehem," Arni berdehem membuat Nanda dan Reyna tersadar ada orang lain selain mereka.
Segera Reyna menjauh merasa malu pada mertuanya.
__ADS_1
"Masuk aja ke dalam kamar kalau mau romantis-romantisan," goda Arni.
Nanda dan Reyna pun tersenyum kikuk terutama Reyna yang sangat malu, dirinya langsung memeluk Nanda begitu saja tapi percayalah ke depannya dirinya akan benar-benar berubah menjadi istri yang terbaik.