
Akhirnya satu minggu telah berlalu,, kini Nayla telah kembali ke rumah bersama dengan anaknya yang bernama Felix Bima Putra. Sekalipun bayi itu terlahir prematur dengan berat badan di bawah rata-rata, tapi Nayla terlihat begitu telaten dalam mengurus anaknya. Sangat tidak sulit bagi Nayla dalam mengurus anaknya yang baru berusia tiga minggu itu, apalagi dirinya adalah seorang perawat membuat Nayla cukup berpotensi dalam mengurus bayi.
Setelah mengurus Felix, Nayla pun berlanjut untuk membersihkan diri,, belum selesai Nayla memakai pakaian,, Felix sudah menangis. Sebagai seorang ibu tentunya Nayla akan mengutamakan anaknya dulu daripada dirinya, dengan senyuman penuh kebahagiaan,, Nayla segera menuju ke ranjang sekalipun Nayla masih memakai balutan handuk di tubuhnya.
Perlahan Nayla mengambil Felix lalu segera diberikan ASI,, hingga bayi mungil itu langsung berhenti menangis, Felix terlihat menyusu dengan sangat lahap.
Sesaat kemudian pintu terbuka, terlihat Devan masuk dengan jas putih di tangannya sambil berjalan mendekati Nayla yang sedang menyusui Felix.
"Anak Ayah," ucap Devan yang langsung berjongkok sambil mencolek pipi anaknya dengan gemas.
Semenjak Felix lahir dan dibawa pulang ke rumah, Devan lebih sering berada di rumah Nayla, bayi mungil itu seakan menjadi pengingat dan penyemangat saat dia bekerja.
Bahkan satu hari saja tidak melihat anaknya Devan merasa seakan ada yang kurang, sehingga hari-harinya terus bersama dengan Felix dan Nayla.
"Anak Ayah nakal nggak sih?" ucap Devan lalu kembali mencolek hidung Felix,, bayi mungil itu tidak bereaksi sama sekali sebab ASI membuat dirinya menjadi semakin tenang,
Berbeda dengan Nayla yang terlihat hanya biasa saja, tanpa ada perasaan aneh sedikitpun. Kini Devan baru menyadari bahwa Nayla saat ini hanya Berbalut handuk berwarna pink saja sambil memberi ASI pada anaknya,, mungkin karena Felix rewel sehingga mendahului mengurus Felix.
"Kamu sudah makan?" tanya Devan yang berbasa-basi pada Nayla.
"Sudah Mas," jawab Nayla seadanya saja dengan apa yang ditanyakan oleh Devan, Nayla tidak ingin lagi tersiksa, karena Nayla sadar bahwa dirinya bukanlah apa-apa di kehidupan Devan.
Saat ini Nayla hanya fokus mengurus anaknya sambil menunggu kata talak yang akan keluar dari mulut Devan,, tapi sampai saat ini Devan belum juga menalak dirinya. Setelah Felix terlelap Nayla kembali meletakkan anaknya ke atas ranjang,, tidak ada box bayi atau keperluan bayi yang lainnya.
Nayla menolak saat Devan mengajak dirinya untuk belanja perlengkapan bayi, dengan alasan bahwa dirinya belum pulih betul,, dan jika pun ingin membeli peralatan bayi lainnya,, Nayla ingin membeli secara langsung memilih dengan tangannya sendiri. Sebenarnya tujuan utama Nayla adalah tidak ingin menerima apapun dari Devan dan keluarga Devan, apalagi dirinya sebentar lagi akan keluar dari dalam rumah itu. Nayla tidak tahu nanti akan membawa ke mana barang-barang banyak itu sehingga barang-barang itu akan menjadi mubazir saja.
"Apa jahitannya sudah sembuh?" tanya Devan.
"Sudah cuma belum sembuh betul saja," jawab Nayla.
Nayla sangat tahu mungkin Devan saat ini menunggu dirinya pulih betul,, lalu tinggal menjatuhkan talak saja untuk dirinya.
__ADS_1
"Kamu pakai salep nya kan?" tanya Devan lagi.
Karena Nayla terlalu asik mengurus anaknya,, kadang membuat Nayla lupa mengolesi salep pada bekas luka jahitan padahal itu sangat penting dalam proses pemulihan.
"Iya sih aku lupa," ucap Nayla, untung saja Devan mengingatkan dirinya karena jika tidak ada kemungkinan hari ini dia tidak memakai salep itu.
"Sini biar Mas yang pakaikan," ucap Devan.
"Aku pakai pakaian dulu yah Mas," ucap Nayla,, lalu segera berdiri menuju lemari, mengambil salah satu daster yang dianggap Nayla paling nyaman lalu segera menuju kamar mandi sambil sembunyi-sembunyi membawa salep.
Hingga beberapa menit kemudian Nayla telah kembali dan sudah memakai dasternya di tubuhnya.
"Sini Mas olesi salep," ucap Devan.
"Udah kok Mas,, barusan selesai diolesi begitu memakai baju tadi," ucap Nayla.
Kini sudah tidak ada lagi hati dan tak ada lagi kesempatan untuk Devan menyentuh dirinya,, kini Nayla hanya menunggu kata talak saja dari Devan,, Nayla tak ingin tersiksa terus,, apalagi Nayla tidak ingin merusak kebahagiaan wanita lain.
Nayla dan Devan duduk makan berdua dalam diam,, mereka seakan fokus pada makanan mereka dan juga pikiran mereka masing-masing.
Begitupun Nayla memilih makan sayuran yang banyak dan membuang segala pikiran buruk yang hanya akan membuat dirinya stres saja.
"Mas nggak pengen bicara sesuatu?" tanya Nayla yang memecah keheningan diantara mereka berdua,, karena Nayla pikir Devan akan segera menjatuhkan talak pada dirinya, Nayla sudah bersiap-siap akan hal itu dan Nayla juga sudah siap pergi dari rumah itu untuk memiliki rumah sendiri dan menata hidupnya kembali bersama anaknya,, biar bagaimanapun Nayla tidak ingin begini terus menjadi istri kedua dan membuat Jessica selalu merasa sakit hati padanya,, Nayla sudah berdamai dengan keadaannya saat ini. Nayla yang akan mundur sesuai dengan perjanjian awal mereka tanpa menyuruh Devan memilih lagi antara dirinya atau Jessica, karena Nayla tau dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Jessica,,, Nayla tau Devan mencintai Jessica,, Nayla akan mendoakan kebahagiaan rumah tangga Devan dan Jessica. Semoga rumah tangga mereka bisa membaik seperti dulu lagi ketika dia sudah tidak menjadi istri kedua Devan lagi.
Devan langsung beralih menatap Nayla, memikirkan pertanyaan Nayla tadi.
"Maksudnya?" tanya Devan tidak mengerti.
Nayla cuma mengangkat kedua bahunya,, mungkin tidak sekarang pikir Nayla.
"Aku balik ke kamar duluan," ucap Nayla lalu segera berdiri dari duduknya dan menuju kamar.
__ADS_1
Devan menatap punggung Nayla yang semakin menjauh sambil memikirkan pertanyaan Nayla tadi yang membuat dirinya juga ikut bertanya-tanya maksud dari Nayla.
"Selamat siang," ucap Ana yang membawa anggota keluarga lainnya kecuali Jessica saja yang tidak mungkin akan sudi datang berkunjung ke rumah Nayla.
"Mama, Kak Andini," ucap Devan.
"Devan,, Felix dimana?" tanya Ana.
"Di kamar Ma," jawab Devan.
Ana mengangguk kemudian segera melangkah menuju kamar.
"Cucu Oma," ucap Ana dengan mata berbinar lalu segera melangkah masuk ke dalam kamar tanpa izin.
Pintu kamar yang setengah terbuka membuatnya segera masuk tanpa izin apalagi setelah melihat wajah Felix yang tidak jauh darinya,, hanya berjarak beberapa meter saja membuat dirinya ingin segera masuk dan mencium pipi cucunya itu.
"Hai Felix," ucap Andini juga lalu mencium pipi ponakannya itu dengan sangat gemas.
"Hai Tante," ucap Nayla juga seakan menirukan suara anak kecil.
"Enak aja Tante,, Mama,, Mama Andini," ucap Andini yang tidak ingin dipanggil Tante oleh keponakannya.
"Iya Mama," ucap Nayla sambil tersenyum,, Nayla memperbaiki panggilan Andini sesuai dengan keinginan Andini sendiri.
"Nah gitu dong," ucap Andini yang terlihat bahagia saat dipanggil Mama.
Semuanya terlihat sangat akrab,, kehadiran Felix benar-benar memperbaiki keadaan yang sangat buruk, kali ini Nayla benar-benar dianggap sebagai anggota keluarga tanpa ada rasa canggung lagi seperti dulu.
"Bunda Nayla, cie udah punya Dedek bayi sekarang," ucap Rani sambil tersenyum dengan gigi ompong nya, Rani yang suka menggoda Nayla itu tidak kalah terlihat bahagia nya.
Bahkan semuanya tertawa karena godaan bocah imut itu yang saat ini sedang ompong.
__ADS_1